My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 67


__ADS_3

Asya menghela napas lelah. Lalu mengedarkan pandangan dengan tak minat ke area sekitaran villa. Sudah tiga hari Zidan tak datang, membuat Asya memahami bahwa seperti apa rasanya ditinggalkan, diacuhkan dan tak dipedulikan.


Dia merindukan Zidan. Bagaimana pandangannya yang penuh cinta serta kata-katanya yang selalu manis.


Mengkesampingkan ego, Asya beranjak. Di sini hanya tersisa dirinya, Fany dan Andi. Sementara Ana, Yuda dan Raihan kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan urusan pekerjaan dua hari yang lalu.


Begitu kakinya menginjak rumput halaman belakang, Asya sama sekali tak bisa menahan senyumannya yang berbinar.


Entah sejak kapan hubungan Andi dan Fany berkembang. Yang jelas saat dia mencuri dengar, Asya tau bahwa selama ini Andi menyimpan perasaan pada sahabatnya itu.


Melangkah mendekat, suara Asya mengintrupsi kegiatan Fany dan Andi yang tengah memberi pakan ikan yang terdapat di dalam kolam kecil.


"Fan.."


Andi dan Fany serempak menoleh. "Ada apa, Sya?" tanya Fany, meletakkan wadah umpan di pembatas kolam.


"Gini--" Asya menelan ludahnya kasar, sebelum kembali melanjutkan, "Kamu kapan balik lagi ke sana?"


"Ke sana, mana?"


"Ke Jakarta."


Mendengar jawaban itu membuat alis Fany tertaut, berbeda dengan Andi, lelaki itu malah tersenyum tipis penuh penyiratan -- seakan mengetahui arah pikiran Asya.


"Lo tau kan gue pengen resign?"


Asya mengangguk, membuat Fany menghela napas sebelum menggenggam tangan sahabatnya dan menuntunnya ke bangku taman -- diikuti Andi.


"Gini, Sya. Kalau gue balik ke sana siapa yang nemenin lo di sini? Lo tau kan, Kak Ana, Yuda sama Raihan mungkin gak ke sini dalam beberapa hari?"


"Tau."


"Trus?"


"Zidan.. Dia udah beberapa hari gak ke sini.. Aku khawatir, Fan.. Apalagi, Kak Ana sama Yuda bilang, mereka gak ketemu Zidan.."


"Lo..?" Pertanyaan itu tak dilanjutkan. Fany memandang wajah Asya dalam, dan mendapat kesimpulan bahwa Asya sudah tak lagi memendam kemarahan pada lelaki itu.


"Lo mau gue balik ke Jakarta?"


Asya mengangguk.


"Trus lo tinggal sama siapa?"


Terdiam, Asya menunduk. Rematan jemarinya tampak mengencang.


"Gini aja..," suara Andi mengintrupsi. Dia bangkit dari duduknya dan berdiri tepat dihadapan Asya dan Fany. "Gue sama Fany ke Jakarta, dan gue akan minta Bu Marni buat temenin lo, Sya."


"Bu Marni siapa?" tanya Fany.

__ADS_1


"Bu Marni itu istri penjaga villa ini. kalau gue minta, dia pasti mau."


Wajah Asya berbinar, dia menoleh menatap Fany dan mengangguk antusias.


"Gak pa pa, Fan. Kalau kata Andi Bu Marni bisa temenin aku, aku gak masalah kalau kamu sama Andi ke sana."


Setelah menimang beberapa saat, dan memperhatikan wajah Asya yang kini tampak berseri penuh harap. Akhirnya Fany mengangguk menyetujui. Sekarang dia tinggal memikirkan bagaimana caranya dia dapat menemui Zidan, dan membujuknya untuk datang mengunjungi Asya.


...


Bekerja, bekerja dan bekerja. Hanya itulah yang Zidan lakukan untuk mengalihkan pikirannya dari sosok Asya yang sering kali menguasai benak.


Sudah empat hari dia tak menemui wanita itu, membuat hatinya sesak karena didera rindu yang berat.


Wajahnya tampak kusam, matanya menghitam, bahkan kini bulu halus sudah tumbuh di sekitaran garis rahangnya yang tegas.


Zidan sekarang, berbeda dengan Zidan yang dulu. Perubahan itu tampak jelas dari segala sudut dan sisi.


Menghela napas, Zidan menutup layar macbook- nya dan beranjak keluar ruangan. Langkahnya terhenti tepat di meja sekretaris, di mana Anita berada.


"Anita.."


Panggilan itu membuat perempuan yang tengah terpekur dengan layar komputernya mendongak dan langsung menegakkan tubuh sebelum memberi hormat.


"Pak Zidan."


Mendapat pertanyaan itu membuat Anita kembali melihat tablet, di mana jadwal atasannya sudah tertata apik. "Pukul 13.00, Pak. Sekitar 10 menit lagi."


