
Novel kembali dilanjutkan.
...
Asya hanya bisa memandang lemah pantulan dirinya di cermin. Wajahnya masih pucat, dengan kantung mata hitam yang tercetak jelas tepat dibawah maniknya. Semalam, setelah mual dan muntah yang dia alami, Asya memang sempat terlelap sebentar dan kembali terjaga karena alasan yang sama.
Sekarang perasaan takut Asya kembali bertambah. Dengan tangan bergetar, Asya meraba perutnya dan menyingkap dress rumahan polos yang dia kenakan hingga perut ratanya kini juga terlihat dari pantulan cermin.
Asya ragu, Asya takut dan Asya berharap semoga apa yang dia pikirkan tak benar-benar terjadi. Dia belum siap jika harus menanggungnya saat hubungannya dengan Zidan baru saja membaik.
Dan apa yang akan dikatakan orang nanti begitu tau dirinya hamil bahkan sebelum menikah? Asya masih trauma dengan hinaan dan cacian yang dia dapatkan dulu.
Jujur, kejadian dimana dia dituduh dan difitnah menjadi perusak rumah tangga orang tua Zidan, masih terputar dalam benak dan terkadang datang menjadi mimpi buruk di dalam tidurnya sesekali.
Walaupun sekarang Zidan tak pernah mengungkit hal itu semenjak hubungan asmara mereka kembali terjalin. Tapi tetap saja, Asya tau seperti apa sifat dan sikap Zidan. Zidan adalah lelaki dengan ego tinggi, emosi yang kadang hadir tiba-tiba dengan amarah yang tak bisa dibendung.
Lalu, apa yang akan dikatakan lelaki itu begitu tau dirinya hamil anaknya? Akankah Zidan menerima buah cinta mereka walaupun dia hadir dari sebuah paksaan?
Dengan menghela napas, Asya kembali menurunkan dressnya yang tersingkap. Hari ini dia akan berangkat kerja walaupun tubuhnya tak memungkinkan. Dia tak ingin Zidan khawatir dan terburu menjemputnya saat dirinya belum siap.
Asya beranjak dan berjalan menuju lemari besar disisi kamar tidur. Tadi dia telah bersiap, namun belum sempat memakai pakaian yang tepat untuk pergi kekantor.
Kemeja berwarna merah polos dan rok span hitam menjadi pilihannya kali ini. Jika sebelumnya Asya memilih untuk memakai make-up tipis, kali ini Asya memilih untuk memakai make-up yang lebih tebal dari sebelumnya.
Sekali lagi, tujuannya kali ini adalah agar Zidan tak curiga dan bertanya hal-hal yang tidak bisa Asya jawab nanti.
Setelah selesai mengaplikasikan bedak pada wajah dan lipstic dibibirnya, Asya memilih untuk menggelung rambut panjangnya dan beralih mengambil hobo bag yang ada disisi ranjang.
"Ini apa?" gumam Asya saat melihat sebuah kotak tergeletak di depan apartemennya begitu dia membuka pintu.
Kotak itu berukuran sedang berwarna merah gelap, dengan corak kupu-kupu diluarnya. Asya mengedarkan pandangan kesekitaran apartemen, bisa saja ada orang yang tak sengaja meletakkan kotak itu didepan apartemennya dan lupa membawanya kembali.
Dengan ragu Asya sedikit membungkuk dan mengambil kotak itu. Kernyitan didahinya makin bertambah, begitu dirinya melihat selembar surat yang terselip dibawah kotak.
"Untuk Asya?" Kalimat itu lebih terdengar sebagai pertanyaan untuk diri sendiri.
Sekali lagi, dengan ragu Asya membuka lembar surat itu dan membacanya perlahan.
'*Untuk Asya.
Didalam kotak ini, ada sesuatu yang pengen gue kasih ke lo. Gue harap ini bisa jadi kenang-kenangan buat lo, supaya lo gak ngelupain gue.
Tertanda
Teman lama lo*'
Asya menggangguk begitu selesai membaca surat singkat itu. Pikirannya tak menangkap sesuatu hal buruk yang terselip dibalik kalimat yang tetera disana.
Menyelipkan surat itu dibawah kotak kembali, Asya membuka penutup kotak itu perlahan.
"Akhh!!" Asya terpekik begitu melihat selembar foto bercoretkan darah didalam sana.
Dengan tangan gemetar dan jantung berdegup dia melempar kotak itu sembarang arah tanpa melihatnya kembali. Tubuhnya langsung luruh dan menyender dipintu saat itu juga. Maniknya terpejam dengan air mata yang mengalir diatas pipi.
