My Devil Man

My Devil Man
MDM - Part 106 (Raihan&Ana)


__ADS_3

Part Bonus Raihan dan Ana 4


...


"Belum jadi cucu menantu, Oma. Baru calon."


Suara Raihan membuat Oma Marni yang sebelumnya antusias memberenggut dan melepaskan pelukannya pada Ana. Wajah Ana masih memerah. Perkataan Oma membuatnya gugup seketika.


"Biarin aja. Toh kamu janji akan bawa calon istri. Jadi gak salah dong Oma berkata seperti itu," sungut Oma.


Membuat Raihan mengalah dan menggeleng pelan. Entah apa yang harus dilakukannya kepada sang nenek. Yang jelas, ketika melihat neneknya ceria seperti ini membuatnya tak menyesali telah membawa Ana ke rumahnya meskipun lelaki itu sempat memaksa Ana untuk masuk.


Mengingat Ana, Raihan dengan segera mengalihkan pandangan pada perempuan itu. Gugup, merasa aneh, terkejut, atau yang lain. Raihan tak bisa menerka bagaimana perasaan Ana ketika Oma mengklaim perempuan itu sebagai bagian dari keluarga.


"Oma, Om .... Tante ini ciapa?" suara mungil itu membuat tiga pasang mata menunduk dan memandang anak kecil yang sedari tadi terdiam.


Ana tampak takjub untuk sesaat. Anak kecil dengan fitur wajah yang tampan membuat Ana gemas bukan main.


"Tante ini, eumm ...." Raihan bingung bagaimana menjelaskannya. "Ini temen dekat Om."


Anak kecil itu mangut-mangut dengan ekspresi lucu. Ana berjongkok dan menoel pipinya yang chubby. "Siapa nama kamu, Sayang?" tanya Ana.


"Alcen."


"Alcen?" tanya Ana balik. Sedikit bingung.


Anak kecil itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bibir mengerucut. "Alcen!!"


Oke, Ana paham. Anak kecil seumur ini memang susah dalam mengucapkan huruf R hingga terdengar cadel.


"Arsen?" ralat Ana lagi.


Membuat Arsen tersenyum dan mengangguk antusias bahkan melompat-lompat kecil.


Ana tertawa senang, perempuan itu seakan lupa akan suasana canggung yang sebelumnya tercipta karena pernyataan Oma.


"Oma suka sama Ana, Raihan," bisik Oma.


Raihan menoleh. "Oma bener suka?"


"Iya, dia terlihat baik dan ramah. Cocok untuk jadi pendamping kamu."


Tersenyum, Raihan mengalihkan perhatiannya kembali kepada Ana. Salah satu tujuannya membawa Ana sudah terlaksana. Oma menyukai Ana. Hingga tak ada alasan untuk Raihan menunda lebih lama lagi.


...


Setelah kejadian canggung di pertemuan pertamanya dengan Oma Marni tadi, Ana langsung ditarik oleh Oma dan si kecil Arsen untuk berkeliling mansion keluarga Raihan yang luas. Oma adalah tipe orang tua yang ramah. Sedangkan Arsen, anak kecil itu bahkan sangat menggemaskan hingga membuat Ana tak sanggup untuk tak mengajak anak kecil itu berbicara.


"An, bisa tolong ambilkan kecap?" Pertanyaan itu membuat Ana menoleh.


Ana mengangguk. Dia segera mengambil botol kecap dan menyerahkannya pada Kak Rania yang sedang memasak.

__ADS_1


"Terima kasih, An."


"Sama-sama, Kak," balas Ana.


Kak Raina adalah kakak dari Raihan. Wanita cantik itu telah menikah dan mempunyai seorang anak yaitu Arsen, dan saat ini tengah mengandung anak kedua.


Semula Ana sangsi bahwa Kak Raina akan begitu mudah dalam menerimanya. Namun, perlakuan kak Rania yang berbanding terbalik membuat ana merasa nyaman berada di sisi wanita itu.


"Kamu udah lama kenal sama Raihan?" tanya Raina seraya mengaduk semur daging di dalam wajan.


Membuat Ana menatap wanita itu lantas menjawab, "Belum terlalu lama sih, kak. Kebetulan Raihan itu kolega dari adik aku, sekaligus--" Ana ragu menjawab.


Hingga Kak Raina menatapnya dengan tanda tanya. "Sekaligus?"


Tak mungkinkan Ana menjawab bahwa Raihan adalah mantan dari adik iparnya? "Sekaligus teman adik ipar aku, Kak."


"Kamu udah punya adik ipar?" tanya Raina balik.


Mengangguk, Ana menjawab, "Iya, Kak. Zidan adik aku udah menikah, dan sekarang udah punya baby."


"Selamat, ya, An."


Perasaan Ana bertambah lega setelahnya. Mereka bercerita banyak hal. Kak Raina sempat bertanya apakah dia bisa memasak, dan Ana hanya bisa meringis sebegai jawaban.


