My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 69


__ADS_3

Zidan mendesah kasar. Segala macam umpatan telah membumbung dalam benak, dan tinggal menunggu untuk dilemparkan. Bagaimana tidak? Harinya yang sesaat lagi akan mencetak kebahagiaan, tiba-tiba rusak karena kehadiran mantan yang tak diharapkan.


Menginjak pedal gas, mobil melaju mulus tanpa hambatan. Jalanan tak terlalu ramai, membuat mood Zidan yang tadinya rusak, perlahan tapi pasti kembali. Pasti perjalanannya untuk menemui Asya tak memakan waktu yang lama seperti sebelumnya.


Namun tak lama dari itu, suara klakson yang memekak terdengar. Zidan sedikit mendongak, melihat dari spion tengah bagaimana mobil di belakangnya melaju kencang bahkan dengan jarak yang sangat dekat -- hampir menabrak bumper belakang mobilnya.


Merasa janggal Zidan meminggirkan mobil, memberi jalan untuk pengemudi di belakang agar dapat lewat.


Tak sesuai perkiraan, mobil itu justru mengikuti gerakan Zidan yang menepi. Zidan mendengus kesal. Maniknya dia fokuskan, sesekali melihat ke arah jalan dan sesekali melirik ke arah spion tengah.


"****!!"


Cengraman di roda kemudi menguat. Tak salah lagi, itu pasti Esfi. Warna mobilnya yang merah metalik sangat kontras -- tak mudah untuk Zidan lupakan.


"Lo mau nyelakain gue?" pertanyaan itu terlempar seiring dengan laju mobil mobil Zidan yang meningkat.


Kembali memfokuskan pikiran, Zidan berusaha untuk menjauh dari mobil Esfi yang terus saja mengikutinya.


Dia menyalip, Esfi ikut menyalip. Hingga akhirnya mobil yang ditumpangi wanita itu melewati dirinya. Zidan sedikit menghela napas lega, berpikir bahwa wanita itu benar-benar gila jika berani menabraknya.


Namun hal tak diduga terjadi. Mobil Esfi berhenti mendadak, membuat Zidan membulatkan mata dan langsung mengerem bersamaan dengan tangannya yang memutar kemudi -- hendak menghindari tabrakan yang nyatanya tak dapat terelak.


Mobil Esfi terdorong hingga pembatas, sedangkan mobil Zidan berputar hingga berhenti tepat di tengah jalan.


Zidan mengerjabkan mata. Tangannya bergerak, menyapu cairan merah di kening bersamaan dengan kepalanya yang menoleh ke arah kiri.


Sebuah mobil melaju kencang. Kembali, tabrakan tak dapat dihindari. Zidan memejamkan mata, merasakan desakan benturan yang beberapa kali mengenai dirinya.


Kepalanya terbentur, mengalirkan darah yang tak sedikit -- bahkan membasahi wajah. Badannya terasa remuk, sangat. Bahkan kertakan tulangnya bisa Zidan rasakan.


Satu yang Zidan pikirkan saat ini. Semoga dia tidak mati. Setidaknya.. Sampai dia bisa melihat senyuman di wajah Asya. Karena-nya.. Ya, hanya karena dirinya.


...


Isakan kecil masih terdengar dari bibir Asya yang memucat. Dadanya tercelos begitu mendengar kabar kecelakaan yang dialami Zidan. Dengan dibantu oleh Ana dan Fany, Asya dipapah melewati koridor Rumah Sakit yang tampak ramai. Sadangkan Raihan, Yuda dan Andi berjalan pelan -- mengikuti mereka bertiga dari belakang.


Langkah mereka terhenti tak jauh dari ruang operasi. Disana dapat dilihatnya Rendi yang tengah duduk di kursi tunggu. Tubuh rentanya yang bergetar itu ditepuk oleh sang Adik.


Asya tak asing dengan mereka berdua. Dia mengenal keduanya. Satu dikenalnya sebagai Ayah Zidan, sedangkan yang satunya lagi dikenal Asya sebagai atasannya sebelumnya -- Pak Darma.


"Sya..?"


Asya menoleh, menatap Ana seraya menghapus air matanya yang masih menjejak. "Ada apa, Kak?"


"Kamu siap?"