Foto itu, foto dirinya dengan Zidan. Wajahnya difoto itu sudah tak tergambar jelas karena tertutupi coretan darah diatasnya, sedangkan foto Zidan baik-baik saja.
"Zidan.." Bersamaan dengan Asya memangil nama lelaki itu, Ana yang kebetulan lewat didepan apartemennya langsung menghampiri.
"Asya.. Asya.. kenapa?" Tanya Ana panik.
"Kak.."
"Kenapa Sya?"
"Ko-kotak itu.." ucap Asya terbata dengan tangan menunjuk kotak yang tergeletak dibelakang Ana.
Ana menoleh cepat, alisnya tertaut begitu melihat kotak yang Asya maksud. "Maksud kamu kotak itu?" tanya Ana meyakinkan.
__ADS_1
Asya mengangguk lemah, membuat ana kembali panik begitu melihat dahi perempuan yang ada dihadapannya bersimbah peluh.
"Asya, kamu sakit?" Tangan Ana yang sebelumnya menggenggam tangan Asya kini menangkup dahi perempuan itu. "Dingin Sya.. Aku telepon Zidan ya.."
"Jangan kak." Cegah Asya.
Ana menggeleng. Merogoh saku celana jeans yang dia kenakan, Ana mengambil ponsel didalam sana. Begitu layar hidup, Ana dengan cepat mendial nomor Zidan dan menunggu sambungan.
"Halo kak, ada apa telepon?" tanya Zidan disebrang begitu panggilan tersambung.
Sejenak Ana menoleh ke arah Asya yang masih saja memberi isyarat kepadanya untuk tak memberitau Zidan. "Dan, kamu bisa dateng kesini gak?"
"Kesana, kemana kak? Ke rumah sakit kakak atau ke apartemen?"
"Ke apartemen, ada sesuatu."
"Sesuatu apa?" Tanya Zidan dengan nada yang bisa dibilang panik.
Menghela napas, Ana menjawab, "Asya kayaknya sakit. Dia panik begitu liat kotak. Kakak gak tau itu kotak apa, yang jelas kamu kesini, ya.."
"Iya kak."
tut..
Begitu sambungan terputus, Ana kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana jeans lalu mengalihkan pandangan kepada Asya.
"Kakak papah kamu kedalam ya."
"Iya kak" jawab Asya lemah.
...
Zidan tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya begitu melihat Asya terbaring dengan wajah pucat diatas ranjang. Kekasihnya itu terpejam dengan jejak air mata yang tampak jelas dipipi.
Tadi saat Ana menelponnya, Zidan sempat bingung begitu mendengar suara kakaknya yang terdengar panik. Namun begitu kakaknya mengatakan bahwa Asya sakit, Zidan dengan cepat mengetahui sebab kakaknya terdengar demikian dan memutuskan untuk keapartemen Asya dengan terburu.
"Zidan?" Manik Asya yang terpejam, perlahan terbuka. Rona sedih masih tampak jelas disana dan semakin membuat Zidan khawatir terhadap kekasihnya itu.
Zidan menunduk, mengecup dahi Asya sekilas kemudian bertanya, "kamu kenapa, Sya?"
Asya terdiam, perempuan itu memilih merengkuh pinggang Zidan dan menenggelamkan kepalanya di perut lelaki itu.
"Sya, jangan gini dong. Ayok cerita, kamu sakit?"
"Enggak." Suara Asya sedikit tergelam. "Zidan, tadi ada yang kirimin aku sesuatu."
"Sesuatu?" Zidan mengernyit, lelaki itu melirik sang kakak yang duduk dikursi meja rias dan kemudian mengingat suatu hal yang tadi Ana katakan. "Maksud kamu kotak?"
"Iya." Asya melepas dekapannya, lalu bangkit dan menyandar dikepala ranjang dibantu oleh Zidan. "Ada yang kirimin kotak ke aku. Aku takut Zidan, didalam kotak itu ada foto kita berdua, tapi di foto aku ada coretan darahnya.."
Baik Zidan maupun Ana terkejut begitu mendengar hal itu. Namun, berbeda dengan Ana yang masih memandang dengan wajah penuh tanya, Zidan telah lebih dulu menyimpulkan suatu hal yang terbesit dibenaknya cepat.
"Trus, dimana kotak itu?" tanya Zidan.
Asya memeluk Zidan, menyandarkan kepalanya pada dada bidang lelaki itu. "Jangan diliat Zidan, aku.. aku takut.."
"Jangan takut."
"Tapi siapa yang mau ancem aku pakai cara itu Zidan?"
Esfi, Sya.. dia udah mulai rencananya untuk merusak hubungan kita.. Jawab Zidan dalam hati.
