My Devil Man

My Devil Man
MDM - Part 105 (Raihan&Ana)


__ADS_3

Part Bonus Raihan dan Ana 3


...


Ana baru saja selesai bersiap dan akan menemui Raihan di tempat yang telah mereka tentukan. Hari ini Ana diberikan cuti dan dia akan memanfaatkan waktu luangnya bersama Raihan seperti yang lelaki itu minta. Ana turun ke lantai dasar mansion. Midi dress berwarna maroon yang membungkus tubuh rampingnya berkibar ketika dia menuruni anak tangga. Rambutnya yang dilengkapi jepit kecil dibiarkan terurai bebas.


"Mah ... Pah ... aku--" kalimat Ana menggantung.


Dia mengernyit begitu mendapati Raihan, ayah serta ibunya yang tampak mengobrol serius di ruang tengah. Ana berjalan mendekat, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena pandangan orang tuanya yang kini tertuju pada dirinya.


"Hai, Raihan," sapa Ana. Terdengar canggung.


Bukan tanpa alasan Ana bersikap demikian. Kendati hubungannya dan Raihan sudah hampir menginjak dua bulan, Ana belum berani memberitahukan siapapun di dalam keluarganya, bahkan kepada Asya. Bagi Ana, belum ada waktu yang tepat untuk itu.


"Ana, duduk, Sayang," titah Rendi lembut.


Ana menurut. Dia duduk di samping Raihan dan mengambil jarak agar orang tuanya tak curiga. Ketika Rendi menoleh ke arah Rina baru lah Ana berani mendekat dalam jarak aman sebelum berbisik kepada Raihan. "Han, kamu ngapain ke rumah aku? Bukannya kita udah janjian di tempat yang tadi kamu kasih tahu?"


"Aku cuma mau jemput kamu."


Alasan apa itu? batin Ana gemas. Baru saja akan kembali berbisik. Kedua orang tuanya lebih dulu menoleh ke arahnya dan tersenyum lembut. Ana mengernyit heran. Senyuman itu menyiratkan arti tersembunyi yang membuat jantungnya berdetak tak menentu.


"Kenapa gak pernah bilang kalau kamu dan Raihan sekarang sedang berhubungan, Nak?" tanya Rendi.


Tuh kan, benar apa yang dia perkirakan.


Ana menoleh ke arah Raihan sekilas, sebelum menatap kedua orang tuanya bergantian. Jika diperlukan, Ana akan memberitahukannya sekarang. Dia tak ingin Rendi dan Rina merasa dirinya tak terbuka bahkan kepada orang tuanya sendiri.


"Begini, Pah ... Mah ... aku memang akan kasih tahu kalian, tapi nanti."


"Nanti itu kapan, Sayang?" Kini giliran Rina yang bertanya. Wanita paruh baya itu memandang Ana dengan kelembutan.


Membuat Ana hanya bisa menunduk dan memilih jemarinya gugup. Huh ... padahal umurnya tak lagi muda. Bagaimana bisa dia bersikap kekanakan seperti ini?


"Tapi, Mamah seneng lho, kamu dan Raihan dekat. Mamah harap hubungan kalian akan seperti Zidan dan Asya." Rina kembali berkata dengan antusias.


Tak menyadari bahwa kalimat tersebut membuat sepasang kekasih yang duduk berhadapan dengannya dan Rendi terbatuk dengan wajah memerah.


"Mah ...," rengek Ana.


Rendi dan Rina terkekeh pelan melihat pipi anak pertama mereka bersemu malu. Bagi mereka, melihat Ana seperti sekarang membuat mereka sangat bahagia. Sudah lama Rina dan Rendi menjatuhkan hati pada Raihan mengingat anak lelaki itu sangat baik dan sopan.

__ADS_1


Mereka bahkan sangat terkejut sekaligus senang ketika Raihan datang dan menyampaikan fakta bahwa dirinya dan Ana saat ini tengah menjalin hubungan dan lelaki itu mempunyai keseriusan untuk membawa jalinan itu ke jenjang yang lebih lanjut.


"Udah ... udah ...." Rendi mengintrupsi. "Bukannya kalian ingin pergi?" lanjutnya lagi.


Ana mengangguk cepat. Dia bangkit dari sofa dan meraih tangan Raihan hingga lelaki itu ikut berdiri. Rina dan Rendi lagi-lagi terkekeh pelan.


"Mah, Pah, aku berangkat dulu." Ana berseru seraya kembali menarik tangan Raihan untuk mengekorinya.


Di belakang Ana, Raihan menoleh sekilas kepada orang tua kekasihnya. Tersenyum dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu.


...


"Raihan?"


"Hm."


"Sebenernya apa sih yang kamu omongin sama orang tua aku?"


"Seperti yang kamu dengar dari orang tua kamu."


"Hanya itu?" tanya Ana lagi. Dia tak bisa menahan rasa penasaran. Selain karena dia tak sempat mendengar pembicaraan mereka sebelumnya, orang tuanya juga terlihat sangat antusias meski pun hubungan Ana dan Raihan baru bisa disebut dengan 'pacaran'.


"Sebenernya bukan cuma itu sih." Raihan menepikan mobil. Lelaki itu lantas menoleh ke arah Ana dan berkata, "Aku dateng ke rumah kamu, minta izin buat ajak kamu pergi. Lalu, orang tua kamu nanya alasannya apa. Dan dari situ aku tahu kamu belum kasih tahu ke orang tua kamu tentang hubungan kita. Awalnya aku kecewa, tapi aku berusaha berpikir positif hingga akhirnya aku kasih tahu hubungan kita sekarang."


