My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 29


__ADS_3

Nuansa hening terbentang luas diantara dua anak manusia,dimana mereka masih erat mendekap tubuh masing-masing. Dahi mereka menyatu,linangan air mata menjadi peraduan diantara mereka berdua.


Dengan lembut Zidan mengusap sudut mata Asya,menghapus segala kesah perempuan yang ada didekapnya. Cinta yang sempat dia pendam akhirnya dengan lantang dapat dia ucapkan,hingga perasaan lega itu menguar dan berembun menjadi sebuah kebahagiaan.


"Jangan sedih Sya..". Ujarnya sedikit menenangkan.


Asya terhenyak kaget,ini salah menurutnya. Bagaimana bisa dia dengan sekejab meruntuhkan tameng yang dibuatnya untuk lelaki ini,lalu melupakan masa lalu dengan mudah seakan tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Asya melepaskan dekapannya dan sedikit menjauh,membuat Zidan mengernyit bingung akan perubahan sikap kekasihnya itu.


"Kenapa Sya?".


"Ini salah Zidan.. ciuman ini.. pelukan ini.. ini semua salah.. aku belum bisa terima kamu sepenuhnya.. maaf..".


Asya berbalik hendak meninggalkan Zidan,namun lelaki itu kembali mendekapnya erat dari belakang. "Ini gak salah Sya.. kamu hanya perlu ada disamping aku.. aku akan berusaha buat kamu terima cinta aku.. aku mohon..".


Mata Asya terpejam,tangannya terkepal menahan semburat gugup yang sejenak menyiksa ketika dia bersama Zidan.


"Asya,maukan?". Tanya Zidan lagi.


Dirinya tak punya opsi lain untuk menolak,jujur saja beribu pertanyaan masih bergejolak melingkupi dirinya yang ragu akan Zidan.


"I.. iya..". Jawabnya gugup setelah sekian lama terdiam. "Aku akan coba kasih kamu kesempatan,tapi jangan ada paksaan..". Syaratnya kemudian.


Zidan mengangguk senang,kesempatan ini tak akan disia-siakan,tak ingin kehilangan Asya kedua kalinya. Demi apapun,kini dia tak akan membiarkannya pergi dan akan mendekapnya kuat disisi.


"Zidan..".


"Emm?".


"Aku gak nyaman dengan posisi kita begini.. bisa lepas gak?".


Lagi-lagi sikap Asya membuat sudut bibir Zidan terangkat membentuk senyuman. "Oke.. maaf..". Zidan melepaskan dekapannya dari tubuh Asya. "Mau pulang?". Tanyanya kemudian.


Mata Asya menyusuri sepanjang pinggir pantai,suasana hangat ini,dia tak ingin meninggalkannya begitu cepat. "Aku masih mau disini..". Asya menoleh. "Bolehkan?".


"Tentu aja boleh..". Zidan menggengam tangan Asya,membawanya menyusuri pesona indah pantai yang sepi ini.


Mereka terdiam,tapi tangan mereka masih menggenggam,langkah mereka juga masih menapaki setapak demi setapak hamparan pasir putih lembut yang sedikit menggelitik. Suasana yang sesaat canggung,juga mulai meleleh dengan kehangatan yang terpancar diantara mereka berdua.


✳✳✳


Lengan kuat Zidan membopong tubuh Asya yang lemah terlelap. Dengkuran halus begitu manis terdengar dari sosok perempuan cantik dalam gendongannya.


Setiap pasang mata,melihat mereka dengan pandangan beragam. Ada yang tersenyum,ada pula yang seakan iri dengan kemesraan mereka berdua. Namun Zidan tak ambil pusing dengan semua itu,baginya saat ini,kenyamanan Asya adalah prioritasnya yang pertama.


Zidan memasuki apartemennya dan langsung melangkah ke kamar lalu membaringkan tubuh Asya ke ranjang. Tangannya dengan lembut menutupi tubuh Asya dengan selimut dan dengan penuh perasaan mengecup kening Asya pelan.


Kejadian hari ini tak akan pernah dia lupakan,ini terlalu berharga untuk itu. Asya sudah bersedia mencoba menerimanya,itu saja sudah sangat cukup bagi Zidan.


"Makasih Sya.. udah berusaha mencoba menerima aku..". Ucap Zidan.

