My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 57


__ADS_3

"Aku mohon, Sya. Jangan suruh aku pulang atau menjauh."


"Kenapa?"


"Kamu tau jawabannya, Sya."


"Tapi itu harus dihilangkan, Han. Jangan berharap banyak, aku bahkan gak tau lagi apa itu rasa cinta."


...


Mulut Fany yang terbuka -- hendak menyangkal perkataan Andi, kembali tertutup sempurna. Perempuan itu mengernyit heran, membuat Andi yang menatapnya juga berlaku demikian.


"Lo kenapa, udah gak ngambek lagi?"


"Stthh.." Telunjuk Fany dengan cepat di letakkan di bibir lelaki itu, membungkamnya agar tidak kembali berkata.


Lalu setelahnya dia menoleh. Kerutan di dahinya terlihat lebih jelas, manakala dirinya melihat Raihan disana.


Posisi dirinya dan Andi memang condong tertutup. Jadi, lebih memungkinkan kalau mereka ingin mengintip tanpa takut terlihat.


"Raihan kok ada disini, ya?"


"Raihan?"


"Iya."


"Mana-mana?"


Andi meringsek, berdiri dibelakang Fany sehingga memudahkannya untuk melihat keadaan.


Tinggi Fany memang tak seberapa, hanya sampai batas bagian bawah lehernya.


"Kok dia bisa tau tempat ini, ya?"


Fany mendengus. Apa-apaan Andi ini? Bukannya dia pantas melempar pertanyaan itu pada dirinya sendiri?


"Katanya gak ada yang tau. Tapi, dia aja bisa dateng tuh!" sinis Fany, meledek lebih tepatnya.


"Memang bener." Andi menunduk, menyetarakan posisi tinggi wajah mereka. "Gak ada yang tau tempat ini, kecuali gue sama bokap, nyokap gue."


"Iya apa?"


Pertanyaan itu bukannya mendapat jawaban, justru memberikan perasaan aneh terhadap keduanya ketika wajah mereka bersirobok.


Bagaimana tidak? Posisi mereka yang bisa dibilang intim -- layaknya orang berpelukan bila dilihat dari belakang lah yang menyebabkan hal itu.


Wajah mereka berdekatan, dengan unjung hidung yang hampir bersentuhan. Bahkan, masing-masing dari mereka bisa merasakan hangat deru napas.


Andi menelan ludahnya kasar, begitupun dengan Fany. Wajahnya yang bila lihat dari dekat tambah cantik, membuat Andi enggan untuk mengalihkan pandangan.


Sama-sama menyelami, mereka bahkan tak sadar berapa jarak yang sudah terkikis untuk sampai ke posisi ini.


Jantung mereka berdegup. Berbeda dengan Fany yang memberikan respon dengan meremat jari, Andi justru semakin memajukan wajah -- Ingin menempelkan benda kenyal itu pada bibirnya.


"Lo cantik, Fan. Dan gue suka."

__ADS_1


Dan pertemuan itupun terjadi. Andi berdiam diri setelah memberikan kecupan singkat -- belum menarik diri menjauh, lebih tepatnya.


Kemudian, setelah sepersekian detik, lelaki itu mengambil tindakan yang lebih berani. Menggerakkan bibir, menggoda Fany agar mengikuti apa yang di lakukannya.


Entah sadar atau tidak, Fany tenggelam, memejamkan matanya rapat begitu merasakan kelembutan.


Tapi itu tak bertahan lama, karena setelahnya perempuan itu juga yang mengakhiri ciuman bergelora diantara mereka.


"Lo apa-apaan?" Fany menatap Andi nyalang, dengan bibir yang basah karena lumatan.


"Kita ciuman."


"Ya, tapi kenapa?" Fany masih bertanya. Memundurkan jarak, takut hal yang tak diinginkan kembali terulang.


"Gue cowok." Andi maju selangkah, mengunci Fany hingga tubuh itu terkukung di antara kedua lengan. "Dan gue normal, Fan. Gue gak bisa bohong, dan gue juga tau lo begitu."


Menyelesaikan kalimat, lalu kembali mengecup bibir Fany singkat, Andi melenggang pergi. Meninggalkan Fany yang masih tercenung, dengan jemari yang meraba bekas sapuan itu.


Hangat.


Lembut.


Dan--


Fany menggeleng. "Gak, gak Fan. Itu cuma ciuman..--


--..tapi, itu first kiss gue.. arghh, Andi!!"


...


Dia memang sempat tak mengerti pada awalnya. Namun, setelah penjelasan singkat yang Yuda lontarkan, serta pandangan penuh cinta dari Raihan terhadap Asya, barulah Ana percaya.


Menghela napas, Ana berusaha tersenyum ketika meletakkan nampan berisi minuman dingin diatas meja.


