My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 41


__ADS_3

Raihan mencengram stir mobil begitu kuat, bahkan buku jemarinya kini sudah memutih. Perkataan Asya sewaktu ditaman masih terputar dalam benaknya, dan entah mengapa membuat dadanya kini terhimpit rasa sesak.


Dia tak pernah sekecewa ini. Jujur, saat Asya meninggalkannya, masih ada secercah harapan bagi Raihan untuk kembali memiliki wanita itu. Namun kini, setelah mengetahui bahwa Asya mengandung anak dari Zidan, harapan itu seakan terenghut paksa dan musnah begitu saja.


Menginjak gas, Raihan mengemudikan mobilnya dengan rasa kalut yang teramat. Langit terang saat ini, seakan mengejek kesakitan dalam hatinya. Ini perih. Ini sakit. Bisakah Raihan berharap rasa ini hilang dan tak kembali. Namun, sekali lagi? Asya terlalu berharga untuk dilupakan.


Wanita itu punya tempat tersendiri dalam relungnya. Senyuman. Tawa. Cara bicara. Bahkan sikapnya saat masih bersama dengannya, membuat Raihan berulang kali jatuh cinta.


Raihan masih mengingat pertemuan pertamanya dengan Asya. Saat itu Raihan pertama kali melihat Asya dalam rapat kerjasama perusahaannya dengan perusahaan Zidan. Jika ada istilah jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin itulah yang dirasakan Raihan terhadap Asya saat itu.


Menghela napas, Raihan memberhentikan mobilnya di sisi jalan. Lelaki itu memilih untuk keluar dari mobil dan berjalan ke sisi trotoar. Jalan ini memang sepi. Bahkan kendaraan yang lewat bisa dihitung menggunakan jari.


"Sya, kenapa kamu gitu?" Raihan bergumam, memejamkan matanya beberapa saat sebelum kembali terbuka.


Matanya memerah, entah sudah keberapa kalinya dia menangis seperti ini. Asya memang bukan wanita pertama baginya, namun dia adalah wanita pertama yang membuat Raihan bahagia.


Hubungannya dengan wanita lain bisa dibilang rumit. Ada yang hanya mengincar materi, atau sekedar ajang pamer karena bisa menjadi kekasih Raihan, yang notabennya adalah pengusaha yang sukses di usia muda.


Dan Asya berbeda.


Satu alasan yang membuat dada Raihan terasa sangat sesak ketika kembali mengingat wanita itu.


"Sya, jika kamu bahagia sama Zidan, aku terima. Karena cinta gak harus memiliki." Kalimat itu seakan satu mantra bagi Raihan agar tetap kuat.


Ya, baginya mencintai itu tak harus memiliki. Raihan ingin mempercayai itu. Namun, bisakan dia egois dengan menginginkan Asya kembali bersamanya?


Jika bisa, ijinkan lah dia egois sekali ini saja.


...


Esfi tersenyum puas, wanita yang hanya memakai dress mini itu beranjak dari sofa dan duduk di pangkuan Kevin dengan manja. Aroma parfum yang khas, seketika mencubit penciuman hidung Kevin. Sensual dan seksi. Itulah yang bisa Kevin simpulkan.


Lelaki itu tak membuang kemsempatan yang diberikan dengan percuma. Tubuhnya seketika itu pula merapat, makin menghimpit tubuh Esfi diantara rengkuhan lengannya.


"Lo mau ngegoda gue, Fi?" tanya Kevin. Menenggelamkan kepalanya dalam lekuk leher Esfi dan menghirup aroma tubuhnya lapar.


Lengan Esfi melingkar, mengusap rambut Kevin. "Ya, bisa dibilang gitu."


"Berarti hasil kerja gue memuaskan?"


"Memuaskan."


Kevin menyeringai, kepalanya mendongak. Pandangan mata mereka bertemu saat itu juga, dan Esfi bisa melihat kabut gairah dari lelaki yang menemani malam-malamnya beberapa hari ini.


"Tapi, masih banyak lagi yang lo harus lakuin."


"Gue tau. Trus apa yang harus gue lakuin setelah ini?"


"Seperti biasa. Untuk urusan yang lain, biar gue yang urus."


"Oke."


Setelah percakapan singkat itu mereka berpangutan. Kevin bangkit dari duduknya dengan tubuh Esfi yang masih merapat. Lelaki itu membopong tubuh Esfi, dengan bibir menyatu -- berdecak sensual.


Seperti biasa, Esfi akan menghadiahkan hari panjang kepadanya. Sebagai upah usahanya dalam membantu menjalankan rencana wanita itu.


...


