
"Jadi Zidan ngelarang lo untuk deket sama Esfi?"
Asya mengangguk, menyandarkan punggungnya disandaran sofa sembari menikmati semangkuk es krim yang Fany sediakan.
"Terus apa lagi?"
"Ya gitu." Menghela napas Asya meletakkan mangkuk itu dan memandang Fany dalam. "Dia bilang Esfi berbahaya, aku juga gak tau apa alesannya. Tapi, menurut aku itu mungkin cuma pikiran Zidan aja."
Fany mendengus, perempuan yang masih menggunakan pajama berwarna biru laut itu memilih duduk di samping Asya. "Lo gak boleh terlalu lugu, Sya. Menurut gue Zidan bener. Ada sesuatu dalam diri cewek itu yang aneh. Dia sinis dan jahat."
"Memang kamu bisa baca aura apa?"
Yang diledek bersedekap kesal. Menurut Asya, tak ada yang salah dari sikap Esfi, meski pada awalnya Asya sempat mengira perempuan itu berbahaya. Tapi, semalam setelah berpikir panjang, Asya berpikir tak ada salahnya untuk memulai pertemanan kembali bersama Esfi yang notabennya dalah temannya semasa SMA.
"Sya, lo liat gue." Fany memegang sebelah bahu Asya, membawa sahabatnya itu agar memandangnya. "Menurut gue, gak ada salahnya dengar kata Zidan. Apa lagi, dia kan mantan cowok lo. Dia itu berbahaya, dan gue tau ada alesannya Zidan bilang begitu ke lo. Selama yang gue tau, cewek dan cowok itu gak bisa selamanya jadi sahabat."
"Trus aku sama Raihan, gak bisa sahabatan gitu?"
Perempuan yang ditanya hanya bisa menggaruk tengkuknya pelan, lalu menjawab, "eh, kalau lo sama Raihan itu pengecualian."
Ada rasa lega yang sesaat terhembus. Entah mengapa ketika mengingat lelaki itu s'lalu bisa membuat Asya sesak. Apa kabar lelaki itu saat ini? Semenjak pertemuannya terakhir kali dengan Raihan dirumah sakit kemarin, sampai saat ini pun, lelaki itu tak ada kabar.
"Sya, lo kenapa?" Melihat raut Asya yang sedikit mengerut membuat Fany bertanya.
Saat ini Asya tampak berbeda. Dulu Asya sangat ceria, bahkan sering menghabiskan hari dengannya dan teman-teman lain. Tapi, semenjak kembali bertemu Zidan dan menjalin hubungan dengannya, membuat Asya lebih sering merenung.
"Lo inget Raihan?" tanya Fany sekali lagi.
Asya mengangguk kecil, membuat Fany yang berada dihadapannya memeluk tubuh Asya dan menepuk punggungnya
pelan.
"Lo bisa cerita sama gue kalau ada masalah, oke?"
"Thanks, Fan."
"Sama-sama."
Setelah pelukan mereka terhela, mata Asya beralih memandang ke arah jendela yang terbuka. Hari yang sebelumnya mendung dan terasa dingin, kini berganti dengan hari yang bersinar. Asya menunduk, memandang semangkuk es krim yang telah mencair di atas meja depan sofa.
"Lo mau keluar gak?"
"Kemana?"
"Ya keluar aja. Di deket apartemen gue kan ada taman. Disana juga ada yang jual makanan." Tangan Fany bergerak, mengusap perut Asya yang masih datar. "Kali aja si Baby-nya mau apa gitu?"
Manik Asya mengikuti arah pandang Fany yang menatap perutnya. Memang akhir-akhir ini, keinginan Asya yang ingin menyantap berbagai makanan cenderung bertambah. Contohnya saja semangkuk es krim yang sudah meleleh tadi.
"Ya udah deh, aku mau. Lagi pula entah kenapa, aku lagi pengen banget bakso."
Mendengar hal itu membuat Fany tergelak. Dia langsung bangun dari sofa dan beralih cepat ke arah kamar sebelum kembali memandang Asya yang juga memandangnya.
