My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 91


__ADS_3

Tempat yang mereka datangi bukan tempat yang asing. Bahkan mulut Ana menganga ketika melihatnya. Apa maksud Asya? Ini bukan restoran yang wanita hamil itu katakan. Apa Asya mendapatkan makanan yang rasanya persis seperti masakan ibunya dari tempat ini?


"Kakak pasti kaget, kan?" tanya Asya. Wanita itu bahkan tak perlu menanyakan lebih jauh karena ekspresi Ana menjabarkan semuanya.


Ekspresi terkejut, heran dan penuh tanda tanya. Hingga ketika perempuan itu menatap ke arah Asya, Asya tersenyum seraya menjawab, "Aku memang dapet makanannya dari sini, Kak?"


"Oh ... Makanan yang kamu pesen itu home made, ya, Sya?"


Asya mengangguk. Sedikit terkikik ketika ekspresi Ana bukannya membaik justru makin terlihat lucu dengan anggukan yang seolah memberi tanda bahwa dia mengerti.


Ana mengerjab. Ah ... Dia memang sedikit merasa aneh sewaktu Asya membawanya ke komplek apartemen tempat tinggal mereka dulu. Karena tadi pagi, saat Asya mendatanginya, wanita itu mengatakan bahwa dia harus berpenampilan rapi.


Ana kira mereka akan makan di salah satu restoran ekslusive yang berada di ibu kota. Alhasil, dia memakai dress terbaik yang ada di walk ini closet-nya untuk makan bersama sang adik ipar siang ini.


"Kakak udah siap?"


Meski pertanyaan Asya sedikit aneh dan bersayap, Ana tetap mengangguk dan mengikuti langkah Asya sebelum kemudian mensejajarkannya. Mereka memasuki lift, Asya menekan tombol di kotak besi itu dan menunggu mereka sampai di lantai tujuan.


Tapi apa yang didapatkan Ana justru makin membuatnya merasa tercengang. Berusaha mengalihkan rasa heran, Ana terus mengikuti langkah Asya yang membawanya tepat di depan pintu unit apartemen Asya dulu.


"Asya ... Ini maksudnya apa?" tanya Ana dengan kernyitan.


Asya tersenyum, dia menekan bel beberapa kali hingga pintu itu berderit dan perlahan terbuka. Seorang wanita paruh baya menyambut mereka--atau lebih tepatnya menyambut Asya dengan pelukan.


Ana tercengang. Wajahnya memutih bak kapas saat melihat interaksi Asya dan wanita itu. Wajah itu ... Sama sekali tak terasa asing bagi Ana yang selama ini terkadang memimpikan.


Mamah ....


Apa benar? Mungkinkah ... Asya mengetahui sesuatu? Tapi ... Tak mungkin kan?


Dia perlu mengerjab untuk menetralisir segalanya. Namun, air mata yang mengalir di pipi Ana bisa menjadi saksi bukan?


Dadanya terasa sesak. Bahkan ketika Rina menoleh ke arahnya dengan kernyitan yang teramat jelas, bibir Ana seakan membisu untuk mengeluarkan barang sepatah kata.

__ADS_1


Ana pernah memimpikan ini. Mimpi yang sudah lama hangus tak bersisa dan dia kubur dalam-dalam di relung hatinya yang retak. Ibu ... Mungkin sosok itu hanya berupa bayang yang tak bisa Ana gapai walau dengan penuh harap.


Hingga sewaktu mata mereka bersirobok dalam percakapan tanpa kata, Ana tahu bahwa rasa dalam hatinya begitu saja runtuh. Dia menangis. Keras. Pilu. Penuh kerinduan.


Rina masih dalam kebingungan ketika Ana menerjangnya dengan pelukan erat. "Asya, ini siapa?" Rina bertanya ragu.


Asya yang sudah berkaca menatap Rina dengan penuh sayang. "Asya udah pernah janji sama Mamah kalau Asya akan pertemukan Mamah dengan Kak Ana, kan?"


Dan Rina tak bodoh untuk memahami kalimat penuh arti itu. Tangannya yang renta bergerak perlahan, mengusap bahu lemah Ana yang bergetar dengan usapan seringan bulu.


"Mamah ... Ana ... Ana... Kangen ....."


