
Asya hanya bisa meremat jemarinya gusar, dibalik segala sikap tenang dia tampakkan pada Raihan yang saat ini duduk dihadapannya, nyatanya Asya tetaplah gugup setengah mati.
Kurang lebih sudah setengah jam berlalu, tapi tidak ada satupun dari mereka yang membuka percakapan sedari itu. Menelan ludahnya kasar Asya mendongak, menatap Raihan yang kini memandangnya dengan tatapan tak terbaca.
"Raihan.. ada perlu apa?"
"Cuma mau berkunjung, aku dengar Zidan pergi, jadi ya aku mau liat kamu aja."
Nada ketus yang begitu kentara dalam setiap kata yang Raihan ucapkan membuat Asya cukup tertohok. Ekspresinya yang datar saat mengucapkan kalimat itu membuat Asya terpaksa mengatur napasnya berulang, menghirup dan menghembuskannya perlahan.
"Eumm, jadi kamu kesini mau.. liat aku?"
Raihan mengangguk, pandangannya seketika itu juga turun dan beralih pada jalinan jemari Asya yang sedikit bergetar. Dia tersenyum masam, ketika tak mendapatkan cincin yang pernah dia berikan dulu disaat perpisahan mereka.
"Cincin.. waktu itu.."
Mendengar gumaman Raihan, pantas membuat Asya mengikuti arah pandang lelaki tersebut. Manik Asya terpejam, dia tau maksud lelaki dihadapannya ini. Raihan pasti menanyakan pasal cincin yang pernah dia berikan kepadanya. Asya memang tak memakainya lagi, atau lebih tepatnya dia menghindar untuk memakainya.
"Aku gak pake lagi cincin itu, Raihan. Aku rasa--"
"Kamu menyesal?"
Asya menggeleng cepat. "Nggak, gak mungkin. Aku.. aku cuma gak bisa pake aja untuk saat ini. Kamu tau kan, aku--"
Kalimat Asya terhenti begitu Raihan terkekeh pelan. Matanya bahkan tampak berkaca dengan begitu pilu. Oh Tuhan.. Apakah sesulit ini melepaskan wanita yang berada dihadapannya? Mengapa saat bertemu dengannya, terasa begitu pedih?
"Aku tau kok. Kita kan udah gak ada hubungan lagi. Kita cuma sahabat Sya, aku paham."
Demi Tuhan, dimana Ana sekarang? Mengapa dia sangat lama, dan meninggalkan Asya sendirian. Dia tak menyangkal, bahwa menghabiskan waktu bersama Raihan bisa membuat perasaannya tenang. Tapi untuk saat ini..
"Raihan aku tau aku salah. Aku gak bisa menyangkal, kalau kamu yang paling tersakiti disini. Tapi Raihan, aku juga bingung. Aku--"
"Aku tau Sya." Raihan tersenyum -- tampak dipaksakan. "Aku gak pernah nyalahin kamu kok. Aku tau ini sulit, tapi aku akan berusaha. Aku yakin.. cinta ke kamu, perlahan tapi pasti akan memudar, walau akan membutuhkan waktu yang lama."
Raihan sekali lagi tersenyum setelahnya. Lelaki itu meneguk jus yang sebelumnya memang Asya siapkan, lalu bangun dari posisi duduknya. "Sepertinya aku harus pulang."
"Oh." Asya ikut bangun, menghampiri lelaki yang kini berdiri di dekat pintu.
Raihan memejamkan mata beberapa saat sebelum lelaki itu kembali membukanya. Tangannya merentang, dia berkata, "Kita masih bisa bersahabat kan?"
Mengangguk, Asya terkekeh pelan. Dia lalu menyambut rentangan tangan Raihan dengan masuk ke dalam pelukannya.
Masih hangat..
__ADS_1
Masih nyaman..
Dan Asya yakin, mereka memang bisa menjalani ini sebagai bentuk persahabatan.
...
Saat memasuki klab itu, penampilan Raihan bisa dibilang berantakan. Tempat ini, adalah tempat dimana dia bisa merasakan ketenangan.
Setidaknya, ketika selesai menghabiskan beberapa sloki minuman berakohol, Raihan yakin dirinya akan kehilangan kesadaran dan terlupa masalah yang menderanya untuk sementara waktu.
Bukan dia tak ingin melupakan Asya. Jika saja dia mau, dia bisa mendapatkan wanita manapun yang melemparkan diri kepadanya dengan percuma.