"Tunggu gue, oke? Pokoknya kali ini tantenya yang traktir. Biar anak lo juga kenal sama gue."
Asya tersenyum dan mengangguk cepat. Sungguh, entah sudah keberapa kalinya dia mensyukuri kehadiran Fany sebagai sahabatnya. Fany itu s'lalu ada di saat Asya membutuhkan, dan Asya sama sekali tak ingin kehilangan perempuan itu.
__ADS_1
...
Suasana taman bisa dibilang ramai. Banyak anak-anak yang menikmati hari dengan ditemani oleh orang tua ataupun pengasuh mereka. Asya tersenyum, lalu mengelus perut ratanya beberapa saat.
Saat anaknya dan Zidan lahir, dia ingin sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. Mengasuh dan mengurus anak dan suaminya tanpa memikirkan pekerjaan sedikitpun.
Tapi memikirkan hal itu, membuat Asya tercenung. Bisakah dia memberitau Zidan tentang kehamilannya dan berakhir menjalani hidup berdua, seperti yang dia pikirkan?
"Fan," panggil Asya membuat Fany yang duduk di bangku taman -- disampingnya menoleh.
"Ada apa Sya?"
"Aku mau kasih tau Zidan kalau aku hamil, tapi aku gak tau gimana."
Fany terkesiap, keterkejutan terlihat jelas di matanya yang membulat dan melihat hal itu membuat Asya merasa gemas.
"Jadi lo mau ngasih tau dia?"
"Iya." Asya mengangguk, dan kembali melanjutkan, "udah terlalu lama aku gak bilang ke dia. Aku kan gak mungkin nyembunyiin ini dari Zidan terus, bagaimana pun dia harus tau, seperti yang kamu bilang."
Sejenak Fany terdiam. Perempuan itu tampak mendongak, menatap langit yang diselimuti awan berwarna putih. "Gimana kalau lo kasih semacam kejutan?"
"Kejutan?" Asya tampak tertarik, terbukti dari wajahnya yang tampak berbinar cerah. "Kejutan yang gimana?"
Fany bersedekap beberapa saat sebelum menghela napas, dan kembali berkata, "seperti adegan-adegan di novel romance, si cewek ngasih kotak dan didalemnya itu ada testpack dan foto USG. Menurut gue itu gak salah lo coba."
"Memangnya gak berlebihan apa?"
Fany mengerutkan dahi, sebelum tertawa keras, yang mana itu membuatnya dan Asya menarik perhatian sebagian orang yang melintas.
"Iya-iya deh, sorry." Mengusap sudut air matanya yang mengenang, Fany kembali menatap Asya dengan wajah seriusnya entah dari kapan. "Itu gak berlebihan Sya. Lo tau kan, punya anak itu kebahagiaan. Jadi gak masalah dong."
Mendengar apa yang Fany sarakan memang awalnya membuatnya ragu. Tapi, dia akan berusaha. Bagaimana pun ada sebuah nyawa lain yang berkembang dalam tubuhnya, ada yang ikut bernapas dalam setiap hembusan napasnya. Ini anaknya dan Zidan, tidak mungkin kan lelaki itu akan menolak kehadiran anak mereka?
...
Zidan memarkirkan mobilnya dihalaman komplek apartemen Fany ketika lagit sudah menggelap. Hari ini ada beberapa rapat yang harus dia hadiri, baik itu yang ada di dalam maupun luar perusahaan. Selain rapat, kemacetan jalan pun menjadi salah satu kendala yang menyebabkannya terlambat untuk menjemput Asya.
Tersenyum, Zidan melambai kepada Asya yang sudah berdiri bersama dengan Fany disampingnya. Dia berjalan cepat dan memeluk tubuh sang kekasih, membuat Fany yang berada tepat diantara mereka -- mendengus pelan.
"Maaf terlambat ya, Sya."
"Iya gak pa pa."
"Pulang?"
Asya menggangguk, dan menoleh kearah Fany. Mereka berpelukan setelahnya dengan Fany yang berbisik, "inget, lo siapin dulu baru lo kasih, oke?"
"Oke."