Cetak USG yang menampakkan gambar janinnya, masih saja Asya pandang dengan rasa haru. Dadanya berdebar, terlingkup rasa bahagia yang sama sekali tak bisa Asya gambarkan.

__ADS_1


Fany yang berada disampingnya, merangkul pundak Asya lembut. Setelan kerja masih melekat pada tubuh rampingnya. Saat berada di kantor tadi, Zidan sengaja datang ke devisinya dan meminta dirinya secara langsung untuk menemani Asya.


Dia tentu saja tak akan menolak. Bagaimana pun Asya adalah sahabat yang sudah dia anggap sebagai keluarga.


"Usianya udah berapa, Sya?" tanya Fany, turut melihat cetak USG yang masih digenggam Asya.


"Tiga minggu."


"Berarti belum tau cewek atau cowok dong?"


"Ya belum lah." Asya tergelak, menoleh dengan mata yang menyipit. "Kamu penasaran banget, ya?"


Fany mengangguk. "Iya lah. Gue itu penasaran, kalau anak lo cewek dia itu mirip siapa, dan kalau cowok dia mirip siapa."


"Mau mirip siapa aja, yang penting sehat." Tersenyum, Asya memasukkan cetak USG ke dalam tas selempang yang berada dipangkuannya dan kembali meletakkannya di atas nakas -- samping sofa.


"Zidan udah lo kasih tau?"


Asya menggeleng, tangannya kembali terkepal gugup saat itu juga. Memberi tau Zidan adalah hal paling terakhir yang Asya ingin lakukan. Asya takut Zidan marah, kecewa dan yang paling parah adalah menolak kehadiran anak mereka.


"Aku takut.." cicit Asya, menundukkan kepalanya dalam.


Fany mengangguk mengerti, jika saja dirinya yang berada di posisi Asya, mungkin saja dia tak akan sekuat sahabatnya ini.


"Tapi kan lo harus tetap kasih tau dia. Gue yakin dia pasti akan nerima anak ini kok, Sya. Lo inget kan yang gue bilang kemarin, kalau Zidan memang sayang dan cinta sama lo, dia gak akan nolak," jelas Fany, seakan memahami keterdiaman Asya saat ini.


"Iya Fan." Asya memejamkam mata, lalu mengela napasnya pelan. "Tadi aku ketemu Raihan."


Fany terlonjak kaget, wanita itu dengan cepat membalikkan tubuh Asya dan memandangnya dalam. "Raihan? Trus dia gimana?"


Ah, menyebutkan nama lelaki itu saja sudah membuat dadanya sesak. Apalagi saat mengingat Raihan terisak di pelukannya, dada Asya seakan terhujam batu besar.


"Dia nangis, Fan. Dia.. aku gak tega liatnya.." Kepala Asya tertunduk, tangannya bergerak mencengram rambutnya gusar. "Aku gak nyangka akan sesulit ini, Fan. Tapi aku gak bisa bohong, rasa untuk dia itu masih ada. Dan begitu liat dia tadi, aku merasa bersalah banget."


Berulang kali Asya mencoba menampik rasa itu, namun rasa itu masih tetap ada. Ya, dia dilema. Dia mencintai Raihan, tapi rasa cintanya kepada Zidan tetaplah belum bisa hilang. Kendati rasa itu pernah tertutupi dulu, ketika Zidan dengan kejam menghinanya, rasa itu kembali hadir seiring kedekatannya dengan Zidan. Apalagi semenjak kehadiran janin dalam perutnya, rasa itu makin kuat dan membuncah.


"Apa aku salah, kalau aku bilang aku cinta Raihan dan Zidan, Fan?"


"Gak salah."


"Tapi--"


Kalimat Asya terputus begitu Fany memeluk tubuhnya. S'lalu seperti ini. Fany s'lalu ada setiap dirinya memerlukan sandaran.


Sejenak mereka larut dalam nuansa persahabatan, sebelum suara bel berbunyi -- membuat pelukan mereka terhela. Fany memandang Asya sesaat, wanita itu beranjak untuk membuka pintu, menggantikan Asya.


Saat Fany membuka pintu, kernyitan halus terlihat jelas didahinya. Seorang wanita berpakaian -- bisa dibilang seksi, berdiri dihadapannya dengan memegang sebuah box. Fany mengernyit, sebelum bertanya, "dengan siapa?"


"Asya-nya ada?"


"Lo siapa dulu?"


"Gue temennya."


"Eh, tapi--"


"Bilang aja Esfi, Asya pasti kenal."


Fany berbalik, memanggil Asya. Sepersekian detik setelahnya Asya sudah berdiri di samping Fany. Keterkejutan dawajahnya terlihat jelas. "Esfi?"

