My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 60


__ADS_3

Zidan tak bisa lagi menahan desakan kebahagiaan begitu manik legamnya bersirobok dengan Asya. Dengan langkah yang tertatih, lelaki itu berjalan melewati halaman, dan menarik tubuh Asya dalam sekali sentakan untuk dia dekap.


Matanya terpejam, tangannya melingkar disekitaran pinggang Asya yang terasa makin mengecil. Harum, kenyamanan dan kehangatan masihlah terasa sama.


Begitupun yang terjadi terhadap Asya. Kendati perempuan itu sempat terbelalak begitu Zidan menariknya, Asya tak bisa berbohong bahwasanya dia juga merindukan dekapan ini.


Mereka seakan terlupa akan suasana, dan tak menyadari tatapan dari Raihan yang menyendu dan berakhir begitu dia memilih pergi -- meninggalkan Asya dan Zidan yang terlarut akan atmosfir mereka sendiri.


"Asya maafin aku."


Zidan tak sadar bahwa kalimat -- yang memang harus dia ucap -- itu membuat perempuan yang ada didekapannya ini membuka mata dengan cepat, menampilkan manik yang sarat akan rasa sakit dan kecewa.


Asya menggerang, berusaha melepas dekapan yang sialnya terasa hangat dihatinya. "Zidan lepas!!"


"Aku nggak akan lepas kamu, Sya. Aku mau kamu maafin aku."


"Zidan lepasin!!"


Merasa tak mendapatkan tanggapan, Asya dengan kuat mendorong dada bidang Zidan hingga pelukan mereka terhela.


Asya memandang lelaki itu sengit, berbeda dengan Zidan yang justru memandangnya penuh kelembutan.


"Sya, aku minta maaf."


Kalimat itu, Asya sangat membencinya. Bukan tanpa alasan. Asya pernah mendengarnya dulu, tepat dari lelaki yang sama -- yang kini berdiri dihadapannya.


Lalu apa yang dia dapat? Keraguan, tuduhan tak berdasar dan tatapan kekecewaan yang membuatnya terkadang sesak.


Asya terkekeh, berusaha menutupi hatinya yang retak dan perih. Dia menunduk sesaat, sebelum kembali mendongak dan menatap wajah kuyu Zidan dengan seringaian. "Setelah maaf dari kamu aku terima, trus apa yang akan terjadi? Kamu nuduh aku lagi?"


Meringis, Zidan menggeleng cepat. Mencoba meraih kembali tubuh Asya, yang justru membuat perempuan itu semakin jauh dari jangkauan.


"Sya.."


"Please, Zidan. Aku nyerah. Aku gak mungkin untuk bertahan lagi, kalau akhirnya aku akan disakiti."


"Masalah kemarin, aku tau aku salah. Aku minta maaf, oke? Aku cinta kamu, Sya. Tolong jangan begini.."


Asya kembali terkekeh, namun kali ini dengan matanya yang meredup dan berkaca. Sungguh, dia juga mencintai Zidan -- bahkan sangat. Tapi, apakah dia akan sanggup kembali tersakiti apabila Zidan kembali meragukam dirinya?


"Dulu, kamu nuduh aku menjadi perusak keluarga kamu. Setelahnya, saat kita udah menjalani kehidupan kita masing-masing, kamu hadir lagi Zidan. Kamu lecehin aku, dan kamu masih mengganggap apa yang kamu tau itu sebuah kebenaran--"


"Sya.."


"Stop!" Asya mengangkat tangan, mengisyaratkan agar lelaki itu berhenti. "Sekarang biarin aku ngomong Zidan, kamu dengar baik-baik!"


Zidan terdiam setelahnya, memandang Asya prihatin saat perempuan itu menumpukan tubuh lemahnya pada lengan kursi.

__ADS_1


"Dan abis itu, ketika kita berhubungan, kamu raguin kesetiaan aku. Apa kamu kasih kesempatan untuk aku menjelaskan? Jawabannya nggak, Zidan. Kamu justru.. justru lebih percaya sama mantan kamu, ketimbang aku. Dan kamu harus tau, disaat kamu raguin kesetiaan aku, disaat itu pula aku ragu kalau kamu benar-benar cinta sama aku."


Deg


Kalimat itu seakan menjadi peluru yang menembus hati Zidan. Ini salahnya!! Ini kebodohan!! Dan lihatlah sekarang, Asya bahkan meragukan cintanya.


"Sya.. Please.."


"Stop, Oke?! Stop untuk pura-pura perhatian! Stop untuk pura-pura minta maaf sama aku! Sekarang, kita nggak ada hubungan lagi. Akhiri, hanya sampai disini!"


Asya berbalik, hendak meninggalkan Zidan sehabis melemparkan kalimat ultimatum itu, sebelum Zidan menggenggam tangannya.


