My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 24


__ADS_3

Seorang lelaki tangah terduduk menung di lantai apartemennya,diantara botol minuman keras yang berceceran disana. Penampilannya tampak berantakan,wajahnya kusut dan pucat serta katung mata yang kehitaman,menandakan semalaman dia tidak tidur dan terus terjaga. Tangannya yang gemetar merogoh saku celana panjang yang ia kenakan,mengambil benda pipih lalu menghidupkannya. Matanya sembab berkaca,menatap penuh rindu foto seorang perempuan manis yang berpelukan mesra dengannya.


Air matanya menetes membasahi pipi lalu turun ke kemeja kusut yang masih dia kenakan dari kemarin siang. Dia tak menyangka perempuan yang ia cintai dengan tega mendua dibelakangnya,padahal dia sudah yakin dan melamarnya kemarin. Namun takdir berkata lain,perempuan itu berpaling dengan lelaki yang selama ini selalu mengganggunya.


"Sya.. kenapa kamu tega sama aku..". Raihan berguman lirih,air matanya tak berhenti membasahi kedua rahang tegas miliknya.


Raihan kembali menenggak minuman keras yang ada ditangan,sungguh ini adalah pelarian satu-satunya yang bisa dipikirkannya saat ini. Rasa cinta yang teramat besar kepada Asya telah membuat dirinya kacau seketika.


"Aku rindu Sya.. rindu suara.. rindu pelukan kamu.. rindu semua yang ada di diri kamu.. tapi kamu.. Arghh!!".


Prank...


Raihan melempar botol minuman itu kasar hingga pecah berkeping,lalu tubuhnya terbaring seketika. Matanya yang berkaca berusaha untuk terlelap,setidaknya dalam tidurnya yang tak tenang. Satu yang ia harapkan, dalam mimpi dia akan bisa bertemu Asya kembali,merengkuhnya dalam pelukan dan tak melepasnya lagi.


✳✳✳


Hati Asya gundah sejak sedari tadi,perasaan tak menentu menghujamnya begitu saja tanpa Asya tau penyebab sebenarnya. Raihan.. hanya satu nama itu yang ada dipikirannya kali ini. apakah dia baik-baik saja??,dia tak berbuat nekadkan??. Hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang berputar di otaknya. Asya kemudian mengambil benda pipih di atas meja kerja,menghidupkannya lalu mengetikkan satu nama di kontak handphone miliknya.


Nama Raihan tertera disana,namun Asya ragu,bahkan hanya untuk sekedar menanyakan kabar mantan kekasihnya itu.


Tiba-tiba tanpa disadari Asya,Zidan sudah ada didepannya. Melihat kekasihnya itu dengan seksama. "Jangan macem-macem Sya.. lo jangan harap bisa nelpon mantan cowo lo itu..". Zidan berucap geram,berusaha menahan emosi ketika membayangkan Asya kembali kepada Raihan lagi.


Asya mendengus kesal lalu memutuskan bangkit hendak menuju kantin untuk makan siang,sepertinya mengisi perut lebih baik dari pada harus mendengar ocehan lelaki yang masih berdiri didepannya.


"Mau kemana?!". Zidan mencekal tangan Asya,menahan perempuan itu untuk bergerak lagi.


"Mau kekantin.. apa lagi?!". Ucapnya degus tanpa berniat berpaling melihat Zidan.


"Lo gak usah kekantin.. lebih baik lo ikut gue..". Kini giliran Zidan yang berada didepan Asya,menarik tubuhnya untuk masuk kedalam lift yang akan menghantarkannya ke basement.


Ting..


Pintu lift terbuka,Zidan kembali menarik tangan Asya begitu mereka sampai di basement,kemudian mendorongnya paksa untuk masuk kedalam mobil yang akan membawanya menuju tempat yang telah Zidan rencanakan.


"Kamu mau bawa aku kemana Zidan?! ini masih jam kerja..". Gerutu Asya begitu Zidan masuk ke mobilnya.


Zidan diam dan tak menjawab pertanyaan Asya,dia justru melajukan mobilnya menuju rumah sakit umum yang jaraknya sekitar duapuluh menit perjalanan dari kantornya.


Asya hanya terdiam,menatap keluar jendela kosong tanpa niat membuka obrolan. Hatinya masih gundah dan entah kenapa pikirannya hanya tertuju kepada Raihan. 'Semoga di baik-baik aja..'. batin Asya.


