
"Sekarang aku mau tanya," ucap Ana memandang Raihan dalam. "Ngapain kamu ke sini?"
"Aku mau ketemu kamu...."
Ana menghela napas lelah. Jemari lentiknya bergerak untuk memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Rasa kesalnya memang berkurang. Tapi, jujur dia masih membutuhkan waktu, apalagi untuk melihat wajah lelaki yang menghantui setiap malamnya.
"Ngapain kamu mukul dia, Han?"
Membuat Raihan mendengus mendengar pertanyaan itu. Dia berdiri, menuntun Ana yang tak menolak saat dia membawanya untuk duduk di kursi.
"Maksud kamu aku harus diam dan lihat dia lecehin kamu? Gitu Ana?"
"Bukan.." Ana menggeleng, menatap rerumputan taman yang dia pijak. "Kita bisa panggil pihak keamanan untuk ngurusin dia."
"Dan dia akan berkilah yang nggak-nggak selanjutnya gitu?" sambung Raihan.
"Kok kamu jadi ngeselin, sih?" gerutu Ana. Dia sudah siap untuk pergi saat Raihan kembali mencekal tangannya dan membawanya untuk duduk lagi.
"Ada apa, Han?"
"Aku dateng ke sini buat minta maaf, An. Bukan buat ribut lagi sama kamu."
"Buat apa kamu minta maaf? Kamu gak salah...."
"Aku salah, An. Aku--"
"Aku tau kok, kalau kamu masih ada rasa sama Asya... Aku ngerti."
"Nggak, Ana. Kamu salah paham."
"Salah paham apa?"
Raihan menatap manik hitam itu dalam. Tanpa cela dia meraih tangan Ana dan menggenggamnya. Oke, dia sudah paham rasa dalam hatinya sekarang.
Rasa yang tak hanya berdenyut sakit kala Ana mengacuhkannya. Semua itu bahkan terlihat jelas saat dengan mata kepalanya sendiri Raihan melihat bagaimana Joshua memperlakukan Ana.
"An, aku memang masih sayang sama Asya."
Deg...
Hati Ana berdenyut sakit. Katakan saja dia bodoh berharap bahwa Raihan menyimpan rasa padanya.
"An...."
"Hm?"
"Dulu memang aku cinta sama Asya. Tapi, sekarang gak ada rasa sayang ke dia kecuali sebagai sahabat. Dia cinta sama Zidan, dan aku tau itu."
Ana terdiam, bahkan ketika Raihan menuntunnya untuk berjalan menuju parkiran Rumah Sakit, tak ada yang bisa Ana lakukan kecuali melihat dalam diam pertautan tangan mereka.
Begitu hangat, dan Ana sama sekali belum pernah merasakannya dari lelaki lain yang pernah mengisi hatinya.
"Kita mau ke mana, Han?" tanya Ana begitu Raihan menuntunnya memasuki mobil dan memakainya seatbelt.
"Mau bawa kamu ke suatu tempat."
"Ke mana?"
Raihan menyeringai, tanpa menjawab lelaki itu memakai seatbelt dan melajukan mobilnya ke tempat tujuan.
__ADS_1
...
"Terima kasih..." Ana menerima sodoran air mineral yang Raihan berikan.
Dia memandang sekitar. Ana tak tau dari mana Raihan mengetahui tempat ini. Sangat indah dengan pemandangan langit malam dipenuhi bintang.
"Tempat ini indah..."
"Kamu suka?"
Membuat Ana menoleh memandang Raihan yang juga bersandar di bumper mobil. "Suka... Kamu tau tempat ini dari mana?"
"Gak sengaja ketemu."
"Kok bisa?" Ana terkekeh.
Membuat Raihan menggaruk tengkuknya. "Aku itu dulu orangnya suka bangkang, An. Kadang kalau Mama marahin aku karena suka bolos, aku ya kaburnya ke sini."
Ana tersenyum mendengarnya, tak menyangka bahwa Raihan yang dikenalnya sebagai lelaki kalem dengan pembawaan tenang memiliki sisi lain yang menurutnya lucu.
Dan saat Ana menahan tawa karena cerita Raihan, lelaki itu melihat sesuatu yang berbeda. Ana itu memiliki sisi memesona di mata Raihan.
"An..."
"Hm?" Ana berdehem sebelum menatap Raihan kembali.
Suasana malam di tanah lapang yang luas, dengan gedung pencakar langit dihiasi bintang sebagai latar, pun dengan tempat yang sepi membuat dada Ana berdetak kuat.
"Ada apa, Han?" tanya Ana gugup.
"Aku seneng kenal sama kamu."
"Kamu... Ya, punya sisi yang buat aku nyaman. Dan aku suka..."
