
Di lokasi pembangunan yang siap untuk dikerjakan, Zidan membetulkan letak helm pengaman setelah sebelumnya memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
Jika saja perusahaan kontruksi tak mengabari kendala yang sedang di hadapi mereka dalam pembangunan hotel ini, mungkin saja saat ini Zidan tengan bervidio call ria dengan Asya.
Kepulangannya yang direncanakannya besok, jadi tertunda karena masalah ini. Sembari menghela napas, Zidan berserta Anita dan Rudi -- selaku perwakilan pihak kontruksi, berjalan memasuki area pembangunan.
Keadaan tampak sedikit berantakan. Kerangka bangunan, jaring pengaman, dan berbagai macam cetakan beragam bentuk, terlihat bergelimpangan di tanah.
Langkah Zidan terhenti, lelaki itu membuka kancing kedua lengan dan menggulungnya hingga sebatas siku. Hal tersebut membuat langkah Anita dan Rudi juga terhenti mengikutinya.
"Berapa hari pembangunan akan dihentikan?" tanya Zidan, lelaki itu tampak mengedarkan pandangan ke sekitaran sebelum akhirnya matanya terpaku dan menatap Rudi.
"Sekitar tiga hari pak."
"Tiga hari?"
Tatapan tak puas dari wajah Zidan membuat Rudi menelan ludah kasar, lelaki yang berusia tigapuluh tahunan itu tampak tergugup ketika menjawab, "Begini pak, ada beberapa perlengkapan dan bahan kontruksi yang belum sepenuhnya terkirim. Jadi--"
"Kalau begitu cari pemasok lain."
"Tapi pak--"
"Pak Zidan," suara Anita tampak mencela, hal itu membuat ketegangan antara Zidan dan Rudi terhenti.
Zidan menghela napas dan menoleh, menunjukkan atensi pada sekretaris -- sementaranya ini. "Ada apa Anita?"
"Pak, untuk masalah mencari pemasokan lain rasanya itu tak memungkinkan. Selain cukup sulit untuk saat ini, perusahaan pemasok yang sekarang bekerja sama dengan kita itu sudah menjadi partner kita dari lama. Beberapa perusahaan cabang Revandras Group juga dibangun diatas kerja sama perusahaan kita dan mereka. Jadi, menurut saya untuk mencari pemasok lain, itu lebih baik jangan dilakukan, Pak."
Zidan tampak menimang perkataan Anita. Wanita ini, walaupun baru saja menjadi sekretarisnya menggantikan Asya, kinerjanya tak bisa diragukan. Kemampuan Anita, meski Zidan pernah merasa ragu padanya, tak bisa ditampik memiliki kesamaan terhadap Asya.
Setelah sekian lama terdiam, Zidan pun berkata, "Lalu bagaimana pendapat kamu selanjutnya? Pembangunan ini tak bisa di tunda terlalu lama."
Anita mengangguk. "Saya akan menghubungi pihak pemasok, Pak. Menanyakan kendala apa yang menyebabkan pengirimannya sedikit terkendala. Namun apabila alasan itu tak dapat di tolelir menurut perusahaan kita, mungkin kita bisa mengambil keputusan seperti yang bapak jabarkan tadi."
"Baiklah." Zidan mengiyakan, lalu menoleh menatap Rudi. "Sebaiknya pihak kontruksi bersiap sewaktu pihak kami mendapatkan informasi nanti. Saya harap pembangunan ini berjalan tanpa kendala, dan hasilnya bisa memuaskan."
Setelah percakapan yang menghasilkan keputusan itu, Zidan beranjak pergi setelah sebelumnya memerintahkan Anita untuk menemani Rudi meninjau lokasi lebih jauh.
Lelaki yang memakai kemeja abu itu berjalan, menyusuri lahan kosong kemudian menikung. Terdapat beberapa pohon disana, membuat Zidan terpejam beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk di salah satu kursi yang tersedia -- di bawah salah satu pohon itu.
Tak adanya keberadaan Asya disampingnya, tak bisa ditampik menjadi salah satu alasan Zidan tampak murung.
__ADS_1
Senyuman wanita itu, Zidan sangat merindukannya. Perasaannya beberapa hari ini tampak bergejolak. Dan itu tekadang membuat dahi Zidan tertaut bingung.
Entah karena apa, Zidan beberapa hari ini bermimpi dan mendapat gambaran tentang keluarga yang akan dijalankan dia dengan Asya kelak. Keluarga bahagia dengan anak-anak yang tumbuh sehat.
Kembali mengeluarkan ponsel dari saku celana, Zidan menghidupkan dan memandang potret Asya yang menjadi wallpaper ponselnya.
Ya, tak lama lagi. Lusa dia akan kembali. Asya dan dirinya bisa bertemu dan bersama lagi.
...
"Dia bilang, lo sama Zidan akan punya baby."
