My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 84


__ADS_3

Zidan menuntun Asya ketika kaki wanita itu menjejak untuk turun dari mobil. Dia memutuskan untuk tak bekerja hari ini. Ada sudut di dalam hatinya yang menolak kehadiran Rina dan sama sekali tak ingin bertemu.


Sekelebat ingatan bertahun-tahun lalu kembali terputar ketika melihat sosok sang ibu. Sakit. Perih. Dan banyak kata yang tidak bisa Zidan definisikan dengan pasti.


Lelaki itu menghela napas sejenak, sebelum mengalihkan pandangan pada Asya yang ternyata tengah memandangnya dalam.


"Ada apa, Sya?"


"Nggak kenapa-napa."


Namun, jawaban yang Asya jabarkan tak sama dengan apa yang ada dalam hati wanita itu. Asya kembali memandang Zidan dalam, sebelah tangan mengusap perutnya yang terlapisi gaun hamil katun berwarna pink, sedangkan sebelahnya lagi mengusap telapak Zidan yang dia genggam.


"Seharusnya aku yang tanya sama kamu, Zidan. Kamu ada masalah?"


"Aku baik-baik aja, Sya."


"Zidan, kamu yakin?"


Zidan mengangguk, pendiriannya masih sama. Dia akan menceritakan semuanya ketika masanya tepat.


Dan setelah itu, karena ingin menghindari pembicaraan tentang apa yang terjadi padanya, Zidan kembali menarik Asya untuk berjalan.


Saat ini mereka sedang ada di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar. Memikirkan usia kandungan Asya yang makin bertambah membuat pasangan siami istri itu memutuskan untuk membeli dan menyiapkan beberapa perlengkapan bayi.


"Zidan, coba lihat-lihat baju bayi dulu," ucap Asya menarik Zidan untuk memasuki sebuah toko.


Asya memilih beberapa lembar baju baju mungil untuk bayi. Kebanyakan berwarna biru mengingat jenis kelamin anak mereka adalah laki-laki.


Setelah beberapa waktu berkutat, akhirnya Asya dan Zidan selesai membeli beberapa perlengkapan lain dan memutuskan untuk pulang.


Zidan kembali menuntun Asya memasuki mobil, dan meletakkan barang yang mereka beli di bagasi sebelum berlari memutar untuk masuk ke kursi kemudi.


"Sya?"


"Hn?" Asya menoleh, memusatkan pandanga pada Zidan. "Ada apa?"

__ADS_1


"Kamu mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?"


"Jalan-jalan," putus Asya cepat. Wanita itu bahkan langsung menjawab tanpa berpikir sedikitpun.


Asya bosan. Semenjak mereka menikah, Asya tak leluasa lagi untuk pergi karena kandungannya dan juga Zidan yang tak selalu ada di rumah.


Dan begitu Zidan mengajakkan hari ini untuk membeli perlengkapan, lalu di lanjutkan dengan jalan-jalan, Asya tak membuang waktu untuk memanfaatkan ajakan Zidan sebaik mungkin.


"Memang kita mau ke mana?" tanya Asya berbinar.


Membuat Zidan terkekeh dan mengusap pipi berisi istrinya dengan sayang. "Kita keliling sebentar, dan kalau kamu mau, kita bisa berhenti dan pergi ke taman kota. Di sana udaranya bagus, baik buat kamu sama Baby kita."


...


"Kita sampai...." Zidan memutarkan kemudi sebelum menginjak pedal rem untuk menghentikan mobil yang dikendarai mereka.


Mereka turun bersamaan. Kemudian Zidan menghampiri Asya dan merangkul pinggang wanita itu lekat. Keadaan taman tak terlalu ramai, membuat Asya lebih nyaman dan rileks untuk menikmati suasanya kali ini.


"Kamu mau duduk dulu?"


Asya mengangguk. Zidan kemudian membawa Asya untuk duduk di salah satu kursi taman tepat di bawah sebuah pohon yang terbilang rindang.


Tak bisa dipungkiri bahwa Zidan sangat mendambakan sosok sang ibu. Dulu, ketika orang tuanya resmi bercerai, Zidan dan Ana memilih untuk tinggal bersama dengan Rendi sementara Rina pergi meninggalkan mereka tanpa jejak.


Dan ketika wanita yang berstatuskan ibunya itu kembali menemuinya, ada sudut di hati Zidan yang bergejolak ingin menanyakan segala hal yang pernah dia pendam.


Zidan menghela napas kasar. Dia saat ingin membagi perasaan ini dengan Asya. Tapi, sekali lagi dia membutuhkan waktu yang tepat untuk menumpahkan segala kekesahannya itu.


"Sya...," panggil Zidan.


Membuat Asya yang sedari tadi terpejam--menikmati desai angin--menoleh dan memandangnya. "Ada apa, Zidan?"


"Kamu mau sesuatu?"


"Eum.." Asya tampak berpikir, matanya mengedar hingga akhirnya wanita itu menemukan stand yang menjual ice cream. "Es krim aja, boleh deh."

__ADS_1


Zidan mengangguk. Lelaki itu mengusap pipi Asya lalu beranjak pergi bertepatan dengan sebuah panggilan yang berdering masuk ke ponsel Asya.


"Halo, Fan?" sapa Asya begitu wanita itu menerima panggilan.


'Sya, ada yang mau gue kasih tahu. Kita bisa ketemuan gak?'


Asya mengernyit. "Ketemuan? Bukannya kamu kerja, Fan?"


'Nggak, gua gak kerja. Pokoknya ada yang mesti gue omongin sama lo.'


Dan mendengar suara panik tersebut, terpaksa membuat Asya mengiyakan. "Iya, di mana? Biar aku bisa minta Zidan buat anterin aku."


'Lo sama Zidan?!'


"Iya, tapi kenapa kamu panik gitu?"


'Hah? Ng-nggak, gue gak panik. Yang jelas lo minta anter aja sama Zidan, dia gak perlu mampir ke sini, oke?"


"Oke."


Panggilan berakhir.


Kerutan di dahi Asya tercetak jelas, hingga ketika wanita itu mendongak, pemandangan Zidan yang tampak terburu menghampirinya membuat kebingungan di kepala Asya makin bertambah.


"Kamu kenapa?"


"Aku gak pa pa, Sya. Maafin aku, ya? Stand es krimnya rame banget, jadi aku gak bisa beli."


"Nggak masalah...." Asya tersenyum maklum. "Tapi kenapa kamu keliatan buru-buru?"


Zidan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia sedikit menunduk, sebelah tangannya mengait tangan Asya lembut. "Aku ada urusan sebentar. Jadi, aku akan anterin kamu pulang sebelum pergi lagi. Maaf banget, aku gak bisa ajak kamu jalan-jalan kali ini."


"Lain kali masih ada waktu, kok." Meremat tangan itu rapat, Asya kembali berkata, "Oh ya, kalau kamu mau pergi, aku boleh kan mampir dulu ke rumah Fany? Dia gak kerja hari ini, katanya."


"Boleh."

__ADS_1


...


Like dan Coment


__ADS_2