
Kalimat cinta dibisikkan bersamaan dengan Zidan yang kembali mengecup kening sang pujaan. Kecupan yang lama, sarat akan rasa rindu dan permohonan maaf.
Hatinya bertalu kencang, apalagi saat tangannya mendarat di perut Asya yang masih rata di sana.
Dia akan pergi, namun tentunya akan kembali. Hanya saja di sini dia yang akan membentang jarak. Untuk hatinya dan juga demi ketenangan Asya.
Saat tubuhnya menegak dan berbalik, semua orang sudah berkumpul di depan pintu. Memandanginya dengan tatapan iba. Zidan membenci ini. Apalagi saat melihat sang kakak yang memandangnya sedih. Dia merasa dikasihani. Dan dia tak menyukai itu.
Perlahan kakinya melangkah, dan berhenti tepat di depan empat orang yang memandanginya.
"Kak, aku pulang..," ucapnya pada Ana.
Membuat perempuan itu menggeleng dan berkata, "Jangan, ini udah malem, Zidan. Lebih baik kamu di sini."
"Nggak, Kak."
"Lo gak usah pulang." Kali ini Yuda yang menyela, menepuk pundak sang sahabat. "Udah malem, Dan. Bener kata Kak Ana. Lo pasti capek."
"Gue gak mau, oke?" Zidan menghela napas, sungguh berada di sini membuatnya sesak. Melihat Asya namun tak dapat merengkuhnya adalah cobaan terberat Zidan. "Gue harap lo ngerti."
Begitu kalimat selesai, Zidan kembali melangkah, melewati Ana, Yuda, Fany dan Andi. Namun itu tak berlangsung lama, karena setelahnya gerakan kakinya terhenti.
Manik Zidan menatap lelaki di hadapannya dengan pandangan datar, berbanding terbalik dengan hatinya yang ingin memberontak. Dia tak baik-baik saja. Melihat kedekatan Raihan dan Asya membuatnya sesak dan marah.
Tapi apa yang bisa dia lakukan? Bukankah yang terbaik saat ini adalah diam?
"Han.."
Lelaki yang namanya disebut hanya diam.
Zidan kembali menghela napasnya kasar, tangannya pun bergerak meremat rambutnya dengan desakan frustasi.
"Gue titip Asya."
"Tanpa lo suruh pun gue akan jaga dia."
Zidan terkekeh pelan, menghapus sudut matanya yang basah -- entah yang keberapa kali. "Gue tau.. Tapi lo jangan berharap banyak, karena setelahnya gue akan dapetin Asya lagi."
"Gue gak jamin. Karena selama Asya belum milih di antara kita berdua, gue akan berusaha untuk dapetin dia."
Tangan Zidan terkepal. Andai saja dia tak memikirkan Asya yang masih terlelap, mungkin saja lelaki ini sudah babak belur dia pukuli.
Merasa kesabarannya mulai menipis, Zidan akhirnya memilih pergi. Karena dia yakin, jika dia kembali mendengar kalimat provokasi itu, bukan tak mungkin kesabarannya tak akan hilang, dan kembali berakhir dengan Asya yang membencinya.
...
Sinar matahari merambat, menyulurkan cahaya dari sela ventilasi kamar Asya. Perempuan itu kini tengah terduduk, memandangi penampilannya yang tampak segar dengan helaian rambut yang basas dari cermin meja rias.
__ADS_1
Asya merenung sejenak, tangannya yang tengah mengusap rambut dengan handukpun terhenti.
Dilema, bingung, rasa bersalah mewarnai. Dia bangkit dari duduknya, berjalan ke arah balkon untuk melihat pemandangan sekitar.
Bila biasanya mobil Zidan akan terparkir tak jauh dari villa, kali ini tidak. Lelaki itu tak ada, kehadirannya pun tak juga Asya rasakan.
Kemarin, bahkan hari ini. Satu pertanyaan di benak Asya, apakah Zidan menyerah? Padahal jika lelaki itu meminta maaf, bukan tak mungkin Asya akan memaafkannya hari ini.
Menempuh hidup baru kemudian, dan mungkin membangun biduk rumah tangga dengan kehadiran anak yang melengkapi.
Asya menghela napas, memilih kembali memasuki kamar dan bersiap.
Begitu kakinya sampai di lantai dapur, suasana tampak sembrawut. Di dekat pantry, Andi dan Fany lagi-lagi memulai keributan. Ana tengah memasak di bantu Yuda. Sedangkan Raihan tak nampak terlihat.
