My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 32


__ADS_3

Suara denting benda besi saling bergesekan, dan aroma masakan yang sedap, perlahan tapi pasti membuat Zidan terbangun dari tidurnya yang lelap. Matanya masih terpejam dengan tangan meraba sisi ranjang, tempat Asya tidur disampingnya --sebelumnya. Dia terhenyak kaget dan matanya terbuka paksa, degup Jantungnya berdetak cepat begitu maniknya tak menemukan kekasihnya disana.


Lelaki itu dengan cepat bangkit dan terburu keluar dari kamar, tanpa memperdulikan penampilannya yang kusut masai.


Desah napas kelegaan dan rona ketenangan terpancar begitu manik Zidan menangkap siluet tubuh Asya yang tengah sibuk berkutat diarea masak. Dia melangkah dan dengan lembut menyelipkan lengannya di lekuk pinggang ramping Asya, lalu mengecup puncuk kepalanya mesra.


Asya terhenyak kaget dan langsung menoleh. "Zidan? aku kira siapa?"


"Bangunnya pagi banget?"


"Pagi banget?" Asya mematikan kompor dan menghela lengan Zidan, lalu berbalik memandang wajah lelaki itu, "Kamu kali yang bangun kesiangan, udah sana mandi abis itu kita sarapan, trus berangkat kerja. Aku udah nyiapin nasi goreng nih, buat kita berdua.."


Zidan menggeleng, "Nggak, aku gak mau mandi.."


"Kenapa gak mau?"


"Aku mau mandi, tapi--" Manik Zidan mengerling nakal, "Morning kiss dulu, sayang.."


Dahi Asya mengernyit dalam, perempuan itu dengan cepat menggeleng, "Gak, gak mau.. udah sana mandi dulu.."


"Kiss dulu, Sya.." Manik Zidan memandang Asya dengan pandangan memohon, "Sekali aja.. ya.. ya.."


Asya menghela napas pasrah, tangannya dengan lembut menangkup pipi Zidan dan memberikan kecupan singkat dibibir lelaki itu.


"Udah?" Tanya Asya.


Zidan mengangguk senang dan tersenyum sumringah, "Udah.. makasih, Sya.."


"Sama-sama.. udah sana mandi.." Tangan Asya memegang pundak Zidan dan membalikkan tubuhnya, lalu dengan sedikit kuat dia mendorong tubuh lelaki itu untuk masuk kekamar dan segera bersiap.


"Jangan lama-lama.. kita udah telat, oke?"


"Siap sayang.."


Zidan pun berlalu meninggalkan Asya sendiri didepan pintu kamar yang terbuka. Senyum manis tersungging indah dibibir perempuan itu, dia sangat bahagia, Zidan mulai berubah dan perlahan mulai memahami dirinya. Lelaki itu tak pernah memaksakan segala hal yang Asya tak suka, dan mulai mengerti arti dari sebuah hubungan --percintaan.


***


Zidan menunduk dan menempelkan dahinya diatas meja besar diruang kerjanya, pikirannya bimbang begitu sekelebat ingatan tentang perkataan Raihan --semalam, menghantui kepalanya. Dia ingin memberi tau Asya segalanya, namun keraguan dalam hatinya masihlah terlalu berkuasa untuk saat ini.


Lelaki itu bangkit dan melangkah menuju jendela besar ruang kerjanya. Dasi yang mencekik, sedikit dia longgarkan begitupun dengan dua kancing teratas kemeja yang dikenakan, turut dia buka untuk menghilangkan pengap yang sedikit membeban.


"Kasih tau apa nggak ya?" Zidan bertanya pada diri sendiri. Meyakinkan diri akan keputusan yang harus diambilnya cepat.


Bagaimana pun ini tak bisa dianggap hal sepele, apalagi mengenai hubungannya dengan Asya yang sudah berjalan --lebih baik dari sebelumnya.


Zidan menoleh begitu pintu ruang kerjanya terbuka, bibirnya menyunggingkan senyum kelegaan begitu maniknya menatap wajah kekasih tercinta.


"Zidan.. ini udah jam makan siang, kamu gak istirahat dulu?" Tanya Asya, seraya mendekati Zidan yang masih tegak berdiri ditempatnya semula --tadi.


Lelaki itu menggeleng, dengan manik melirik pada tumpukan map dokumen yang menggunung di atas meja, "Aku gak makan siang dulu Sya.. banyak dokumen penting yang harus aku baca dan tandatangani.. jadi, kamu makan siang sendiri aja dulu, ya?"


