
Lembar demi lembar telah berulang kali Zidan lihat. Perasaan haru, senang sekaligus bangga, menyeruak dari relungnya. Bukannya bosan, lelaki itu seakan ketagihan menatap potret kehidupan dari perut cintanya.
Foto USG sang Anak.
Janin yang kini dikandung Asya tumbuh dengan sehat. Itu yang Zidan simpulkan dari informasi yang sering Ana sampaikan.
Lembar demi lembar itu kini kembali dia tatap. Jumlahnya ada beberapa, dan itu semua terangkum dalam sebuah album yang selalu dia bawa kemanapun itu.
Tak ada hari tanpa memikirkan Asya. Tak ada hari tanpa penyesalan dihatinya. Hatinya yang telah terpaku nama Asya di sana.
Menghela napas, Zidan menutup album dan beranjak dari ranjang di mana dia menyandarkan punggung.
Hari ini dia akan kembali bertemu Asya. Membisikkan kata cinta dan mengecup Asya, lalu kembali berakhir sepi.
Belum ada keberanian untuk bertindak lebih dari itu. Ketika dia ingin, seberkas kenyataan kembali menyeruak. Asya akan bahagia tanpanya. Tak akan menangis lagi karenanya.
Menghela napas, Zidan meraih kunci mobil di atas nakas samping ranjang. Penampilannya terlihat casual. Hoodie merah dengan celana jeans hitam dan sepatu sneakers yang melengkapi.
Hanya butuh waktu beberapa menit untuk mencapai basement di mana mobilnya terparkir.
Kernyitan halus tampak tercetak di sepanjang garis dahi saat kakinya melangkah mendekati mobil. Rahangnya mengetat. Dan.. Hell!! Untuk apa j*lang itu berdiri disamping mobilnya?!
"Lo ngapain di sini?!" Zidan menarik tangan Esfi dan menyentaknya -- agar menjauh.
Wanita itu terhuyung. Tampilannya yang kacau makin bertambah kacau. Rambutnya kusut masai. Make-up luntur. Pakainya yang mini itu bukannya menambah keseksian, justru membuat Zidan mendesis jijik. Dan jangan lupa aroma alkohol yang menguar, membuat Zidan buru-buru membersit hidung -- tak tahan dengan baunya.
"Lo ngapain di sini?!"
Bukannya menjawab pertanyaan itu, Esfi justru terkekeh. Tubuhnya yang terjerembab, berusaha bangkit. Matanya yang berkabut, dia paksa untuk mengerjab dan memandang 'mantan' kekasihnya ini.
"Aku kangen kamu, Zidan...."
Zidan diam, memilih mundur selangkah.
"Kanapa kamu milih Asya? Aku.." Esfi menepuk dadanya dan kembali terkekeh. "Aku lebih baik dari dia.. Aku cantik... Punya badan yang bagus... Tapi.., kenapa kamu pilih dia?!"
Kali ini Zidan yang terkikik geli. Oh God... Apakah wanita ini tak salah berbicara?
"Lo tadi bilang apa? Lo lebih baik dari dia? Lo lebih cantik dari dia?" Jeda sesaat. Manik kelam itu menginvasi dengan tajam. Melirik enggan, dari ujung rambut sampai ujung kaki wanita di hadapannya ini. "Dan lo bilang badan lo ini bagus? Mimpi lo ketinggian, Esfi.."
Mendapat hinaan itu, membuat Esfi mengerang marah. Dia mendekat, mencengram bagian kerah hoodie Zidan dengan mata yang berbinar kejam.
"Kamu hianatin aku buat cewek yang gak pantes Zidan!! Dia gak lebih dari sekedar sampah!! Dia gak lebih dari sekedar j*lang mura--"
Plak...
Ayunan tangan itu membungkam mulut Esfi. Wanita itu lagi-lagi terjerembab. Meringis bersamaan dengan darah yang membasahi sudut bibirnya. Lagi, Zidan kembali menamparnya lagi.
Nyeri sangat terasa, apalagi itu bertambah sakit saat melihat dengan ujung matanya sendiri, bagaimana Zidan melihatnya.
Jijik..
Jijik..
Dan jijik..
"Gue peringatin sama lo, Esfi. Hubungan kita gak lebih penting dari apapun menurut gue. Gue akan biarin lo kali ini. Tapi, kalau sekali lagi gue denger lo hina Asya, gue gak segan-segan habisin lo saat itu juga."
__ADS_1
Dan setelahnya deru mobil terdengar. Masih dengan posisinya yang terduduk di lantai basement, Esfi menyeringai. Mengabaikan sudut bibirnya yang berdarah itu.
"Kalau gue gak bisa dapetin lo, Zidan. Maka cewek murahan itu juga gak boleh dapetin lo!!"
...
Air yang menggenang, dan busa yang melingkupi -- membungkus tubuh polos Asya dengan begitu nyaman. Wanita itu menghela napas, seraya memejamkan mata. Membiarkan tubuhnya lunglai, dan bersiap terisi kembali.
Senyum tanpa diperintah kini terukir. Mata yang memejam kini terbuka. Tangan yang terbalut busa itu tarangkat. Menyentuh dahi, dua kelopak mata, ujung hidung, lalu berlabuh di bibir.
Kelembabannya masih terasa. Bagaimana lelaki itu menciuminya, membisikkan kata cinta dan yang terakhir menyentuh perutnya yang kini tampak sedikit membuncit.
Ya, Asya baru menyadarinya.
Sekian lama dia tenggelam dalam euforia menyesakkan kala Zidan mencampakkannya.