Kalimat itu terasa menggaung, memenuhi sudut ruang tamu apartemen Asya. Manik Asya terpejam, sudut hatinya terasa nyeri begitu mengetahui Raihan memberitaukan masalah kehamilannya pada orang lain.
"Dia.. dia ngasih tau kamu secara langsung?"
Andi dapat menangkap guratan kekecewaan di tatapan Asya. Hal itu membuatnya menatap Fany sesaat sebelum menggeleng cepat -- menyanggah. "Nggak, dia gak sadar ngasih taunya."
"Gak sadar gimana?!" Fany menyela, sahabat Asya itu segera berpindah dan duduk di sisi Asya.
"Gini.." Andi sedikit meringis, dia menggaruk tengkuknya beberapa saat sebelum tersenyum ragu. "Dia mabuk semalem, dan gue ketemu dia di klab. Ya.. dan lo pasti tau lah setelahnya gimana. Karena kan, orang mabuk suka meracau gak jelas. Gue tau kok itu gak bener. Hah.. dasar tu Raihan!!"
Andi terkekeh geli, sayangnya kekehan itu tak berlangsung lama ketika suara Asya mulai terdengar, "Dia bener kok, An. Dia gak salah."
Asya mengangguk.
"Trus Zidan gimana?"
Menghela napas pelan, Asya menjawab, "Dia.. dia belum tau."
Jawaban itu, walaupun tak memuaskan membuat Andi bernapas lega. Jujur, hingga saat ini, dia masih meragukan cinta Zidan kepada perempuan baik seperti Asya.
Masa lalu mereka yang suram, dimana Andi sebagai salah satu saksinya, membuat lelaki itu terus ragu hingga kini.
"Jadi kapan lo kasih tau? Lo tau kan, Zidan mungkin akan marah kalau tau lo hamil setelah sekian lama, apalagi sekarang Esfi-- eh.."
"Esfi kenapa?" Alis Asya tertaut, memandang Andi dengan tatapan penuh tanya. "Ada apa sama Esfi, Zidan juga bilang dia--"
"Nggak, bukan apa-apa, kok." Andi menggeleng cepat. "Kan lo tau Esfi itu mantan dia. Dia mungkin aja, ya.. merasa tersakiti."
Melihat Asya mengangguk mengerti membuat Andi kembali merasakan kelegaan, rona itu tentunya tak lepas dari pandangan Fany yang sedari tadi memperhatikannya.
__ADS_1
Gue akan nyelidikin sendiri nanti, batin Fany.
...
Erangan lirih dan erangan rendah yang sepanjang malam suntuk memenuhi kamar itu kini telah usai. Kevin berguling dari atas tubuh Esfi yang berulang kali memuaskan dahaga gairahnya.
Perjanjian mereka masih berjalan hingga saat ini. Sebuah perjanjian yang sama-sama memuaskan kedua belah pihak. Kevin dapat menyalurkan kebutuhan biologisnya, sedangkan Esfi bisa terus menjalankan rencananya tanpa harus terlibat secara langsung.
Turun dari ranjang, Esfi memakai jubah dan mengambil segelas air diatas nakas sebelum meminumnya.
Tamparan Zidan serta cacian yang dia lontarkan mengenai perbandingan Asya dengan dirinya, menyebabkan kedengkian yang dia rasakan makin tertimbun.
Bukannya alih-alih menjauh dan menyerah, Esfi justru semakin getol menginginkan keterpurukan Asya dan kembalinya Zidan kepelukannya.
"Apa yang harus gue lakuin setelah ini?"
Esfi mengusap lengan Kevin yang melingkari perutnya begitu dia duduk dipinggir ranjang. "Seperti biasa, cukup awasi dan dapatin gambaran yang terbaik."
"Oke. Oh ya, semalem cowok itu dateng kerumah dia."
Terkekeh sinis, Esfi membawa telapak lelaki itu untuk dikecup, tak sia-sia dia menggaet Kevin sebagai tangan kanan sekaligus partner tidurnya.
"Bagus, hari ini lo harus kembali ngawasin dia."
Kevin mengangguk, membuat Esfi kembali melanjutkan. "Setelah rencana gue berhasil, kita lebih baik gak ketemu lagi, Vin."
"Kenapa?" tanya Kevin cepat.
"Lo tau kan, dari awal hubungan kita ini cuma partner s*ks dan kerjasama doang."
Dengan keterpaksaan Kevin mengangguk, nyatanya untuk menyanggah semua itu dia tak bisa melakukannya. Oleh karenanya lelaki itu kembali menarik Esfi untuk terlentang.
Tali jubah diturunkan, membuat mata Esfi melotot kesal. "Lo hari ini harus ngawasin dia, Vin."
"Gue tau."
"Trus kenapa-- Eunghh."
"Gue bisa lakuin ini dengan cepat. Untuk urusan itu lo tenang aja, lagipula semuanya jadi gampang semenjak mantan lo itu gak ada."
...
__ADS_1
like dan coment ya..