My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 26


__ADS_3

Wajah Zidan tampak kusut,matanya yang legam hanya tertatap fokus ke luar jendela besar ruang kerjanya. Waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi,dia terpaksa membatalkan semua rapat dan pertemuan hanya untuk menunggu Asya yang sampai saat ini belum juga datang.


Tangan Zidan terkepal,begitu sekelebat memori dimana dia mendengar suara lelaki yang di yakininya merupakan suara Raihan. Rahangnya mengetat mengingat Asya yang berbohong kepadanya. Dia menunggu Asya hingga dini hari tepat di depan apartemen perempuan itu,hingga membuatnya tak tertidur barang sedetik pun. Rona lelah tampak jelas tercetak di wajah tegas dan kaku miliknya,tapi Zidan tak memperdulikan semua itu. Kini pikirannya hanya terfokus untuk mencari Asya dan sedikit memberi hukuman karena berbohong kepadanya.


Zidan kembali menelpon Asya untuk yang kesekian kali,tapi seperti sebelumnya tak ada jawaban dari sebrang sana.


Zidan melangkah keluar dari ruangan memasuki lift untuk menuju lantai dimana devisi keuangan berada. Mencari Fany,untuk menanyakan informasi dimana kekasihnya kini. Sepertinya itu lebih praktis dibandingkan menyuruh seseorang melacak keberadaan kekasihnya itu.


Seluruh karyawan gempar melihat kedatangannya didevisi mereka. Ada yang menunduk hormat namun diam,ada pula yang mununduk dan berbisik-bisik menerka alasan atasan mereka mengunjungi devisi itu tiba-tiba.


Bu Lina selaku kepala devisi tersebut mendekat,menghampiri Zidan lalu menunduk hormat yang hanya dibalas anggukan oleh Zidan.


"Pak.. ada yang anda butuhkan?". Tanyanya gugup,walaupun usia bu Lina jauh diatas Zidan,namun aura mengintimidasi lelaki itu sanggup membuatnya bergetar ditempat.


Zidan mengedarkan pandangannya keseluruh sudut ruang,mencari keberadaan Fany yang diketahuinya sebagai sahabat dari Asya. "Saya mencari Fany..". Ujarnya.


Bu Lina tersentak terkejut,ada gerangan apa atasannya itu mencari karyawan yang notabennya hanya junior didevisi ini. "Maksud bapak Fany Ariesta?".


"Iya.. Fany Ariesta..". Ucapnya datar.


Bu Lina menoleh kebelakang,memusatkan pandangannya pada karyawan yang duduk disudut ruangan. Fany yang sedang terfokus pada layar komputernya,tak sadar bahwa sedari tadi dirinya menjadi pusat perhatian seluruh karyawan.


"Fan..". Panggil seseorang.


Perempuan itu hanya menggedikkan bahu tak perduli.


"Fany Ariesta..". Suara tegas nan tajam yang diketahuinya sebagai suara bu Lina,sukses membuat Fany menoleh kikuk.


Matanya membulat begitu mengetahui siapa gerangan yang datang,dengan secepat kilat Fany bangun dan berjalan ragu ke arah ibu Lina dan Zidan. "Ada apa bu?". Tanyanya.


"Pak Zidan ingin berbicara dengan mu..".


Dahi Fany mengernyit dalam. "Ada yang bisa saya bantu pak?". Tanya Fany ragu.


Zidan beranjak. "Ikuti saya..". Titahnya.


Fany pun tak bisa menolak perintah atasannya itu dan langsung mengikuti Zidan dalam diam.


"Dimana Asya?". Tanya Zidan begitu mereka memasuki salah satu ruangan yang kosong.

__ADS_1


Bibir Fany bergetar ragu. Tadi pagi Asya menelponnya dan memberitau bahwa hari ini dia tak bisa masuk kantor karena harus mengantar Raihan ke bandara. Apakah dia harus memberitau Zidan.


"Dimana Asya?". Tanyanya lagi.


Tangan Fany bergetar. "Di.. dia sedang mengantarkan seseorang ke bandara.. pak..". Ucapnya terbata.


"Bandara?". Tanya Zidan heran.


"Iya pak.. lebih tepatnya dia mengantarkan kepergian Raihan di bandara..".


Zidan menggeram,menahan semburat amarah yang kini hampir dia luapkan,namun dengan cepat di urungkan. "Bagus.. kamu boleh pergi..".


✳✳✳


Bandara,mungkin salah satu tempat dimana pertemuan dan perpisahan terjadi. Haru biru,canda tawa serta tangis bahagia bisa ditemukan disini. Tampat ini menyajikan atmosfir berbeda bagi siapa saja yang datang. Dan kini berlaku bagi Asya yang masih setia menggengam tangan Raihan hingga detik kepergiannya.


"Sya.. jangan kaya gini..". Ujar Raihan,lelaki itu sama sekali tak tega menatap wajah sendu perempuan yang berada didepannya.


Asya menangkup wajahnya dengan satu tangan,tak sanggup melihat kepergian Raihan yang terlalu tiba-tiba. "Maaf..". Entah sudah berapa kali Asya mengucapkannya,berharap lelaki didepannya ini mengurungkan niat dan tak jadi pergi.


Raihan menggapai tubuh Asya dan merengkuhnya dalam pelukan, mengusap punggungnya pelan dan memberikan ketenangan. "Udah aku bilang.. kamu gak salah Sya.. ini keputusan aku,jadi aku harap kamu terima ya..".


