
Ketika pandangan Ana bersirobok dengan Asya, perempuan itu tak dapat menahan haru yang sudah ingin keluar lalu membludak. Ada rasa rindu, sayang dan juga prihatin di satu sudut hati.
Pegangan pada geret koper terlepas. Ana lalu berlari kecil menyebrangi halaman dan teras yang cukup luas membentang. Dia memeluk Asya, yang mana hal itu secara tak langsung membuat hatinya menghangat dan terasa nyaman.
"Kamu baik-baik aja, Sya?"
Asya mengangguk, dan dengan senang hati membalas pelukan itu. "Aku baik-baik aja kak. Kakak gak perlu khawatir."
"Gimana gak khawatir." Menghela pelukan, Ana memandang Asya dalam. "Waktu kakak mau cari kamu, kamunya gak ada. Eh, kakak malah dengar kabar kalau kamu kabur. Gimana gak khawatir coba?"
Asya terkekeh, melihat raut wajah Ana yang berubah di setiap katanya. Hatinya menghangat, penuh rasa syukur ketika mengetahui bahwa masih ada segelintir orang yang mengharapkan kehadirannya disatu sisi.
"Maaf kak."
"Kamu gak perlu minta maaf, Sya. Seharusnya kakak yang minta maaf atas kebodohan yang Zidan lakukan ke kamu."
Pernyataan maaf itu secara tak langsung membuat Asya meringis. Jarinya perlahan teremat sempurna dan pandangannya menurun, dengan bibir bergetar yang berkata, "Zidan, gimana dia?"
Ana menghela napas, mengusap pucuk kepala Asya sebelum menjawab, "Dia kacau, saat dia tau kamu kabur karena dia, dia langsung pergi ke apartemen kamu, dan mungkin dia udah tau pasal kehamilan ini."
Melihat situasi Asya yang nampak tertekan karena fakta itu, membuat Ana memegang pundak Asya. Menatap maniknya yang mulai berkaca sedih. "Dia pantes dapetin ini, Sya. Bahkan menurut kakak, dia pantes dapet lebih dari ini. Jadi, jangan merasa bersalah, ya?"
Asya mengangguk. Oleh karenanya, setelah Ana mendapat jawaban memuaskan, perempuan itu berbalik dan memberi isyarat pada Yuda dan Andi untuk membawa barang bawaannya.
Beberapa koper di keluarkan dari bagasi oleh dua lelaki itu. Sedangkan Ana, Asya dan Fany yang hanya memperhatikan memutuskan untuk masuk kedalam villa.
Suasana disini sangat sejuk, udaranya masih terjaga dan jauh dari polusi, serta banyaknya pohon rindang, membuat Ana menyetujui Asya untuk menetap disini sementara waktu.
Asya membawa Ana untuk duduk di sofa ruang tengah, sedangkan Fany beranjak kedapur dan membuat minuman.
"Kak?"
"Eumm." Ana mengalihkan pandangan. yang sebelumnya memperhatikan ruangan. "Ada apa, Sya?"
"Kira-kira berapa lama aku bisa tinggal disini?"
"Menurut kamu, gimana?"
"Aku gak tau kak."
Ana tersenyum, lalu berkata, "Semampu kamu aja, Sya. Kalau kamu udah siap ketemu sama Zidan, disaat itu kamu bisa kembali."
"Tapi, aku ingin hubungan ini berakhir, kak."
Sontak Ana tak bisa menahan keterkejutannya. Dengan mata membulat Ana memandang Asya sejenak. Ada kerapuhan disana, rasa sakit dan rasa tertekan menyiksa, yang tertu saja membuat Ana turut merasakan hal yang sama.
Mungkin apa yang Zidan perbuat sudah terlalu fatal hingga menyebabkan seperti ini, batin Ana.
"Kakak gak bisa menghakimi pilihan kamu. Kalau kamu gak mau jalani hubungan dengan Zidan lagi, kakak gak bisa larang. Tapi, inget satu hal. Kakak ini tetep kakak kamu lho.."
__ADS_1
Asya mengangguk dan menyunggingkan senyum
Lalu setelahnya, Fany datang dan meletakkan nampan berisi minuman bersamaan dengan Andi dan Yuda yang memasuki villa.
Dua lelaki itu duduk di sofa. Andi yang berwajah cerah, sedangkan Yuda dengan wajah lelahnya.
"Lo kenapa, Yud?" tanya Fany dengan dahi mengernyit dalam.
"Gue capek."
Jawaban singkat itu membuat Andi menoleh dan ikut bertanya, "Kenapa capek?"
"Tanya aja sama kak Ana," jawaban singkat itu langsung di tanggapi Ana dengan terkekeh geli.
"Hahaha.. sorry."
"Maaf kenapa?" lanjut Andi.
"Kak Ana maksa banget ngajak gue pergi kesini."
Oke, jawaban itu setidaknya cukup bagi Andi dan yang lain untuk mengerti. Lalu suara dering ponsel dari saku Andi mengintrupsi.
Tatapannya yang berubah ketika menatap layar, membuat Ana berani bertanya, "Siapa, An?"