Asya merengut, dengan rona penyesalan yang tampak terpahat jelas diwajah, "Maaf.."


"Maaf untuk apa Sya?"


Asya melangkah semakin dekat dan sepersekian detik kemudian, perempuan itu mendekap lelaki dihadapannya begitu erat.


"Maaf.. maafin aku, aku sebagai sekretaris kamu gak becus bantu kamu, Zidan.." Sesal Asya.


Zidan tersenyum, tangannya mengelus surai legam Asya lembut dan menenangkan, "Kamu gak perlu minta maaf, Sya.. aku udah senang kok, asal kamu ada dimanapun aku ada.. aku jadi semangat.."


"Tapi--"

__ADS_1


"Hey.." Zidan menghela tubuh Asya dan menatapnya dalam, "Kehadiran kamu salah satu penyemangat aku Sya.. jadi kamu seharusnya bangga dengan itu.."


Asya kembali memeluk dan mengeratkan dekapannya, kepalanya pun kini telah tenggelam dalam dada Zidan yang menghangatkan, "Makasih Zidan.." Ucapnya lirih.


"Jangan makasih doang, donk.."


" Trus kamu maunya apa?" Asya melepaskan dekapannya pada tubuh Zidan, dan menatapnya penuh tanda tanya.


"Cium, nih disini.." Ucap Zidan dengan menunjukkan bibir menggodanya.


Perempuan dihadapannya menelan ludah kasar, lalu memandang manik sarta bibir Zidan bergantian, "Cium mulu, tadi pagi udah Zidan.."


"Itu morning kiss.. Gak sama.."


"Tapi-- Empphh.."


Belum sempat Asya melanjutkan kalimatnya, Zidan dengan tiba-tiba menarik tengkuk dan menghujam bibirnya dengan ciuman penuh hasrat. Decapan terdengar begitu sensual dari dua orang yang sedang berpangutan.


Asya memejamkan mata begitu pula dengan lelaki itu. Mereka saling mendecap dalam dan memangut begitu mesra, hingga pada akirnya Asya --merasa napasnya sudah hampir habis. Tangannya memukul dada Zidan pelan, agar lelaki itu mengakhiri pangutannya.


Desah napas saling beradu terdengar begitu menggoda dari keduanya, begitu pangutan mereka terlepas. Dua orang itu masih terpejam dengan degup jantung kuat yang mengiringi.


Jari Zidan dengan lembut mengusap bibir Asya yang merekah dan sedikit bengkak karena ulahnya. Lalu kembali menghadiahkan kecupan ringan disana.


"Kamu gak makan siang Sya?" Tanyanya, tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Pipi Asya masih merona merah, maniknya menatap tajam Zidan dengan bibir memberengut kesal, "Kalau orang masuk gimana, Zidan?"


"Gak akan.."


"Gimananya gak akan? kalau--"


"Udah sana makan siang aja.. kalau nggak, aku cium lagi nih.."


"Iya sayang.."


***


Mata Asya menatap Fany dengan tatapan keheranan, perempuan didepannya hanya mengaduk-aduk makanan tanpa niatan menghabiskan.


Sudah beberapa menit pula perempuan itu terdiam. Asya yang merasa penasaran, menyondongkan tubuhnya lalu bertanya, "Kenapa Fan, ada masalah?"


Fany mengehembuskan napas lelah, satu tangannya menangkup dan menyangga kepalanya lalu menatap Asya, "Gak, gak ada masalah.."


"Trus kenapa diem dari tadi? Tuh makanan juga gak dimakan.."


"Bingung Sya.. gue lagi bingung.."


"Kenapa?"


Fany membetulkan posisi duduknya dan sedikit menggeser piring berisi makanan. Lalu berkata, "Andi.. menurut lo dia baik gak orangnya?"


Mata Asya membulat, dirinya menggangguk mengerti. Jadi yang membuat Fany terdiam sedari tadi adalah Andi? Apakah Fany menyukainya?


"Sya.. jawab donk.."


"Eh.." Asya mengangguk mengiyakan, "Iya dia baik banget orangnya.."


"Kok lo tau?"


"Dia kan temen Zidan. Jadi, otomatis aku juga kenal dia donk.. kan kita pernah satu SMA.." Jawab Asya menjelaskan.