__ADS_1


Lelaki itu masih tetap pada posisinya,menatap lekat penuh cinta perempuan yang kembali menggetarkan hatinya lagi dan lagi.


Salahkan selama ini dia membenci Asya dibalik cintanya?. Lalu ketika benci itu menguap,salahkah dia bersikap egois untuk merebut Asya kembali dalam dekapannya?.


Entahlah,Zidan tau ini salah. Tapi perasaan ini tak bisa dia abaikan. Asya hanya miliknya dan hanya boleh didekapnya,itulah yang lelaki itu tau.


Puas memandang lekat kekasihnya,Zidan memilih membersihkan tubuh dari keringat yang melengket. Memberi kesegaran yang mengembalikan kekuatan tubuhnya.


Beberapa menit kemudian Zidan keluar dengan aura segar yang terpancar,lelaki itu mengeringkan tubuh dan rambut seadanya lalu berpakaian santai seadanya pula. Tak ada kegiatan lain,Zidan pun akhirnya memilih bergelung bersama Asya yang masih terlelap tidur diatas ranjang. Mendekap perempuan itu dan sama-sama berbagi kehangatan.


✳✳✳


Ditempat lain.


Malam yang gelap,tak membuat seorang perempuan gentar untuk menyusun rencana liciknya. Otaknya berkelebat,mencari cara untuk membalaskan dendam yang beberapa lama ini dia pendam.


Usaha yang dia kerahkan beberapa tahun lalu untuk mendekap lelaki yang dia dambakan,dia tak ingin usaha itu kembali sia-sia. Sudah cukup lelaki itu menjauh dan mencampakkannya tapi tidak untuk sekarang.


"Asya.. tunggu pembalasan gue.. gue akan dapetin Zidan lagi dan lo akan dicampakkan seperti halnya tujuh tahun yang lalu..". Desis perempuan itu.


Tangannya terkepal dengan senyuman yang tak dapat terdefinisi terukir diwajahnya yang tertutup make-up tebal. Senyum yang pernah disunggingkannya tujuh tahun lalu,ketika dengan mudah merebut Zidan dan membuatnya membenci Asya.


"Nona Esfi..". Ucap dua orang lelaki tanggung seraya mengetuk kaca mobilnya.


Esfi melangkah keluar dan menyilangkan tangan didepan dada. "Gimana? kalian udah dapat apa yang gue butuhin?".


Lelaki perperawakan kurus mengangguk sedang lelaki disampingnya mulai mengeluarkan handphone dan menunjukkan hasil jepretan yang dia dapatkan. "Dia Raihan.. dia mantan dari cewe yang menjadi incaran kita non..".


Lelaki itu menunjuk kaerah klab malam yang ada didepan mereka. "Dia ada di klab itu non..".


"Bagus.. ini upah kalian.. inget,jangan cari atau temuin gue lagi kalau gue gak hubungin kalian.. paham?!". Titah Esfi,seraya memberikan sebuah amplop yang lumayan tebal.


"Baik non.. kita permisi dulu..". Dua lelaki itu pun beranjak pergi.


✳✳✳


Lampu kerlap-kelip dan dentuman musik menyambut Esfi ketika perempuan itu memasuki klab malam tujuannya.


Bukan untuk bersenang-senang seperti kebanyakan orang,dia datang ketempat itu untuk membuat kesepakatan menguntungkan antara dirinya dan partnernya nanti.


Mata jelinya menyusuri setiap sudut celah klab malam yang penuh sesak,mencari sosok lelaki yang diketahuinya bernama Raihan itu. Lalu sesaat kemudian senyum sinis menyapa,ketika melihat sesosok lelaki yang dicari olehnya.


"Akhirnya ketemu juga..".


Esfi berjalan melenggak-lenggok diantara kerumunan orang yang menari diruang klab itu,mendekati Raihan yang tengah terduduk disofa dengan minuman ditangannya.


"Hai.. boleh duduk gak disini?". Tanyanya dengan gaya sensual yang memuakkan.


Raihan menggedikkan bahu dan kembali menenggak segelas vodca yang ada ditangannya.

__ADS_1


Melihat Raihan tak menjawab,membuat Esfi sedikit muak. "Gak boleh ya?". tanyanya lagi.