Suara lelaki itu sedikit tercekat. Manik kelamnya menatap Asya dan Ana bergantian sebelum kembali melihat layar ponsel. "Zidan telpon."
"Zidan?" Suara lirih itu dari Asya, dan Andi mengangguk karenanya.
"Gue mau angkat telpon dulu ya." Kalimat itu di tujukan kepada Asya dan Asya menjawabnya dengan mengangguk ragu.
...
"An, lo bisa tolong gue?" Zidan menyandarkan tubuhnya di badan mobil yang terparkir di basement.
'To-tolong apaan, Dan?'
Suara Andi yang bergetar membuat Zidan mengernyit. "Lo sakit?" tanya Zidan dengan nada sarkastik.
'Nggak. Gue gak sakit. Ada apa lo telpon?'
"Bantu gue cari Asya, An." Kalimat itu disampaikan dengan nada ringkih. Setelahnya Zidan meremat rambutnya dengan frustasi.
'Cariin? Memangnya Asya kemana?'
"Dia pergi."
'Pergi kemana?' Suara itu terdengar sangat terkejut, membuat Zidan mendengus merasakan gendang telinganya yang sakit.
"Pokoknya pergi." Jeda sejenak, sebelum Zidan kembali melanjutkan, "Mau tolong gue gak?"
__ADS_1
'Sorry, Dan. Gue gak bisa. Urusan gue lagi banyak. Jadi--"
Kalimat itu terhenti begitu Zidan memutus sambungan telepon sepihak. Dia tak memiliki waktu untuk meladeni penolakan atas bantuan yang dia minta.
Oleh karenya, sekali lagi Zidan meremat rambutnya frustasi. "Harus kemana lagi aku cari kamu, Sya?"
...
Pandangan karyawan yang menatapnya horror membuat Zidan mengumpat dalam hati. Ya, penampilannya memang bisa dibilang berantakan. Kemeja tanpa dasi yang kancing atasnya terbuka, mukanya yang kusut, rambutnya yang biasa licin, bahkan kini tampak seperti kumal dan tak terawat.
Tak menggubris, Zidan terus memajukan langkah -- memasuki lift yang akan membawanya ke lantai dimana ruangannya berada.
Ketika lift terbuka, Zidan berjalan -- melangkah melewati meja sekretaris yang ditempati oleh Anita, sebelum perempuan itu mengintrupsi langkahnya.
"Pak?"
"Ya?" jawab Zidan tanpa berbalik.
"Tadi, setelah jam makan siang, ada seseorang mencari anda, Pak. Beliau cukup memaksa untuk menemui anda. Beliau memberitau saya, bahwa beliau sudah membuat janji bertemu secara pribadi dengan anda."
Alis Zidan tertaut, namun dia tetap bertanya, "Sekarang dia ada dimana?"
"Diruangan anda, pak."
...
Saat memasuki ruangannya sendiri, tubuh Zidan langsung ambruk begitu mendapati bogeman kuat. Lelaki itu memaksa menoleh, dengan sudut mata yang tampak lebam.
"Lo ngapain disini, huh?"
"Seharusnya gue yang sekarang nanya sama lo, br*ngs*k!!"
Lelaki yang ternyata Raihan itu mengepalkan tangan kuat. Amarah tampak jelas disana, bahkan ketika Zidan bangkit dan memandangnya tajam, dia bisa melihat bahwa lelaki ini benar-benar berusaha bersabar.
"Gue ada salah apa sama lo?!" tanya Zidan kesal, memegangi sudut matanya yang terasa nyeri.
Raihan terkekeh sinis, lelaki itu merogoh saku celana slim bahan yang dia kenakan, dan menghempaskan sebuah bulatan kertas yang dia sempat temukan, saat mengunjungi apartemen Asya pagi tadi, yang mana langsung ditangkap oleh Zidan.
Zidan mengernyit, namun lelaki itu tak ragu untuk membuka dan membaca apa yang ada di dalamnya.
Mata Zidan membulat, ini adalah surat yang Asya tulis, yang mana surat itu telah Zidan remas hingga tak berbentuk dan di tinggalkannya begitu saja di depan apartemen Asya.
"Lo raguin cinta dia?" Pertanyaan itu sekiranya menohok perasaan Zidan, Raihan kembali melanjutkan, "Lo bodoh kalau gitu. Dia cinta banget sama lo, Dan. Dan bagi dia, gue cuma masa lalunya. Dia bahkan seneng banget waktu tau dia ngandung anak lo. Tapi, apa yang dia dapetin. Rasa ragu, kekecewaan? Lo b*go!! Cowok terbodoh yang pernah gue temuin."
Zidan tetap diam, meskipun amarah dalam hatinya berkobar kuat. Bukan untuk Raihan, tapi lebih kepada dirinya sendiri.
Raihan melangkahkan kakinya, dan berhenti di sisi Zidan. "Inget, gue pernah berjanji kalau gue akan lepasin Asya dan relain dia buat lo! Tapi, gue rasa kesempatan itu udah hilang. Lo raguin Asya, dan jangan salahin gue, kalau gue kembali merebut tempat dihati dia."
...
__ADS_1
Like dan coment, ya..