My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 99


__ADS_3

Mata itu menatap Asya penuh sesal. Sudah beberapa hari semenjak kejadian kedatangan Rina ke mansion mereka, suasana di kediaman Revandra itu seakan sunyi dan sepi. Bukan hanya itu, semua penghuni mansion mendiami dan menghindari Zidan seakan lelaki itu sama sekali tak ada.


Zidan menghela napas. Maniknya yang hitam kembali menatap Asya dan Ana yang tengah berkutat di dapur bersama beberapa maid. Selang beberapa menit, hidangan yang telah dimasak, dibawa untuk kemudian dihidangkan di atas meja makan.


Mereka makan dalam senyap. Di antara suapan, Zidan beberapa kali mencuri pandang pada Rendi, Ana dan juga Asya. Mereka sama sekali tak mengindahkan keberadaannya dengan kondisinya yang tampak memprihatinkan.


Jujur, Zidan tak ingin seperti ini. Keadaan yang canggung sama sekali tak seperti suasana yang selama ini terbangun.


Zidan menghela napas, memandang satu per satu orang yang meninggalkan ruang makan, dan sekali lagi tak mengindahkan keberadaan dirinya.


Berusaha menyelesaikan masalah, Zidan memasuki kamar dan mengekor Asya kemanapun wanita hamil itu bergerak.


Melihat perut Asya yang sudah membesar seperti ingin meledak membuat Zidan memeluk pinggang wanita itu dengan gerakan pelan.


"Sya, kamu harus hati-hati, Sayang. Inget diri sendiri dan Baby kita."


"Aku hati-hati, kok."


Jawaban Asya yang terbilang datar membuat Zidan memejamkan matanya sejenak.


"Zidan, lepas."


Gerakan Asya yang ingin melepaskan dekapannya terus saja gagal. Zidan bergeming. Lelaki itu menyerukan kepala pada surai Asya yang berbau harum, menghidu aromanya yang lembut.


"Aku salah."


Keterdiaman Asya membuat Zidan melanjutkan, "Jangan diamkan aku begini, Sya. Aku gak bisa."


"Aku gak diamin kamu."


"Kamu diamin aku, Sya. Kalian semua."

__ADS_1


Asya menghela napas mendengar perkataan Zidan. Mendiamkan, tak menghiraukan keberadaan lelaki itu--dilakukan mereka semata-mata agar Zidan sadar apa yang dilakukannya selama ini adalah kesalahan.


Dengan gerakan tak nyaman, Asya kembali bergerak untuk melepaskan dekapan Zidan. "Aku harus beres-beres, Zidan."


Dan ucapan itu sukses membuat Zidan melepaskan Asya. Asya kembali bergerak. Dibantu oleh Zidan, Asya mengisi baju serta berbagai perlengkapannya dan Baby yang memang dibutuhkan--ke dalam tas dan menutupnya kembali ketika dirasa sudah lengkap.


"Maid, bisa mengerjakannya, Sya."


"Gak semua hal harus dikerjakan oleh orang lain, terutama ini itu untuk persalinan aku, Zidan," ucap Asya.


Zidan meringis, merangsek mengambil tas tersebut saat Asya akan mengangkatnya sendiri. Zidan meninggalkan Asya untuk memasuki walk in closet membuat seberkas senyum Asya terbit meskipun hanya sekilas.


"Kamu mau ke mana?" tanya Zidan saat melihat Asya meraih tas kecil.


Asya mengedip lucu. "Aku mau pergi," jawab Asya sekilas.


Zidan melongo dibuatnya. Meringis ketika lelaki itu baru sadar bahwa tampilan Asya memang sudah rapi sebelum sarapan. Dress longgar khusus ibu hamil sebatas lutut berwarna krem, membungkus tubuh Asya dengan begitu pas. Rambut yang tergerai indah sebatas punggung. Entah Asya sadar atau tidak, tapi kecantikan wanita itu terlihat khas dengan perutnya yang sudah besar.


Perkataan itu membuat Zidan melangkah meraih tangan Asya. "Kamu benar mau pergi?"


Asya mengangguk.


"Trus aku sama siapa?"


"Gak tau." Asya mengangkat bahu. "Papah sama kak Ana ikut juga soalnya."


Zidan tak tahu harus menangis atau tertawa mendengar perkataan Asya. Jadi, setelah didiamkan, dia juga ditinggalkan sendirian di rumah, begitu?


"Aku pergi dulu." Asya memandang Zidan, mengecup pipi lelaki itu singkat sebelum berbalik. Berdiri sesaat ketika memegang kenop pintu, Asya lanjut berkata, "Oh ya, aku lupa bilang, aku sama yang lain pergi mau ketemu Mamah, kalau kamu berkenan, aku bisa dateng ke apartemen aku dulu. Itu pun kalau kamu mau, ya."


...

__ADS_1


Zidan tak tahu harus berbuat apa. Menonton televisi, melihat berita di laman online, dan hal-hal lain hanya membuatnya jenuh. Dia kesepian. Biasanya, saat-saat seperti ini--di saat sedang tak bekerja--dirinya akan menghabiskan waktu bersama Asya. Menikmati taman, atau sekedar berjalan-jalan santai bersama istrinya itu, untuk menikmati hari.


Sepi. Zidan menatap jam yang tergantung di dinding ruangan kerjanya. Hari sudah beranjak siang, keengganan dan rasa malu membuat Zidan tak berani mengikuti perkataan Asya dan malah menenggelamkan diri dalam setumpuk dokumen tak penting.


Zidan meringis, meraih ponsel dan membuka kontak untuk kemudian menghubungi sahabatnya, Yuda.


"Yud ...," sapa Zidan saat sambungan telepon terhubung.


Terdengar helaan napas di sana. 'Dan, iya, ada apa?'


"Gue ke cafe Lo, ya?"


'Eh, gue lagi gak di cafe."


"Gak ada? Trus Lo lagi di mana?" tanya Zidan, baru saja hendak menyambung obrolan, terdengar suasa tawa yang ramai di sana. Familiyar, Zidan terasa tercekat untuk beberapa saat. "Yud, Lo lagi di mana?


'Eumm ... gue lagi di apartemen Asya, Dan. Asya udah kasih tahu Lo, kan? Di sini rame. Ada Kak Ana, Asya, Andi, Fany, Raihan dan ada ayah Lo juga. Lo gak ke sini?'


Zidan tak menjawab. Lelaki itu menghela napas dan menutup telepon setelah mengucap satu dua patah kata.


Bergeming. Termangu. Zidan bahkan masih memegang ponselnya untuk beberapa saat. Perkataan Asya terbisik di benaknya. Akankah dia menyesal saat orang yang membuatnya kecewa, pergi?


Rasa sesak di dadanya muncul. Di posisikan dirinya sebagai Asya, Zidan yakin dia tak akan mudah untuk memaafkan. Asya benar. Mungkin, ada sudut dalam hatinya yang menghela rasa kepuasan, tapi apakah dia bisa mengacuhkan sudut lain dari hatinya yang berteriak sedih?


Tidak, Zidan tidak bisa.


Bibir lelaki itu membentuk segaris lengkung. Mencoba berubah menjadi lebih baik, Zidan memasukkan kunci mobil ke dalam saku, dan beranjak mengikuti kata hati.


...


Like dan Coment.🤭☺️ Supaya Dewii semangat🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2