Selang beberapa menit, masakan mereka sudah siap. Ana membantu mempersiapkannya dan beberapa maid yang membawa seta menghidangkannya di meja makan.


"Gimana?" tanya Raihan berbisik.


Membuat Ana menoleh. "Apanya?"


"Oh." Ana mengangguk paham. "Dia baik."


Raihan baru saja akan kembali berkata saat Oma Marni yang duduk di kursi utama meja makan mengintrupsi mereka. Ana meringis. Membuat wanita tua itu menggeleng seraya tersenyum tipis.


"Ayo makan dulu. Setelah itu kalian baru mengobrol lagi."


"Baik, Oma," cicit Ana menunduk.


Semua, baik itu Raihan, Oma, Kak Rania, minus Arsen-karena kecil itu sudah lebih dulu menyantap makanan dengan lahap-terkikik kecil. Ana tersenyum canggung.


Ketika menoleh dan menemukan Raihan tengah menatapnya, tangan Ana lantas bergerak ke bawah meja dan menyambar pinggang lelaki itu dengan cubitan hingga membuatnya meringis.


Oma menatap Raihan, menurunkan kacamatanya. "Kamu kenapa Raihan?"


"Ah, gak kenapa-napa, Oma," jawab Raihan cepat, Ana tersenyum puas.


Mereka akhirnya memulai makan siang itu dalam tenang. Ana menyendokkan nasi, dan berbagai lauk yang sudah Kak Raina dan dirinya masak ke dalam piring Raihan dengan telaten.


Dia merasa seperti istri saat ini. Berkunjung ke rumah mertua, masak, menghidangkan makanan kepada suami lalu makan bersama dalam kehangatan.


Hey, aku mikirin apa sih? Batin Ana.

__ADS_1


Dia menggeleng dengan wajah yang memerah. Tak menyadari bahwa sedari tadi Raihan memerhatikan dan menerka apa yang Ana pikirkan.


...


Kamar Raihan didominasi warna gelap. Kasur kingsize dengan seprai abu-abu, meja berwarna hitam dan berbagai perabot kecil lainnya dengan warna senada.


Ana mengedarkan pandangan. Sama sekali tak menyangka bahwa Oma, dan kak Raina malah menyuruhnya untuk masuk ke kemar Raihan dengan dalih sibuk dan mereka tak bisa menemani Ana lebih lama.


Lalu, suara derit pintu terbuka membuat Ana menoleh. Dari arah kamar mandi Raihan keluar dengan handuk yang menggantung di bahunya. Lelaki itu tampak segar dan tampan dengan tubuh atletis berbalut kaus putih dan celana jins hitam.


"Maaf aku kelamaan."


Ana mengendikkan bahu sebagai jawaban. Buru-buru dia mengalihkan pandangan begitu Raihan tersenyum manis kepadanya.


Dadanya berdegup kencang. Di dalam kamar ini dia dan Raihan ditinggalkan berdua. Apapun bisa saja terjadi. Lalu, suara derap perlahan mendekat. Raihan memegang bahunya dengan satu tangan dan membalik tubuhnya hingga mereka bisa berpandangan.


"Apa yang kamu pikirin?"


"Gak ada," kilah Ana.


Ada kilat jahil di mata Raihan. "Yakin? Bukan lagi pikirin yang macem-macem, kan? Kita berdua ini, lho. Apa aja bisa terjadi."


Ana memberenggut. Menapih tangan Raihan. "Kamu ini!" Lalu dia beranjak dari sana. Berdekatan dengan Raihan hanya akan membuat jantungnya tak sehat.


Masih di dalam kamar, Ana melangkah menuju pintu balkon yang terbuka. Melihat pemandangan dari sana.


Lalu sepasang tangan melingkar di pinggangnya kembali membuat Ana gugup bukan main.


"Aku cuma bercanda, An. Masa sih kamu marah?"


"Aku gak marah," ucap Ana.


Raihan menyeringai. Dengan berani dia mengendus kulit leher Ana yang terekspos dengan kecupan seringai bulu.


Ana gemetar. Tangannya mencengkram pegangan pagar balkon dengan erat.


"Raihan ...."


"Eum?"


"Jangan begini."


Namun, Raihan tak peduli. Dia justru membalik tubuh Ana hingga pandangan mereka kini saling terpaku. "Kamu tahu alasan kenapa aku bawa kamu ke sini?"


Ana menggeleng polos.


"Aku ingin kenalin kamu ke keluarga aku. Kamu masih inget kata Oma? Itu benar Ana."


Kalimat itu membuat Ana terhenyak. Dia mencari kebohongan di mata Raihan. Namun, sama sekali tak menemukannya. Lelaki itu sungguh-sungguh. Seharusnya Ana senang. Ana tak bodoh untuk mengartikan apa yang Raihan pikirkan. Lelaki itu ingin hubungan mereka berlanjut ke jenjang yang lebih sakral.


Tapi, siapkah Ana ketika dirinya sendiri takut untuk membuat komitmen itu?

__ADS_1


...


TBC ....


__ADS_2