My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 33


__ADS_3

Keterdiaman membentang begitu ringkih diantara Fany dan Andi. Mereka sama-sama terdiam, setelah perdebatan yang tak dapat terelak beberapa menit lalu. Fany merutuk geram dalam hati, maniknya saat ini hanya terfokus keluar jendela, memandang --kosong riuh sedan suasana ibu kota.


Sedangkan lelaki disampingnya, juga --ikut terdiam, sesekali dia menoleh memandang dengan heran kepada perempuan yang sangat keras kepala, menurutnya.


Andi menghela napas, lalu sedikit berdehem mencairkan suasana kecanggungan. Lelaki itu bingung harus berkata apa, namun sepersekian detik kemudian dia dengan berani mulai berbicara, "Ehmm.. Fan, sorry dah kalau gue tadi ngebentak lo.. abisnya sih lo pake nolak segala naik mobil bareng gue.. gue kan juga gak mau begini, kalau bukan Zidan yang nyuruh.."


Fany memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya membuka maniknya dan memandang Andi, "Gue juga minta maaf An.. kita berantem, padahal baru kenal.. gue baru sadar lo orang yang baik.. kaya Asya bilang.."


"Asya?" Lelaki itu memelankan laju mobilnya, "Dia bilang gue baik?" Tanyanya lagi.


Fany mengangguk dan kembali memperhatikan jalan, "Iya.. dia bilang lo, Zidan, sama satu lagi temen lo siapa namanya? oh iya.. Yuda.. dia bilang lo pernah satu sekolahan sama dia.."


"Iya bener, dulu kita satu sekolah.. tapi sih, gue sama dia gak terlalu deket.. si Asya deketnya sama Zidan.."


"Gue tau, sebelum akhirnya cowo itu nyakitin hati dia.." Ujar Fany diselipi nada geram.


Dahi Andi mengernyit dalam, dirinya memilih menepikan mobilnya dibahu jalan, lalu memandang perempuan itu dan bertanya. "Lo juga tau kejadian tujuh tahun lalu?"


"Hmm, gue tau." Fany menoleh dan kembali memandang Andi, "Asya cerita sama gue. Bagaimana dia kenal Zidan, usaha pendekatan cowo itu ke dia dan ya tentunya, gimana Zidan ngebentak Asya hanya karena salah paham.."


"Maksud lo, Zidan salah paham gitu?" Tanya Andi dengan rona ketidak sabaran.


Fany mengangguk dan kembali melanjutkan, "Iya.. cowo itu salah paham, Asya sempet mau cerita semua sama Zidan, tapi Zidan s'lalu nolak penjelasan Asya.. kadang, gue kasian sama dia An.. dia dulu sempet suka sama Zidan.."


"Su-suka? yang bener?" Andi makin penasaran setelah mendengar semua penuturan Fany tentang perempuan bernama Asya itu. Sebenarnya dia juga pernah berpikir hal yang sama, bahwa teman lelakinya itu hanya salah paham dan termakan omongan yang mengasutkan dirinya.


"Yup.. dan, setelah dia bisa lupain Zidan, cowo itu malah hadir dan hancurin hidupnya pelan-pelan.. bahkan dia juga ngerebut Asya, dengan cara yang gak banget.."


"Ngerebut Asya?" Oke, ini makin menarik menurut Andi. Perlahan tapi pasti, satu persatu rahasia yang disembunyikan temannya itu mulai terkuak.


"Lo kenal Raihan Putra, CEO dari Inter Group?" Tanya Fany dan dibalas anggukan oleh lelaki disampingnya, dia pun melanjutkan, "Dia itu mantan Asya, ya.. sebelum temen lo itu rebut dia dari Raihan tentunya.."


Napas Andi tersenggal dipenuhi oleh rona keterkejutan, penuturan Fany mengenai sahabatnya itu tak dapat dicernanya sama sekali. Benarkah sahabatnya itu dengan tega memisahkan Asya dari lelaki yang notabennya adalah kekasih perempuan itu? Apakah ini merupakan salah satu taktik Zidan, untuk membalaskan dendamnya kepada Asya?


Oh Tuhan.. bahkan Andi tak bisa membayangkan jika Zidan, selama ini hanya memainkan hati Asya.. hati perempuan baik itu..


***


Ditempat lain.