Tapi sekali lagi, Asya berbeda dan itu merupakan alasan mengapa dia tak bisa melupakan wanita berkulit putih itu dengan cepat.
Duduk atas kursi di depan meja bartender, Raihan memesan sebotol vodca. Minuman berakohol yang biasa di teguknya beberapa waktu ini.
Satu sloki, dua sloki dan seterusnya hingga urutan ke delapan Raihan masih meneguknya secara serampangan. Dengan mata yang berkabut karena efek alkohol, lelaki itu mengeluarkan ponsel dan menghidupkannya.
Suara bising musik yang DJ mainkan -- yang berdentang keras, sama sekali tak mengalihkan tatapan memuja Raihan pada siluet potret di layar itu.
Asya tersenyum disana, memeluknya dan terlihat bahagia. Selama waktu kebersamaan mereka yang singkat itu, Raihan benar-benar mematrinya dalam hati.
Dulu, dia pernah berkata bahwa senyum Asya hanya untuknya, tawa wanita itu hanya untuknya bahkan Raihan berencana menghabiskan sisa hidupnya bersama wanita itu, walaupun masih dalam hubungan yang bisa dibilang singkat.
"Kenapa kamu kejam..?"
Biarlah dia mendapat ejekan sebab menangis karenanya. Nyatanya cinta Raihan kepada Asya masih sama seperti saat mereka menjalin hubungan.
...
Di waktu yang sama, ditempat berbeda.
Angin malam yang menerpa, untuk sepersekian detik itu -- memainkan rambut Asya hingga beberapa helainya berterbangan. Malam yang bergerak hampir pertengahan, nyatanya sama sekali tak membuat Asya menguap atau mengantuk sekalipun.
Jemari tangan kanan Asya bergerak, mengusap cicin yang tersungging indah di jari manis sebelah kirinya.
Setelah Raihan beranjak kurang lebih sejam yang lalu, Asya memutuskan mengambil cincin ini, dan memakainya kembali.
Dia tau, dengan memakai cincin ini segala hal tak bisa berubah. Oleh karenanya, perempuan yang memakai dress tidur itu melangkah masuk dan megambil sebuah kalung putih didalam nakas -- dekat sofa. Melepaskan cicin itu, lalu memasukkan kalung ke dalam lubangnya.
Setidaknya ini lebih baik, batin Asya.
"Asya.."
__ADS_1
Asya berjengkit kaget, dan berbalik. "Huh.. Kak Ana, Ada apa kak?"
Ana tersenyum dan menghampiri Asya. Menggenggam tangan perempuan itu, Ana menyerahkan sebuah ponsel dengan nama Zidan dilayar. "Zidan telepon, dia bilang hp kamu gak aktif."
Mengangguk, Asya meletakkan ponsel itu di telinga dan beranjak meninggalkan Ana menuju balkon.
"Halo Zidan.."
'Sya, kenapa hp kamu mati?' Zidan bertanya dengan nada khawatir.
"Eh, hp aku lowbat. Aku lupa chargenya. Maaf ya.."
Terdengar helaan napas dari sana. 'Yaudah deh, syukurlah kamu baik-baik aja. Kak Ana jaga kamu dengan baikkan?"
Tangan Asya bergerak, mengusap perut ratanya pelan. "Baik, kak Ana jaga aku dengan baik kok."
'Yaudah deh, aku tutup dulu ya. Kamu tidur gih, ini hampor tengah malam.'
"Iya." Asya mengangguk, lalu teringat sesuatu. "Oh ya, Dan. Kamu udah buka kotak yang aku kaskh ke kamu kemaren?"
Tak ada jawaban beberapa detk dari seberang.
"Zidan?"
'Belum, Sya.. maaf banget, kemaren aku buru-buru.'
Asya tersenyum kecut, dengan tangan yang masih mengusap perut ratanya. Pantas saja tak ada keterkejutan sama sekali dalam suara Zidan, batin Asya.
"Gak pa pa. Hati-hati ya disana.. jangan terlalu memaksakan pekerjaan.."
"Kamu juga, ya. Love you."
"Love you, too."
Setelah percakapan singkat itu berakhir, Asya memilih kembali masuk ke apartemen. Sebenarnya, ada rasa kecewa kerena sampai saat ini Zidan belum mengetahui kehadiran anak mereka.
Tapi Asya yakin, cepat atau lambat nanti, Zidan akan mengetahiunya.
...
Vote, like dan coment ya..
Maaf baru bisa up, keponakan aku masih di opname soalnya..
__ADS_1