My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 82


__ADS_3

Bersamaan dengan Zidan yang keluar dari kamar mandi, Asya sudah selesai menyiapkan pakaian kerja untuk suamimya itu. Terdiri dari kemeja putih, celana selim bahan dan juga jas berwarna navi yang senada dengan celananya.


"Makasih, Sayang...," ucap Zidan seraya mengecup puncak kepala Asya.


Asya tersenyum, dia membantu Zidan berpakaian hingga turut memakaikan dasi kepada suaminya itu. Rutinitas yang memang baru baginya, tetapi terasa sangat berkesan.


"Aku siapin sarapan dulu, ya...," ucap Asya menyelesaikan simpul dasi.


Hingga akhirnya wanita hamil itu meninggalkan Zidan sendirian di kamar untuk bersiap lebih lanjut.


Zidan menghela napas, lelaki itu menatap pantulan diri di cermin yang tampak sudah rapi. Beranjak mendekati nakas, Zidan membuka ponsel dan menemukan beberapa panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal.


"Siapa ini?" Dahi Zidan mengernyit. Tanpa ragu lelaki itu menelpon balik untuk mengetahui siapa yang menghubunginya beberapa kali.


Tak ada tanggapan, hanya suara operator yang memberitahu bahwa nomor yang dituju tak bisa dihubungi.


Memutuskan untuk tak memikirkannya lebih lanjut, lantas membuat Zidan berlalu meninggalkan kamar dan berjalan untuk memasuki ruang makan di mana Asya, Rendi serta Ana sudah menunggunya di sana.


"Kamu kerja hari ini Zidan?" tanya Rendi.


Zidan duduk di kursi sebelah kanan Rendi dan menjawab, "Kerja, Pah. Ada beberapa urusan yang harus Zidan selesaikan."


Rendi menanggapinya dengan mengangguk. Mereka makan dengan diselingi obrolan-obrolan ringan yang terkadang mengundang kekehan kecil.


Hingga ketika selesai, Ana yang memang tampak terburu dengan cepat berpamitan dengan Rendi.


"Pah..., Ana berangkat dulu," ucap Ana mengambil tas dan mencium sang ayah di pipi.


Setelahnya, perempuan yang berprofesi sebagai dokter itu berangkat dengan tergesa.


"Kakak kamu itu udah keliatan berbeda, ya?" Rendi tampak berbinar. Lelaki tua itu duduk di kursi teras mansion dan memandang mobil Ana yang sudah melaju.


"Kak Ana memang kelihatan berubah." Zidan mengiyakan.


Dia mendekati Rendi dan Asya setelahnya.


"Zidan berangkat, Pah," ucap Zidan pada Rendi, sebelum beralih pada istrinya.


"Aku berangkat, Sayang." Zidan menunduk mengecup puncak kepala Asya dan beralih pada perut buncit di mana sang anak sedang bergelung nyaman.


...

__ADS_1


Zidan menghela napas lelah seraya melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher. Hari sudah senja ketika dia menoleh melihat jendela besar dalam ruangannya.


Dengan posisi menyandar di kursi putar, lelaki itu menghidupkan ponsel dan berencana menelpon Asya untuk sekedar menanyakan kabar.


Karena jujur saja, usia kandungan Asya yang sudah memasuki trimester tiga membuat Zidan harus lebih waspada. Selain menuntut sikap siaga, Zidan pun harus selalu berada dekat dengan istrinya itu.


"Siapa lagi yang nelpon mulu?" ucap Zidan sedikit jengah.


Lagi-lagi beberapa panggilan tak terjawab tertera di layar ponselnya. Sekarang Zidan menyesal untuk meninggalkan benda itu di ruangan, ketimbang membawanya saat sedang berkutat dengan beberapa urusan tadi.


Memutuskan untuk kembali menghubungi, Zidan berharap seseorang menjawabnya.


"Halo...," ucap Zidan membuka percakapan.


Tak ada jawaban, hanya deru napas yang dapat Zidan dengar.


Membuat lelaki itu kembali berkata, "Maaf, ini dengan siapa?"


'Zi-Zidan...?'


Dan namanya yang disebut, membuat Zidan yakin orang di seberang mungkin saja mengenalnya.


"Iya, betul, ini saya Zidan."


Suara itu terasa begitu familiyar. Zidan tertegun, tiba-tiba saja dadanya berdetak kuat. Dan ketika ingatan kesakitan itu menghentak pikirannya, Zidan menggeram dan memutuskan sambungan dengan tergesa.


Untuk apa wanita itu menghubungi dirinya?


...


Asya tahu ada yang salah dengan Zidan. Tak biasanya suaminya itu tertegun dan tak berbicara bahkan menolak makan malam seperti saat ini.


Menoleh, Asya memandang pintu kamarnya yang memang terlihat dari ruang makan. Perasaannya tak enak. Apakah suaminya itu sakit, atau ada masalah?


"Zidan kenapa, sih?" Ana meneguk segelas air dan memandang Asya--meminta jawaban.


Asya menghela napas, dia menyelesaikan makannya lalu memandang Rendi dan Ana yang juga sudah selesai. "Zidan gak bilang."


"Sejak kapan dia begitu?" tanya Rendi.


"Sejak pulang tadi sore, Pah."

__ADS_1


"Mungkin dia cuma lelah. Kalau ada masalah, coba kamu tanya sama Zidan, abis itu tenangin dia...." Rendi menenangkan sekaligus memberi saran pada menantunya itu.


Membuat Asya mengangguk, dan berlalu menuju kamar. Di dalam ruangan itu Asya mendapati Zidan sedang termenung. Suaminya tampak memiliki beban, padahal sebelum berangkat tadi pagi, Zidan terlihat baik-baik saja.


"Zidan...."


Panggilan itu membuat Zidan menoleh, dia mengulas senyum, menyambut Asya untuk duduk di atas sofa--sudut kamar--berdampingan dengan dirinya.


"Udah selesai makannya?"


Asya mengangguk.


"Maaf ya, tadi aku nolak buat makan karena lagi gak napsu aja."


"Kenapa?"


Zidan tak langsung menjawab. Lelaki itu kembali terdiam ketika mengingat suara yang tadi sore dia dengar dari sambungan telepon. Suara yang membuat masa lalunya kembali tergambar. Menyakitkan, membuat hatinya benar-benar enggan untuk mengingat.


"Gak ada apa-apa," dusta Zidan.


Namun, bukan Asya namanya jika tak mengetahui hal itu.


Dan karenanya dia membawa tangan Zidan untuk mengusap perutnya. Di saat bersamaan--seakan mengetahui keresahan Zidan, sang anak menendang perut Asya dari dalam sana.


"Sya.... Dia nendang."


"Iya, Sayang."


Tendangan itu kembali terasa. Wajah Zidan dipenuhi binar kebahagiaan. Seakan beban yang sebelumnya mendera terangkat dengan mudah.


"Sekarang kamu mau cerita?"


"Bisa nanti aja?"


"Zidan...."


Membuat Zidan mendongak mendengar rengekan itu. Dia mengulas senyum, mengikis jarak lalu mengecup bibir Asya lembut.


"Entah besok atau kapan, aku pasti cerita."


...

__ADS_1


Like dan Coment.


__ADS_2