
Begitu mobil itu terparkir dengan selamat, Zidan tak bisa menahan ringisan yang serta merta keluar dari bibir yang dilengkapi memar itu.
Kendati luka dan lebamnya sudah diobati oleh menantu Anton tadi, denyut nyeri masih sangat terasa walaupun hanya menggerakkan bibir untuk sekedar berbicara.
Tangan Zidan terangkat, meraba perban yang melapisi luka di beberapa titik, dan seberkas senyuman terbit tanpa bisa dia tahan lagi.
Oh, andaikan saja Asya yang merawatnya, bisa dipastikan bahwa lukanya akan sembuh di saat itu juga.
Menghela napas Zidan tersenyum kecut. Mendapat restu saja sudah sangat membuatnya bahagia, apalagi mendapat kesempatan untuk dibukakan pintu maaf oleh perempuan itu?
"Lo gak boleh nyerah, Zidan." Kembali kalimat itu diucapkan.
Matanya terpaku. Ingin sekali Zidan mendatangi Asya dan mengatakan betapa bahagia dirinya kini.
Tapi sekali lagi, jangankan untuk mendekati perempuan itu, dia saja terlalu takut untuk keluar dari mobil dan memasuki villa Andi kendati jarak antara mobilnya dan bangunan itu tak jauh lagi.
10 menit...
30 menit...
Hingga, 1 jam berlalu -- Zidan masih terdiam.
Manatap langit kemerahan dimana senja sudah menjemput matahari untuk menyinari belah bumi lainnya.
Hingga lelaki itu terhenyak oleh ketukan konstan di jendela mobil. Zidan menoleh dan mendapati Andi yang mengerutkan alis karena ketukannya tak juga direspon.
"Zidan buka! Ini lo kan?"
"Zidan?! Jangan bilang lo udah mati?"
Mendecih, dan merasakan denyut di lukanya makin bertambah, Zidan membuka pintu mobil dan langsung disambut tatapan heran dan penuh tanya oleh sahabatnya itu.
"Mu-muka lo kenapa?"
"Perjuangan."
"Perjuangan apaan? Lo berantem?"
Zidan mendengus. "Gue jadi dateng ke rumah keluarga Asya, gue cerita semuanya dan inilah yang gue dapet."
Pandangan Andi makin membola, lelaki itu tambah terkejut setelah apa yang Zidan utarakan. "Lo, lo cerita semuanya? Trus gimana?"
Zidan menarik sudut bibir, dan sekali lagi -- ringisan hadir tanpa bisa ditahan, "Aww.."
"Makanya hati-hati!" cletuk Andi, kemudian kembali bertanya, "Trus gimana, Dan? Lo dapet restunya gak?"
"Gue dapet, tapi ada syaratnya."
"Apaan?"
"Asya harus maafin gue."
"Susah itu."
"Bener juga."
__ADS_1
Kemudian mereka kembali terdiam. Andi berdiri sambil bersandar di badan mobil, sedangkan Zidan masih dalam posisi semulanya, duduk di kursi dan memandang villa dari jarak yang tak seberapa.
Hingga sebuah ide cemerlang muncul. Ah, bahkan ini tak bisa dibilang ide cemerlang, melainkan ide yang mengandung resiko di dalamnya.
Berbekal kaca spion, tangan Zidan bergerak -- melepas beberapa perban, dimana luka itu hampir tertutupi.
"Lo apa-apaan?!" sergah Andi, begitu mendapati Zidan yang sudah menekan lukanya sendiri.
Dari kering, kembali berdarah. Dari hampir tertutup, kini kembali terbuka.
"Ini demi cinta gue."
"Lo nge-bucin, huh?! Lo gila?!" Kembali tangan Andi menggapai tangan Zidan yang mana jemari lelaki itu kini tengah menekan luka di sudut bibir.
"Sthh.. Gue cuma mau tau Asya masih cinta sama gue apa nggak."
"Lo gila!!" Andi mengumpat, namun pandangannya juga sarat akan rasa khawatir.
Wajah Zidan yang tadinya sudah diobati kembali mengeluarkan darah. Lebih parahnya lagi, luka dan memar di pelipis terlihat sudah membengkak dan makin membiru.
"Anter gue masuk."
Zidan keluar dari mobil dengan kaki terpincang. Andi menggapainya, melingkarkan lengan Zidan di atas pundaknya dan membawa lelaki itu berjalan.
"Lo harus traktir gue abis ini, Dan."
"Oke."
Dan setelahnya mereka terkekeh.
...
Manik Zidan memejam, merasakan sentuhan lembut Asya pada sekitaran lebamnya. Dan begitu maniknya terbuka, entah apa yang harus Zidan ucapkan.
Bersyukur, ataukah rasa bersalah?