"Kak..," panggil Asya mendekati.
Membuat Ana yang tengah mengaduk masakan untuk sarapan menghentikan gerakan tangannya dan menoleh. "Eh, Asya. Ada apa, Sya?"
"Aku boleh bantu?"
Ana mengangguk, menoleh pada Yuda dan berkata, " Yud, lebih baik kamu tenangin dua orang itu gih. Mereka dari tadi ribut."
Yuda mendengus, matanya memicing ke arah Andi dan Fany yang masih berdebat tak jelas. "Iya, Kak."
Lalu setelah menghela napas beberapa kali, lelaki itu beranjak pergi, meninggalkan Ana dan Asya yang sudah terkekeh geli karena membebankan hal itu pada Yuda.
"Iya, Kak."
"Sejak kapan?"
Asya tampak berpikir. "Sejak pertama ketemu, Kak."
Terkekeh, Ana menggeleng. "Sejak pertama ketemu aja udah ribut. Memang masalahnya apa?"
"Waktu itu kita pergi jalan-jalan. Ke taman hiburan gitu, Kak. Aku, Zidan pergi berdua. Sedangkan Fany, Andi, Yuda barengan. Waktu kita pulang, mereka berdua udah ribut. Kata Fany sih, gara-gara Andi gak mau diajak naik wahana menantang."
"Zidan pergi ke taman hiburan?" Ana bertanya cepat, mengabaikan jawaban atas pertanyaan yang sebelumnya dia utarakan.
"Iya, Kak. Memangnya kenapa?"
Terdiam sejenak, Ana mulai berpikir. Dia masih ingat, adiknya itu bahkan tak menyukai tempat rekreasi sejenis taman hiburan seperti itu. Namun, ketika bersama dengan Asya, dia rela menyingkirkan rasa ketidaksukaannya.
Yang mana, membuatnya merasa bangga sekaligus sedih di lain sisi.
"Zidan gak terlalu suka pergi ke taman hiburan, Sya."
"Gak suka?"
__ADS_1
"Iya.."
Merasa percakapan mengenai hal itu tak perlu dilanjutkan, Ana memilih diam. Masakan pun telah matang, membuat perempuan itu mematikan kompor dan membiarkan Asya untuk menyajikan makanan itu di piring saji.
"Fan..," panggil Asya.
Fany yang duduk di kursi dekat pantry dengan bibir yang mengerucut, mengalihkan pandangan pada Asya. "Ada apa, Sya?"
"Bantuin aku taro ini di meja makan."
"Oke."
Dibantu oleh Ana dan Fany, Asya membawa lalu menghidangkan makanan di meja makan. Mereka memakan sarapan dalam diam. Bahkan Raihan yang baru saja muncul dari halaman belakangpun tak mengucapkan sepatah katapun.
Deting sendok dan garpu terdengar, sebelum Ana membuka suara, "Sya.."
"Eumm?"
"Kamu merasa ada yang aneh gak tadi malem?"
Asya terdiam. Seluruh atensi yang berada di sana pun tertuju pada Asya. Mengingat bagaimana Zidan menggenggam tangan wanita itu semalam, dan mengucapkan beberapa patah kata sebelum pergi.
"Aku gak merasa apapun, Kak."
"Oh.."
"Lo gak merasa apapun, Sya? Padahalkan tadi malem Zi--- Mmpthh.."
Kalimat Fany terhenti begitu Andi membekap mulut perempuan itu. Lelaki itu terkekeh sebelum berkata, "Aduh, Fan.. Lo ngomong apa sih, ada-ada aja?"
Dahi Asya berkerut. "Padahal semalem, apaan?"
"Nggak ada apa-apa, Sya. Lo lanjut makan aja." Yuda memilih berbicara, memicingkan mata ke arah Ana seolah meminta dukungan.
Ana yang mengerti mengangguk. "Iya, Sya. Gak ada apa-apa."
"Tapi buat apa Kak Ana tanya?"
"Bisa lanjut makan gak?" suara Raihan mengintrupsi, bersamaan dengan deting sendok dan garpu yang terdengar nyaring.
Semuanya tercekat, apalagi melihat raut Raihan yang tampak gelap, seakan tak menyukai tema perbicaraan kali ini.
"Raihan, kamu kenapa?"
Lelaki yang disebut menghela napasnya kasar sebelum berkata, "Stop bicara hal yang gak penting kayak tadi, oke? Sekarang waktunya makan dan masalah tadi gak perlu diperpanjang."
...
__ADS_1
Like dan Coment ya...