My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 96


__ADS_3

Di kamar bayi, Asya duduk di sofa berwarna baby blue dengan sebuah bingkai foto di tangannya. Bingkai berukuran sedang dengan ornamen khas bayi yang memperindah tepian itu, Asya isi dengan foto USG sang jabang bayi. Ya, dari lembar pertama foto berwarna hitam putih itu diserahkan oleh dokter, Asya menyimpannya dan berniat akan memajangnya.


Asya tersenyum hangat. Jemari lentiknya bergerak untuk kemudian mengusap perutnya yang buncit. Mengingat hari persalinan tak lama lagi, Asya kini lebih sering mengalami sakit pinggang. Terkadang saat kelelahan atau mengangkat beban yang memang dikatakan berat bagi ibu hamil, perut buncitnya mengencang dan membuat Asya meringis ngilu.


Tapi bagaimanapun euforia bahagia dan rasa kagumnya mengalahkan semua. Bahkan ketika dokter menanyakan opsi persalinan jenis apa yang akan dia pilih, Asya tanpa ragu menjawab bahwa dia ingin melahirkan normal.


Dia ingin merasakan perjuangan seorang ibu, sebagaimana ibunya melahirkannya dulu.


Asya mengulas senyum bahagia. Meletakkan bingkai yang sudah berisi foto itu di atas karpet bulu, Asya mengeluarkan gawai untuk kemudian memotret bingkat tersebut.


"Aku kirim ini ke Mamah, ah," gumam Asya seraya mengirim gambar.


Me: Mamah ... bagus, gak?


(Picture)


Notifikasi balasan datang beberapa detik setelahnya.


Mamah: Bagus, Sayang .... Oh ya, Zidannya udah pulang?


Mendapatkan pesan tersebut membuat Asya mendesah nelangsa. Andai saja Zidan tak menutupi dan berbesar hati untuk memaafkan, Mungkin Rina tak perlu sungkan dan ragu datang ke mansion ini untuk sekedar bercangrama bersama. Keluarga mereka pastilah terasa lengkap.


Berpikir beberapa saat, Asya memutuskan untuk mengetuk ponselnya dan membuka ikon galeri sembelum mengirimkan beberapa foto Zidan.


Mamah pasti kangen banget sama Zidan, batin Asya.


Dugaannya tak salah, berselang beberapa detik setelahnya, satu notifikasi pesan dengan isi ucapan terima dikirimkan oleh Rina. Asya membersit hidung, matanya perih dan sudut hatinya di dalam sana menjerit sedih. Dia belum bisa menyatukan Rina dan Zidan seperti janji yang pernah diucapkannya.


Di lain sisi, dari ambang pintu Ana memerhatikan raut Asya dalam diam. Perempuan itu sudah memakai pakaian santai dan memutuskan bertemu Asya untuk sekedar mengobrol dan sedikit bercerita. Namun, apa yang didapatkannya saat ini justru menyurutkan keinginan Ana. Perempuan itu justru berpikir, di sini Asya lah yang membutuhkan teman untuk membagi kesah.


"Asya ...."


Panggilan itu membuat atensi Asya terpecah, dia mendongak untuk kemudian menemukan Ana yang memandangnya khawatir.


"Iya, Kak. Ada apa?"


"Seharusnya Kakak yang tanya ke kamu, Asya. Kamu kenapa?" tanya Ana menghampiri Asya.


Mereka duduk di karpet bulu dengan punggung bersandar di kaki sofa yang ada dalam ruangan tersebut. Asya bahkan tak segan untuk meminjam bahu Ana untuk menyandarkan kepala.


"Kak Ana, menurut Kakak aku gagal, nggak?"


Dahi Ana berkerut, namun tak urung untuk bertanya, "Gagal apa, Asya?"


"Aku udah janji sama Mamah untuk bikin Zidan bisa nerima Mamah, tapi sampai sekarang nggak bisa."

__ADS_1


Mendengarnya membuat Ana mendesah pelan, sebelah tangannya mengusap surai Asya yang tergerai mengenai bahunya. "Kamu nggak pernah gagal, Asya. Kakak justru yakin kamu akan berhasil. Tapi, bukankah semua perlu waktu. Dan Kakak yakin Zidan perlu semua itu."


"Dia bahkan nggak mau cerita sama aku, Kak."


"Zidan memang begitu, dia mandiri dari usia remaja. Mungkin itu yang buat Zidan kayak sekarang."


Asya menghela napas dan memandang langit-langit sekilas, bersamaan dengan usapan lembut pada perutnya. Keinginan Asya, ketika dia melahirkan nanti, keluarganya ini sudah lengkap. Tak ada amarah atau ego yang hanya akan menciptakan retak yang berjarak.


...