__ADS_1


"Eh Asya." Esfi tersenyum, wanita itu beranjak memeluk tubuh Asya, seringaian tampak jelas disana. "Gue kesini mau minta maaf."


"Minta maaf?" ucap Asya, melepas pelukan canggung mereka.


"Iya." Mengangguk, Esfi mengangkat sebuah box dan menyodorkannya kepada Asya. "Terima ya."


"Ini apa?"


"Udah terima aja." Esfi menyodorkan box itu dengan gerakan paksa, membuat Fany memandang jengah kepada wanita seksi itu.


"Kalau Asya gak mau, ya jangan di paksa dong!" Menahan tangan Esfi, Fany menyorot tajam. "Lagian ini apaan lagi?"


"Ini cuma kue kok." Kekeh Esfi. memandang Fany sesaat sebelum kembali memandang Asya. "Terima ya, Sya. Gue mau minta maaf sama lo. Lo tau kan, kita kan dulu juga temenan, dan gue gak mau cuma gara-gara satu cowok hubungan pertemanan kita berakhir."


Raut wajah Esfi memang meyakinkan, tapi entah mengapa, ada sesuatu yang membuat Asya terlihat ragu untuk menerima pemberiannya. Sesekali dia melirik Fany, sahabatnya itu tampak melirik Esfi dengan pandangan tajam.


"Yaudah deh, aku terima," ucap Asya, menerima sodoran box itu. "Kamu mau masuk dulu."


Tersenyum, Esfi menggeleng. "Gak usah deh Sya, aku pulang dulu. Udah ditungguin sama seseorang soalnya." Esfi kembali merengkuh tubuh Asya sebelum berbalik -- meninggalkan Asya dan Fany yang memandangnya penuh tanya.


Asya terjengit, begitu Fany menepuk pundaknya. Menoleh, mata Asya menyipit. "Kamu, bikin kaget aja."


"Lo gak curiga apa sama dia?"


"Curiga apa?"


"Mukanya itu, keliatan gak meyakinkan."


Asya menggeleng. Fany dan sifat anehnya, memang s'lalu membuat Asya tergelak. Tanpa ingin memperpanjang percakapan, Asya kembali memasuki apartemennya dan berjalan menuju dapur -- meletakkan box kue diatas pantry.


Sebenarnya rasa curiga memang ada dalam benaknya, tapi Asya tak ingin berpikir jauh. Cukup dengan permintaan maaf saja sudah membuat Asya lega, setidaknya dia tak memiliki musuh lagi sekarang.


...


Matahari yang bersinar dari pagi hingga senja, kini berganti menjadi guyuran hujan pada malam harinya. Memotong kue yang tadi sore diberikan oleh Esfi, Asya sesekali melirik Zidan yang terduduk disofa dengan wajah tertutup lengan. Lelaki itu tampak lelah, membuat Asya sangat kawatir.


Asya meletakkan potongan kue diatas piring, lalu membawa dan meletakkannya di meja depan sofa. Tangannya bergerak, mengusap rambut legam Zidan yang halus.


"Kamu capek?" tanya Asya. Zidan mengangkat lengan dan kembali menegakkan tubuhnya.


"Nggak kok, Sya," jawab Zidan sembari tersenyum. Pandangan lelaki itu kini teralih pada beberapa potong kue yang tersaji di piring. "Kue, kamu bikin?"


"Nggak, aku gak bikin. Tadi Esfi dateng, dia minta maaf dan kue ini, dia yang ngasih."


Gerakan tangan Zidan yang hendak menyuap potongan kue itu terhenti. Pandangannya yang semula terlihat sayu, kini menggelap.


"Esfi, dateng.. kesini?" Ada tekanan di setiap katanya. "Shit!! dia udah berani ternyata!!"


Asya terjengit untuk yang kesekian kali. Dia terpaku begitu mendengar Zidan mengumpat, otomatis tanpa aba-aba Asya memegang perut ratanya. Pandangan Zidan yang makin menggelap membuat Asya takut. Apalagi begitu kekasihnya itu dengan kasar melempar piring berisi kue hingga menimbulkan bunyi pecahan yang memilukan.


"Zi-Zidan, kenapa?" Suara Asya tampak tercekat. Mendengar hal itu membuat Zidan menoleh, dan merengkuh tubuh Asya.


"Kalu dia kesini lagi, jangan ijinin dia masuk ya, Sya. Dia itu bahaya sayang. Dia itu berbahaya."


Perkataan Zidan, menambah cetakan kernyitan di dahi Asya makin jelas. Esfi berbahaya? Tapi apa?


"Kenapa aku gak boleh deket sama dia?"


"Pokoknya, kalau aku bilang gak boleh. ya gak boleh."

__ADS_1


...


Vote, like and coment.. 😊😊


__ADS_2