My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 79


__ADS_3

Zidan melepas seatbelt dan turun dari mobil sebelum memasuki mansion. Begitu kakinya menapak, Asya yang sedang duduk seraya berbicara dengan Rendi di atas sofa langsung melangkah dan tersenyum manis ke arahnya.


Hatinya menghangat, dia memeluk erat sang istri dan mengecup puncak kepalanya lembut. Tak jauh dari mereka Rendi memandang haru. Ah, dia sangat bersyukur pada Tuhan telah melengkapi keluarga yang tak seberapa ramai ini dengan kebahagiaan.


"Zidan..," panggil Rendi.


Membuat Zidan tersenyum dan mendekati ayahnya itu. "Pah..," sapanya sebelum memeluk tubuh renta orang tua yang sangat dia sayangi ini.


Zidan duduk di sofa, sedangkan Asya berlalu ke kamar -- menyiapkan air hangat untuknya mandi.


"Gimana keadaan perusahaan, Zidan?"


Zidan tersenyum dan melonggarkan sedikit dasinya. "Baik, Pah. Selama Zidan gak ada, Om Darma kembali pantau perusahaan."


Rendi mengangguk puas. Perusahaan yang sudah dirintis generasi mereka sejak lama kini sudah beralih kepemimpinan di tangan Zidan.


Darma sang Adik sebenarnya juga memiliki dua anak lelaki. Tapi dua di antara mereka sama sekali tak memiliki minat terjun ke dunia bisnis. Alhasil sekarang perusahaan yang mengatasnamakan keluarga Revandra itu dipimpin oleh Zidan.


"Terus gimana pembangunan hotel di Surabaya?"


"Lancar, Pah. Mungkin Zidan akan ke Surabaya untuk pantau pembangunan hotel lebih lanjut."


"Kapan tepatnya?"


Zidan terdiam untuk berpikir sejenak, setalahnya lelaki itupun menjawab, "Mungkin tunggu selesai Asya bersalin. Lagipula kandungan Asya juga udah hampir jalan bulan ke tujuh, Zidan gak mungkin ninggalin Asya dalam waktu-waktu dekat ini."


Mendengar hal itu membuat Rendi menepuk bahu Zidan. Lelaki paruh baya itu bangga dengan jawaban lugas sang anak. Sangat menandakan bahwa lelaki itu adalah suami yang bertanggung jawab.


Setelahnya mereka membicarakan beberapa hal, sebelum Zidan pamit untuk masuk ke kamar dan membasuh tubuh.


Zidan membuka helai kain yang melapisi tubuhnya, hingga hanya tersisa boxer selutut yang menutupi area privasi.


Asya mengambil pakaian kotor, dan memasuki area walk in closet sebelum meletakkannya di dalam keranjang -- yang nantinya akan diambil oleh maid untuk dicuci.


Sembari menunggu Zidan mandi, Asya duduk di pinggir ranjang dengan perasaan resah. Ada sesuatu yang harus katakannya pada Zidan tentang Ana.


Beberapa menit berlalu. Suara pintu geret yang membatasi kamar mandi dengan kamar tidur terbuka.


Zidan melangkah, aura segar membuat Asya tak berkedip memandang sang suami. Dia menggeleng cepat, ibu hamil itu lalu mendekat ke arah Zidan yang sedang mengeringkan rambut kemudian mengambil alih.


"Makasih, Sayang.."


Asya tersenyum lembut, menghirup aroma maskulin yang tercium dari tubuh Zidan yang hanya terlapisi handuk -- menutupi area pribadi.


"Zidan..?"


"Hn."


"Aku mau ngomong."


"Ngomong aja, Sya," jawab Zidan.


Membuat Asya menghela napas dan berkata, "Kak Ana pergi ke Rumah Sakit, abis kamu berangkat kerja tadi pagi."


"Terus?"

__ADS_1


"Kak Ana masih demam, Zidan. Dia gak mau dengar aku dan bersikeras pergi."


Mendengar hal itu entah mengapa juga membuat Zidan turut menghela napas. Tak ada yang bisa mengatasi kekeras kepalaan Kakak cantiknya itu, bahkan ayah mereka sendiri.


"Tunggu di sini sebentar."


Kerutan di dahi Asya tercetak begitu Zidan mengambil ponsel di atas nakas, lalu menghubungi seseorang. Asya bernapas lega, semoga kakak ipar tersayangnya itu baik-baik saja, mengingat betapa pucat wajahnya tadi pagi.


...


Ana merutuk, kakinya yang lemah dia paksakaan untuk berjalan ke halte yang tak jauh dari Rumah Sakit tempatnya bertugas.


Mobilnya masih terparkir di Rumah Sakit karena mogok. Seakan tak cukup kesialan yang dia terima, langit yang sebelumnya cerah 'pun telah menghitam.


Membuat tubuhnya yang memang masih hangat, bergetar. Ana menghela napas, lalu mengusap buliran keringat di pelipis.


Wajahnya yang pucat bertambah memprihatinkan. Akhirnya setelah berjalan beberapa langkah Ana dapat bernapas lega saat bokongnya itu mendarat di kursi.


Matanya baru terpejam sesaat, saat seseorang menggoyangkan bahunya pelan.


