
Zidan membetulkan posisi dress hamil Asya, sebelum memapah sang Istri untuk duduk di kursi depan meja Dokter.
Dokter Sari yang selama ini menjadi Dokter yang memeriksa kandungan Asya pun melemparkan senyuman kepada mereka.
"Bagaimana, Dok, keadaan Anak saya?" tanya Zidan. Raut wajah lelaki itu tampak bahagia sekaligus tak sabaran di saat bersamaan.
Dokter Sari kembali tersenyum, perempuan berkaca mata itu tampak menjalinkan jemari di atas meja sebelum berkata.
"Kandungan Asya baik-baik saja. Usia kandungannya pun saat ini sudah memasuki usia 26 minggu."
Pandangan Asya tampak berkaca. Sebelah tangannya digenggam Zidan sedangkan sebelah tangannya lagi mengusap tempat bergelung sang Anak.
Setelahnya Dokter Sari kembali menjelaskan beberapa hal mengenai kandungan Asya. Bahkan Dokter tersebut sempat menanyakan apakah Zidan dan Asya ingin mengetahui jenis kelamin sang Anak dipemeriksaan mendatang.
Asya dan Zidan kompak menggeleng. Biarlah nanti itu menjadi sebuah kejutan untuk mereka berdua.
"Dok, apa istri saya boleh berpergian?" tanya Zidan lagi.
Dokter Sari mengangguk. "Ya, asalkan Asya tak terlalu kelelahan dan usahakan jika penat langsung beristirahat."
Zidan bernapas lega. Segala rencananya mengenai bulan madu mereka akan berjalan lancar. Bahkan untuk memberi kejutan pada Asya, sampai sekarang Zidan pun belum memberitau kepada Istrinya itu kemana tujuan mereka.
Setelah menanyakan pertanyaan yang menurut Asya penting, dan mendengarkan penjelasan Dokter tersebut lebih lanjut, Asya dan Zidan pun beranjak pergi.
Raut bahagia tak luntur dari wajah mereka, genggaman tangan itu pun tak terlepas bahkan saat mereka sudah berada di dalam mobil dengan Zidan menjalankannya.
...
Mata Asya terbebelak. Wanita hamil itu terpesona oleh pemandangan yang disuguhkan di hadapannya kali ini. Persawahan, jejeran gunung, dan bunyi riak air sungai yang menurut Asya tak jauh dari villa tempat mereka akan menghabiskan hari-hari.
Selain itu, udara yang sejuk pun membuat Asya menghembuskan napas sebelum menghirupnya kembali -- untuk merasakan kesegaran di dalam paru-paru.
Ya, semuanya di luar ekspetasi. Asya kira Zidan akan membawanya untuk menghabiskan masa Bulan Madunya di tengah kota dengan menyewa hotel dan berjalan-jalan serta mengunjungi tempat wisata yang ada.
Tapi itu salah. Setelah melalui waktu penerbangan yang tak terlalu lama, mereka menaiki mobil dan melajukannya menuju desa kecil yang jaraknya lumayan jauh.
Asya tak tau desa ini berada di mana. Yang jelas pemandangan yang di suguhkan membuatnya berasa betah bahkan hanya dengan memandang.
"Kamu suka?" tanya Zidan seraya memeluk Asya dari belakang.
Lelaki itu meletakkan dagunya di atas bahu Asya, dengan sesekali memberi satu atau dua kecupan di pipi Istrinya yang makin berisi.
"Aku suka." Asya mengangguk cepat kemudian berbalik.
Dengan bahagia, perempuan itu merangkul leher sang Suami dan memberi kecupan ringan di bibirnya.
Setelahnya mereka tertawa. Ya, inilah yang mereka butuhkan walah hanya sesaat. Menghabiskan waktu berkualitas berdua, yang dipenuhi dengan cinta.
"Kita masuk?"
__ADS_1
"Iya.."
Sebelah tangan Zidan menggandeng tangan Asya, sedangkan sebelahnya lagi dia gunakan untuk menggeret koper.
Tak banyak barang yang mereka bawa memang. Hanya sebuah koper yang berisi baju keduanya. Zidan bilang, dia telah menyiapkan segala hal dan tak perlu khawatir akan kerepotan.
Pekikan hampir keluar andai Asya tak membekap mulutnya. Villa ini didesain sangat indah. Ornamen berbahan dasar kayu hampir memenuhi setiap sudut ruang tengah.
Pencahayaan alami yang di dapatkan dari kaca yang terbuka melengkapi keindahan villa ini.
Mata Asya berair. Zidan yang melihat hal tersebut pun panik dan segera merangkul bahu Asya untuk duduk di sofa yang tak jauh dari mereka.
"Kamu kenapa, Sya? Kamu gak suka?"
Asya tertawa kecil seraya mengusap air matanya. "Aku suka, Zidan. Tempat ini.. Indah."
"Aku senang kamu suka, Sya." Tangan Zidan terangkat -- mengusap pipi Asya sambil lalu sebelum menanamkan kecupan lembut di pelipis. "Mau liat ruangan lain?" tanya Zidan.
