My Devil Man

My Devil Man
MDM - Part 111 (Andi&Fany)


__ADS_3

"Fan, udah gak usah nangis lagi, Sayang. Bapak udah baik baik aja."


Fany ingin percaya perkataan ibunya. Namun perasaan bersalah karena tak ada saat ayahnya jatuh sakit benar benar membuatnya sesak.


"Ibu, yakin?" Fany bertanya dengan terbata karena menahan sesegukan. "Kata ibu--"


"Bapak udah nggak apa apa, Fan," ucap Bu Yuna dengan tatapan sendu ke arah putri sulungnya itu.


Fany kembali menatap sang ayah yang tengah terbaring lemah di brangkar rumah sakit, rasanya baru kemarin ia melakukan video call dengan ayahnya dan kemarin juga atau lebih tepatnya semalam, ayah Fany harus dibawa ke rumah sakit karena gejala asmanya yang kambuh.


Pintu ruangan perawatan terbuka, ibu Yuna bangkit dari sofa dengan pandangan sembab dan menyambut dua orang remaja lelaki dan perempuan yang masih bersekolah di bangku SMP untuk masuk. Mereka adalah adik dari Fany.


"Kakak ...," panggil salah satunya mendekat.


Fany yang masih menggenggam tangan kurus ayahnya segera menoleh dan menyapu sisa air matanya dengan punggung tangan.


"Putri? Kapan kamu sampai?"


"Baru aja, Kak," ucap putri lantas menunduk dan memeluk tubuh Fany. "Putri kangen, udah lama gak liat kakak."


Fany tersenyum dan menepuk punggung Putri. Pandangan matanya yang bengkak kini beralih ke pada adik lelakinya yang berdiri di sisi sang ibu. Memilih untuk memerhatikan alih alih mendekat.


"Kevin, kamu gak mau peluk kakak?" tanya Fany.


Lelaki remaja yang bernama Kevin itu tersenyum dan mendekat. Ia juga masuk ke dalam pelukan kakak tertuanya yang jarang sekali mereka temui secara langsung.


Fany dilingkupi perasaan bahagia. Rasanya baru dua hari yang lalu ia menangisi sikap Andi yang gamang. Apalagi ketika lelaki itu tak menghubunginya untuk minta maaf, atau sekedar menanyakan keadaannya.


Lalu telepon dari kampung halaman yang mendesak sedikit membuatnya panik. Ia segera mengangkat telepon tersebut dan mendapati kabar bahwa ayahnya dibawa ke rumah sakit karena gejala penyakit asmanya yang parah kembali kambuh.


Fany melepas pelukan sebelum menanamkan kecupan di kedua kening adiknya. Putri membalasnya dengan mencium pipinya balik, sedangkan perlakuan Kevin yang menyapu bekas kecupannya dengan ekspresi bergidik yang dibuat buat membuat Fany gondok bukan main. Adik laki lakinya ini benar benar tumbuh menjadi remaja lima belas tahun yang tampan. Perawakannya tinggi dengan kulit kecoklatan dan wajahnya yang terkesan angkuh.


"Gimana sekolah kalian?" tanya Fany. Ia sudah duduk di sofa sedangkan sang ibu sedang keluar untuk mencari makanan kecil.


Putri yang selalu bergelayut manja menyandarkan kepala yang bersurai hitam di bahu Fany. "Baik, Kak."

__ADS_1


"Kalau kamu, Kev?"


"Baik."


"Baik, kok, cemberut gitu?" tanya Fany jail begitu melihat wajah adiknya yang kusut.


Putri tertawa kecil dan menyikut rusuk kakak laki lakinya. "Abis ditolak sama gebetan, Kak."


Kevin mendelik dengan pandangan tajam tetapi memutuskan tak membalas. Fany tersenyum lebar. "Ih, iya apa?"


"Jangan ngeledek, deh, Kak," gerutu Kevin melotot.


Fany menggeleng pelan. Ia hanya mengusap kepala Kevin dan kembali menatap ke arah ayahnya yang masih terbaring. Pintu rawat terbuka dan ibunya masuk dengan seplastik kresek makanan lalu meletakkannya di meja.


"Ayo makan dulu, Fan," ujar sang ibu hangat sembari mengusap kepalanya.


Ia mengangguk. Lantas meraih kantong itu dan mengeluarkan tiga botol air dan beberapa bungkus roti. Ada juga satu kotak berisi nasi lengkap dengan lauk yang ibunya beli di kantin.


Fany memakan makanan itu sambil mendengarkan Putri yang bercerita antusias. Sesekali ia juga menanyakan hal yang sama pada Kevin. Namun, sayang adik lelakinya itu sepertinya sedang patah hati.


...


Dua jam berlalu. Ia sudah menunggu selama itu di depan teras dan duduk di kursi yang disiapkan di sana.


"Di mana kamu sebenarnya, Fan?" gumam Andi lirih.


Ia melirik arloji dan mendesah muram. Lantas beranjak, menoleh sesaat dan memutuskan untuk mendatangi Zidan.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di hunian sahabatnya itu. Ia turun dari mobil dan seorang maid menuntunnya menuju ruang tengah di mana Asya dan Zidan duduk dan bermain bersama bayi mereka di sana. Bisakah ia berkata bahwa ia ingin memiliki keluarga seperti sahabatnya?


"An." Zidan bangkit dari sofa dan berjalan mendekat.


"Dan."


Mereka berpelukan ringan dan saling menepuk punggung masing masing. Andi tersenyum pada Asya dan duduk di sofa.

__ADS_1


"Zian tambah lucu ya."


"Iya nih, An." kekeh Asya. Ia mengangkat tubuh montok Zian dan mulai menimang nimangnya pelan.


Dilihatnya Zian yang aktif dan Andi berdecak kagum. Sekarang bayi itu menggerakkan tangannya yang montok dan membuat gelembung dengan ludah. Asya segera menyekanya tanpa risih sedikitpun.


"Gimana, An? Lo bilang di telepon mau bilang sesuatu?"


Pertanyaan Zidan membuat atensi Andi terlaihkan. Kini ia menatap Zidan dengan wajah lesu.


"Gue ke rumah Fany barusan, dan dia gak ada di sana."


"Kamu gak coba telepon dia, An?" tanya Asya.


"Udah, tapi gak diangkat."


Wajah Andi menggambarkan segalanya. Zidan dan Asya saling bertukar pandangan.


"Maaf, nih, An. Kalian, eum ... lagi gak ada masalah, kan?"


Andi mendesah muram. Ia tak mungkin menyembunyikan situasi ini dari sahabatnya. Selain itu, Asya, istri Zidan lebih mengenal Fany dibandingkan dirinya sendiri karena dua wanita itu sudah bersahabat cukup lama, Sehingga mungkin saja ia bisa mendapat saran.


Selesai bercerita, dilihatnya Asya menyerahkan Zian kepada Zidan dan segera mengeluarkan ponsel. Andi menebak bahwa wanita itu menelepon Fany.


Dan benar saja, setelah nada sambung beberapa detik, suara Fany yang serak dan lemah menyahut.


Andi gatal ingin berbicara, tapi percakapan antara Asya dan Fany membuat tubuhnya membeku. Ayah dari kekasihnya terbaring di rumah sakit. Dan ... Fany sama sekali tidak menelpon atau memberitahunya.


Semarah itukah Fany?


Tak ada pilihan, batin Andi, ia harus segera pergi dan menemui kekasihnya itu.


...


TBC.

__ADS_1


__ADS_2