"Udah sampe..".


Suara Zidan mengagetkan Asya dari lamunan,membuat perempuan itu mengerjab beberapa saat sebelum akhirnya tersadar. "Ini dimana Zidan??". Tanya Asya bingung.

__ADS_1


"Rumah sakit sayang..". Zidan keluar dari mobil diikuti oleh Asya dibalakangnya.


Zidan menoleh,melihat Asya yang masih saja berdiri kikuk disamping mobilnya tanpa beranjak sedikitpun. Lelaki itu mengulurkan tangannya,mengisyaratkan kepada Asya untuk datang mendekat.


Asya berjalan ragu tanpa berniat untuk menggenggam tangan Zidan. "Ngapain kesini Zidan??".


"Kak Ana yang nyuruh gue kesini.. jadi gue ajak dah lo karena lo sendirian..". Setelah mengatakan itu Zidan menarik tangan Asya,membawanya masuk kerumah sakit lalu berjalan kesebuah ruangan dengan nama Liliana Revandra yang tertera dipintunya.


Zidan mengetuk pintu itu,dan sepersekian detik kemudian Ana mengijinkan mereka masuk. "Kak..". Sapa Zidan kepada sosok perempuan berjas putih dokter.


"Zidan?? eh Asya.. kamu ikut juga??". Ana berjalan mendekati mereka berdua.


Mata Ana memicing melihat tangan Asya yang tergenggam sempurna di tangan Adiknya. "Ehemm.. kamu ngapain gandeng-gandeng tangan Asya??". Tanya Ana menggoda.


Zidan melirik Asya sekilas lalu tersenyum sumringah. "Dia kan udah jadi pacar aku kak..".


"Uhukk.. uhukk.. Zidan!!". Asya tersedak ludahnya sendiri. Bagaiman bisa Zidan mengatakan hal itu didepan kakaknya.


"Eh.. eh.. eh.. sejak kapan kamu jadian sama Asya??".


"Tadi pagi.. oh ya kak,ngapain nyuruh aku dateng kesini??".


"Oh itu..". Ana berbalik menuju ke meja kerjanya lalu mengambil beberapa map pemeriksaan. "Kakak mau ngajak kamu buat jadi relawan yang bantu hibur anak-anak penderita kanker di rumah sakit ini..". Jelas Ana lalu membuka map menunjukkan selembar kertas yang tertera disana gambar-gambar disana.


"Kaya mana,mau ikut??". Tanya Ana lagi.


Asya mengangguk semangat,bagaimana pun dia sangat menyukai yang namanya anak-anak. "Ayo kak Ana.. aku mau ikut juga..".


Ana tersenyum melihat semangat yang terpancar dalam diri seorang Asya,begitu pun Zidan yang sedari tadi disampingnya. Lelaki itu tak berhenti memandang lekat Asya yang tersenyum manis,menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.


"Ayo kalau gitu..". Ana menuntun Asya dan Zidan memasuki ruangan yang cukup luas,disana para anak penderita kanker bercengrama dan bermain bersama para relawan lain.


"Dokter Ana!!". Seru salah satu anak lelaki menghampiri mereka.


Ana sedikit berjongkok,mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan anak kecil itu. "Ryan?? kaya mana keadaannya??". Tanya Ana.


Anak yang bernama Ryan itu tersenyum simpul. "Baik dok..". Lalu matanya dia arahkan pada dua sosok asing yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. "Mereka siapa dok??". Tanyanya lugu.


Asya sedikit berjongkok mengikuti Ana,tangannya terulur mengelus pucuk kepala Ryan yang sudah tak berambut lagi. "Nama kakak,Asya.. kakak kesini mau temenin Ryan main.. Ryan mau??".


Ryan mengangguk senang lalu dengan semangat menarik tangan Asya menuju kerumunan anak-anak sebayanya. "Temen-teman ini ada kak Asya!!". Seru Ryan begitu keras kepada teman-temannya.


Teman-temannya menyambut gembira kehadiran Asya,mereka bermain,bercerita dan kemudian tertawa saat ada hal lucu yang turut menyempil dicandaan mereka.

__ADS_1


Ana dan Zidan memperhatikan Asya serta anak-anak itu dari jauh. Ana sedikit menoleh ke arah Zidan,senyuman manis yang dulu sempat hilang kini terbit kembali di wajah tampan adiknya itu. "Kamu yakin pacaran sama Asya??". Ana menyenggol tubuh gegap adiknya.


