My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 98


__ADS_3

Chapter penuh drama, gaess😅🤭🤭


Jangan hujat, ya.


Like dan coment aja🤭🤭


...


"Zidan ...."


Asya bisa merasakan tubuh Zidan yang menegang. Bagaimana lelaki itu terasa tercekat, dengan tubuh keras karena yakin Zidan pun shock dengan apa yang sekarang ada di hadapannya.


Bibir Asya kelu, dia tak bisa berkata-kata. Asya menoleh, untuk mendapati bahwa saat ini Zidan hanya terdiam dengan pandangan menghunus tajam. Semua terasa lambat. Rina yang terpaku, dengan wajah nelangsa membuat hati Asya terasa teremas menyedihkan.


"Untuk apa dia ke sini?"


"Zidan ...." Asya mencoba menenangkan. Menggenggam tangan itu rapat, membawanya menuju dadanya untuk didekap.


Namun, seakan semuanya tak berarti--Zidan buta akan apa yang ada di hadapannya sekarang. Ibarat kaset rusak, kesedihan, kerinduan, kemarahan mengendap dalam hatinya dan terus saja terputar ulang. Zidan marah, kesal. Matanya menatap Rina dengan kilau rindu yang tersembunyi.


Menghela tangannya yang digenggam Asya, Zidan maju selangkah. Mengabsen wajah Rina, Rendi, dan Ana. Ada keterkejutan di sana.


"Pah." Suara itu serak, berat, sarat akan keingintahuan. "Kenapa dia datang?"


Rendi tak bisa menjawab, membuat Ana yang duduk bersisian berkata, "Apa salahnya Mamah datang, Zidan?"


"Bukan." Zidan menggeleng. "Bukan itu intinya. Tapi, kenapa baru sekarang Mamah datang?"


Hati Rina teremat. Mata sendu itu sudah berkaca. Kesunyian tiba-tiba menyeruak. Asya di belakang sana bahkan sudah meremat jemarinya penuh antisipasi.


"Mamah ingin minta maaf." Suara itu hanya berupa bisikan yang mengalun.


Namun, Zidan bisa mendengarnya dengan jelas. Dia kembali mendekat. Hanya tiga langkah yang tersisa dari bentangan jarak di antara mereka.


Zidan sudah lama menanti situasi ini. Dia tak ingin munafik dengan berkata bahwa dirinya tak merindukan sosok sang ibu. Karena faktanya, dalam hati ... dia selalu saja merindukan sosok Rina. Rindu sekaligus kecewa yang melebur jadi satu.


"Mamah menghilang, kembali dan menghilang lagi. Sekarang Mamah mau apa?"


"Mamah cuma mau minta maaf, Zidan ...."


"Kenapa baru sekarang?" Zidan kembali memberondong Rina dengan pertanyaan.


Mambuat wanita paruh baya itu menelan ludahnya kasar. "Mamah tahu, Mamah salah."

__ADS_1


"Ya, Mamah memang salah, Mamah seharusnya menyadari itu dari dulu," acuh Zidan. Terdengar kasar memang.


Bahkan semua orang di ruangan itu tercekat. Asya hendak mengambil langkah, menatap Rina dan Zidan dengan pandangan gamang. Namun, baru selangkah kaki itu menapak, Ana memberi isyarat berupa gelengan, membuat Asya mengurungkan niat.


"Zidan." Rina meraih tangan itu. Kaku, keras dan seakan sama sekali tak tersentuh. "Mamah akan berbuat apapun supaya Zidan maafin Mamah."


"Termasuk pergi dari sini?" tanya Zidan sarkas.


Ana menggeleng dengan mata berkaca. Tak tahan, membuat perempuan itu merangsek, memeluk pundak Rina yang sudah lemah bergetar. "Apa-apan kamu Zidan?! Mamah sudah minta maaf!"


"Ya, Mamah memang sudah meminta maaf!" Zidan ikut berteriak. "Tapi setelah apa yang dia perbuat, apa dia pikir Zidan bisa memaafkan dengan begitu mudahnya?!"


"Apa salahnya untuk memaafkan, Zidan?!"


Ruangan itu dipenuhi argumen. Saling berteriak, mengungkapkan ego masing-masing. Rendi yang sedari tadi diam, melangkah tegas mendekati. Masa lalu yang menyakitkan, kini harus diselesaikan dengan kepala dingin.


"Semua itu masa lalu, Zidan." Rendi berkata dengan lembut. "Di sini bukan hanya Mamah kamu yang bersalah, Papah turut andil dalam semuanya. Masa lalu kita--yang membuat kamu gak bahagia, Papah minta maaf."


"Hah?" Zidan terkekeh. Mengusap matanya yang berair, dirinya tak menyangka akan ada drama baru lagi yang terjadi karena kehadiran sang ibu. "Semudah itu, ya, mengucapkan maaf?" Ada nada meledek di sana.


Lalu, Zidan mengangguk. Menyilangkan tangan di depan dada. Berpose seperti orang yang sedang berpikir, hingga tatapan itu kembali terpaku pada tiga orang yang ada di hadapannya saat ini. "Oke, Zidan akan memaafkan. Tapi kembalikan masa lalu Zidan. Kembalikan masa yang seharusnya Zidan habiskan dengan kebahagiaan. Kalian tahu? Zidan iri. Iri dengan apa yang bisa teman Zidan dapatkan. Keluarga lengkap, kebahagiaan. Dulu, kalian bahkan gak bisa sehari aja gak bertengkar!!"


Oke, Zidan kalap sekarang. Tak ada alasan bagi Asya untuk terus menjadi penonton tanpa bisa berbuat lebih. Akhirnya Asya melangkah, mendekati Zidan--beralih menautkan jemari. "Zidan, masa lalu gak bisa dirubah. Mamah kamu udah minta maaf bukan? Keluarga kita akan lengkap, bukannya itu yang kamu harapkan sampai sekarang?"


