My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 58


__ADS_3

Andi mengakhiri kegiatan berkendaranya dengan memarkirkan mobil di area perusahaan Revandra's Group.


Dia berencana melihat keadaan Zidan, setelah terakhir kali berkomunikasi dengan lelaki itu dua hari yang lalu.


Ya, dia memang bisa dibilang setuju atas apa yang Asya lakukan. Apalagi melihat kelakuan bejad Zidan, dan dampaknya terhadap perempuan serapuh Asya.


Menghela napas, Andi melangkah keluar dari mobil lalu menyerahkan kunci kepada petugas valet, sebelum menapaki loby besar perusahaan keluarga Zidan itu.


Semua berjalan seperti biasa. Dia sudah sering kemari, apalagi status sebagai orang terdekat sang CEO yang sangat dihormati, membuatnya turut diberlakukan demikian.


Dia tersenyum ke arah resepsionis, yang dibalas juga dengan senyuman. Memasuki lift dan menekan tombol, Andi bersenandung ringan.


Begitu lift terbuka, dia kembali melangkah sebelum berhenti tepat di depan meja sekretaris, dimana Anita berada.


"Permisi, Zidannya ada?"


Anita tersenyum, dan menunduk hormat. "Ada pak, beliau sedang diruangannya."


"Oh, makasih."


"Sama-sama, pak."


Melemparkan senyuman diakhir percakapan, Andi melenggang pergi memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Dan apa yang dibayangkannya benar-benar terjadi.


Ini seperti deja vu, menurut Andi. Melihat tampang lelah Zidan, dan lingkaran hitam di sekitaran matanya yang tercetak jelas membuatnya meringis.


"Dan?"


Orang yang dipanggil mengalihkan pandangan dari layar macbook-nya. Wajahnya yang sayu itu tak menyurutkan langkah Zidan untuk bangkit lalu mendekat.


"Lo dateng?"


"Iyalah gue dateng." Mereka berpelukan, menepuk punggung masing-masing sebelum menghelanya. Andi lanjut berkata, "Muka lo serem banget? Kenapa, gara-gara Asya pergi?"


Sebenarnya tanpa ditanya pun, Andi sudah tau jawabannya akan seperti apa. Zidan pernah seperti ini, dan itu karena sebab yang sama.


Asya.


Nyatanya, perempuan itu masih memiliki dampak besar bagi lelaki dengan hati sekeras Zidan. Dan, bukankah sekejam apapun lelaki, dia masih mempunyai kelembutan untuk merasakan cinta?


"Lupain Asya."


Perkataan sahabatnya itu membuat Zidan mengerutkan kening. "Maksud lo apaan?"

__ADS_1


Andi tak lantas menjawab, dia memilih untuk mendudukkan bokongnya pada sofa lalu menyilangkan kaki dan menatap Zidan dengan seringaian.


"Lo gak bisa gini terus, Dan. Dulu juga dia ninggalin lo."


"Gue gak bisa," jawaban itu dilontarkan bebarengan dengan dirinya yang meremat rambut frustasi. "Gue yang salah dalam hal ini. Gue yang salah, nggak percayaiin dia."


"Apa maksud lo?" Andi pura-pura terkejut.


Zidan dengan wajah kuyunya memandang Andi bias. Tampak rapuh, kesepian dan tersiksa.


"Gue salah paham, seharusnya.. seharusnya gue gak nuduh dia macem-macem.. dia udah terlalu tersiksa An. Gue liat bagaimana sedihnya dia ditingal mati orang tuanya, tapi otak gue--"


Perkataan itu terputus tatkala tangan Zidan bergerak untuk memukul kepalanya sendiri. "Arghh!! Asya kenapa lo pergi?!"


Seketika itu juga Andi memantapkan langkah untuk memeluk sahabatnya itu. "Bebasin dia kalau gitu, Dan. Lo gak mau liat dia makin menderita gara-gara lo?"


Pertanyaan itu sukses membuat Zidan bungkam, namun tak butuh waktu lama Zidan menolaknya dengan tegas. "Gue mungkin bisa bebasin dia, An. Tapi, gue bukan cowok pengecut yang gak bertanggung jawab dengan ninggalin kewajiban gue ke mereka."


Lagi-lagi Andi pura-pura terkejut, terbukti pada cengraman tangannya pada bahu Zidan yang mengencang.


Seakan mendapatkan pertanyaan lewat tatapan, Zidan mulai bercerita. Cerita yang sarat akan sakit, bahagia, serangkaian tuduhan bahkan yang paling parah, adalah pengkhianatan atas yang namanya kepercayaan.