"Udah ya jangan nangis..".


"Kasih kabar.. jaga kesehatan dan jangan lupa makan..". Ucap Asya.


Raihan tersenyum dan melepaskan pelukannya,tangannya menyapu butir air dari sudut mata perempuan itu,lalu berkata. "Iya Sya.. lagi pula aku pergi buat nenangin diri dan pasti akan kembali.. mana mungkin aku tinggalin mantan pacar yang udah jadi sahabat aku ini?.".


"Iya juga ya..". Asya mengiyakan pelan,setidaknya dalam sudut hatinya ada ketenangan ketika mendengar penuturan Raihan barusan.


"Yaudah aku harus chek-in dan kamu pulang ya Sya.. nanti kamu dicariin Zidan gimana?".


Asya terpaksa mengangguk mengiyakan pernyataan Raihan,sedari tadi dirinya selalu menolak panggilan dari Zidan yang dia terima dan dia yakin akan mendapatkan kemarahan Zidan nantinya.


"Kasih kabar begitu landing ya..".


"Ok.. aku pergi dulu..". Raihan kembali memeluk Asya dan mengecup puncak kepalanya lembut dan melepaskannya dengan perasaan sedih yang membuncah namun dia sembunyikan.


"Aku pergi ya..". Ucap Raihan sekali lagi dan dibalas anggukan ringan oleh Asya.

__ADS_1


Raihan melangkahkan kakinya dan berjalan diantara orang-orang meninggalkan Asya. Perempuan itu sesekali mengusap sembab air mata yang menetes,menatap dari kejauhan sosok Raihan yang perlahan menghilang dari pandangan. "Semoga kamu gak bohong..". lirihnya.


Asya berbalik,meninggalkan bandara,matanya melirik jam tangan mungil di pergelangan tangan yang menunjukkan pukul sebelas siang. Tak memungkinkan lagi baginya untuk pergi kekantor hari ini.


Asya langsung memasuki mobilnya begitu sampai diparkiran dan melajukannya dengan tujuan pulang dan beristirahat sejenak,mempersiapkan diri dari kemarahan Zidan yang sudah pasti dia dapatkan nanti.


✳✳✳


Mata Zidan memandang nanar ke arah Asya yang berjalan kikuk kearahnya. Sudah sejak satu jam yang lalu Zidan menunggu Asya tepat di depan apartemen perempuan itu.


"Zi.. Zidan?". Panggil Asya terbata. Asya menelan ludahnya kasar begitu matanya tanpa sadar melihat kemarahan yang tercetak jelas di wajah Zidan.


Langkah Zidan perlahan namun penuh intimidasi menghampiri Asya,geraman amarah yang seakan tak surut sudah sedikit membutakan dirinya. Perempuan itu mundur beberapa langkah dan berbalik berniat menghindar,namun dengan tanggap Zidan menggenggam tangan kuat dan menariknya hingga tubuh mungil Asya hampir tersungkur,seandainya lelaki itu tak menggenggamnya erat.


"Zi.. Zidan dengerin aku dulu..".


Lelaki itu dengan paksa menyudutkan Asya ketembok lalu dengan kekuatan penuh mengarahkan bogemannya tepat kearah dinding disamping kepala perempuan itu.


Suara hantaman terdengar cukup kuat dan percikan darah sedikit mengalir dari balik buku jari Zidan. Mata Asya membulat pasrah,gemetar kembali menghinggap. "Zidan denger aku dulu.. aku bisa jelasin..".


"Jelasin apa?! kamu mau kasih tau ke aku.. kalau kamu semalaman di rumah Raihan?! itu yang mau kamu kasih tau?!". Bentaknya kasar.


Tangan Asya terkatup. "Maaf.. aku minta maaf.. tapi aku gak tega kemarin tinggalin dia sendirian di apartemennya..". Jelas Asya.


Zidan berdecak kesal,alasan Asya sudah tak mempan lagi untuk merasuk kedalam pikirannya. "Gak tega?! trus kamu tega lihat aku tunggu kamu semalaman?!".


"Dengerin aku dulu..". Asya menagkup pipi Zidan,berusaha menenangkan lelaki itu dari kemarahannya.


Zidan tak perduli,menepis tangan Asya lalu membawa tubuhnya paksa. Tarikan Zidan begitu kasar,hingga membuat tubuh Asya terseok-seok tak mampu menyamai langkah besar lelaki didepannya.


"Kita mau kemana?". Tanya Asya pelan begitu mereka sampai didepan mobil Zidan.


Zidan tak menggubris dan mendorong tubuh Asya kasar masuk kedalam mobilnya,kemudian dirinya memutar ikut masuk kedalam dengan raut kemarahan yang terpancar.


Tubuh Asya tercekat waspada,tak tau harus berbuat apa lagi. Dia tau salah tak memberi tau Zidan dan membuatnya menunggu. Tapi dia tak mempunyai pilihan lain selain itu.


"Zidan? kita mau kemana? please jawab aku takut..".


Kekehan mengerikan terdengar mendayu namun mengintimidasi. Matanya elangnya menatap Asya dengan pandangan tersembunyi. "Mau kasih kamu hukuman Asya.. kerena udah berani membuat seorang Zidan menunggu dengan ketidak pastian..".

__ADS_1


Desisnya tajam.


__ADS_2