
Ketika Ana memasuki apartemen Asya, suasanya tampak gelap. Beberapa lampu dimatikan, dan hanya menyisakan lampu di dapur yang menyala redup. Alis Ana tertaut, hari sudah gelap, lalu mengapa Asya tak menyalakan lampu agar lebih terang?
Melangkah, Ana memasuki kamar Asya. Sejenak perempuan yang berprofesi sebagai dokter itu mengerutkan kening. Didalam kamar Asya juga gelap, namun yang membuat perempuan itu bersikap demikian bukan karena hal itu, melainkan suara lirih seperti orang yang menangis.
Ana bergegas menghidupkan lampu. Matanya membulat ketika melihat Asya menangis sembari bersandar di kepala ranjang.
Melangkah cepat, Ana bertanya, "Kenapa Sya?"
Hanya sesegukan tanpa kata yang Ana dapatkan, membuat perempuan itu kembali bertanya, "Kenapa Sya? Jangan buat kakak khawatir deh, kamu tau kan, Zidan udah nitipin kamu sama aku, Sya."
"Kak.."
Mendengar suara lirih itu membuat Ana memeluk tubuh Asya erat, memberikan tepukan dipunggungnya. "Bilang sama kakak, apa yang terjadi sama kamu, Sya."
"Kak, aku takut.."
"Takut kenapa?"
"Kak, apa aku salah gak kasih tau Zidan masalah kehamilan ini?"
"Hey." Melepaskan pelukan, Ana menangkup wajah Asya, mendongakkannya agas menatap. "Kamu gak salah, Sya. Ini salah kakak, kakak seharusnya gak larang kamu untuk kasih tau Zidan waktu itu."
"Tapi kak--"
"Udah kakak bilang kamu gak salah." Ana menyela. "Jawab kakak, kenapa kamu nangis kayak gini?"
"Kak, Andi.. Andi udah tau.."
"Andi?" Sejenak Ana terdiam, posisi mereka saat ini sudah kembali duduk diranjang, dan bersandar.
Meskipun Asya masih terisak kecil, dia kembali melanjutkan, "Iya kak. Hari ini Andi dateng sama Fany. Dia.. dia udah tau kak.."
Ana tak bisa menahan keterkejutannya ketika memahami apa yang Asya maksudkan. Perempuan itu bahkan sudah menutup mulut, menahan pekikan terkejut yang hendak terlontar.
"Dia tau dari mana?"
Pikiran Asya kembali berkelana pada kejadian siang tadi, dimana dirinya, Fany dan Andi berbicara mengenai hal tersebut. Sepintas dapat dia rasakan kekecewaan atas apa yang Raihan lakukan. Tapi, mengingat Raihan melakukannya karena ketidak sengajaan, membuat Asya sedikit lega.
"Raihan yang kasih tau, kak."
"Raihan? Dia tau dari siapa?"
Lalu mengalirlah cerita itu. Cerita bagaimana Raihan bisa sampai mengetahuinya. Mulai dari pertemuan tak sengaja mereka di Rumah Sakit dan mengapa Andi juga bisa mengetahuinya.
"Dan aku merasa bersalah kak, seharusnya Zidan yang tau itu duluan. Dia.. dia ayah dari anak ini dan aku gak--"
Kalimat Asya terpotong begitu tangan Ana kembali merengkuh tubuhnya. "Sekali lagi kakak bilang, kamu gak perlu merasa bersalah, Sya. Dia pasti akan mengerti. Dan bukannya Zidan akan pulang besok atau gak lusa? Kan kamu bisa kasih tau Zidan di waktu itu."
"Iya kak."
"Dan--" Ana melepaskan pelukannya dan tersenyum. "Besok kan hari minggu, kakak mau ngajak kamu jalan-jalan supaya gak suntuk dirumah, dan biar kamu gak stress. Kita ajak Andi, Yuda, Fany -- sahabat kamu, sama.. siapa tuh namanya? Oh ya, Raihan."
Mengerutkan kening, Asya bertanya, "Kemana kak?"
"Ke pantai, gimana? Kan seru, apalagi kalau rame-rame."
__ADS_1
"Boleh, kak."
...
Asya masih memegang ponselnya dimana nama Zidan yang tertera di layar. Sudah berulang kali dia menelepon, namun tak satu panggilan pun terjawab.
Ana yang sedari tadi memperhatikan hanya bisa menghela napas. Perempuan yang memakai dress kuning selutut itupun mendekat. "Kenapa Sya? Belum diangkat juga?"
"Iya kak."
"Udah, mungkin dia lagi sibuk ngecek proyek pembangunnnya."
Sejenak Asya tampak terdiam. Mungkin benar apa yang Ana katakan, toh memang benarkan, Zidan pergi ke Surabaya untuk mengecek proyek pembangunan hotel perusahaannya?
"Iya deh kak, ayo kita pergi."
"Kamu udah minum susu kehamilan?"
Asya mengangguk.
