
Kurang lebih, sudah hampir satu jam berlalu Zidan terdiam di dalam mobilnya. Lelaki itu mencengram roda kemudi hingga buku jarinya memutih. Kepalanya tertunduk lesu, dengan aroma alkohol kuat yang menguar.
Dia tak sanggup seperti ini. Berpisah dengan Asya sangat menyesakkan baginya. Bahkan saat lelaki itu memejamkan mata, bayangan Asya yang tersenyum padanya s'lalu saja hinggap.
Sebelum berakhir seperti ini, Zidan sudah berusaha mencari Asya sebisanya. Dia bukan tak ingin berusaha lebih. Tapi membayangkan Asya kabur karena ingin menjauhinya, sedikit menghambat lelaki itu untuk mencari pujaan hati.
Dengan enggan Zidan keluar dari mobilnya. Dia berjalan lunglai, matanya berkunang dan kepala berdenyut sakit. Setelah sebisa mungkin mengatur pijakannya, akhirnya Zidan dapat memasuki apartemen minimalis miliknya.
Ya, seperti yang Zidan duga. Hampir seluruh sudut ruangan ini menyimpan kenangannya dengan Asya. Kesakitan, kebahagian, egoisme bahkan canda tawa, langsung menyerbunya dan menusuk ibaran sembilu.
Kembali lagi satu titik bening hadir di sudut mata. Zidan tersenyum miris, lelaki itu bergumam, "Sya, kamu dimana?"
"Aku kangen sama kamu, Sya." Dua kalimat itu seakan sudah menjadi hal wajib untuk Zidan katakan.
Lelaki itu melangkah, memasuki kamar dan menghela kaos hitam yang dia kenakan. Dibalik tubuhnya yang kuat, hati Zidan tetaplah rapuh.
Berulang kali di tempa kesakitan, membuatnya bebal akan rasa itu sendiri. Hingga dia bertemu dengan Asya, kehilangannya, bertemu Asya lagi dan kehilangannya lagi -- akibat kebodohan yang sama.
Tangan Zidan bergerak, memukul kepalanya berulang kali saat tubuh lelaki sepenuhnya tertumpu di pinggir ranjang.
"Bodoh!! Bodoh!! Lo cowok terbodoh Zidan!!"
Teriakan itu berubah menjadi isakan. Lelaki itu menangis, menangis untuk sang kekasih yang berulang kali dia sakiti. Berulang kali dia ragukan. Dan.. Berulang kali menangis karenanya.
Hingga matanya yang memerah melihat sebuah kotak yang di berikan Asya beberapa hari lalu. Kotak itu berwarna peach. Terletak di atas nakas, samping rak buku yang terdapat di sisi kanan ranjangnya.
Tubuh berotot itu bangun, kemudian beranjak. Matanya yang memberat berusaha untuk dia buka. Sekelebat ingatan muncul ketika Asya memberikan kotak itu. Dia berpesan agar Zidan membukanya.
Setelah membutuhkan beberapa hari, Zidan akhirnya membuka kotak itu. Matanya yang sayu dalam sekejab membulat. Dadanya berdegup dengan tidak karuan. Bahkan bibirnya yang hendak melontarkan kata, saat itu juga bergetar dan membisu.
Zidan tak bodoh untuk mengerti hal itu, apalagi saat sebuah kertas kecil berwarna kuning bertuliskan 'Calon anak kita' seakan membenarkan anggapan Zidan.
"Aku akan jadi Ayah?" Itu adalah sebuah pertanyaan disamping kenyataan yang baru saja dihadapkan padanya.
Tangan kekar itu meraih lembar USG dan hasil testpect. Mata kelam memandangnya dengan pandangan yang tak terbaca, namun sarat akan binar.
"Aku akan jadi ayah?" Pertanyaan diulang kembali.
"Aku akan jadi ayah?" Kembali diulang lagi.
"Ya Tuhan.. Asya, kita akan jadi orang tua.."
Rasa -yang entah bisa disebut bahagia- menderanya. Dia tak menyangka, perlakuan bejadnya dulu memperkosa Asya dapat menghadirkan sebuah nyawa yang kini bernapas dalam rahim kekasihnya.
Ah, apa sekarang hubungan mereka dapat di katakan sepasang kekasih? Yang jelas, satu yang Zidan tau. Ketika Asya menjadi menjadi kekasih, dan mencuri seluruh atensi serta mengisi seluruh sudut hatinya, di saat itu pula Zidan mengklaim perempuan itu sebagai miliknya, cintanya dan bagian helaan napasnya.
__ADS_1
"Sya.." Satu titik bening -kebahagiaan- itu kembali hadir. "Aku akan menemukan kamu, aku akan menemukan kalian, dimanapun itu. Itu janji aku, Sya.."
...
Semilir angin, serta aroma sejuk merasuk kedalam paru-paru ketika Asya membuka sekat pembatas balkon dengan kamarnya sore ini.
Villa yang dikatakan Andi memiliki fasilitas yang bagus menurut Asya. Halaman yang luas dan hijau, taman belakang, kolam renang, dan jangan lupa ukuran villa yang bisa dibilang besar dengan enam kamar yang tersedia.
