My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 95


__ADS_3

Dari layar besar yang tersambung dengan mesin ultrasonografi tersebut, Asya bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa bayi-nya. Semuanya begitu sempurna, kendati sudah melakukan pengecekan USG berulang kali untuk melihat pertumbuhan serta perkembangan calon bayi, Asya tak bisa menampik bahwa rasa haru itu terus saja bergalayut dan menyeruak di saat yang seperti ini.


Sesaat lagi dia akan menjadi seorang ibu, menghadirkan seseorang yang nantinya akan menjadi malaikat kecil di dalam biduk keluarga yang baru saja dia dan Zidan bangun.


Asya mengerjab, dia menoleh menatap Rani yang menyorot dengan mata sendu namun memancarkan kebahagiaan. Wanita paruh baya itu bahkan sama sekali tak menahan titik bening yang menyeruak sebagai ungkapan rasa syukur.


Asya sama sekali tak bisa berkata-kata. Dia dilimpahi suami, bahkan keluarga yang begitu baik oleh Tuhan sebagai pengganti orang tuanya yang terlah tiada.


Merasakan rangkuman pada tangannya mengerat, Asya mendongak untuk menatap Rina yang memandangnya lamat. "Mah ...."


"Terima kasih, Asya ...," bisikan itu bergitu lirih, namun memancarkan ketulusan yang membuat hati Asya bergetar. "Mamah sebentar lagi akan punya cucu."


Asya mengangguk. Suasana melankolis melingkupi ruang bercat putih tersebut. Asya turun dari brangkar dibantu Rina dan melangkah menuju tempat di mana dokter Sari dan Ana menunggu.


"Bagaimana, dok?" Rina menyuarakan pertanyaan sambil tersenyum lembut.


Dokter Sari dapat melihat interaksi itu. Kendati baru pertama kali bertemu, dokter Sari bisa melihat pancaran rasa sayang yang Rina tujukan kepada Asya dan calon cucu yang kini ada di dalam rahim sang menantu.


Berdehem sejenak, dokter Sari melipat kedua tangannya di atas meja sebelum menjelaskan. Mulai dari usia kandungan, hingga perkiraan waktu proses persalinan.


Setelah bercakap-cakap sejenak, Asya, Rina serta Ana beranjak keluar dari ruangan tersebut dengan kelegaan yang memenuhi hati.


Di sisi lain, seorang lelaki dengan perawakan tampan dan tampilan rapi tampak melangkah melewati koridor. Seakan sudah terbiasa datang, banyak perawat dan dokter yang menyapa lelaki tersebut. Membuatnya membalas dengan anggukan ringan dan senyum yang terluas lembut.


Saat sampai di ruangan yang dituju, seorang perawat tampak keluar dan membuatnya bertanya, "Permisi, dokter Ana ada, sus?"


Sang suster berbalik dan berucap dengan lugas. "Eh, Pak Raihan. Maaf Pak, dokter Ana sedang keluar. Mungkin tak lama beliau akan kembali."


Raihan mengangguk dan membiarkan suster tersebut pergi berlalu. Memilih untuk duduk di kursi yang memang terdapat di depan ruangan, Raihan mengalihkan pandangan ke sekitaran.


Lorong ramai, dan nuansa khas rumah sakit yang kini menjadi pemandangan biasa baginya. Rutinitas datang ke rumah sakit untuk sekedar makan siang bersama Ana, membuat Raihan tampak terbiasa.


Selain datang ke tempat tersebut untuk menemui Ana. Keluarga Raihan yang memang merupakan salah satu donatur tetap rumah sakit tersebut, sering mengadakan acara amal. Hal tersebut terkadang membuat Raihan turut andil dalam mengambil peranan.


Tak lama menunggu, dari arah berlawanan--ketika Raihan menoleh, lelaki itu dapat melihat Ana, Asya dan satu orang wanita paruh baya datang mendekat. Raihan berdiri dengan sigap sebelum mendekati tiga orang tersebut.

__ADS_1


"An, Sya ...," sapa Raihan.


Asya mengangguk, sedangkan Ana tersenyum canggung. Perilaku tersebut tak luput dari pandangan Asya yang sudah memerhatikan sejak awal. "Kak Ana, Raihannya nyapa tuh."