Sekian lama dia terhimpit rasa rindu manakala Zidan tak melihatnya.
Nyatanya semua itu salah.
Zidan masih mencintainya. Dia masih peduli dengannya. Dalam sepersekian hari, tepatnya di tengah malam, lelaki itu akan mendatanginya. Memberi kecupan, menggumamkan kata cinta dan terakhir berinteraksi dengan anak yang dikandungnya.
Dan bodoh bagi Asya yang baru menyadarinya sebulan belakangan ini.
Dia kira semua kelembutan itu hanya mimpi. Dia kira kecupan di dahinya hanyalah halusinasi karena begitu merindukan lelaki itu.
Nyatanya tidak. Itu bukan mimpi. Itu nyata.
Dan sejak itu, di setiap penghujung minggu dia akan menunggu Zidan. Berusaha tak terlelap walaupun mata memejam. Berusaha tak menangis kala mendengar lelaki itu membisikkan kata cinta, mendoakan anak mereka yang dikandungnya.
Ya, itu yang Asya inginkan.
Oleh karenanya, malam ini dia tak akan berpura kembali terlelap. Jika sebelumnya Zidan yang mendatangi, kini biarlah dia yang menghampiri. Ya, dan itu akan Asya lakukan malam ini. Penghujung minggu, di mana Zidan selalu mendatanginya.
"Zidan..." Nama itu terucap, begitu pas di hati membuat setitik basah hadir di wajah Asya yang lembab.
Dia memejam, hingga beberapa ketukan konstan disusul panggilan khawatir menggaung, menembus pintu kaca kamar mandi di mana dia berendam saat ini.
"Sya... Asya, lo baik-baik aja kan? Kok lama banget?"
Asya tersenyum jahil, lalu menghela napas sebelum keluar dari bathup menuju shower untuk membilas diri.
Beberapa lama terlewat. Asya mematikan pancuran sebelum meraih bathrobe, menyimpulkan talinya sebelum melangkah mendekati pintu dan membukanya.
Wajah khawatir Fany lah yang pertama dia lihat. Dengan bibir yang mengerucut, sahabatnya itu menarik lengannya sebelum menuntun diri untuk duduk di pinggir ranjang.
"Lo kenapa lama banget? Lo gak tau apa gue takut setengah mati, Sya? Lo itu lagi hamil, Sya. Gak boleh berendam lama-lama. Lo tau kan?" pertanyaan itu bebondong masuk kedalam pendengaran Asya. Alih-alih menggerutu kesal, wanita hamil itu malam tersenyum tipis dan menangkup telapak sahabatnya.
"Kamu khawatir?"
"Iyalah.."
Asya tertawa. "Makasih ya."
Mendengus, Fany enggan menanggapi ucapan terima kasih itu. Dia terlalu khawatir. Pasalnya bukan beberapa menit sahabatnya ini berada dalam kamar mandi.
"Fan..."
__ADS_1
Tak ada tanggapan.
"Fan..."
Masih diam.
"Sorry, ya?"
Menghela napas, Fany mengangguk. Dia memandang Asya, dan kerutan alisnya tak dapat ditahan begitu melihat aura Asya yang berbinar. Wanita ini tampak bahagia. Seakan, akan terjadi hal yang membahagiakan nantinya.
"Lo kenapa senyam-senyum, Sya?"
"Nggak kenapa-napa."
"Trus?"
Bukannya menjawab, Asya malam bangkit dari pinggiran ranjang dan berjalan menuju lemari.
Dress tidur berlengan panjang motif bunga yang kali ini dia pilih. Akan terlihat indah saat dikenakan di tubuhnya yang berbadan dua.
"Fan..?"
"Eumm?"
"Aku mau pake baju."
Fany mengangguk dan ber'oh' ria, sebelum berkata, "Cepet turun ya, Sya. Makan malamnya udah siap."
"Iya."
Tak berapa lama, tubuh yang sebelumnya polos kini sudah terlapis pakaian. Asya berjalan ke arah cermin rias, memandang refleksi pantulan dirinya di sana.
Tubuhnya mulai berisi, kontras dengan perutnya yang sedikit membuncit. Tersenyum, tangan Asya menjalar mengusap perutnya.
"Malam ini kamu akan dengar suara Papah lagi, Nak."
Perkataan lembut itu disusul senyuman simpul yang teramat manis. Mengusap perutnya satu putaran, Asya beranjak keluar kamarnya yang kini sudah berada di lantai dasar.
Dia melangkah pelan, sembari memegang perutnya. Memasuki ruang makan di mana semuanya telah berkumpul.
Dia kira tawa yang akan menyambutnya. Namun tidak. Pemandangan ini justru terasa aneh. Ana terlihat menangis sesegukan di bahu Raihan. Yuda meremat rambutnya frustasi. Sedangkan Andi, juga tak berbeda. Lelaki itu tampak memejam -- kepalanya tertunduk, dengan Fany yang mengusap bahunya lembut.
"Ka-kalian kenapa?" Suara Asya yang terdengar bergetar dan mencicit membuat semua yang ada di ruang makan itu menatapnya.
Tatapan kesedihan, dan segala jenis yang tak dapat Asya tafsirkan.
"Kalian kenapa?!"
Oke, sekarang otaknya sudah tak bisa diajak berkompromi. Pikirannya berkelebat, apalagi saat Ana mendekat dan langsung memeluknya erat.
"Zi-Zidan... Sya...."
"Zi-Zidan kenapa?"
...
Like dan coment..
__ADS_1