"Se-nggaknya pikirin anak kita, Sya. Dia butuh aku, aku ayahnya."


"Kamu nggak raguin dia?" pertanyaan itu dilontarkan Asya tanpa memandang Zidan.


"Maksud kamu apa?"


"Mungkin aja anak yang aku kandung ini bukan anak kamu?"


"Dia anak aku, Sya. Aku yakin itu."


Kalimat yang diucapakan Zidan dengan tegas, sempat membuat Asya goyah. Namun itu tak berlangsung lama. Karena setelahnya hanya penolakan yang Zidan dapatkan, begitu Asya menyentak tangannya, dan meninggalkan dirinya tanpa menoleh kembali.


...


Dia enggan pergi, seperti janjinya yang dia ucapkan, dia tak akan beranjak sebelum Asya membuka pintu maaf untuknya.


Terlambat memang. Tapi apa yang harus dia lakukan, selain meminta maaf dan kembali menumbuhkan kepercayaan Asya untuknya?


Menghela napas, Zidan mengerjab. Alis lelaki bermanik legam itu mengerut begitu melihat seseorang yang berjalan pelan -- keluar dari villa, lalu melangkah menuju mobilnya.


Zidan berharap itu Asya, tentu saja. Namun, harapannya menciut dan kandas begitu mendapati sosok Ana yang mengetuk kaca jendela mobilnya.


Membuka pintu mobil, Ana beranjak masuk. Perempuan yang memakai piyama dilapisi cardigan dan syal itu, melemparkan sekaleng soda kearahnya.


Untung gak dingin, batin Zidan.


"Kak Ana ngapain kemari?"


"Kamu kenapa gak pulang?" tanya Ana memilih mengabaikan pertanyaan Zidan.


Zidan mendengus. "Kakak tau apa jawabannya, kan?"


"Kamu gak akan pulang sebelum Asya maafin kamu?"


Pertanyaan itu Zidan tak menjawabnya, seakan mempertegas bahwa apa yang Ana simpulkan adalah kebenaran.

__ADS_1


Ana menghela napas, mengalihkan pandangan dan menoleh untuk menatap Zidan. Lelaki itu tampak kuyu menurutnya, apalagi pandangan yang menjurus pada satu titik membuat Ana meringis lalu tanpa sadar mengusap pucuk kepala adik semata wayangnya ini.


"Kamu udah makan?"


"Aku gak napsu, kak."


"Tunggu kakak, ya."


Setelah memberikan titah itu, Ana keluar dari mobil dan beranjak memasuki villa. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan membawa sepiring makanan ditangan kanannya.


"Nih, makan," ucap Ana seraya menyodorkan sepiring nasi goreng yang terlihat menggiurkan.


Zidan menggeleng yang mana hal itu membuat Ana mendengus tak suka. "Ini buatan Asya."


"Buatan Asya?" beo Zidan dengan wajah takjub.


"Iya, ini buatan Asya. Tadi dia kepengen nasi goreng, dan dia buat ini--"


Kalimat itu tak terlanjutkan begitu Zidan menyambar dan memakan lahap nasi goreng itu. Ana tersenyum manis, sekaligus merasa miris disatu sisi.


"Kamu suka?"


"Su-suka banget, kak."


Zidan mengusap sudut matanya yang basah dan kembali melanjutkan suapan. Dia bersyukur kali ini. Walaupun pintu maaf belum terbuka dari Asya, tapi dia masih bisa merasakan kelezatan makanan yang dibuat pujaan hatinya.


"Zidan?"


"Eumm?" Zidan bergumam, masih sibuk dengan aktifitas mengunyahnya itu.


"Kakak mau kasih saran, kamu mau dengar?"


Zidan mengangguk sebagai jawaban.


"Gimana kalau kamu coba untuk ketemu sama keluarga Asya?"


Oke, omongan ini cukup menarik menurut Zidan. Oleh karenanya, dia yang sebelum itu masih sibuk mengunyah kini beralih menatap Ana dengan pandangan yang seakan mengatakan 'coba lanjutkan'.


"Gini, Fany cerita ke kakak, kalau sebelum dateng ke villa ini Asya sempat pengen ketemu keluarganya gitu. Jadi, kakak mau tanya satu hal lagi ke kamu. Kamu ingin hubungan ini berlanjut ke jenjang pernikahan, atau--"


"Kalau kakak tanya seberapa yakin aku sama Asya. Jawabannya, aku yakin banget kak. Kakak bisa menyipulkan bahwa aku akan membawa hubungan ini ke jenjang pernikahan, kalau kakak mau."


"Jadi?"


"Aku akan ketemu sama keluarga Asya, kak. Aku akan kasih tau semua hal sama mereka, dan mungkin juga minta restu."


...

__ADS_1


Vote, like dan coment ya..


__ADS_2