"Aku juga gak tau, sayang. Yang jelas aku akan cari siapa aja yang lakuin ini ke kamu."
"Tapi kamu gak boleh pergi." Asya mendongak, menatap Zidan dengan mata berkaca. "Aku gak mau ditinggal sendiri."
"Kan ada kak Ana, Sya.. Aku harus cari tau secepatnya, siapa tau aja wajah pelakunya ketangkep cctv."
__ADS_1
"Tapi--"
Belum sempat Asya melanjutkan kalimatnya, Ana dengan cepat menyela, "Zidan, sorry nih kakak gak bisa bantu. Tapi kakak gak bisa temenin Asya, ini aja kakak udah telat banget dateng kerumah sakitnya."
Zidan mengangguk mengerti, kemudian kembali mengalihkan pandangan menatap Asya. "Gimana kalau kamu hubungin Fany dan suruh dia kesini buat temenin kamu?" tanya Zidan.
"Tapi kalau dia lagi sibuk, gimana?"
"Itu urusan aku Asya, yang penting hari ini kamu ada yang temenin. Karena aku harus ngurus hal ini dengan cepat. Ya?"
Asya mengangguk, dan kembali beralih menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
...
"Sya, lo gak papa?" tanya Fany panik.
Perempuan itu melempar tas jinjingnya sembarang arah dan berlari mendekati Asya yang masih menyender di kepala ranjang.
"Lo gak papa, Sya?" tanya Fany lagi.
Asya mendengus lalu menggeleng. Inilah Fany, terlalu lebay untuk takaran orang yang panik. Untung saja Zidan dan kak Ana sudah pergi beberapa menit lalu. Jika tidak, mungkin saja kedua orang itu juga ikut jengah menatap keanehan sahabatnya satu ini.
"Gak papa kok." jawab Asya singkat.
"Trus kenapa lo telepon gue dan nyuruh gue dateng kesini?"
"Itu--" Jari Asya berjalin gelisah, apakah dia harus memberitaukan hal ini kepada Fany atau tidak. "Fan, aku mau kasih tau kamu sesuatu."
"Sesuatu?" Dahi Fany mengernyit dalam. Perempuan itu membetulkan posisi duduknya diatas ranjang Asya agar lebih nyaman. "Sesuatu apaan?"
"Aku bingung, Fan." Mata Asya yang tadinya sendu kini sudah berkaca-kaca.
Jujur, dalam hati Asya dia masih bingung. Apakah dia harus menceritakan dugaan yang dia rasakan pada tubuhnya sendiri mengenai--
--kehamilan?
"Fan.. kalau.. aku hamil, gimana?"
Fany terbengong mendengar hal itu, matanya mengerjab pelan, seakan belum mencerna pertanyaan yang Asya tanyakan kepadanya.
"Fan.." panggil Asya, tangannya menggoyangkan tangan Fany pelan. "Gimana Fan?"
"Ha-hamil?" Kali ini raut wajah Fany terlihat tak terbaca. "Memangnya kamu udah ngelakuin itu sama Zidan? Tapi kan kalian--"
"Iya Fan.. Iya.." Kali ini Asya tak bisa menahan isakannya yang ingin keluar. Dia bingung, dia tak bisa menyimpan ini sendiri, dia butuh orang yang bisa dia ajak bicara, dan Fany lah orangnya. Tapi Fany--
"Cerita ke gue." Fany berkata serius kali ini. Perempuan itu memegang bahu Asya dan menghadapkan perempuan itu agar memandangnya. "Cerita ke gue kenapa lo bisa begini. Karena setau gue lo baru berhubungan dengan Zidan abis lo putus dari Raihan. Atau jangan-jangan.. Cowo itu maksa lo, Sya?"
Asya mendongak, menatap Fany dengan derai air mata yang masih mengalir, dengan pelan Asya mulai bercerita, tidak ada yang Asya sembunyikan sedikitpun dari sahabatnya itu. Dan ketika cerita itu berakhir, dapat Asya lihat kobaran amarah di wajah Fany.
"Gimana Fan? aku bingung."
Fany mendekap Asya cepat, mengusap rambut sahabatnya yang sudah tergerai. "Lo udah kasih tau Zidan?"
"Belum, aku takut.."
"Lo yakin dia cinta sama lo, Sya?"
Asya sejenak terdiam kemudian menganguk yakin. "Aku yakin."
"Gue cuma bisa berdoa yang terbaik buat lo Sya. Gue harap dugaan lo ini belum bener, gue harap lo belum hamil dan itu hanya sekedar prasangka lo aja."
Ya.. Semoga hanya prasangka..
...
Like dan coment ya..
__ADS_1