Raihan menoleh dan menepuk-nepuk bagian sofa yang ada disampingnya. "Duduk aja kalau mau.. gue gak larang kok..".


Esfi pun duduk dan mulai menjalankan rencana liciknya itu. "Lo Raihan ya? perkenalin gue Esfi..".


Dahi Raihan mengernyit dalam lalu menoleh menatap Esfi tajam. "Lo siapa tau nama gue?"


"Lo gak perlu tau.. yang jelas gue mau tawarin kerja sama yang bagus..". Esfi mulai menggandeng tangan Raihan. "Gue tau kok,lo pasti patah hatikan? ditinggal pacar? dihianati? tau-taunya pacar lo selingkuh?.. gue juga alami itu.. jadi lo mau kerjasama kan sama gue?".


Raihan menghela tangan Esfi kasar dan mulai bangkit menjauh. "Lo siapa?! inget ya gue gak kenal lo!! jadi lebih baik lo pergi!!".


"Eh.. jangan marah gitu donk.. lo rugi nanti..".


"Rugi?!". Raihan terkekeh geli. "Maksud lo apa?!". Tanya Raihan tajam.


Esfi bangkit dan kembali menggandeng tangan Raihan,dirinya sedikit menjinjit mensejajarkan dirinya dengan lelaki itu lalu berbisik. "Gue mantan pacar Zidan dan gue juga kenal Asya.. Asya itu mantan cewe lo kan?.. gimana kalau kita kerja sama buat pisahin mereka berdua?".


Mata Raihan membulat lalu menatap Esfi dengan tatapan ragu. Tawaran yang begitu menggiurkan baginya kini sudah tepat didepan mata.


"Gimana? mau kan?".


✳✳✳


Apartemen Zidan.


Zidan mengerjab-ngerjab matanya berulang kali. Menggeser posisi tidur,bangkit lalu memilih bersender di kepala ranjang. Matanya menatap lekat tubuh Asya yang masih terlelap disampingnya. Jam telah menunjukkan pukul delapan malam,ini saat yang pas untuk makan,mengisi perutnya dan perut Asya yang tampak keroncongan.


"Asya.. bangun Sya..". Panggil Zidan,seraya menggoyangkan tubuh Asya pelan. "Bangun Sya.. kita makan malam..".


Tak lama kemudian Asya bangun dan ikut bersender seperti Zidan. "Jam berapa ini?".


"Jam delapan.. kamu bersihin diri dulu,abis itu keluar dan kita makan malam bersama.. oke?".


Asya mengangguk dan menoleh menatap Zidan. "Iya.. aku keluar nanti..".


Zidan mengecup kening Asya lembut lalu turun dari ranjang dan keluar kamar. Dirinya melangkah kearah dapur,membuka lemari pendingin dimana banyak bahan makanan yang tersedia.


Zidan memilih untuk membuat pasta kali ini,karena jujur saja walaupun banyak bahan makanan yang tersedia dilemari pendinginnya. Zidan bukanlah lelaki yang pandai memasak,hingga dirinya memutuskan membuat makanan sesimple mungkin.


Setelah kurang lebih empat puluh menit berkutat didapur,masakan Zidan pun siap dengan tampilan yang bisa dikatakan aneh plus berantakan.


Pastanya tampak terlalu masak sedangkan saus dan meetball yang menyertainya tampak hitam dan beraroma sedikit gosong. Tapi entah mengapa Zidan bangga,karena masakan yang dibuatnya ini disertai cinta didalamnya.


"Zidan.. kamu masak apa?". Asya yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri Zidan yang ada di meja makan.


Zidan menoleh dan tersenyum kikuk. Tangannya menyodorkan sepiring pasta yang tak karuan,buatannya tadi. "Pasta.. cuma tampilannya agak aneh,gak tau deh gimana rasanya..".


Senyum simpul menghiasi bibir Asya kala melihat masakan Zidan. "Gak pa-pa.. yang penting layak makan..". Asya mengambil piring pasta itu dan mencicipinya sedikit. "Enak kok.. walau pun agak sedikit ada rasa pahitnya..".

__ADS_1


"Makasih Sya..".


"Yaudah.. gak usah makasih segala.. ayo makan..".


__ADS_2