Pelukan mereka terhela, Zidan langsung menggandeng tangan Asya dan membawanya masuk kedalam mobil -- begitu pula dirinya.
Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Jika Asya masih memikirkan rencananya dan Fany, apakah bisa berjalan dengan baik atau tidak. Lain halnya dengan Zidan yang memikirkan berbagai masalah. Entah mengapa, ada saja yang tak ingin membiarkannya dan Asya tenang.
Namun setidaknya kini dia bisa bernapas lega. Masalah Esfi sudah dia selesaikan, walaupun dirinya sendiri tidak bisa menjamin apakah perempuan durjana itu tak akan melakukannya lagi atau tidak.
__ADS_1
Setelah hampir tigapuluh menit berkendara, Zidan memarkirkan mobilnya. Dia keluar dari mobil dengan Asya yang mengikuti.
"Kamu mau masuk dulu?" tanya Asya, memggenggam tangan Zidan lembut. Kali ini dia akan memberanikan dirinya untuk memberitau perihal kehamilan. Dia tak ingin menyembunyikannya terlalu lama lagi.
"Iya," jawab Zidan singkat. Seperti biasa semenjak hubungan mereka, Zidan akan berjalan dengan tangan Asya yang berada dalam genggaman. Asya tak menolak, dia sudah terlalu nyaman karenanya.
Asya menekan beberapa digit angka sandi apartemen dan setelahnya pintu itu segera terbuka. Melangkah pelan, Asya membiarkan Zidan untuk mengistirahatkan tubuhnya di sofa, sebelum dirinya menuju dapur dan menyiapkan segelas jus jeruk dingin kesukaan lelaki itu.
"Zidan, minum dulu," ucap Asya -- menyodorkan gelas itu dan disambut Zidan dengan langsung meminumnya.
"Ada yang pengen aku kasih ke kamu."
"Apa?"
Asya menelan ludahnya kasar. Perempuan itu kembali beranjak menuju kamar dan langsung membuka laci nakas, dimana gambar USG dan alat tes kehamilan berada.
Sebuah kotak telah disiapkan. Asya mengatur napas begitu meletakkan kedua hasil itu didalam kotak, sebelum menutupnya kembali.
"Ini," ucap Asya dengan suara gemetar. Zidan memandangnya dengan dahi yang berkerut, tangannya pun bergerak untuk mengambil kotak berwarna peach itu.
"Ini apa?"
"Itu.. itu.." Asya tampak tergugup, perempuan itu melanjutkan, "pokoknya kamu buka aja ya, pas kamu lagi di apartemen."
"Kenapa?" tanya Zidan, kerutan didahinya makin bertambah jelas.
"Pokoknya kamu bukanya di apartemen aja."
"Iya deh." Zidan sedikit tergelak, tangannya terangkat dan meraih Asya sebelum menarik tubuhnya hingga berakhir kepangkuan.
"Aku capek."
"Kerjaan kamu banyak, ya?"
"Nggak."
"Trus?"
"Capek aja." Kepala Zidan menyeru, lelaki itu menghirup aroma Asya yang memabukkan, menenggelamkan kepalanya dalam kehalusan surai sang kekasih. "Aku besok harus berangkat ke Surabaya, kira-kira tiga hari."
Manik Asya membulat, sapuan tangannya pada rambut Zidan pun terhenti. "Secepat itu?"
Zidan mengangguk.
"Kok kamu gak bilang?"
"Jadwal di tentukannya mendadak, kebetulan perusahaan yang menjalin kerjasama sama kita, minta ketemunya besok. Abis itu, perusahaan kita juga harus meninjau tanah yang mau di jadiin tempat pembangunan. Kamu tau kan, perusahaan kita sekarang mau merambah bisnis perhotelan?"
Asya mengangguk, kembali menyerukan kepala Zidan tepat kepelukannya. Setidaknya dia sudah memberikan apa yang seharusnya di berikan. Hanya tinggal menunggu hasil yang akan Tuhan tentukan pada hubungan mereka.
Apakah mereka akan berlanjut? Ataukah terhenti tanpa bisa menapak kembali?
...
Vote, like dan coment..😊😊
__ADS_1