My Devil Man

My Devil Man
MDM - Part 110 (Andi dan Fany)


__ADS_3

Suasana di dalam mobil itu hening. Andi mengetuk-ngetuk roda kemudi dengan mata yang fokus menatap jalan. Namun pikirannya bergerak ke arah lain. Ia tak menyukai keterdiaman Fany. Gadisnya suka berbicara, bercanda dan sedikit manja. Dan ketika Fany diam dan tak menghiraukannya, ia merasa tak nyaman sama sekali.


"Fan, ayolah," bujuknya. Ia menjemput Fany dari kantor beberapa menit yang lalu. Dan mereka masih mengelilingi jalan seakan tak tahu arah tujuan.


"Bilang salah aku apa, udah berapa hari lho kamu begini."


"Terus?" ketus Fany.


Andi menghela napas. Ia memutarkan kemudi. Dan beberapa menit kemudian mereka memasuki parkiran area taman kota. Mobil berhenti dan ia melepas sabuk pengaman seraya menatap kekasihnya itu.


"Kasih tahu apa salah aku."


Fany membisu.


Dan Andi mulai memahami arah pembicaraan Fany. Ingatan Andi mundur ke waktu dua Minggu yang lalu, saat Raihan melamar Ana dan segala permasalahannya dan Fany bermula.


"Mereka romantis, ya?" bisik Fany haru saat itu.


Andi melingkarkan tangan di pundak Fany yang ramping, dan mengecup puncak kepala gadisnya singkat.


Mereka berdua bisa melihat binar keromantisan pada dua sejoli yang sedang berbahagia itu. Ana menerima lamaran Raihan dengan mata basah. Ana jelas bahagia. Dan bagi Andi dan Fany, mereka pasangan yang cocok bersama-sama.


Lalu ia, Fany dan yang lainnya mundur. Mereka membiarkan Ana dan Raihan memiliki quality time bersama. Setelah berbincang bincang singkat bersama Asya dan Zidan yang menggendong baby Zian yang menggemaskan, Andi membawa Fany ke restoran setelahnya.


Hubungan Ana dan Raihan membuat mereka terilhami. Sadar apa yang mereka rajut ini juga mereka harapkan akan berlabuh ke jenjang yang lebih serius.


Sebelumnya Andi sudah melakukan reservasi hingga begitu mereka memasuki restoran, seorang pelayan mengantarkan mereka ke meja yang sudah dipesan. Mereka memesan menu, dan pelayan itu beranjak setelahnya.


Mereka saling bertatap tatap. Wajah Fany bersemu merah.


"Kamu senang?"


"Senang diajak ke restoran?"


"Segalanya," tutur Andi.


"Segalanya?" Fany tersenyum. "Aku bahagia, An. Kamu bisa menghargai aku, bisa paham mood aku yang naik turun. Kadang aku pikir, kamu itu terlalu baik, lho."


"Bukannya itu tujuannya cinta? Saling paham, menerima kekurangan?" Andi lalu menyengir. "Yah, walaupun kadang aku suka kesel kalau kamu marah marah sendiri, Fan. Aku merasa punya adek lagi."


Andi tertawa begitu Fany cemberut dan memukul bahunya ringan. Mereka kembali berbincang lalu menyantap makanan yang baru saja diantar oleh pelayan saat seorang wanita yang entah datang dari mana mengambil duduk di sisi Andi, hingga membuat Fany heran.


"Hai, An?" sapa wanita itu.

__ADS_1


Fany mengernyit. Ia meletakkan garpu di piring dan tiba tiba mendapati wajah Andi yang terkejut.


"Kita ketemu juga, udah lama, lho, ini. Kebetulan banget, ya? Aku baru aja makan malem sama temen aku." Wanita itu memulai percakapan. Yang lebih mengesalkan, wanita itu dengan berani menggelendot pada Andi yang masih terdiam.


Fany berang dan menepuk pundak Andi hingga lelaki itu menoleh. Ia juga tak suka wanita itu hingga tangannya memindahkan tangan si wanita dari lengan Andi.


"An, dia siapa sih?" tanya Fany kesal.


Andi gelagapan. Ia menatap Fany dan wanita asing itu bergantian. "Eh, dia--"


"Aku Giska, mantan pacar Andi." Tiba-tiba saja wanita itu menyela. Ada nada angkuh di sana. "Kamu pacar barunya?" pungkasnya lagi dengan angkuh.


Pandangan wanita itu. Siapa namanya tadi? Ah, Giska. Fany tak menyukainya. Ia memerhatikan wanita itu lamat lamat dengan dua tangan terlipat.


"Terus, kenapa? Kamu mantan pacar Andi? Kalau begitu kamu cuma masa lalu, dong?" seloroh Fany. Matanya beralih menatap sang kekasih. "Iya, kan, Sayang?"


"Iya."


Itu memang jawaban yang ia harapkan, tapi, saat menatap ekspresi Andi, Fany tahu ada yang salah. Hubungan Andi dan Giska lebih dari sekedar mantan pacar. Mungkin ... Fany menerka jika mereka menjalin hubungan yang benar benar serius saat itu.


Makan malam yang seharusnya berjalan romantis, kini benar benar dingin. Fany menyantap makanan dengan cepat, mengabaikan Giska yang entah mengapa enggan beranjak dari sana. Yang membuatnya heran, Andi justru enggan mengusir wanita itu dan meladeni.