Dia menghidangkan minuman itu sebelum bertanya, "Kamu kok tau tempat ini, Han?"


"Eh.. eumm, maaf nih sebelumnya. Aku.. bisa tau tempat ini dari hasil pelacakan nomor kamu, Ana. Abis itu, aku minta tolong sama teman aku yang jago dalam bidang itu biar tau lebih jelasnya."


"Oh." Hanya itu tanggapan Ana. Hatinya memang terkesiap, tapi dia memilih bersikap normal. "Maafin sikap Asya tadi ya?"


Raihan terkekeh, meneguk minuman lalu kembali memandang Ana. "Gak pa pa, An."


Setelahnya hanya ada keterdiaman. Raihan sibuk dengan pemikirannya sendiri, begitupun Ana.


Hingga tibalah Andi yang melenggang dari ruang belakang, diikuti Yuda di setelahnya. Wajah lelaki itu tampak sumringah, membuat Ana mengerutkan kening.


Dan ketika dia bertanya pada Yuda lewat tatapan mata, lelaki itu justru mendengus sebagai jawabannya.


"Eh, Raihan.. gue kira siapa?" Andi dan Raihan ber'tos' ala lelaki. "Dari mana lo tau alamat villa gue?"


"Jadi ini villa punya lo?"


"Bukan," Bukan Andi, melainkan Yuda lah yang menjawabnya. "Villa ini punya bokap, nyokapnya."


"Iya, bener yang Yuda bilang, villa ini punya Bonyok gue, gue cuma numpang eksis doang."

__ADS_1


Ana terkekeh, begitu pun Raihan. Berbeda dengan Yuda yang justru makin mendengus ke arah sahabatnya itu.


"Oh ya," Ana berdiri, menatap tiga lelaki yang berhadapan dengannya satu per satu. "Aku mau ke atas dulu ya. Oh ya An, kalau liat Fany, suruh dia naik juga, ya?"


"Iya."


Setelahnya Ana berpamitan. Perempuan itu lantas menaiki undakan tangga yang memang tak jauh letaknya dari ruang tengah.


"Asya?" Ana memanggil, sembari memasuki kamar.


Dan apa yang di dapatkannya membuatnya mengernyitkan dahi dalam.


Asya tampak baik-baik saja. Dia malah terlihat sedang bersenandung riang dan merapikan apa yang sebenarnya rapi pada awalnya, seperti tak terjadi apapun.


Bukannya merasa tenang, Ana justru merasakan kekhawatiran dengan sikap Asya yang seperti ini. Dia tampak menahan segala kesah, tanpa ingin berbagi.


"Asya?" panggil Ana lagi, membuat Asya menoleh lalu tersenyum terhadapnya.


"Eh, kak Ana. Sini kak." Asya melambaikan tangan, mengisyaratkan agar Ana mendekat


Dan Ana melakukannya. Perempuan itu duduk di pinggir ranjang. Memperhatikan Asya yang tampak membereskan perlengkapan make-up di atas meja rias.


"Sya, tadi itu, Raihan--"


"Oh ya, Kak. Kakak tau gak tempat yang bakso enak disini dimana? Aku pengen banget makan bakso nih.."


Perkataan Asya itu memutuskan kalimat yang Ana lontarkan. Asya memandang Ana dalam, sembari mengusap perut ratanya itu.


"Eh, kamu tadi bilang apa?"


"Aku pengen makan bakso nih, kak."


"Kamu pengen bakso?"


Asya mengangguk, membuat Ana menghela napas. Sepertinya Asya tak ingin membicarakan masalah ini.


"Kamu ngidam?" tanya Ana lagi.


Asya sumringah, dan mengangguk makin antusias. "Mungkin kak, kakak mau beliin kan? Baby aku maunya kak Ana yang beliin."


"Iya deh." Ana menghela napas, dan bangkit dari duduknya. "Kakak beliin."


Begitu persetujuan dari Ana terlontar, Asya langsung memeluknya erat. Ana bahagia dengan sikap Asya yang seperti ini. Karena, walaupun Ana adalah kakak dari Zidan, Asya tetap nyaman dengannya.


"Yaudah, kakak pergi dulu ya," ucap Ana sembari melepaskan pelukan.


Perempuan itu keluar, meninggalkan Asya yang rona wajahnya berubah menjadi kelam.


Setitik air mata kembali hadir. Dada sesak, dan seakan terhimpit batu besar turut dirasakan Asya.


"Nggak boleh nangis." Asya menekan dadanya, dimana rasa sakit itu berasal. "Kamu gak boleh lemah, Sya. Zidan bukan segalanya, dan Raihan hanya masa lalu. Cinta? Itu gak pernah ada."


..


Maaf kalau feel'y kurang. Author lagi agak mumet, karena lagi banyak masalah sekarang.😄😄

__ADS_1


Vote, like dan coment ya..


__ADS_2