"Cuma itu," jawab Raihan pada akhirnya.


Kemudian mobil yang mereka kendarai kembali melaju. Raihan berkendara santai dengan sebelah tangan menggenggam tangan Ana dan sesekali mengecup punggung tangannya lembut. Wajah Ana memerah.


Mereka sampai di pelataran parkir sebuah supermarket beberapa menit setelahnya. Ana sempat heran. Namun, Raihan berkata bahwa mereka perlu membeli beberapa barang hingga akhirnya Ana menurut dan mengekori sang kekasih memasuki supermarket.


Raihan mengambil troli. Mengisinya dengan berbagai bahan makanan seperti buah, sayur, daging dan berbagai jenis bahan lain yang tentunya membuat Ana bertanya-tanya.


"Han, sebenernya tujuan kamu apa sih?" tanya Ana.


Raihan menoleh. Mereka masih berjalan di lorong-lorong yang dipenuhi berbagai jenis bahan makanan. "Aku mau bawa kamu ke suatu tempat."


"Ke suatu tempat yang kamu maksud itu supermarket?"


"Bukan." Raihan menyeringai. "Kamu


liat aja nanti."

__ADS_1


...


Ke tempat mana lagi Raihan akan membawanya setelah mereka berbelanja bahan makanan yang bisa dikatakan banyak itu? Semula Ana bertanya-tanya. Dia terus mendesak Raihan hingga lelaki itu dengan sengaja menutup mulutnya dengan telapaknya yang memang besar. Setelahnya Ana memberenggut. Apalagi ketika suara tawa Raihan memenuhi hampir beberapa menit perjalanan mereka.


Hingga ketika kesabaran Ana mulai menipis, mobil yang mereka kendarai memasuki sebuah pelaran mansion yang terbilang luas. Mansion ini sangat indah. Dilengkapi taman sederhana yang ditumbuhi rumput dan tanaman bunga warna-warni menyejukkan ketika di pandang. Ini rumah siapa?


"Ini rumah aku, Sayang," sahut Raihan seakan lelaki itu bisa membaca apa yang sedang kekasihnya pikirkan.


Mata Ana melotot horor. Perempuan itu menoleh ke arah Raihan bertepatan dengan mobil yang mereka kendarai perlahan berhenti dan terparkir apik tepat di depan mansion.


"Ayo kita turun."


Raihan keluar dari mobil, membuka bagasi sebelum menurunkan belanjaan yang sebelumnya mereka beli di supermarket, lalu memberikannya ke beberapa asisten rumah tangga yang entah dari kapan sudah menunggu di sana.


Di dalam mobil Ana masih berada di posisi semula. Mansion? Ini pasti mansion keluarga Raihan? Ana ketar-katir. Seharusnya tidak sekarang, kan? Raihan saharusnya membawanya ke tempat lain. Mereka terbiasa pergi ke taman, pantai, taman hiburan, bioskop dan berbagai tempat lainnya yang biasa dijadikan tempat berkencan bagi pasangan yang berpacaran.


Dia memang pernah ke apartemen Raihan untuk menemani lelaki itu. Namun hanya itu. Jika Raihan membawanya ke mansion keluarganya, bukankah otomatis Ana akan menemui keluarga Raihan? Ya, Tuhan dia belum siap.


"Sayang .... Ayo keluar."


Suara Raihan yang berada di sampingnya membuat Ana terkejut bukan main. Dia menoleh. Menolak dengan tegas ketika Raihan menarik tangannya untuk turun dari mobil.


"Raihan, aku gak mau!"


Raihan menghela napas. "Memangnya apa sih alesan sampe kamu gak mau?"


"Kamu gak kasih tahu aku kalau kita ke sini."


"Karena aku tahu kamu pasti akan nolak," jawab Raihan pada akhirnya.


Kepala Ana menunduk. "Aku takut keluarga kamu gak suka sama aku."


Kalimat yang Ana utarakan akhirnya membuat Raihan memahami situasi. Lelaki itu mendekat. Mengecup kening Ana dalam. Lalu, berkata dengan lembut. "Keluarga aku baik, kok. Mereka semua udah kenal kamu meskipun belum ketemu secara langsung. Nenek, Kakak, Ayah, bahkan keponakan aku yang masih kecil pengen banget ketemu kamu."


"Beneran?"


Raihan mengangguk. Hingga tak ada alasan untuk Ana dapat menolak ajakan lelaki itu. Raihan menuntunnya keluar dari mobil. Dengan masih menggenggam tangannya, mereka memasuki mansion.


Dari arah berlawanan seorang wanita paruh baya dengan seorang anak kecil yang mungkin berusia tiga tahun mendekat ke arah mereka. Raihan tersenyum. Ana yang masih bersembunyi di belakang Raihan perlahan dengan berani menunjukkan diri dan berdiri sejajar dengan sang kekasih.


Lalu, tanpa Ana duga--sosok wanita paruh baya yang terlihat ramah itu memeluk dirinya, mengusap punggungnya lembut dan berkata, "Ya Tuhan, cucu menantuku akhirnya datang juga."

__ADS_1


...


TBC ....


__ADS_2