My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 28


__ADS_3

Asya mengerjab pelan,mencoba duduk dan bersender di kepala ranjang. Tangannya terangkat lalu sedikit memberi pijatan pada dahinya yang terasa pening. Peluh mengalir dari dahi,kontras dengan wajah pucat pasi dan rona lemas yang terpancar begitu jelas.


"Aduh..". Keluhnya pelan,saat dirasa pening itu makin bertambah dan seakan membeban.


Asya bangkit namun sedikit goyah,tenggorokannya begitu kering sekarang dan dia memutuskan untuk kedapur mengambil segelas air untuk menghilangkan. Namun..


Bugh..


Tubuh Asya terperosok jatuh kala kakinya tak sengaja tersanduk meja kecil samping ranjang. Nyeri seketika hinggap dan hampir membuat Asya berbaring di lantai,jikalau Zidan tak memegang tubuhnya erat.


"Asya kamu gak pa-pa?". Tanya Zidan khawatir.


Asya hendak menghempas tangan Zidan,namun tubuhnya begitu lemah. Dia memilih mengalah dan membiarkan Zidan membopongnya kembali ke atas pembaringan.


Lelaki itu menyampirkan tangannya di dahi Asya,raut khawatir terpatri jelas di wajahnya itu. "Kamu demam..". Matanya menyusuri wajah Asya yang tampak teralir peluh. "Kamu pucet juga Sya.. tunggu disini..". Zidan beranjak pergi namun pergelangannya di cekal Asya.


"Ambil aku air.. aku haus..". Ucapnya pelan dan dibalas anggukan.


Lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya keluar kamar dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa sebaskom kecil air dan kain kompres lalu meletakkannya di atas nakas.


"Barbaring Sya..". Zidan menghela tubuh lemah Asya perlahan untuk berbaring diranjang setelah perempuan itu meneguk air putih yang dibawanya dan menutupinya dengan selimut hingga sebatas pinggang.


Dirinya dengan telaten merendam kain kompres itu dengan air dan memerasnya lalu diletakkan didahi Asya. "Gimana,enakan?".


Asya hanya diam tak berminat menjawab.


"Sya.. kalau kamu masih marah soal tadi aku minta maaf..". Ucap lelaki itu memelas.


Asya berpaling dan memandang Zidan dengan jengah. "Maaf? aku gak butuh maaf kamu Zidan.. kamu gak usah ucapin itu kalau gak bisa nepatin.. aku banyak berkorban Zidan.. hubungan kita ini penuh sama keterpaksaan..".


"Aku tau aku salah.. tapi beri aku kesempatan Sya..". Bujuk Zidan.


Mata Asya terasa panas oleh linangan butir bening yang tak bisa dia tahan lagi. Entahlah,dia rasanya ingin menangis karena tak satupun dari apa yang lelaki ini katakan dia tepati di kenyataannya.


"Kamu bohong..". Ucapnya diselingi linangan.


Zidan memejamkan matanya,tangannya perlahan menggenggam tangan Asya lalu mengecup lembut permukaan kulit punggungnya yang menghangat. "Aku gak akan bohong lagi.. aku janji kali ini akan jadi kekasih yang terbaik bagi kamu Sya.. memahami dan mengerti kamu.. kamu mau kasih kesempatan kan?".


Perasaan Asya sedikit terhenyuh,sudut hatinya bergetar dengan rasa yang tak terdefinisi artinya. Apakah hatinya siap menerima Zidan kini? bagaimana pun lelaki itu telah menjalin hubungan dengannya. Sesaat Asya terdiam lalu mengangguk tanpa niatan memandang Zidan.


✳✳✳


Tubuh Asya yang menghangat kini sudah kembali normal seperti semula,helaan napas lega terhembus begitu jelas dari lelaki yang semalaman terus ada di sampingnya. Zidan terus memandang wajah Asya,rona wajah pucat telah berganti dengan rona kemerahan yang begitu manis terlihat.


Jemari Zidan bergerak,mengelus perlahan permukaan lembab kulit wajah Asya,perempuan itu masih terlelap dan meringkuk di bawah selimut yang mendekapnya hangat.


Sinar matahari telah masuk,menyeruak dari balik jari-jari ventilasi kamar Zidan. Zidan bangkit dan membuka kain yang menutup jendelanya,membiarkan cahaya bening itu masuk dan menerangi seisi kamar yang tadinya hanya remang.