"Apa?!" Fany mendekap mulutnya dengan kuat, matanya memandang Asya dengan rona keterkejutan yang jelas, "Ja-jadi lo pernah satu SMA sama dia? yang bener, Sya?"

__ADS_1


Asya mengangguk dan kembali menyeruput jus yang tersaji di meja, "Iya kita pernah satu sekolah, ya.. walaupun cuma dua bulan, sih.." Asya memandang Fany dalam, "Kenapa kamu tanya Andi baik apa nggak? Kamu, gak lagi suka sama Andi kan, Fan?"


Fany terkekeh dengan tangan mengibas-ngibas menolak, "Mana ada Sya.. gak mungkin.."


"Mungkin aja kali.." Ujar Asya dengan nada meledek.


Bibir Fany mengerucut kesal, dia kembali menggeser piring makanan lalu memakannya dengan terburu --dalam diam.


***


"Sya ngapain kita disini? kamu nunggu siapa memangnya?"


Asya menoleh dan tersenyum simpul kepada Zidan, berbagai rencana menyenangkan mulai menggelayuti pikirannya saat ini, "Hmm.. Zidan, kamu mau temenin aku ke supermarket gak?"


Dahi Zidan mengerut dalam, maniknya mengedar keseluruh basement yang mulai tampak sepi dan hanya beberapa mobil saja yang tertinggal. Lelaki itu berkata, "Kalau ke supermarket, ayo kita pergi.. kamu mau disini terus memangnya?"


"Tunggu dulu.. eh.. tuh dia.." Jari Asya menunjuk sebuah mobil yang berjalan perlahan dan berhenti dihadapan mereka.


Zidan memandang mobil yang ada dihadapannya, dengan tatapan bingung. Lelaki itu merasa mobil didepannya ini sangat familiyar. "Siapa ini Sya?" Tanya lelaki itu menyelidik.


Asya tak menjawab dan memilih melirik kearah lift yang berdeting, perempuan itu bernapas lega karena satu orang lain yang ditunggunya datang disaat yang tepat.


Fany melangkah dengan terenggah, perempuan itu terlihat lelah dengan deru napas yang sedikit tersenggal, "Sorry Sya, gue telat.. jadi pergi gak?"


"Jadi.." Asya memandang seorang lelaki yang keluar dari mobil yang terparkir didepannya, "Nah udah lengkap deh.."


"Andi, lo ngapain disini?" Tanya Zidan.


Andi menggendikkan bahu dengan tatapan melirik Asya, "Tanya aja sama Asya.. dia manggil gue kesini, katanya lo mau ketemuan sama gue.."


"Ketemuan?" Lelaki itu menoleh kearah Asya, lalu bertanya, "Kamu manggil Andi kesini Sya? Tapi buat apa?"


"Aku manggil Andi sekaligus Fany kesini, biar kita bisa belanja barengan.. yakan Fan, An?" Tanya Asya seraya menatap Fany dan Andi bergantian.


"Gak.." Jawab Fany dan Andi nyaris bersamaan, dua orang itu beradu pandang dengan tatapan nyalang yang sama-sama mereka lemparkan.


"Sya, gue gak mau sama dia.."


Andi terkekeh geli, "Siapa juga yang mau sama lo!" Ketusnya.


Fany mendelik tajam dan dengan kasar menyenggol pundak lelaki itu, lalu dengan santainya melenggok kearah Asya. "Sya, gue berangkat sama lo ya?"


"Aku gak mau.. buat apa juga aku ngajak Andi kalau bukan karena kamu.."


"Sya.. kenapa kamu manggil mereka?" Tanya Zidan yang sedari tadi terdiam.


Asya tersenyum lalu menarik tubuh Zidan untuk sedikit menjauh, perempuan itu sedikit berjingkat, dan berbisik, "Aku mau mereka deket.. sebenarnya sih aku lagi nyomblangin Andi sama Fany.. menurut kamu gimana?"


Zidan sedikit menahan tawa setelah mendengar rencana dari kekasihnya, lelaki itu pun ikut memandang Andi dan Fany bergantian, lalu mengangguk menyetujui, "Oke-oke aja kayanya.."


"Baguslah kalau kamu mau bantu.."


.


.


.


Hai guys.. ketemu lagi deh..🙋🙋


Akhirnya aku bisa lanjutin lagi novel ini setelah berhenti beberapa hari, jangan lupa like dan komen yang banyak ya..😋😋


Inget!! yang buanyakk..😂😂

__ADS_1


__ADS_2