Mereka pun keluar dari apartemen, dengan sebuah keranjang piknik yang berada dalam genggaman Ana. Tepat di halaman komplek apartemen, Fany, Andi, Yuda, dan Raihan yang menyandar di badan mobil tampak menunggu.
Asya mendongak, menatap Raihan sekilas. Lelaki itu tampak memandangnya dengan tatapan tak terbaca. Namun, ketika di telisik lebih dalam, Asya dapat melihat perasaan bersalah tertoreh disana.
"Gimana, bisa berangkat?" tanya Ana.
"Bisa dong.. Ya kan, Sya?" jawab Fany anatusia, membuat semuanya termasuk Andi yang notabennya tak pernah akur dengannya terkekeh geli.
"So, karena kita ada dua mobil. Gimana kalau, kakak, Asya dan Fany di mobil pertama. Andi, Yuda dan Raihan di mobil kedua?"
Semuanya tampak mengangguk setuju. Setelahnya, merekapun masuk kemobil masing-masing. Mobilpun dijalankan, dengan mobil yang di tumpangi para lelaki yang memimpin.
...
Setidaknya pikirannya bisa tenang sekarang, walaupun tak bisa ditampik dia masih merasakan khawatir yang menjalar, karena sejak sedari di apartemen hinggs di sini, telepon yang di tujukannya kepada Zidan tak juga diangkat.
"Sya?"
Asya terhenyak dan mengerjab, perempuan itu menoleh. "Raihan? Ya, ada apa?"
Lelaki itu tampak membuang napas kasar. "Sorry ya, karena aku--"
Begitu Asya memahami arah percakapan itu, dia langsung menyela, "Gak pa pa, kok. Aku tau kamu gak sengaja karena gak sadar."
Setelahnya hanya ada keterdiaman, sebelum Asya kembali melanjutkan, "Kamu.. kamu mabuk karena aku?"
"Bukan."
"Trus, kenapa?"
"Bukan karena kamu, Sya. Ini karena diri aku sendiri."
Mata Raihan mengawasi suasana pantai yang cukup ramai, sebelum menatap Asya yang tampak anggun dengan balutan dress simple berwarna biru laut.
"Kamu mau jalan, gak? Kita keliling?"
__ADS_1
Asya tampak ragu ketika memandang Ana, Fany, Andi dan Yuda dari kejauhan. "Tapi mereka, gimana?"
"Kamu gak liat, mereka lagi asik bikin istana pasir?"
Asya terkekeh. Benar apa yang di katakan Raihan. Mereka berempat kini sedang bermain istana pasir, dimana tampak dari matanya, Fany dan Andi yang terlihat bertengkar, menentukan batas wilayah.
"Yaudah deh, ayo."
Mereka pun beranjak dari sana. Percakapan ringan menemai langkah kaki telanjang mereka diatas pasir pantai. Sesekali Asya tertawa, begitu mendengar guyonan receh yang Raihan sampaikan.
"Kamu cantik, kalau lagi ketawa, Sya."
Tawa Asya terhenti, perempuan itu menoleh. "Eh, kamu bilang apa?"
"Kamu cantik, kalau lagi ketawa."
"Kamu bisa aja." Terkekeh, Asya melanjutkan langkahnya.
Raihan berbalik, mengedarkan pandangan ke sekitaran. Sedari tadi, meskipun ragu, Raihan merasa dirinya dan Asya di ikuti. Entah mengapa perasaan itu muncul begitu saja.
Menghela napas, Raihan berjalan -- menyusul Asya.
"Raihan?"
"Hmm?"
"Soal hubungan kita, aku minta maaf, ya?"
"Sya, udah aku bilang, jangan ngomon gitu lagi."
"Tapi, Han--"
"Sya," Raihan dan memotong, tangannya bergerak menggenggam tangan Asya. "Kamu tau yang bikin aku bahagia?"
Asya menggeleng.
"Aku bahagia karena aku liat kamu bahagia, Sya. Aku tau, awal mula kita pisah, aku sempat kecewa sama kamu, Sya. Aku gak nyangka aja kamu mau pisah, disaat aku mau jalin hubungan yang lebih serius.."
"Raihan.."
"Dengerin aku dulu, Sya."
"Iya."
Setelah meyakinkan Asya, Raihan pun kembali melanjutkan, "Aku sekarang bener-bener udah bisa lepasin kamu, Sya. Waktu aku liat Zidan, aku liat cinta dimata dia untuk kamu, begitupun sebaliknya. Oleh karenanya aku berpikir, cinta itu gak harus memiliki. Asal kamu bahagia sama Zidan, aku bahagia."
Asya tersenyum disela matanya yang sudah berkaca. Melihat hal itu, Raihan memegang kedua pundak Asya dan menariknya kedalam pelukan singkat.
"Jadi, kamu janji kan, akan bahagia sama Zidan?"
Asya mengangguk mantap.
"Oke, ayo kita jalan lagi."
"Ayo."
__ADS_1
...
Vote, Like dan Coment.