__ADS_1


"Asya..". Zidan sedikit menggoyangkan tubuh Asya dan mengelus pipinya lembut membangunkan.


Namun perempuan itu hanya bergumam dan kembali meringkuk di bawah selimut. "Asya.. bangun udah pagi..". Ucapnya lagi.


Tubuh Asya bergerak tak nyaman,dirinya masih ingin terlelap dalam tidurnya yang membuai setelah semalaman suntuk dirinya di landa demam dan baru beberapa jam lalu merasa enakan. Namun sekali lagi suara lelaki yang berada disampingnya memaksanya mengerjab menjemput kesadaran. "Zi..Zidan?". Ucapnya dengan suara serak. "Udah pagi?". Badannya berusaha bangun dengan bertumpu pada telapak tangan.


Senyum tertoreh indah di wajah Zidan,lelaki itu membantu Asya untuk bangkit dan menyandarkan punggung kekasihnya dengan lembut di kepala ranjang. Lalu jemarinya bergerak pelan menyelipkan anak rambut Asya yang sedikit berantakan. "Iya Sya.. bersiap-siap,abis itu keluar sarapan.. aku mau bawa kamu kesuatu tempat hari ini..".


"Kemana?". Tanyanya penasaran,matanya menyusuri dengan jelas muka Zidan yang tertoreh lelah disana. "Lebih baik gak usah pergi.. mu.. muka kamu keliatan lelah banget.. pasti karena jagain aku semaleman..".


"Ada pokoknya.. kamu tenang aja.. aku gak pa-pa kok kalau cuma harus berkendara beberapa jam.. lagi pula kalau bukan aku yang jaga,memangnya siapa lagi Sya?".


"Tapi.. kamu lelah banget Zidan..".


Sekali lagi Zidan tersenyum,mendapat perlakuan manis dari perempuan yang berada didepannya. Dia merasa kini Asya telah perlahan membuka hatinya yang tadinya tertutup rapat. Demi apapun kali ini Zidan berjanji akan membuat perempuan itu menerimanya dengan rasa terbuka lalu menjaganya dengan sepenuh jiwa dalam ikatan nantinya.


"Aku baik-baik aja.. aku tunggu,ok..".


✳✳✳


Tangan Asya bergetar hendak memutar knop pintu,tubuhnya kini hanya berbalut handuk yang menutupi hingga batas dadanya saja. Sungguh Asya kali ini benar-benar merutuki dirinya dengan kebodohan,karena lupa menanyakan kepada Zidan pakaian apa yang akan dikenakannya saat ini. Setelah pakaiannya telah terkoyak semalam dan tak bisa dikenakannya lagi.


"Zi.. Zidan? aku butuh baju..". Ucapnya sedikit terbata.


Tangan lelaki itu terhenti dari aktifitasnya menyusun piring di atas meja. Kepalanya mendongak dan sesaat kemudian matanya membulat terbelalak.


Zidan menggeleng ringan sebelum akhirnya mengalihkan pandangan,degup jantungnya berdetak cepat dan mulai terasa menyesakkan. Memang ini bukan pertama kalinya bagi Zidan memandang tubuh putih Asya,tapi tetap saja dia seorang lelaki yang memiliki aura kelakian yang akan menguar begitu melihat pemandangan yang di tatapnya barusan.


"A.. ada apa Sya?".


Asya terlihat gugup dan dengan cepat membelakangi Zidan. "Baju.. aku gak punya baju buat aku pakai.. kamu ada punya baju perempuan gak?".


Zidan terdiam,lalu dengan cepat teringat dimana dia pernah membelikan Asya beberapa dress namun hanya di pakai Asya satu helai saja. "Ada Sya.. buka aja lemari aku.. ada paper bag disana..".


"Ok.. aku kekamar dulu ya..".


✳✳✳


Perjalanan selama berjam-jam terbalaskan begitu deburan ombak,pasir putih kecoklatan yang halus serta kicauan burung camar menyambut sepasang manusia yang melangkah pelan seraya saling menggandeng disana.


Hembusan angin menyejukkan memainkan dress kuning cerah yang Asya kenakan, Rambut lurus nan indah terbang seiring angin yang terus menyapa diri.


"Indah..". Asya bergumam dengan sorot mata masih memandang lurus ke pantai.


Lelaki disampingnya menoleh,senyum simpul tertoreh manis dibibirnya. "Iya.. memang indah..". Ucapnya masih dengan tatapan lekat memandang Asya.