Dia ingin memeluk. Tak rugi dia kembali melukai diri. Jika Asya kembali mencurahkan perhatian padanya, luka ini dirasa tak masalah.
Andi menghela tubuh Zidan di sofa. Bukan hanya Asya yang memandang khawatir ke arahnya. Ada Ana, Fany, dan Yuda yang baru saja menghampiri dari arah dapur.
Ana mendekat, duduk di sisi Asya. "Kamu kenapa?"
Meski pertanyaan itu mungkin sudah ada di benak, Ana tetap memastikan. Oh Tuhan.. Apakah sebesar ini cinta adiknya kepada Asya?
"Aku gak pa pa, kak," jawaban itu diucapkan dengan pandangan yang tak lepas dari Asya.
Perasaan damai menelusup, tangan Zidan bergerak tanpa sadar menjangkau wajah Asya dan mengusapnya. "Aku gak pa pa, Sya. Jangan sedih."
Asya sangat ingin menapih kelembutan ini, namun dia tak mampu. Begitu Zidan menyentuhnya, ribuan volt seakan menjalar, mengirim gelenyar aneh yang terasa nyaman.
"Muka lo udah gak bagus lagi, Dan." cletukan itu berasal dari Yuda. Kendati khawatir, namun selera humornya tak hilang meski dalam suasana genting sekalipun.
"Lo apa-apaan?!" Mendengar hal itu membuat Fany menyikut. Oh ayolah, apakah tak ada waktu lagi untuk bercanda.
Semua masih memperhatikan Zidan. Bahkan Asya yang sebelumnya mengobarkan kata menyerah tak kunjung bergerak untuk menjauh.
__ADS_1
Lain halnya dengan Andi. Merasa ada yang kurang, dia yang sedari tadi memang mengedarkan pandangan bertanya, "Raihan mana?"
"Dia balik," jawab Yuda.
"Katanya ada urusan kerjaan," sambung Fany, membuat Andi yang memperhatikan mendengus.
Lelaki itu bangkit dari sofa, berjalan ke arah Fany yang sudah memasang pandangan antisipasi ke arahnya. "Lo gak boleh ngomong sama dia!" bisiknya.
"Memang kenapa?" tanya Fany, dengan nada geram sedikit berbisik pula.
"Lo mau gue cium lagi, huh?"
Mendengar itu, Fany menggeleng cepat. Membuat Andi menghela napas dan mengalihkan pandangan pada Asya dan Ana yang masih memandang khawatir ke arah Zidan.
Rencana Zidan berhasil rupanya.
"Sekarang waktunya kita kembali ke pekerjaan masing-masing. Sedangkan untuk Zidan, biar Asya yang obatin."
Semua mengangguk setuju karena itu. Sebab, secara tak sadar mereka juga mengharapkan Asya dan Zidan kembali seperti semula.
Kini keheningan kembali melanda. Tinggal Asya dan Zidan. Asya mengeluarkan kotak P3K yang ada di dalam laci nakas samping sofa.
Membersihkan luka itu dengan alkohol, dan membubuhkan antiseptik disekitaran sebelum menutupinya dengan perban dan plester.
Semua berjalan canggung. Asya terdiam begitupun Zidan. Bahkan sepercik ringisan tak terdengar dari bibinya yang ikut terluka.
"Udah selesai." Asya bangkit, meletakkan kembali kotak dalam nakas sebelum beranjak pergi. Namun, belum dua langkah dia tapaki, Zidan sudah memegang pergelangan tangannya.
"Sya, kamu masih marah?"
"Kamu berantem?"
"Ini semua untuk kamu, Sya."
"Untuk aku?" Asya terkekeh dan berbalik. "Maksud kamu apa?"
"Aku dateng ke rumah Om kamu, dan mengakui semua."
Tubuh Asya menegang. "Untuk apa? Apa yang kamu akui, Zidan?!"
"Semuanya." Zidan bangkit, mendekati Asya lalu memegang pundaknya. "Semua, perlakuan bejad aku dan tentang kita, Sya."
"Kamu--"
"Aku ingin kita balik lagi, Sya. Please.." Zidan menunduk, menempelkan dahi merek walau hanya sesaat, kerena setelahnya Asya menjauh, memandangnya dengan rasa sakit.
"Aku kecewa sama kamu Zidan! Kamu sebaiknya pulang! Yang aku harapkan bukan perjuangan yang seperti ini, ini salah!!"
Dan itu perkataan egois Asya yang terakhir sebelum wanita itu membalikkan diri, meninggalkan Zidan yang terpaku dan memegang dadanya yang sesak.
Perjuangannya sia-sia...
Asya makin membenci dirinya...
...
__ADS_1
Vote, Like dan Coment ya..
Sorry, cerita makin amburadul, karena faktanya kepala author lagi sakit..😄😄