Asya menghela napas. Sekarang, dan mulai detik ini Asya akan menjalani kehidupan barunya. Bersama dengan buah hati dan orang yang mendukungnya untuk seperti ini.
"Kamu mendukung mamah kan?" Asya menyentuh perutnya seraya tersenyum masam.
Harinya terhimpit oleh rasa sesak dan rindu yang menyiksa. Dia akui, dia memang tak bisa membenci Zidan atas apa yang dia lakukan. Bagaimana pun disini, mereka berdua korban. Korban atas kebusukan yang dilakukan mantan kekasih Zidan.
"Jadi, jangan marah karena mamah pisahin kamu dari papah. Kamu harus mendukung mamah ya sayang.."
Setelah mengatakan kalimat itu, Asya berbalik dan kembali memasuki kamar. Dia membuka koper, mengambil helai demi helai pakaian dan menyusunnya dalam lemari -- sebelum suara ketukan dan derit pintu terbuka memasuki telinganya.
Asya menoleh dan tersenyum manis. "Fani, ternyata kamu."
Fany balas tersenyum, perempuan dengan rambut di kuncir tinggi itu duduk di pinggir ranjang dengan mata mengedar. "Gue gak nyangka Andi punya villa sebesar ini ya, Sya."
Asya mengangguk membenarkan. Dia juga tak menyangka akan tinggal di villa besar kepunyaan orang yang notabennya adalh sahabat Zidan.
"Sama, Fan," ucap Asya seraya menutup pintu lemari ketika bajunya sudah tersusun semua.
"Tanya apa?"
"Eumm," Fany bergumam. "Kenapa lo nolak untuk masuk kedalam rumah Om lo?"
Kepala Asya menunduk. Dia jadi mengingat kejadian tadi siang, begitu mobil berisi dirinya, Fany dan Andi berhenti tepat di depan pagar tinggi rumah Om-nya.
Keteguhan Asya untuk menemui keluarganya yang tersisa saat itu, ciut seketika. Pikirannya berkelebat saat itu. Jika dia masuk, apa yang akan dia katakan?
Asya bukanlah seseorang yang pandai menutup rahasia. Apa yang menjadi beban dalam benaknya, bisa dengan mudah dia katakan bahkan tanpa pikir panjang.
Dan oleh karenanya, ketika berpikir dengan singkat saat itu. Asya akhirnya memutuskan untuk tidak bertemu dengan Om dan keluarganya terlebih dahulu.
"Aku belun siap, Fan." Setelah sekian lama terdiam akhirnya Asya menjawab.
"Kenapa gak siap?"
"..."
"Lo takut Om lo tau?"
__ADS_1
Asya mengangguk.
"Oh my God, Sya." Fany memeluk Asya cepat. "Lo gak harus kasih tau mereka kali, Sya."
"Mereka berhak tau, Fan."
"Ya, tapi tetap aja Sya, lo itu--"
Kalimat Fany terhenti begitu merasakan tubuh sahabatnya bergetar. Sahabatnya menangis, entah sudah yang keberapa kali.
"Sya?"
Tak ada jawaban, kecuali gumaman singkat.
"Kita keluar yuk."
Asya mengangguk. Menghapus air matanya begiru pelukan mereka terhela. Entah kenapa emosjnya sedikit labil saat ini. Asya jadi lebih mudah menangis, marah bahkan bahagia hanya karena sesuatu yang simple.
Mungkin bawaan ibu hamil, batin Asya.
Setelahnya Fany membawa Asya keluar dari kamar yang terletak dilantai dua. Mereka berjalan undakan tangga kemudian kembali melanjutkan langkah ke arah belakang villa dimana taman belakang berada.
Di sana mereka menemukan Andi tengah memberi pakan ikan yang terdapat di kolam kecil -- taman. Lelaki itu menoleh ketika mendengar derap langkah mendekat.
"Sya, Fan." Andi tersenyum. "Lo berdua udah rapiin barang?"
Asya mengangguk begitupun Fany, hanya saja perempuan itu tak memandangi lawan bicaranya dan malah memandang taman yang tampaknya lebih indah.
"Ck," Andi berdecak. Entahlah, dia sangat jarang melihat perempuan seperti Fany yang bahkan tak pernah terpesona padanya.
Perempuan itu justru sibuk bertengkar dengannya dan mencari gara-gara, membuatnya tanpa sadar menggeleng singkat.
Hingga getar ponsel mengintrupsi. Andi merogoh saku celana dan memandang layar dimana notif pesan tertera.
Dia menggesek layar dan membaca pesan itu. Setelahnya dia memandang Asya dan Fany dengan senyum penuh arti.
"Sya, Fan, lebih baik kita siap-siap. Kak Ana sama Yuda udah mau nyampe."
"Kak Ana? Yuda?"
Andi mengangguk. "Iya, mereka akan sampe sebentar lagi."
Manik Fany mengerjab. "Wait, siapa yang kasih tau mereka?"
"Gue."
__ADS_1
...
Votment dan Like ya..