"Oh ya.. kenapa ajak aku kesini?".

__ADS_1


"Cuma mau aja.. aku suka pantai,aku harap kamu juga suka..".


Genggaman Asya terlepas lalu melangkah dengan riang kearah debutan ombak,kakinya yang telanjang menjinjit geli kala gulungan air itu menggelitik telapak kakinya.


Kemudian Asya menoleh,memandang Zidan yang masih berdiri terpaku memandangnya dari kejauhan. "Aku suka banget.. bener-bener suka!!". Pekiknya lalu tawa bahagia kembali terdengar.


Hati Zidan menghangat,dia ikut melangkah dan mendekati Asya. Lalu tangannya mendekap tubuh perempuan itu dari belakang. "Aku seneng kamu suka Sya..".


"Makasih,ka.. kamu ajak aku kesini Zidan..". Gugupnya.


"Ada satu hal yang aku mau omongin sama kamu Sya..".


"Apa?".


Zidan melepaskan dekapannya lalu membalikkan tubuh Asya menghadap. Tangannya dengan lembut menangkup pipi Asya yang bergetar,lalu dengan kehati-hatian mengecup keningnya dalam.


Tubuh Asya terpaku tanpa bisa menolak,Zidan dihadapannya mulai berubah. Kehangatan,kelembutan serta perhatiannya dapat Asya rasakan dari kecupan dalam yang diberikan lelaki dihadapannya.


"Aku cinta kamu Sya..".


Keterkejutan membuncah dan seakan menyesakkannya tiba-tiba. Pernyataan cinta ini begitu mengagetkan hati Asya yang rapuh.


"Ka.. kamu bilang apa?".


"Aku cinta kamu.. aku tau aku gak pantas menyatakan ini setelah.. setelah melukai perasaan dan diri kamu.. tapi.. aku gak bisa sangkal semua ini.. cinta ini hadir udah dari lama.. sejak kita pertama kali bertemu tujuh tahun lalu..,


..Pertemuan yang aneh,membawa perasaan ini semakin dalam Sya.. aku berusaha mendekati kamu.. berusaha membuat kamu terkesan dan membuat kamu bahagia.. tapi..". Ucapan Zidan tiba-tiba terhenti.


"Tapi.. rasa benci kamu mengalahkannya kan?". Lanjut Asya.


Bayangan perkataan dari Zidan,tentu saja tak mudah untuk Asya lupakan. Hinaan menohok melukai perasaannya yang dulu juga pernah mencintai Zidan walaupun hanya dalam diam. Bahkan sampai sekarang,perkataan itu terus terngiang menjadi mimpi buruk yang tak pernah absen dari hidupnya selama ini.


"Aku.. gak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan.. aku gak semurah itu untuk berbuat hal yang menjijikkan..


hinaan.. cacian.. aku udah kenyang menghadapi semua itu Zidan.. hati aku.. seenggaknya aku berharap kamu percaya.. tapi aku salah.. kata-kata kamu,aku berharap itu hanya ilusi tapi nyata..".


Airmata menitik dengan begitu deras di pipi Asya. Aura bahagia sesaat luntur menjadi suram saat ingatan masa lalu kembali terputar di otaknya. Tak ingin berlarut dan terlihat lemah,Asya memilih melepaskan genggaman Zidan lalu hendak melangkah jauh.


"Asya..". Zidan dengan cepat menahan tubuh Asya agar tetap didekatnya. "Gak ada yang berubah.. cinta aku masih sama..".


Asya tersenyum ironi. "Sama? gak sama Zidan.. kamu..".


Kata-kata Asya terhenti,saat Zidan memberi kecupan membungkam di bibirnya. Ciuman yang seakan bertindak sebagai jawaban atas perasaannya. Entah mengapa,mata Asya perlahan terkatup dengan rela dan tangannya juga memeluk mendekap tubuh Zidan sempurna.


Mereka saling melepaskan apa yang seharusnya diutarakan. Disisi lain Asya bahkan tak mengerti perasaan ini. Perasaan yang membungkamnya namun juga menghangatkan bersama Zidan.


Apakah dia harus menerima Zidan dan melupakan Raihan?. Menerima lelaki yang berulang kali memberikan kebahagiaan dan kepedihan berulang?. Menerima lelaki yang pernah menginjak harga dirinya begitu kejam?. Entahlah.. mungkin ciuman itu adalah jawaban dari seorang Asya..

__ADS_1


__ADS_2