Raihan berdiri ragu dengan raut wajah sendu, didepan apartemen Asya. Tangan lelaki itu terangkat, hendak memencet bel disisi pintu, namun kemudian lagi-lagi terurung niat.


Entah sudah berapa lama dia berdiri disana, yang jelas saat ini dia hanya tau, bahwa dirinya begitu merindukan sosok Asya --mantan terindahnya. Dadanya sesak, begitu sekelebat ingatan membahagiakan antaranya dan Asya terputar dibenak.


Raihan menghela napas lelah, maniknya terpejam beberapa saat, sebelum akhirnya lelaki itu dengan lemah menyenderkan kepalanya pada pintu apartemen Asya. Lalu menggumamkan sebuah kalimat, "Sya, aku kangen.."


Beberapa saat hanya ada rasa sepi yang tersalur begitu ringkih. Raihan masih tetap berada diposisinya, sebelum akhirnya --dengan terpaksa, lelaki itu menegakkan tubuh lalu berbalik hendak beranjak pergi.


Langkahnya terhenti, begitu dirinya dengan tak sengaja menabrak seseorang, hingga tubuh orang itu jatuh terduduk dihadannya.

__ADS_1


Raihan sedikit berjongkok, menatap perempuan itu dengan raut sedikit bersalah, "Maaf.." Ujarnya tulus.


Perempuan dihadapannya mendongak, sebelum akhirnya memilih bangun dan tersenyum kemudian, "Gak.. gak pa pa kok.."


"Bener gak pa pa? maaf aku gak sengaja nabrak.."


"Gak pa pa kok.. oh ya, kamu orang baru?" Tanya perempuan itu penasaran.


Raihan menggeleng dan menoleh kearah apartemen Asya dan menunjuknya sesaat, "Oh, nggak.. aku bukan orang baru, aku lagi nunggu cewe yang diapartemen ini.. dia lagi dimana ya?"


"Asya? dia biasanya jam segini belum pulang.."


Raihan menghela napas kecewa, lelaki itu kembali menatap perempuan di hadapannya dan bertanya, "Kalau boleh tau, dia biasanya pulang jam berapa ya?"


"Jam?" Perempuan itu melirik arlojinya sekilas, lalu berkata. "Sebentar lagi kok, lagi pula dia pulang sama adek aku.."


"Adek? kalau boleh tau, siapa yang namanya?" Tanya Raihan memastikan.


"Iya adek.. kalau kamu kenal Asya, pasti kamu kenal Zidan. Dia adek aku.." Ujar sosok perempuan --yang ternyata adalah Ana.


Raihan terdiam sesaat, sebelum akhirnya menggeleng saat otaknya bisa mencerna seluruh kata-kata yang Ana lontarkan. "Ka-kamu kakanya Zidan?" Tanyanya cepat, dengan nada terbata.


Raut wajah Raihan yang berubah membuat Ana mengernyit dalam, namun dengan santai perempuan itu mengulurkan tangan, hendak mempenalkan diri, "Aku kakaknya Zidan, Liliana.."


Manik Raihan menatap tangan dan wajah Ana bergantian, sesaat pikirannya berkelana. Apakah Asya sudah sedekat itu dengan Zidan? Apakah Asya sudah mulai berhubungan dengan lelaki itu bahkan sebelum bertemu dengannya?


Keterdiaman Raihan membuat Ana makin heran, perempuan itu kembali mengulang kalimatnya untuk yang kedua kali, "Perkenalin aku Ana.."


"Oh.."


Tautan tangan mereka terlepas, kemudian Ana kembali berkata, "Kalau kamu mau tunggu dua orang itu, kamu bisa mampir ke apartemen aku, kok.. tuh.. apartemen aku sebelahan sama apartemen Asya.."


Raihan menggeleng, menolak. "Gak usah, makasih.. lagi pula aku ada urusan lain Ana.. mungkin lain kali aku mampir.."


"Oh.. yaudah deh, kamu langsung pulang?"


"Hmm.. kalau begitu aku permisi dulu.."


Raihan melangkah pergi dengan hati yang remuk berkeping, fakta bahwa Asya sudah mengenal Zidan dengan begitu dekat membuat dirinya tertohok pedih. Sebenarnya jauh disudut hatinya, Raihan masihlah berharap perempuan itu bisa kembali padanya, tapi apa boleh buat? takdir sama sekali tak merestui hubungannya itu.