Dan, setelah apa yang didengar Andi dari mulut Zidan sendiri. Andi makin yakin, bahwa Zidan pantas mendapatkan lebih dari pada ini.


Biarkan dia dicerca sebagai sahabat yang tak setia. Tapi, bukankah sahabat yang setia harus menyadarkan sahabatnya apabila berbuat salah?


...


Begitu masuk, dapat lelaki itu rasakan berbagai aroma menusuk kedalam indera penciumannya, selain jenis musik berdentang yang menyakiti pendengaran.


Andi kembali berdecak, dengan matanya yang mengedar -- melewati celah diantara tubuh yang berliuk tak beraturan.


Dan seketika itu juga matanya membulat. Oh God.. Apa dia tak salah lihat?


Andi menajamkan penglihatannya. Dan disaat itu pula dia meringsek diantara kerumunan, untuk mendekati lelaki yang diyakininya sebagai sahabatnya itu.


"Zidan!! Lo apa-apaan, huh?!"


Dengan gerakan kasar, Andi mendorong wanita berpakaian terbuka --hampir telanj*ng-- yang sedang mengerayangi dan mencumbu tubuh Zidan.


Setelah berhasil mengusir, Andi lantas memandang Zidan dengan pandangan yang sarat akan kekecewaan.


"Br*ngsek lo, Dan!!"


"Asya... Asya..." Suara Zidan lirih, dengan rasa sakit yang tampak begitu jelas.

__ADS_1


Zidan rapuh, sangat rapuh lebih tepatnya. Perasaan bersalah, pada sekian penderitaan yang diberikannya untuk perempuan itu -- menghantuinya sepanjang waktu.


Dia ingin melepaskan Asya, demi kebahagiaannya, tentu saja. Tapi sekali lagi, fakta bahwa Asya mengandung anak mereka, membuat Zidan ingin mengikat perempuan itu dalam simpul tali ikatan yang sakral.


"Asya... maaf, Sya..."


"Maaf lo basi, Dan!!"


"Asya... maaf..."


Muak dengan permintaan maaf yang tak berujung, Andi terpaksa membogem wajah Zidan hingga sudut bibir lelaki itu berdarah.


"Sampe kapan lo minta maaf?!" sentak Andi -- menarik kerah pakaian Zidan. Lelaki itu bahkan tak memedulikan atensi isi kelab yang sudah beralih padanya.


"Sampe.. dia.. maafin gue..."


"Lo beg*, Dan!! Lo kira dia bakal maafin lo, huh?! Lo bahkan gak nyari dia!!"


"Gue udah nyari, An.. tapi.. gue nggak bisa temuin dia.." Pandangan yang sudah berkunang, bahkan tak menghambat Zidan untuk mengatakan isi hatinya kali ini. "Gue bahkan.. siap berlutut dan mohon sama dia.. asal dia.. dia mau balik sama gue.."


Cukup sudah, Andi menyerah. Melihat Zidan yang seperti ini, membuat hatinya ikut tercelos.


Zidan tak pernah seperti ini. Bahkan saat orang tuanya bercerai dan akhirnya memilih menjalani kehidupan masing-masing, Zidan bukanlah lelaki lemah yang akan menangis karenanya.


Bagi Andi, Zidan adalah lelaki kuat yang pernah dia kenal. Air mata adalah sesuatu yang mustahil bagi lelaki keras seperti Zidan.


Tapi itu semua tak berarti, bila dia di hubungkan dengan perempuan yang bernama Asya.


Jika Zidan gelap, maka Asya penerangnya.


Menghela napas dan meremat rambutnya gusar, Andi rasa dia harus meminta maaf kepada Tuhan, lalu kepada Asya, karena melanggar janjinya sendiri.


"Dan, liat gue!"


Zidan masih enggan, lelaki justru menikmati tiap sloki minuman yang mengalir di kerongkongan.


"Dan!! Mau dengar gue gak?! Katanya lo mau ketemu, Asya?"


Saat itu pula atensi Zidan teralihkan. Dia yang sebelumnya sibuk meneguk minuman, kini justru menatap Andi dengan pandangan yang penuh damba dan binar.


"Gue tau dia ada dimana. Dia sekarang ada di--"


...


Kurasa kalian udah tau lanjutannya.

__ADS_1


Oke, intinya.. Vote, like dan coment ya..,


__ADS_2