Tak ada yang bisa Ana katakan selain menatap Raihan dalam. Dia tak tau kata-kata sederhana itu dapat membuatnya terpana. Apalagi saat Raihan menautkan tangannya sepersekian detik setelah kalimat itu terucap.
Dan menurut Ana, ini adalah salah satu malam terbaik yang pernah dia lalui.
...
Suasana meja makan saat itu terasa berbeda, dan Asya menyadarinya. Rona wajah Ana yang telah kembali dan keceriaan yang di bawa oleh perempuan itu turut membuat Asya bahagia.
Dia mengedarkan pandangan dan memakunya kepada Raihan yang turut makan malam bersama mereka. Ah, Asya mengerti sekarang. Apakah Ana dan Raihan telah mengetahui perasaan masing-masing.
Karena jujur saja, melihat mereka berdua membuat Asya gemas sendiri. Mereka saling suka tapi jual mahal, itu menurut Asya.
Setelah membersihkan kerongkongannya dengan seteguk air, Asya sedikit menjorokkan tubuhnya ke arah kanan agar lebih dekat dengan Zidan. Dia berbisik, "Zidan..."
Membuah lelaki itu menautkan alis namun tak urung mendekat. "Ada apa?" tanyanya berbisik pula.
"Kamu liat ada yang beda, gak?"
"Beda apa?"
"Kak Ana sama Raihan?"
Zidan lantas memandang dua orang itu. Memang terlihat berbeda. Namun seakan tak begitu memerdulikannya, Zidan mengendikkan bahu dan kembali melanjutkan makan.
Membuat Asya kesal bukan main, dan menggerutu.
__ADS_1
"Zidan..."
Lelaki itu hanya berdehem sebagai jawaban.
Dan karenanya, kedongkolan Asya makin bertambah. Bahkan sampai ketika mereka selesai makan dan berlalu hingga waktunya tidur, Asya mendiami Zidan dan tak berkutik ketika lelaki itu memanggil.
"Asya...," panggil Zidan memelas seraya merapatkan dadanya pada punggung Asya.
Membuat perempuan hamil itu berdecak dan berusaha menjauh. Namun, bukan Zidan namanya bila tak bisa menahan Asya sekuat tenaga.
Dengan lembut, Zidan menyusupkan kedua tangannya dan membelai perut buncit itu pelan. Hanya ada rasa kasih dan mendamba yang Asya rasakan dari usapan itu.
Bahkan matanya memejam karena meresapi setiap sensasinya.
"Aku minta maaf...," kata itu kembali Zidan ulang.
Zidan tahu alasan Asya mendiaminya. Kekanakan memang, tapi menurut Zidan semuanya terasa gemas bila Asya yang melakukan.
"Aku minta maaf, oke?"
"Kamu diemin aku..."
"Aku minta maaf, aku gak ulangin lagi."
"Beneran?"
"Iya, beneran," jawab Zidan mantap.
Membuat Asya langsung berbalik dan memeluk Zidan untuk menyembunyikan wajahnya.
"Eh, kok langsung peluk?"
"Memang gak boleh?" Asya mendongak, menatap Zidan di antara remang kamar.
"Boleh, cium 'pun boleh."
"Ih..." Tangan putih itu memukul pelan dada Zidan. "Ciumnya besok aja, ini udah malem."
Zidan memilih mengalah. Sebenarnya, jika boleh Zidan ingin berhubungan dengan Asya malam ini. Melihat perubahan tubuh Asya yang makin hari makin menggiurkan, membuat Zidan harus susah payah menelan ludah untuk menurunkan libidonya.
"Zidan...?"
Panggilan itu membuat Zidan yang sebelumnya terpekur mengerjab. Dia memandang Asya penuh damba. "Ada apa?"
"Menurut kamu, Raihan cocok sama Kak Ana?"
Zidan terdiam mendengar pertanyaan itu. Namun, alih-alih menjawab setelahnya, Zidan justru menodong Asya dengan pertanyaan lain.
"Sya, aku mau tanya?"
"Tanya apa?"
"Kalau seandainya waktu bisa diputar, dan kejadian di mana aku merebut kamu bisa dicegah, apa..., apa kamu akan tetap sama Raihan?"
"Aku milih kamu." Asya bahkan tak perlu waktu untuk menjawabnya.
"Kenapa?"
"Karena...," ucapan Asya terjeda. Dan di saat yang bersamaan itu pula tangan putihnya terangkat untuk membelai wajah Zidan. "Aku gak bisa bohong kalau aku cinta kamu, Zidan. Walaupun di antara kita pernah ada kesalahpahaman, dan ada rasa buat Raihan di hati aku sebelumnya--yang berdampingan dengan kamu, aku gak bisa elak bahwa rasa untuk kamu jauh lebih besar. Dan Tuhan... Dia begitu baik untuk mempersatukan kita setelah begitu banyak hal berat yang terjadi."
__ADS_1