Zidan mengerjab beberapa kali,kemudian menoleh melihat Ana lekat. "Aku gak pernah seyakin ini..". Jawab Zidan penuh kesungguhan.


Ana menarik tangan Zidan untuk duduk di kursi panjang,di pojokan ruang. "Kamu kan baru ketemu dia kan?? kenapa bisa seyakin itu??".


Zidan menghela napas,mengingat masa lalu sama saja membuka lembaran luka pada hatinya. Dia memang pernah menyukai Asya dulu dan bahkan berlanjut sampai sekarang. Namun sekelebat ingatan akan keluarganya yang hancur turut menyisakan luka disana. Zidan masih kecewa dengan Asya dan itu tak bisa di pungkiri. "Aku kenal sama dia dari SMA kak.. dia orang yang aku suka dulu..". Jawab Zidan setelah lama berpikir panjang.


Dahi Ana mengernyit dalam,rasa keterkejutan hinggap lalu diekspresikannya melalui senyuman. "Jadi ini cinta lama belum kelar ya??". Tanya Ana dengan sedikit nada meledeknya.


"Mungkin..". Gumam Zidan mengakhiri percakapan lalu memilih pergi menghampiri Asya,karena dia tau kakaknya ini pasti akan meledeknya lagi.


"Asya..". Zidan ikut duduk disebelah perempuan yang tengah bercerita itu.


"Cerita apa??". Tangannya menggenggam telapak Asya pelan.


Asya menoleh dan berhenti bercerita sejenak. Raut bahagia terpancar jelas disana,setelah masa suram yang dihadapinya beberapa waktu ini. "Rahasia..". Asya melirik adik-adik dihadapannya. "Yakan adek-adek??".


"Iya..!!". Jawab mereka kompak lalu tertawa bersama.


Zidan yang merasa sedikit kesal akhirnya ikut tertawa melihat anak-anak kecil dihadapannya. Perasaannya menghangat,mungkin ini yang namanya kebersamaan yang jarang dia dapatkan. Keluarga,satu kata kunci yang tertutup rapi dihatinya,terkubur dalam kenangan mengerikan saat dimana orang tuanya sibuk bertengkar dan mempertahankan keegoisan masing-masing lalu memutuskan untuk bercerai.


Zidan menghela napas panjang. Tak seharusnya dia mengingat masa lalu itu,dimana yang dia tau Asya berperan andil besar didalamnya. Ya.. walaupun Zidan tidak tau sampai sekarang,bahwa semua yang tertanam merupakan salah paham.


✳✳✳


Raihan membuka matanya yang berat,sakit dikepalanya terasa mendengung dengan begitu hebat,membuatnya meringkuk dan tangannya yang bergetar mencengram rambut kepalanya cukup kuat. Raihan sadar ini mungkin efek dari banyak menenggak minuman keras dari kemarin lalu berakhir tadi siang. Raihan berusaha memejamkan matanya paksa,mengusir rasa sakit yang kian lama kian menyiksa dirinya.


Raihan bangkit,terduduk lalu menyender dikaki sofa,matanya berusaha terbuka melirik keatas nakas dimana jam digital diletakkan. Hari beranjak petang,bisakan dia menghubungi Asya sebentar untuk mengetahui keadaan orang yang dicintainya itu??.


Tangan Raihan yang gemetar,meraih benda pipih yang tergeletak dilantai dekat dengan tempatnya bersandar. Satu kontak dengan nama spesial,menjadi apa yang dia cari saat ini. Dia menekannya dan berusaha menunggu sambungan,harapannya pupus begitu tak ada jawaban dari sebrang. Tapi tiba-tiba..


'Raihan..'. Suara orang yang begitu dia rindukan akhirnya dia dengar.


Namun tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut hebat,Raihan meringis sakit dan itu dapat didengar hingga sebrang.


'Raihan?? kamu kenapa??'


"Sakit Sya.. aww.. kepala aku sakiiit..". Raihan mengaduh dengan satu tangan memegang dahi.


'Dimana kamu sekarang??..'.


"A.. aku di apartemen Sya.. arghh..". Tubuh Raihan yang lemah seketika kembali tersungkur jatuh,handphone yang dia pegang pun terlepas.

__ADS_1


Sayup-sayup teedengar suara Asya dari sebrang yang mengatakan. 'Raihan.. tunggu aku ya.. aku dateng kesana..'.


__ADS_2