Zidan memejamkan mata. Menghirup dan menghela napasnya secara pelan. Baru saja hendak mengatakan sesuatu, ucapan Rina selanjutnya justru membuatnya tercekat dan geram.


"Asya ... sudah, Mamah gak apa-apa, Nak."


Asya dan Mamahnya sudah saling mengenal?


"Mamah kenal Asya dari mana?"


Ruangan itu kembali sunyi. Tak ada yang menjawab. Hingga kekehan Zidan kembali menggema dengan ucapannya yang begitu tajam.


"Ah ... Mamah, apa Mamah diam-diam manfaatin Asya untuk bisa kembali ke sini?"


...


Asya tak tahu apa yang selama ini ada di benak Zidan. Lelaki itu ... bukanlah Zidan yang dia kenal. Zidan yang sudah berubah. Zidan yang baik. Zidan yang ingin berkorban. Kini kembali lenyap.


Seakan iblis dalam diri lelaki itu kembali menempati sebagian dari ruang dalam hati Zidan.


Asya bahkan tak habis pikir betapa kasarnya ucapan yang lelaki itu lemparkan terhadap Rina, hingga membuatnya pergi dengan linangan air mata. Zidan ... telah berubah.

__ADS_1


Membuat Asya kembali mengingat masa lalunya dengan lelaki itu. Ucapan kasar, tuduhan, segala aksi bejat yang membuat Asya terkadang bermimpi buruk.


Asya kira Zidan tak akan kembali seperti dulu. Sepenuhnya meninggalkan sikap buruk dan kata-kata tajamnya, dan menggantikannya dengan yang lebih baik. Nyatanya salah, ekspetasi Asya terlalu tinggi untuk itu.


"Zidan!!" Mencekal, Asya menarik tangan Zidan yang saat ini sedang memandang keluar jendela kamar.


Wajahnya tetap datar. Diam, Zidan seakan menunggu Asya kembali berkata-kata.


"Kamu kasar."


Zidan masih diam.


"Bagaimanapun, dia itu Mamah kamu. Seharusnya kamu jangan egois dan menuduh dengan sembarangan!!"


"Menuduh?" Alis Zidan tertaut. "Apa aku salah? Beberapa hari ini kamu menyembunyikan masalah ini, kan? Selama ini kamu berhubungan sama Mamah aku, kan?"


Keterdiaman Asya menjawab semuanya. Zidan kembali melanjutkan, "Memang seharusnya aku gak maafin Mamah dengan begitu mudah. Dulu dia ninggalin aku, sekarang dia memanfaatkan istri anaknya sendiri."


"Bisa-bisanya kamu ngomong begitu?!" Asya tak habis pikir, darimana sebenarnya pemikiran itu. "Setiap orang berhak dimaafkan, bahkan Mamah berhak untuk mendapatkan itu."


"Gak semudah itu, Asya." Zidan menatap Asya dalam, memandangi manik hitam jernih itu. "Kalau kamu di posisi aku, mungkin kamu akan melakukan hal yang aku lakukan."


"Oh, ya?" Asya bertanya cepat.


Apakah dia harus mengatakan ini? Apakah dia harus mengungkit masa lalu agar Zidan berubah. Karena sepertinya Asya tak memiliki opsi lain untuk membuat Zidan tersadar. Suaminya, dikuasai oleh ego yang membuat Asya harus segera menghilangkannya. "Kalau kamu di posisi aku, apakah kamu akan memaafkan dengan mudah juga?"


"Apa maksud kamu?"


Asya menatap Zidan. Memaku pandangan, lurus, keseriusan begitu tegas terlihat di mata hitam itu. "Jika kamu bilang memaafkan tidak mudah, seharusnya aku gak memaafkan kamu begitu aja, kan?"


Dahi Zidan berkerut. Dia mulai memahami arah pembicaraan ini.


"Dulu, kamu menuduh aku tanpa bukti yang jelas. Hanya berdasarkan foto yang bahkan gak bisa dibuktikan kebenarannya." Menghela napas sejenak, Asya lanjut berkata, "Di saat bertemu lagi, kamu menghina, melecehkan dan ... aku bahkan gak perlu mendikte ini satu per satu, karena aku yakin kamu tahu."


Zidan masih tetap bergeming. Namun, detakan jantungnya tak bisa berbohong bahwa apa yang Asya katakan itu kebenaranya.


"Tapi aku bisa memaafkan kamu. Dari sekian rasa sakit, aku berusaha Zidan. Mengembalikan kepercayaan yang sudah rusak itu gak mudah. Tapi, aku berusaha. Karena apa? Saat kamu kecelakaan, saat kamu hampir pergi ninggalin aku--di saat itu juga aku sadar bahwa aku akan sangat menyesal kalau gak memaafkan kamu. Karena aku cinta kamu."


Asya menghembuskan napasnya sejenak. Mengusap perutnya dengan gerakan melingkar. "Memaafkan memang gak mudah. Tapi, ketika semuanya menghilang dan gak mungkin kembali lagi, di saat itu pula kamu akan menyesal dengan apa yang kamu lakukan, Zidan. Aku gak mau kamu seperti itu nantinya."


Asya mengakhiri kata itu dengan mengusap pipi Zidan lembut, kemudian meninggalkannya dalam kegamangan yang amat menyesakkan. Asya ... sepenuhnya benar. Kebejatannya di masa lalu, bahkan Asya sangat mudah untuk memaafkannya. Lalu, kenapa dia tak bisa?


...

__ADS_1


Sekali lagi, Like dan Coment-nya jangan lupa🤭🤭


__ADS_2