"Mbak.. Mbak.."


Ana mengerjab. Seorang perempuan didapati saat matanya kembali terbuka. "Ada apa ya, Mbak?" tanya Ana dengan suara serak.


"Itu Mbak, ada yang menjemput anda."


Ana mengernyit, merasa dia tak menghubungi seorangpun untuk menjemputnya. Oleh karenanya, memikirkan hal itu membuat Ana menegakkan tubuh untuk melihat siapa orang tersebut.


Ana mendengus pelan. Lantas berdiri dan meninggalkan halte untuk menjauhi Raihan yang ternyata adalah orang yang menjemputnya.


Kakinya yang lemah itu dia paksakan untuk kembali melangkah. Tak jauh darinya Raihan 'pun kembali menginjak pedal gasnya amat pelan.


Tadi, tepat saat dia baru akan pulang dari perusahaan. Zidan menelpon dan memberitahukan bahwa Ana sudah kembali bekerja meskipun dalam kondisi demam sekalipun.


Raihan yang merasa khawatir dan bersalah di saat bersamaan 'pun, berinisiatif untuk menjemput Ana sekaligus menyampaikan permintaan maaf.


Dan di sinilah dia. Mengikuti Ana untuk membujuk perempuan itu.


"Ana.."


Ana tak mengubris dan terus melangkah, berharap akan ada taksi untuk dia tumpangi.


"An.."


Tinn.. Tinn..


Raihan melihat dari spion bagaimana mobil telah berjajar di belakangnya. Namun dia tak ingin mengambil pusing, saat ini di pikirannya hanyalah menjemput Ana dan meminta maaf padanya.


"An.. Please naik, kamu lagi sakit, An.."


Ana berhenti melangkah sebelum menoleh dan menatap Raihan dengan wajah pucatnya. "Pulang, Raihan!! Gak usah ikutin aku.."


"An..."


"Pulang!!"

__ADS_1


"An, please.."


Ana menghela napas, sadar akan situasi mereka yang menarik perhatian. Akhirnya setelah beberapa detik berdiam, Ana 'pun memasuki mobil Raihan dan duduk memasang seatbelt tanpa ingin memandang lelaki itu.


"Makasih, An.. Kamu mau aku anterin."


Tak ada jawaban.


Membuat Raihan melajukan mobilnya dengan kecepatan normal kembali.


"Kalau kamu lagi demam seharusnya kamu gak kerja, An.. Kamu istirahat aja."


"Bukan urusan kamu!"


Raihan tersenyum masam, tak ada pembicaraan di antara mereka bahkan hingga mobil itu telah sampai di depan mansion keluarga Revandra.


Raihan mematikan mobil dan melepas seatbelt sebelum menoleh. Lelaki itu kembali tersenyum begitu melihat Ana sudah menutup mata dan terlelap.


Raihan mendekat untuk membuka seatbelt yang Ana pakai. Jarak yang terbentang dekat membuat Raihan bisa memandang lebih jelas wajah pucat Ana.


Tangannya terangkat, dahinya berkerut begitu merasakan semburat panas di pelipis.


Kekhawatiran kembali muncul, apalagi saat mendengar suara gigi bergemelatuk yang Raihan yakini asalnya dari Ana.


"Ana.."


Tanpa ingin membuang waktu lebih lama, Raihan langsung keluar dari mobil sebelum beralih membopong Ana untuk memasuki mansion.


"Zidan!!"


Pekikan Raihan, serta Ana yang terbopong membuat tiga orang yang sedang mengobrol di ruang tengah terkejut.


"Kak Ana kenapa?" tanya Zidan cepat.


"Di-dia demam, Dan.. Badannya panas banget.."


"Bawa dia ke kamar," perintah Rendi.


Raihan mengangguk, kembali membopong Ana ke kamar. Rendi menaiki undakan tangga dengan pelan, begitupun Asya yang dipapah oleh Zidan.


Begitu Ana di baringkan Raihan di ranjang, Rendi dan Zidan berlalu untuk menelpon dokter keluarga mereka. Sedangkan Asya beranjak untuk meminta maid agar menyiapkan kompresan.


Dan tinggal lah Raihan sendiri. Lelaki itu terpekur, kembali memandang wajah pucat Ana yang entah mengapa membuat jangtungnya terasa teremas.


Dia menggenggam tangan yang terasa halus milik Ana. Membuatnya kembali memikirkan pertanyaan Zidan yang menanyakan apakah dia menyukai perempuan yang terbaring lemah ini.


Menelaah, Raihan mencoba mencari adakah perasaan cintanya yang masih tertinggal untuk Asya. Dan jawabannya ada. Tapi dalam kapasitas yang kini sudah diyakininya sebagai sahabat.


Kini hatinya sudah tak berpemilik. Ada ruang kosong yang sepi, dan terasa penuh ketika dirinya di dekat Ana.


Apakah hatinha sudah terkait oleh perempuan ini?


"An, Aku minta maaf.. Aku gak suka liat kamu begini.."


...

__ADS_1


Like dan coment..


Selamat menjalankan ibadah Puasa di bulan berkah ini, jaga kesehatan ya..


__ADS_2