Mendunduk, Asya sedikit menggeleng. Dia mengerti maksud Ana yang menanyakan kesiapannya untuk menemui keluarga Zidan.


Jujur, jika dibilang siap -- maka Asya tak siap. Jadi apa yang harus dia lakukan?


"Sya.." Kali ini Fany lah yang memanggil. Asya menoleh, seiring dengan tepukan di bahunya yang terasa menenangkan. "Lo harus siap, bagaimanapun itu."

__ADS_1


Sejenak Asya terdiam. Pikirannya berkelebat, hingga akhirnya dia mengangguk. Membuat Ana kembali memapah dirinya, menggiring agar lebih mendekat ke arah Rendi dan Darma.


"Pah.., Om..," panggil Ana yang membuat kedua lelaki paruh baya itu menoleh.


"Ana?" Rendi bangkit, mendekati sang Anak. Hingga atensinya teralih begitu melihat perempuan belia di samping Anaknya itu.


Orang ini, terasa tak asing bagi Rendi. Wajahnya mengingatkannya pada seseorang. Hingga ketika ingatannya mulai tergambar, dirinya terhenyak begitu sang Adik menyebutkan nama yang memang telah lama tak didengarnya, namun secara tak langsung terasa familiyar di saat bersamaan.


"Asya?" Darma ikut bangkit setelah menyebut nama itu. Dia berjalan, kemudian berdiri tepat di sisi Rendi. "Kamu di sini?"


"I-iya, Pak.."


"Kamu Asya, kan?" Rendi bertanya dengan suara yang bergetar. Membuat pandangan Asya yang tadinya tertunduk, kembali menengadah --menatap mata sendu yang tampak renta itu.


"Iya, Om. Saya.. Asya..."


"Anaknya Tony sama Tiara, kan?"


"Iya, Om. Itu saya.."


Rendi bernapas lega. Akhirnya dia kembali dapat menemui anak dari mendiang sahabatnya itu. "Om nyariin kamu di mana-mana. Kamu selama ini ke--" ucapan Rendi terhenti begitu melihat suatu kejanggalan pada diri Asya.


Bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu. Sang Adik Darma, yang berdiri di sampingnya pun merasakan hal yang sama.


"Kamu hamil Asya?" tanya Rendi antusias.


Membuat Asya memeluk perutnya yang sedikit membuncit itu dengan rasa takut. Dia khawatir. Takut dengan tanggapan Rendi dan Darma begitu mengetahui siapa ayah dari kandungannya ini.


"Pah.., Om..." Ana angkat bicara. Bahu Asya yang bergetar, serta rasa takut yang terasa menguar dari diri wanita di sampingnya membuat Ana berani memutuskan atensi dua lelaki paruh baya di hadapannya ini. "Asya.. Asya pacarnya Zidan..."


Keduanya terhenyak. Baik Rendi dan Darma tak bisa menahan keterkejutannya. Rendi yang limpung, akhirnya memilih duduk. Sedangkan Darma menatap Asya dan Ana dengan pandangan tak terbaca.


"Maksud kamu apa Ana?"


Ana menghela napas. Menoleh menatap Asya kemudian menatap Fany yang tepat berada di sisi wanita itu. "Kamu bawa Asya dulu ya? Duduk bareng Andi, Yuda, sama Raihan Aja."


"Iya, Kak."


Setelah Fany membawa Asya untuk menjaga jarak. Ana mendekati sang Ayah yang terlihat lemah. Dia menagkup tangan Rendi, kemudia berkata, "Aku yakin Zidan pernah cerita ke Papah tentang kesalahan yang pernah dia perbuat ke seseorang."


Rendi mengangguk, mengingat penjelasan Zidan tiga bulan lalu mengenai kesalahan yang telah diperbuatnya ke seorang perempuan.


"Dan itu Asya, Pah. Asya seperti itu.. Karena... Karena Zidan."


Rendi meremat dadanya yang terasa sesak. Keterkejutan menjalar melingkupi dirinya, juga Darma. Anaknya yang dibanggakan, tak disangka akan berbuat hal seperti itu. Bahkan kepada Asya yang dikenalnya sebagai sosok anak yang baik.


"Ceritakan ke Papah semuanya. Kesalahan Zidan, semuanya Ana.."


...


