
Part Bonus Raihan dan Ana 6
...
Raihan sudah berada di depan mansion Ana. Bukan untuk menemui perempuan itu, tetapi ingin membicarakan hubungannya dan Ana dengan orang tua dari sang kekasih.
Raihan menekan klakson mobil hingga pintu gerbang mansion terbuka lebar. Mobilnya kembali melaju sebelum kemudian Raihan memarkirkannya tepat di pelataran.
Dengan satu keranjang parsel buah, Raihan memasuki mansion setelah sebelumnya seorang maid mengantarkan dan memintanya untuk menunggu.
Raihan duduk di sofa dengan gugup. Parsel buah yang dia bawa sudah diletakkannya di atas meja ruang tamu.
Jarinya terpilin. Dia sengaja memakai setelan lengkap walaupun tak bekerja hari ini. Ingin meninggalkan kesan yang baik, meskipun Raihan yakin kedua orang tua Ana sudah menyetujui hubungan mereka.
Tak lama kemudian, suara derap langkah mendekat terdengar di telinga Raihan. Lelaki itu dengan cepat berdiri dan memasang senyum terbaik kepada Rendi dan Rina yang menatapnya antusias.
"Eh, Nak Raihan. Ada apa ke sini? Ana lagi gak ada." Wanita paruh baya itu duduk dengan anggun di sofa yang terdapat di depan Raihan dengan mantan suaminya.
Raihan tersenyum manis. Hubungan Rendi dan Rina memang bukan lagi suami istri. Namun, Raihan kagum dengan mereka yang bisa kembali akur dan memperbaiki hubungan demi Zidan dan Ana.
"Saya sudah tahu kalau Ana bekerja, Tante. Saya ke sini untuk membicarakan hal penting."
"Hal yang penting apa itu, Nak Raihan?" Rendi ikut bertanya.
"Begini." Raihan membasahi tenggorokan. "Jika kemarin saya hanya memberitahu tentang hubungan saya dan Ana serta seberapa serius saya ke Ana, kali ini saya ingin meminta izin untuk melamar Ana, saya benar-benar ingin menikah dengan Ana," ucap Raihan lugas. Dia tak ingin bertele-tele.
Hal itu sontak membuat Rina tersenyum bahagia, dia menoleh dan mendapati Rendi yang turut berekspresi sama. Kemarin mereka dapat melihat kesungguhan itu, dan kali ini, ketika Raihan sudah benar-benar berniat menjadikan putri mereka sebagai istri, bagaimana mereka bisa menolak?
"Nak Raihan yakin?" tanya Rina haru.
__ADS_1
Raihan mengangguk mantap. "Saya--"
"Jangan lagi ngomong formal, dong."
Perkataan Rina membuat Raihan tersenyum canggung. "Raihan sangat yakin, Om, Tante. Cuma Ana ...."
"Ana kenapa?" tanya Rendi.
"Ana sepertinya gak mau."
Rendi dan Rina tersenyum maklum. Raihan yang menunduk membuat Rina bangkit dan duduk di sisi lelaki muda itu.
"Ana bukan menolak, Sayang. Sebagai seorang ibu, Tante bisa melihat Ana mencintai kamu. Mungkin karena hubungan Tante dan Om yang sebelumnya gak berjalan semestinya, membuat Ana takut dengan yang namanya pernikahan. Tapi, Tante yakin kalau Ana pasti terima kamu."
Perasaan Raihan membaik. Lantas dia menoleh ka arah Rendi. Dua lelaki saling bertatapan. Dari manik itu Raihan bisa melihat sebesar apa harapan Rendi terhadapnya.
"Lalu bagaimana dengan keluarga kamu, Nak?" tanya Rendi dengan gurat khawatir.
"Syukurlah ...," ucap Rina dan Rendi berbarengan.
"Dan tujuan Raihan ke sini juga buat kasih tahu, kalau kaluarga Raihan ingin bertemu langsung dengan Om dan Tante." Raihan kembali menambahkan.
Rendi mengangguk. "Baiklah. Jadi kapan pertemuan itu bisa dilangsungkan?"
Baru saja Raihan akan menjawab. Suara derap langkah yang kali ini terdengar dari pintu masuk membuatnya menoleh. Dari arah pintu, Zidan dan Asya yang sedang mendekap Zian datang mendekat seraya memandangnya heran.
Asya duduk di samping Zidan. Dari jarak sedekat ini Raihan bisa melihat Baby Zian yang terjaga dengan mata bulatnya yang menggemaskan. Bayi itu tak merengek, tenang, dan hanya memandang Asya yang sesekali mencium lembut bayinya.
"Raihan, kok kamu di sini?" tanya Asya seraya tersenyum.
__ADS_1
Raihan berdehem. "Itu, aku mau ngomongin masalah Ana."
"Trus, Kak Ana-nya mana?" Asya celingak celinguk.
Zidan melakukan hal yang sama. Papah muda itu kemudian menatap kedua orang tuanya yang kini memasang wajah sumringah.
"Pah, Mah. Wajah kalian kok gitu?" tanya Zidan penasaran.
"Itu ... Raihan minta restu buat ngelamar Kakak kamu, Zidan."
Zidan tak tahu harus bereaksi apa. Dia lantas mengalihkan pandangannya pada Raihan. Menatap lelaki yang balas menatapnya. Zidan memang sudah tahu hubungan percintaan antara Raihan dan kakaknya dari kedua orang tua mereka. Tapi melamar, bukankah ini terlalu cepat?
"Mah, Pah. Menurut aku ini terlalu terburu-buru," ungkap Zidan.
Lantas membuat Raihan menghela napas mendengar hal tersebut. "Ini gak terburu-buru, Dan. Gue udah suka sama Ana dan yakin ingin menjadikan dia pendamping gue."
"Tapi--" Perkataan Zidan terhenti begitu Asya menggenggam tangannya. Dia menoleh. Asya tersenyum dan mengangguk, seakan wanita itu sedang meyakinkannya bahwa apa yang terjadi saat ini adalah hal yang tepat.
Zidan menghela napas. "Oke. Tapi, keluarga Lo? Apa mereka udah tahu?"
Anggukan Raihan menjadi jawaban. "Keluarga udah setuju. Mereka bahkan ingin ketemu sama kalian untuk membahas hubungan ini lebih lanjut."
"Kapan?" tanya Zidan lagi.
"Bukannya lebih cepat, lebih baik." Bukan Raihan, melainkan Asya lah yang menjawab. Asya memandang satu persatu orang dengan masih menimang Zian penuh kelembutan.
Dan Raihan tak bisa tak setuju dengan saran itu. Lebih cepat, lebih baik. Lebih cepat pertemuan keluarga ini terlaksana, maka lebih cepat dia akan melamar Ana tanpa perempuan itu bisa menolaknya.
An ... aku akan menjadikan kamu milik aku sebentar lagi. Kita akan bersama. Aku ... dan kamu.
__ADS_1
...
TBC ....