Begitu makan malam usai dan Andi menyelesaikan pembayaran, tanpa pikir panjang Fany beranjak menjauh dan keluar dari restoran dengan tergesa. Kepalanya panas. Hatinya pun turut merasakan perasaan yang sama. Jika ia masih bertahan di dalam sana, bukan tak mungkin ia sudah menarik rambut Giska hingga kepala wanita itu botak.


Fany terkesiap. Itu Giska.


"Andi!" pekik Fany dengan wajah padam dan hati yang terluka.


Andi menoleh. Wajahnya terkejut karena tertangkap basah.


"Aku capek nunggu kamu di sana dan kamu malah meluk cewek itu. Kamu keterlaluan, An!" Fany menunjuk tempat parkir lalu Giska dengan berang.


"Dengar, Fan. Ini gak seperti yang kamu kira."


Fany melangkah mundur bersamaan dengan Andi yang melangkah mendekat. Hatinya sakit. Baru saja ia melihat keromantisan Ana dan Raihan, dan juga berharap akan bisa merasakan hal yang sama. Masalah kembali datang. Giska, lalu Andi yang memeluk wanita itu.


Fany berbalik dan berjalan cepat. Ia menangkis tangan Andi yang berusaha menggapainya. Sentuhan lelaki itu saat ini terasa tidak tepat. Ia harus pulang.


"Dengar, Fan. Kamu salah paham. Aku gak meluk dia dengan alasan yang ada di pikiran kamu."


Fany mengabaikannya. Alih alih berbelok ke tempat parkir, Fany justru berjalan ke arah jalan keluar restoran dan bergegas menunggu di dekat sana. Ia mengeluarkan ponsel hendak memesan taksi online saat Andi merebut ponselnya dan menariknya mendekat.


"Dengerin aku dulu, Fan," tegas Andi.

__ADS_1


Fany menghela napas pelan. Merasakan genggaman tangan Andi, Fany menepisnya. Ia tak tahan. Lalu ia mendongak dan menatap lelaki itu.


"Jelasin."


"Jangan di sini, Fan. Ada banyak orang."


Memang banyak orang yang berlalu lalang di sana. Fany mengangguk, Andi menghela napas lega lalu ia menuntun kekasihnya kembali ke area parkir untuk memasuki mobil.


"Sekarang, jelasin," tuntut Fany.


Andi lagi lagi menghela napas. Ia menatap Fany dengan pandangan sendu. "Cewek itu Giska."


"Aku udah tahu, tadi dia yang bilang sendiri," ketus Fany. "Yang mau aku tahu, kenapa kamu meluk dia, An? Apa karena kamu belum bisa ngelupain masa lalu kamu sama dia?"


Mata Andi membelalak terkejut. "Demi Tuhan, bukan itu!"


"Terus?"


Fany marah, Andi dapat melihatnya. Jadi, tak ada alasan untuk menutupi apapun setelah ini. "Aku yakin aku belum cerita ke kamu kalau aku sempat tunangan dua tahun lalu," kata Andi. "Ya, kan?"


Meski terkejut Fany tetap memasang wajah datar.


"Fan, Giska itu hanya masa lalu," ucap Andi nelangsa, ia meraih tangan Fany dan menggenggam lembut. "Dia ninggalin aku begitu aja saat tanggal pernikahan udah ditentukan. Dan aku udah bisa melupakan dia sekarang, dan kamu harus percaya sama aku."


Fany memang percaya. Namun apa yang ia dapatkan beberapa hari lalu benar benar membuat kepercayaannya luntur. Setelah dua hari insiden bertemu dengan masa lalu itu terlewati, Fany sering memergoki pesan pesan singkat yang dikirim oleh nomor tak dikenal di ponsel Andi. Semula ia berpikiran itu hanya pesan iseng yang pernah juga ia dapatkan. Namun saat nomor itu justru menelepon dan Andi mengangkatnya dengan cepat, Fany berusaha menguping walau tahu itu sama sekali bukan hal yang sopan.


Itu Giska, dan selama ini ternyata perempuan itulah yang mengirimkan Andi pesan provokatif.


Dua hari berlalu setelah itu, Fany yang menemani Asya ke mall untuk membeli perlengkapan Zian, mendapati Andi makan siang bersama Giska. Jika saja Asya tak menahannya dan menyuruhnya bersabar, mungkin ia sudah memergoki dua sejoli itu.


Dan sekarang Andi bertanya apa alasan ia mendiami? Yang benar saja?!


"Kamu tanya kenapa aku marah, An?" Tatapan Fany menusuk. "Itu karena kamu bohong! Oke, aku akan hargai usaha kamu yang jujur sama aku saat kamu bilang Giska atau siapa lah itu ternyata mantan tunangan kamu. Tapi setelahnya, jangan kira aku bodoh karena gak tahu apapun! Aku tahu Giska yang ngirim pesan pesan menggoda ke hp kamu! Aku juga tahu seminggu lebih yang lalu kamu diam diam ketemu sama dia di mall dan makan siang berdua saat kamu bilang ke aku ada meeting penting!"


Dada Fany naik turut diliputi kekecewaan. Andi hanya bisa membuka dan menutup mulutnya tanpa bisa mengucapkan satu sanggahan pun karena apa yang Fany katakan memang benar.


Fany menatapnya dan menggeleng. Ia beralih memandang taman kota tempat berkumpul orang orang dan berkata dengan nada halus, "Antar aku pulang."


Dan Andi melakukannya. Namun tiga hari kemudian, saat ia menjaga jarak agar wanita itu tenang, Fany menghilang.


...


Ini part bonus untuk Fany dan Andi.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2