"Lebih baik kita pergi sekarang," ucap cepat Zidan tanpa jeda.


Lelaki itu lalu beranjak dari sana, diikuti Anita yang mengekor dari belakang.


...


Seandainya tidak memikirkan permintaan Asya, mungkin Fany akan memilih hengkang dari perusahaan tempatnya bekerja saat ini.


Rasa malas, ketidakadaan Asya, serta rasa lelah yang berlebih membuat Fany hanya menempelkan dahinya di kubikel tanpa ingin berbuat hal lain.


Jika dipikirkan, seharusnya dia sudah dipecat. Mengingat ketidakhadirannya sudah melibihi batas cuti yang diberikan oleh sang atasan.


Menghela napas lelah, Fany memilih memejamkan mata. Namun baru beberapa menit tindakan itu dia lakukan, suara gaduh dan bisik-bisik tanpa jeda masuk ke dalam indera pendengarannya.


Membuatnya menggerutu dan ingin menyemprotkan segala jenis umpatan -- namun beruntungnya dia urungkan.


"Itu Zidan?" Pertanyaan itu melayang begitu saja saat manik sayunya menangkap sosok yang menjadi salah satu alasannya kembali ke perusahaan ini -- sedang berbicara dengan Ibu Lina, kepala devisi keuangan


Fany mengernyit, dari sudut ruangan dia bisa melihat jelas keadaan Zidan sekarang. Lelaki itu tampak kacau, membuatnya mendengus ketika mengingat keadaan Asya yang hampir saja sama dengan sang pemimpin perusahaan.


Diam-diam, Fany mengambil ponselnya yang memang dia letakkan tak terlalu jauh. Dia mengaktifkan mode potret, sebelum mengambil beberapa photo untuk dia kirimkan kepada Asya.

__ADS_1


Seringai tercetak, Fany menggeser layar dan memuji betapa profesionalnya dia dalam mengambil photo dengan angle yang pas.


Wajah, raut dan keadaan Zidan tampak jelas terangkum dalam beberapa photo yang dia ambil.


"Gue yakin, Sya. Setelah lo liat foto ini mungkin lo dan Zidan akan secepatnya balikan.."


...


Asya membantu Bu Marni membereskan peralatan makan, setelah mereka selesai menyantap makan malam.


Rencananya Bu Marni akan menginap, sampai nanti ada yang akan kembali menemani Asya di sini.


Membawa piring ke wastafel untuk dicuci, gerakan tangan Asya yang hendak menghidupkan keran terhenti begitu Bu Marni meraih tangannya.


"Biar Ibu aja yang nyuci piringnya," ucap wanita paruh baya tersebut.


Asya menggeleng dan tersenyum tipis. "Nggak usah, Bu. Biar Asya aja."


"Biar Ibu aja yang nyuci. Nak Asya lebih baik istirahat di dalem kamar. Udah malem.."


Akhirnya, Asya terpaksa mengangguk. Dengan perasaan tak enak karena meninggalkan wanita paruh baya itu sendirian, Asya menaiki undakan tangga menuju lantai dua villa untuk ke kamarnya.


Sebenarnya baik Ana maupun yang lain, meminta Asya untuk tidur di kamar yang terletak di lantai dasar. Namun, Asya menolak. Alasannya cukup klise sebenarnya. Wanita itu ingin melihat kehadiran Zidan. Yang bahkan hingga saat ini belum nampak kehadirannya.


Menghela napas, Asya langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia menoleh, lalu meraih ponsel yang memang terletak di atas nakas, tak jauh dari tempatnya berbaring.


Dahinya mengernyit, begitu disuguhkan notif pesan di salah satu aplikasi chatting -- dari Fany saat dia menghidupkan ponsel.


Berharap kabar baik, Asya membuka pesan.


Perasaannya tak karuan, maniknya menatap dengan getar apa yang tergambar di layar. Potret Zidan nampak di sana. Membuatnya didera perasaan bersalah begitu melihat tampilan Zidan yang nampak tak terlalu baik.


Lelaki itu terlihat sayu, lelah dan lemah. Gurat lebam masih nampak walaupun sudah memudar.


"Zidan..." Bibir Asya bergetar ketika mengucapkan nama lelaki itu.


Tanpa sadar jemarinya bergerak. Mengusap layar dan berharap Zidan baik-baik saja di sana.


"Zidan, maaf...." Air mata luruh. "Aku salah gak terima maaf kamu..."


...


Like dan Coment..


Oh ya, dewi mau bilang, mungkin ada sebagian yang merasa alur novel ini agak lambat, permasalahan dua tokoh utamanya yang nggak selesai-selesai, dll.


Tapi dewi cuma bisa bilang, kalian sabar aja. Zidan dan Asya akan balik kok.


So, jangan bosen ya bacanya...

__ADS_1


__ADS_2