Sungguh ... Apakah ini hanya mimpi?


Derai air mata yang tak diundang membasahi pipi. Menciptakan desing suasana haru dan melankolis yang membuat siapa saja tenggelam. Dan di antara semua itu, Asya yang memandang semua kejadian ikut terhenyuh. Hanya isakan halus yang terdengar di antara mereka. Sementara Asya, wanita itu memandang semua dengan perasaan bahagia yang membuncah.


...


Sungguh ... Asya sangat bahagia. Bahagia melihat orang yang dia sayangi merasakan haru dan rasa yang sama dengannya.


Ternyata benar ya, apa yang pernah dia dengar? Untuk merasakan kebahagiaan ternyata tak serumit yang pernah tertanam dalam benaknya. Karena faktanya, melihat orang yang kita sayang--bahagia dan tertawa, sudah cukup untuk membuat kita merasakan desakan akan rasa yang sama pula.


Asya tersenyum tipis. Menyelesaikan tuangan jus jeruk pada gelas terakhir, Asya menyusunnya di nampan sebelum membawanya menuju ruang tengah.


Ana yang melihatnya berdecak pelan dan berjalan mengampiri. Perempuan itu mengernyit, mengambil alih nampan yang membuat Asya tersenyum penuh permohonan.


"Kenapa gak bilang Kakak aja kalau mau bawa minuman, Sya?"


"Gak enak aja, Kak ...," cicit Asya.


Membuat Ana mangangguk. "Tapi jangan gitu lagi, oke? Nanti kalau Zidan tau, gimana?"


"Ya, jangan Kakak kasih tau, dong ...."

__ADS_1


Dan lirihan itu sanggup membiat Ana terkekeh geli. Benaknya menggali, jika mengingat Zidan--yang sangat protektif kepada Asya selama wanita itu hamil, Ana ingin tertawa dibuatnya.


Kemarin saja, saat ayahnya menceritakan tentang Zidan yang menyita mobil dan memarahi Asya--karena wanita itu keluar tanpa izin, ditambah tak memakai jasa supir, Ana tak sanggup memikirkan bagaimana ekspresi Asya karena itu.


Zidan dan segala keposesifannya ....


"Ya udah ... Ya udah ...." Suara Rina mengintrupsi.


Ana melempar senyuman sekilas, meletakkan nampan di atas meja sebelum menarik Asya untuk duduk di sisi dirinya.


"Asya ...."


Panggilan Ana membuat Asya menoleh. Ana menggenggam tangannya erat. Matanya yang sudah sembab setelah sebelumnya menangis, kembali berkaca-kaca ketika bibirnya berucap, "Terima kasih, ya ..., karena kamu, Kakak bisa ketemu lagi sama Mamah."


"Kakak gak perlu bilang terima kasih sama Asya."


"Perlu, Sayang. Tentu aja perlu," ucap Rina. Wanita paruh baya itu mengusap puncak kepala Asya dengan penuh sayang, lembut dan begitu tulus. "Mamah bahkan gak bisa menjabarkan bagaimana bahagianya Mamah punya menantu seperti kamu, Sya."


Seperti diterpa angin, Asya merasa sejuk dibuatnya. Jika saja Asya bisa menjabarkan, bahwa di sinilah dia yang beruntung karena kembali merasakan apa itu 'keluarga' dari mereka.


"Sekali lagi Kakak ucapin terima kasih ...." Pipi Ana kembali basah oleh air mata. Perempuan itu menarik Asya dan merengkuhnya dalam pelukan penuh bangga.


Tak salah bila Zidan memilih Asya. Keluarga mereka bahkan terasa lengkap dengan kehadiran wanita itu.


Di sisi lain Rina yang tak sanggup menahan buncahan sama, ikut memeluk Asya. Mereka terisak penuh kebahagian. Menumpahkan rasa itu dengan betuk liquid bening yang membasahi relung hingga hati.


Kali ini bukan karena rasa sakit. Dan Asya berjanji, bahwa Zidan--lelaki yang sangat dia cintai akan merasakan rasa yang sama.


Kaluarga mereka akan utuh ... Dan Asya akan berusaha untuk itu.


...


Like dan Coment ...

__ADS_1


__ADS_2