Membuat Asya mengangguk sebelum mengikuti langkah Zidan untuk beranjak keruangan lainnya.
Suasana tak berbeda Asya dapatkan. Hampir seluruh ornamen yang mengisi villa ini bernuansa tradisional dengan sentuhan modern. Ya, sekali lagi Asya tak bisa menjabarkan apa yang dilihatnya kali ini.
Semua begitu tiba-tiba baginya, meski pada dasarnya semua dilakukan dengan perencanaannya yang matang.
"Zidan!!" Asya terpekik merasakan tubuhnya melayang.
Zidan terkekeh, mengeratkan rangkulan tangannya yang saat ini membridal Asya. Langkah lelaki itu pelan tapi pasti membawa mereka ke ruangan yang terletak di lantai dua. Di ujung lorong tepatnya.
Bagaimana tidak? Di hadapannya tersuguh pemandangan ranjang yang berisikan kelopak bunga mawar -- berbentuk hati. Lilin beraroma menenangkan menambah suasana romantis yang tercipta.
"Asya?"
Panggilan itu membuat Asya mendongak. Posisinya masih sama. "Ada apa, Zidan?"
Zidan tersenyum, lagi-lagi kembali mengecup bibir Istrinya yang seakan sudah menjadi candu. Perlahan tapi pasti kecupan itu berubah menjadi panas.
Zidan bahkan sudah mendudukkan tubuh Asya di pinggir ranjang, seraya mempertegas k*luman bibirnya pada bibir Asya.
Napas mereka terenggah dengan dahi yang saling bersentuhan ketika perg*mulan bibir itu terlepas. Asya bisa merasakan deru udara panas yang terhembus dari bibir suaminya.
"Boleh?" Zidan bertanya seraya mengusap perut buncit Asya.
Pipi Asya yang saat ini merah, makin memerah. Dia mengigit bibirnya kuat sebelum menggeleng.
"Kenapa?" tanya Zidan lagi.
Jujur saat ini dia sedang menahan hasratnya, apalagi melihat Asya mengigit bibirnya sendiri. Ingin rasanya Zidan menerjang, lalu menggantikan gigitan itu dengan ******* bibirnya.
"Aku.." Asya mengalihkan pandangan. Jarinya terjalin gugup. "Kita kan baru sampe. Apa gak seharusnya kita istirahat dulu? Lagi pula hari masih sore."
__ADS_1
Zidan menghembuskan napas. "Sore ataupun malam, sama aja Sya.."
"Tapi--" Kembali memandang Zidan, Asya tak bisa menahan jemarinya untuk menelusuri rahang tegas sang Suami. "Aku mau makan. Kamu tau kan, aku sama Baby belum makan sejak dari Bandara?"
Zidan mengerjab, lelaki itu membiarkan Asya mengusap rahang tegasnya yang berbulu tipis, sebelum akhirnya tersadar dengan apa yang Asya katakan.
Asya belum makan.
Baby-nya tentu saja saat ini perlu asupan.
Dan apa yang dipikirkan Zidan malah bercinta?
Oh Tuhan..
Zidan, kamu ini bodoh atau apa?"
"Kamu mau makan apa?" tanya Zidan cepat.
Membuat Asya terkekeh dan mulai berpikir apa yang dia inginkan. "Tumis bayam, ikan sama tempe goreng."
"Itu aja?"
Asya mengangguk, seraya tersenyum ketika melihat Zidan dengan tanggap langsung melangkah keluar kamar untuk membuat apa yang dia inginkan.
...
Satu jam kemudian Zidan kembali, dengan clemek yang melapisi kemejanya. Lelaki itu tampak membawa sebuah nampan sebelum meletakkannya di atas nakas.
Sesuai dengan perkiraan Asya, Zidan-nya sama sekali tak bisa memasak. Ikan dan tempe goreng yang ditaruh di atas nasi tampak sedikit gosong, bahkan potongannya bisa dikatakan aneh. Selain itu, sayur bayam yang diletakkan terpisah di dalam mangkuk pun hampir sama kondisinya.
"Kamu.. Gak suka?" tanya Zidan, suara lelaki itu kini tampak seperti mencicit.
"Aku suka.." Asya meraih tangan Zidan. "Suapin aku makan, ya?"
Zidan mengangguk. "Kita makan di balkon aja. Pemandangannya bagus."
Setelahnya, mereka sama-sama beranjak ke balkon yang berada di sisi kanan ruangan. Pemandangan yang tak kalah indah menyambut mereka.
Sinar matahari kemerahan yang sudah condong ke ufuk barat menerobos dari sela-sela ranting pepohonan.
Asya dengan lahap menerima suapan demi suapan yang Zidan angsurkan. Mereka makan satu piring berdua membuat makanan yang sederhana, terasa lebih nikmat.
Setelahnya, Zidan mengangsurkan segelas air putih yang langsung diminun oleh Asya.
"Kamu senang, Sya?"
"Aku.. Sangat senang..," ucap Asya seraya memegang tangan Zidan yang kini sedang mengusap sudut bibirnya.
...
__ADS_1
Like dan Coment y..