
Zidan menoleh begitu Anita memasuki ruang kerjanya. Perempuan yang kini menjadi pengganti Asya sebagai sekretaris -- sementaranya itu mengangguk hormat, sebelum melangkah lebih dekat ke arah meja dimana dia berada.
"Ada apa Anita?" tanya Zidan, kembali mengalihkan pandangan mata agar terfokus ke layar macbook yang menampilkan diagram kemajuan perusahaan.
"Itu pak, ada yang ingin mememui anda."
"Menemui saya?" Dahi Zidan mengernyit, sekilas lelaki itu melirik ke arah arloji yang menunjukan waktu sore hari. "Siapa?"
"Mereka bilang, mereka itu sahabat anda, pak," jawab Anita.
Zidan mendesah, lelaki itu beranjak untuk duduk disofa di sisi kanan meja kerjanya, sebelum melepas jas yang membungkus kemeja yang dia kenakan. "Suruh mereka masuk."
"Baik pak." Anita mengangguk patuh, sebelum berbalik dan keluar ruangan untuk menjalankan perintah atasan --sementaranya-- itu.
Memejamkan mata, tangan Zidan bergerak menghela beberapa kancing kemeja hitamnya dan menggulung lengannya sebatas siku.
Ketidak hadiran Asya disisi memang membawa dampak yang cukup signifikan bagi Zidan, apalagi setelah hubungan mereka berkembang -- memandang wanita itu saja, sudah bisa menghilangkan rasa lelah dan kepenatan dalam mengurus perusahaan.
Asya memang sempat menggerutu kesal saat mereka masih di apartemennya pagi ini, tapi apa yang bisa dilakukan Zidan selain menolak dan memerintahkan perempuan itu untuk istirahat?
Melihat Asya yang terus saja mual dan muntah saja sudah membuatnya ingin melarikan perempuan itu kerumah sakit, namun sekali lagi, kekerasan kepala perempuan yang berstatus sebagai kekasihnya itu mengalahkan semuanya.
Decitan pintu terbuka -- tertengar, Zidan bangkit dan melangkah mendekati tiga orang sahabat -- termasuk Raihan di dalamnya. Dia merangkul tubuh mereka satu persatu, sebelum mempersilahkannya duduk disofa.
"Lesu banget, bro?" tanya Andi membuka percakapan, lelaki yang tak lagi memakai setelan kerja itu mengerutkan alis begitu melihat wajah kuyu Zidan.
"Harus nanya, apa? Lo gak bisa liat perbedaan apa yang ada disini?" Zidan tak menjawab, dia justru kembali melemparkan pertanyaan bernada ketus yang membuat kerutan didahi Andi tercetak makin dalam.
"Sekretaris lo ganti?" Kali ini Raihan yang bertanya. Wajahnya yang tampan tampak lelah dengan bulu halus yang mulai tumbuh disekitaran rahang.
Jika sebelumnya Zidan akan merasa jengah dan marah, begitu Raihan yang notabennya adalah mantan kekasih dari Asya itu menanyakan kabarnya, maka kali ini tidak. Zidan justru tertunduk, makin terlihat lesu.
"Gue gak ganti sekretaris."
"Trus?" Yuda tampak tertarik, terbukti dari postur tubuhnya yang kini mulai membungkuk dan memandang Zidan tajam.
Menghela napas lelah, Zidan mengacak rambutnya dengan gerakan pelan. "Dia sekretaris pengganti, cuma sementara. Sampe Asya aman dan sembuh dari sakitnya."
__ADS_1
"Asya sakit?!" Suara Raihan yang meninggi mengundang Zidan, Andi dan Yuda untuk menatap lelaki itu. Ada kekhawatiran yang tercetak sangat diwajahnya, hingga tak bisa di sembunyikan. "Sakit apa?"
"Gue gak tau, kata dia sih asam lambungnya naik. Tapi waktu gue mau bawa dia kerumah sakit, dia nolak."
"Mungkin dia stress kali," cletuk Yuda spontan.
Memang keadaan pikiran yang membeban saat ini, ditambah dengan teror yang kemarin baru saja terjadi, bisa membuat siapa saja stress mendadak. Bahkan jika Yuda berada di posisi Asya, dia mungkin akan mengalami hal yang sama.
"Trus gimana, Asya udah mendingan?" tanya Raihan lagi. Andi dan Yuda memilih diam, sementara Zidan makin tertunduk lesu begitu pikirannya kembali terfokus kepada Asya.
"Udah mendingan. Tapi gue khawatir aja sakitnya makin parah. Naiknya asam lambung kan gak bisa di anggap remeh."