***


Zidan dan Andi meringkuk lelah di salah satu kursi, dua lelaki itu tampak pucat dengan tangan penuh, memegang plastik belanjaan. Wajah Andi bahkan sudah dipenuhi peluh, akibat semalaman suntuk membawa belanjaan Fany yang segudang.


Dua perempuan itu benar-benar maniak, jika melihat barang dengan promo maupun diskon besar tempampang. Benar-benar pengalaman belanja yang begitu emosional.


"Dan.. gue gak sanggup gini terus, yuk kita pulang.." Rengek Andi kelelahan.


Zidan memejamkan mata, tangannya benar-benar pegal. Bahkan jika bisa diumpamakan, dua tangannya itu rasanya hampir putus, saking banyaknya mengangkat belanjaan sang kekasih.

__ADS_1


"Gue juga mau pulang, An.. tapi kan kita disuruh nunggu disini.."


"Bodo.. gue gak tahan pokoknya.. bener-bener bro, cewek lo sama Fany ganas banget kalau masalah diskonan.. kaya maniak belanja.."


Zidan menghembuskan napas lelah, "Gue juga gak nyangka.. dia bener-bener super, An.."


Setelah itu hanya Ada hening yang membentang diantara dua lelaki itu. Manik mereka sama-sama terpejam dengan deru napas tersenggal, khas orang kelelahan.


"Hei.. kok malah tidur disini?" Tanya Asya yang baru saja datang, --dengan belanjaan yang lain tentunya.


Manik Zidan terbuka, lelaki itu menegakkan badannya yang sedikit pegal, "Sya.. udah cukuplah belanjanya.." Ujar Zidan yang terdengar seperti rengekan.


Asya terkekeh geli, begitu pula Fany. Dua perempuan itu memang sengaja membuat Zidan dan Andi sebagai pembawa barang belanjaan mereka. Menyenangkan bukan?


"Udah yuk pulang.." Kali ini Andilah yang merengek, lelaki itu mendekati Fany, "Fan.. gue gak sanggup kalau gini.. pegel tangan gue Fan.."


Fany berdecih mengejek, perempuan itu menyodorkan sebotol minuman dingin tepat dibibir Andi, "Gak usah cengeng jadi cowo.. nih minum.."


Andi yang sangat kehausan, tanpa ragu meneguk minuman itu dalam tegukan besar. Hingga yang tersisa hanya seperempat bagian botol didalamnya.


"Wih.. haus banget lo ya? hampir abis nih.."


"Memang lo kira kita gak haus apa? liat nih tangan kita penuh belanjaan, pegel semua.."


Asya yang mendengar penuturan Andi, beralih menatap Zidan yang masih terduduk lelah. Perempuan itu duduk disamping kekasihnya, dan dengan lembut menangkup tangan lelaki itu.


"Kamu capek ya? maaf.. soalnya bener-bener diskonannya banyak banget.. kan lumayan, bisa hemat pengeluaran.."


Zidan tersenyum simpul, "Gak.. gak capek kok.. aku bahkan kuat kalau kamu nyuruh aku terus begini.. aku siap.."


Bibir Asya melebar sempurna, sedangkan dua orang manusia yang sedari tadi melihat interaksi mereka berdua, berdecih jijik.


"Dan, gak salah ngomong lo.. tadi lo bilang lo capek, tapi sekarang?"


Zidan mengelak, "Gak, gue gak bilang gitu.. lo kali yang dari tadi ngeluh, sampe bilang kalau si Fany maniak belanja.."


Fany melirik tajam Andi, sedang lelaki itu hanya tersenyum kikuk. Lalu berkata, "Sorry Fan.. gue gak sengaja ngatain lo gitu.. abisnya sih, kalian berdua belanjanya banyak banget.."


"Iya.. iya.. gue juga tau kok.." Fany melirik Asya sekilas dan bertanya, "Sya, jadi pulang gak nih? udah malem.."


"Jadi.." Jawab Asya, tangannya bergerak merangkul lengan Zidan mesra, "Yuk kita pulang.."


***


Jangan lupa kasih like dan coment ya guys.. ☺☺


dan ya.. aku mau kasih tau kekalian, jangan lupa juga mampir di novel aku This Love.. kalian bisa liat sinopsisnya di salah satu part novel ini..😉😉


Jangan lupa juga ya, jadikan fav dan kasih bintang lima disana..😊😊

__ADS_1


Inget.. jangan lupa like dan comentnya yang buanyakkk..😂😂


__ADS_2