Asya menangis sesegukan. Kelalutan akan kondisi Zidan yang tengah dioperasi, serta tanggapan Rendi terhadapnya nanti membuatnya takut, bahkan sekedar untuk menoleh atau paling tidak berusaha mencuri dengar.

__ADS_1


Fany yang berada di sisinya pun turut merasakan hal yang sama. Dia menepuk pundak sang Sahabat pelan, dan bergumam, "Gue yakin Zidan baik-baik aja, kok."


"Tapi, Fan... Aku.. Aku takut.."


"Dia bakalan baik-baik aja kok, Sya." Andi berusaha menenangkan. Dia menoleh, memberi lirikan kepada Yuda agar mengatakan hal yang sama.


"Lo tenang aja, Sya. Zidan orangnya kuat. Dia akan baik-baik aja," tambah Yuda.


Di sisi lain, Raihan tampak termenung. Pandangan mata kelamnya itu sama sekali tak terlepas dari Asya. Dia bisa melihat kesedihan yang teramat di matanya.


Bagaimana Asya shock, bahkan hingga nyaris pingsan di villa sebelum mereka berangkat tadi. Membuat Raihan kembali yakin bahwa tak ada kesempatan baginya lagi untuk mengisi hati itu.


Asya memang pernah menjadi miliknya. Tapi, itu dulu.


Menghela napas, Raihan bangkit. Mendekati Asya lalu duduk di kursi sebelah kanannya yang memang terlihat kosong. Dia memegang bahu Asya yang bergetar, menyenderkan kepalanya pada bahunya.


"Kamu yang sabar, Sya. Zidan akan baik-baik aja. Dia kuat.. Dia bahkan gak pernah lelah untuk perjuangin kamu, Sya.."


Asya mengangguk dalam isakannya. Ya, dia sama sekali tak bisa menyangkal hal itu. Seharusnya malam ini Zidan menemuinya. Seharusnya malam ini lelaki itu kembali mengecupnya. Seharusnya malam ini dia akan membuka hatinya untuk Zidan, menerima maaf lelaki itu dan kembali bersama.


"Asya.."


Tak hanya Asya, tapi ketiga orang yang menemaninya pun ikut menoleh -- melihat Randi yang berjalan pelan menuju tempatnya berada.


Raihan bangkit, mempersilahkan Rendi yang kini mengambil tempat duduk itu dan menangkup tangan Asya dengan tangan keriputnya.


"Papah minta maaf atas kesalahan Zidan," ujar Rendi menyesal. Dia telah tau semuanya. Bagaimana kesalah pahaman sang Anak, hingga kisah rumit yang menyertainya.


"Asya udah maafin Zidan kok, Om."


"Jangan panggil Om, panggil saya Papah. Bagaimanapun kamu akan menjadi pendamping Zidan nanti, kamu yang akan jadi ibu dari anak-anaknya kelak."


Kata-kata yang Rendi ucapkan penuh rasa yakin, membuat Asya terhenyuh. Dia telah diterima. Ketakutannya tak berarti sekarang.


Tak hanya Asya yang bahagia. Semua bahkan tersenyum di tengah atmosfir yang terasa menyedihkan ini.


"Ini..," ucap Rendi, seraya menyodorkan sebuah kantong plastik khusus transparan yang berisi barang-barang kecil milik Zidan. "Ini barang Zidan yang tadi diserahkan sama perawat."


Asya menerimanya dengan tangan bergetar. Ada arloji, ponsel, serta sebuah buku kecil yang Asya yakini adalah sebuah album.


Tanpa rasa jijik dan enggan sedikitpun, Asya membuka plastik tersebut. Dia meraih album dan membukanya dengan perlahan.


Air mata yang sebelumnya sedikit mengering kini kembali tak dapat dipendam. Foto USG bayi mereka, Asya sama sekali tak menyangka bahwa Zidan memilikinya.


"Itu.. Zidan minta sama Kakak untuk kirim cetak hasil USG anak kalian ke dia, jadi Kakak kirim."


Asya mengangguk, masih menatap album itu sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Rendi. "P-Pah, Zidan..?"


"Dia akan baik-baik aja, Asya. Polisi masih menyelidiki penyebab kecelakaannya."


...

__ADS_1


Udah panjang lho... So, jangan lupa Like dan Coment..


__ADS_2