"Kalau begitu lo harus lakuin satu hal buat Asya. Mungkin bener kata Yuda, Asya sedikit stress karena kejadian kemaren."
"Trus gue harus apa?"
...
Keterdiaman terbentang diantara Asya dan Zidan. Hanya ada suara deru mobil dan desah napas mereka yang terdengar. Kelap-kelip lampu kota dan gedung-gedung pencakar langit mejadi pemandangan yang mengiringi mereka kali ini.
Mobil Zidan melaju pelan, sebelum berbelok kearah tikungan dengan jalan menanjak yang diselingi rimbunan pohon diantara mereka.
Asya yang sebelumnya hanya terfokus keluar jendela, dengan cepat menoleh kearah Zidan. Kerutan di dahinya itu tak dapat di sembunyikan. "Kita kemana, Zidan?"
"Mau ngajak kamu kesuatu tempat."
"Dimana?"
Zidan tersenyum, mengalihkan pandangan kearah Asya sekilas lalu mengenggaman tangan perempuan itu erat. "Ada satu spot yang bagus gak jauh dari sini. Dulu aku sering kesana waktu suntuk, dan sekarang aku mau ngajak kamu."
"Bagus pemandangannya?"
"Bagus, aku yakin kamu suka."
Sekitar tigapuluh menit kemudian, mobil yang mereka kendarai berhenti di spot yang Zidan maksud. Asya langsung keluar dari mobil begitu pun Zidan. Memang benar yang Zidan katakan, spot yang mereka datangi ini indah. Mereka seperti berada di atas tebing, dari sini mereka bisa melihat suasana temaram kota secara keseluruhan.
"Disini.. indah ya."
__ADS_1
Zidan mengangguk, melepas jalinan jemari mereka sebelum mendekap Asya dari belakang. Posisi ini begitu nyaman baginya, tidak terkecuali Asya. Pipi perempuan itu bahkan sudah memerah, terlihat sangat manis jika dipandangan.
"Kenapa kamu bawa aku kesini Zidan?"
"Karena tempat ini, tempat pelarian aku Asya. Kalau aku lagi stress dan banyak pikiran, aku akan ketempat ini."
Tak ada kebohongan yang dikatakan oleh Zidan. Tempat itu memang tempat pelariannya dulu ketika beban menghampirinya -- sebelum dia mengenal Asya.
Pertengkaran orang tua, di tambah tak adanya Ana yang dulu seharusnya menemaninya, membuat tempat ini menjadi satu-satunya tempat Zidan meluapkan emosi. Di tempat ini dia bahkan bisa menangis, meraung dan memaki, hingga itu berakhir ketika dia bertemu dengan Asya dan kembali sakit untuk yang kesekian kalinya.
"Zidan," panggil Asya pelan, tangannya mengusap lengan Zidan lembut begitu suasana makin mendingin.
"Emm."
"Maaf."
Alis Zidan bertaut, lelaki itu menunduk -- menyandarkan kepala dibahu mungil Asya. "Maaf untuk apa?"
"Karena.. aku gak bisa, hilangin kesalahpahaman kamu sama aku."
Kali ini Zidan mengerti arah penbicaraan Asya. Alih-alih menolak dan menyangkalnya seperti kemarin, Zidan justru makin mendekap tubuh mungil kekasihnya kuat, namun sarat akan cinta.
Bibir Zidan menyusuri lekuk leher Asya, membuat perempuan itu meremang. Ciuman-ciuman itu berakhir tepat ditelinga sang kekasih. "Apa aku pernah bilang Sya, kalau aku cinta banget sama kamu?"
Asya memilih diam, tak menjawab. Matanya terpejam, merasakan gejolak jantungnya yang berdegup kencang, serta kehangatan yang lelaki itu berikan pada tubuhnya dari dekapan penuh cinta ini.
Hingga ketika Zidan menolehkan lalu mempertemukan wajah mereka berdua, Asya sama sekali tak bisa menyembunyikan rona dan gejolak itu. Lelaki itu kembali menunduk, menempelkan dahi mereka, kemudian berbisik, "aku cinta kamu, Sya. Sangat."
Sudut bibir Asya terangkat, matanya terpejam. Detik demi detik mereka terdiam, hingga ketika dua bibir itu dipertemukan -- Asya tak sanggup untuk tak membalasnya.
Mereka larut dalam atmosfir yang berbeda, namun berpayung sama. Malam ini, biarlah rasa yang menuntun apa yang selanjutnya akan terjadi.
Sekali lagi Asya bertanya, apakah sekarang dia bisa bernapas lega?
...
Vote, like dan coment sebanyak-banyaknya ya.. 😁😁
__ADS_1