Kalimat Asya yang terkesan menggoda membuat wajah Ana berubah merah padam. Lagi-lagi interaksi canggung sang kakak tak luput dari penglihatan Asya hingga wanita hamil itu dapat mengambil kesimpulan bahwa mereka berdua semakin dekat.


"Raihan." Ana mengucapkan nama lelaki itu sembari menarik tangannya untuk pergi menjauh.


Meninggalkan Asya dan Rina yang menatapnya penuh selidik, Ana membawa Raihan ke sebuah lorong untuk berbicara empat mata.


"Ngapain kamu ke sini, Han?" tanya Ana setelah berdehem singkat


Raihan tersenyum, lelaki itu melirik sekilas jam tangan lalu berkata antusias. "Ini udah jam makan siang, Na. Aku kan udah chat kamu kalau mau datang."


Ana mengangguk mengiyakan. Lagi pula apa yang dikatakan Raihan memang benar. Sudah bukan hal yang asing lagi bagi mereka menghabiskan jam makan siang berdua. Bahkan Ana sampai heran, apa Raihan tak lelah selalu datang ke rumah sakit tempatnya bekerja hanya untuk sekedar bertemu dengannya?


"An ...."


Panggilan itu membuat Ana mendongak. Raihan sekali lagi mengulas senyum yang membuat Ana terpaku untuk beberapa saat. "Ada apa?"


"Oh iya, iya ...."


Raihan terkekeh geli, tangan dengan jemari kuat itu terangkat untuk kemudian mengacak Surai Ana hingga berantakan. Ana melotot kesal, namun tak urung merasakan sesuatu yang berdetak kencang di sana.


Saat ingin berbalik meninggalkan Raihan, langkah Ana tertahan begitu lelaki itu mencekal tangannya. "Jangan marah, An ...."


Ana tahu itu hanya sekedar candaan. Ana menggeleng, karena faktanya dia tak marah melainkan menyembunyikan wajahnya yang entah kenapa memerah.


"An ...."


Panggilan yang entah kenapa dia suka itu membuat Ana menoleh. Kali ini raut penasaran sekaligus penuh tanda tanya yang ada di wajah Raihan menyebabkan Ana tercekat untuk beberapa saat.


"Aku mau tanya, Tante itu siapa, An?"


Ah, ternyata benar ....

__ADS_1


"Itu Mamah aku, Han."


"Mamah kamu?"


"Iya."


Raihan mengangguk paham. "Ya udah, yuk. Kita makan siang. Karena kebetulan ada Asya sama mamah kamu, kita makan bareng aja," ucap Raihan.


Baru saja ingin berlalu untuk kembali ke tempat semula, kali ini giliran Ana yang menarik tangannya.


"An?" Dahi Raihan berkerut dalam.


"Gini, Han. Kalau kamu ketemu Zidan." Ana menelan ludahnya kasar, sebelum berucap, "Eumm ... kamu jangan ngomong apapun tentang Mamah aku, ya?"


Dalam hati Raihan bertanya-tanya. Bukannya dia tak tahu bahwa kedua orang tua Ana sudah bercerai. Tapi, kenapa Zidan tak boleh tahu? Raihan bertanya dalam hati.


"Iya," ucap Raihan pada akhirnya--memilih untuk tak bertanya lebih lanjut.


Setelahnya Ana dan Raihan kembali menghampiri Asya dan Rina. Melihat mata sang ibu yang menelaah Raihan, Ana hanya bisa tersenyum nelangsa.


Apa yang Asya bilang sama Mamah?


Apalagi saat menoleh ke arah adik iparnya, seringai menggoda yang Asya lemparkan hanya bisa membuat Ana mendesah dalam hati.


Akhirnya pada siang itu, Asya, Ana, Raihan serta Rina makan siang di kantin diselingi obrolan yang sesekali membuat Ana memerah padam.


Apalagi kalau bukan sang ibu yang mengintrogasi dan ingin tahu ada apa dengannya dan Raihan ....


...


Ada yang nunggu update, kah? 🤭🤔


Btw, novel ini mau tamat. Tapi entah kenapa Dewi kadang-kadang mumet sampe males nulis 😅 Padahal idenya ada. 🤭🤭


Jangan bosen baca, ya ....

__ADS_1


Jangan lupa Like dan coment🥰🥰☺️


__ADS_2