Matahari sudah tenggelam digantikan dengan bulan yang kini menggantung di langit-langit. Zidan memijat pelan lehernya yang terasa kaku. Lagi dan lagi, pekerjaan seakan menjadi sekat pembatas yang membuatnya tak selalu bisa bersama dengan sang istri.


Zidan kembali menginjak pedal gas saat lampu merah sudah berganti hijau. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam saat ekor matanya melirik ke arah arloji.


Berselang sepuluh menit, mobil yang dia kendarai berhenti di depan pagar mansion. Zidan membunyikan klakson dua kali, hingga penjaga gerbang membukakan dan membuatnya kembali melajukan mobil untuk kemudian dia parkirkan di garasi.


Suasana sepi. Hanya ada beberapa maid yang berlalu lalang untuk membereskan apa yang diperlukan. Zidan bahkan tak membuang waktu untuk berjalan memasuki kamar dan menemukan keberadaan Asya di dalam sana.


Wanita itu tersenyum dengan gawai yang tertempel tepat di indera pendengaran. Entah perasaan Zidan saja atau bukan, sikap Asya beberapa waktu ini cukup menyita kecurigaan.


Berselang beberapa detik, saat Zidan meyakini bahwa Asya sama sekali belum mengetahui keberadaannya, lelaki itu mengambil inisiatif untuk berdehem cukup kencang.


"Zidan?!"


Dan dugaan Zidan sama sekali tak meleset. Ketika Zidan memanggil dan mata mereka berserobok untuk beberapa detik, Asya bergerak serampang menyembunyikan gawai di belakang punggung.


"Zidan, ka-kamu sejak kapan di situ?"


Aduh, kenapa jadi gugup begini? batin Asya meringis.


Zidan sama sekali tak melunturkan raut tegasnya ketika memandang Asya. Memutuskan untuk duduk bersisian, Zidan meraih bahu Asya untuk merangkulnya dengan sebelah tangan.


"Udah dari tadi aku di situ, Sya."


Wajah Asya memucat. "Kamu denger sesuatu?"


Zidan menggeleng. Memakukan pandangan, Zidan mengecup sekilas pelipis Asya dengan penuh sayang. "Gimana bisa aku denger apa yang kamu omongin, kalau waktu liat aku aja kamu ketakutan begitu, Sayang."


Asya memandang Zidan memelas. Membuat lelaki itu menghela napas pelan sebelum berkata, "Sebenarnya kamu ngomong sama siapa, Sya?"


"Cuma temen, kok ...."


"Siapa temen kamu, setahu aku kamu cuma deket sama Fany, selebihnya nggak," ucap Zidan serius. "Atau jangan-jangan kamu telepon Raihan, ya?"


"Ih, apaan sih!" Asya mendumal kesal, dia memukul bahu Zidan dengan gemas lalu kembali berkata, "Raihan masa lalu, lagipula kita cuma temenan sekarang. Dan ya, Raihan itu lagi deket sama kak Ana."

__ADS_1


Zidan tak bisa menahan senyumnya yang melebar. Dia hanya ingin menggoda Asya. Tanpa Asya beritahu pun Zidan sudah mengetahui fakta itu. Karena nyatanya, saat memandang Raihan yang memerhatikan Ana, Zidan sama sekali tak bisa menampik bahwa dia melihat kilatan rasa kagum dan suka di mata hitam Raihan.


"Zidan ...."


Panggilan itu membuat Zidan menoleh. Posisi mereka kini sudah bersandar di kepala ranjang, dengan Asya yang kini berada di pelukannya. Pakaian kerja yang Zidan kenakan pun masih melekat.


"Ada apa, Sayang?"


"Kalau ada masalah, jangan segan untuk cerita."


"Iya, Sayang." Zidan mengiyakan.


"Kalau gitu cerita."


"Hah?"


Dahi Zidan yang berkerut, membuat Asya mengusap bagian itu dengan lembut. "Aku tahu kamu ada masalah, dari kemarin kamu nyembunyiin itu, 'kan? Jujur Zidan. Kita pasangan suami istri, berbagi cerita gak salah."


Zidan terdiam sejenak, memandang wajah Asya yang memancarkan ketulusan membuat Zidan tak tega untuk menolak. Dia berdehem pelan dan berkata, "Aku ketemu Mamah."


Asya tersenyum mendengarnya.


"Tapi aku gak bisa, Sya. Menyakitkan waktu harus ketemu Mamah di saat seperti ini. Aku, hati aku gak terima."


"Kenapa gak coba memaafkan? Terkadang memaafkan itu jalan untuk tenang, Zidan ...." tanya Asya lembut.


Zidan menggeleng. "Aku gak bisa. Rasa sakit yang Mamah kasih ke aku, bukan mudah untuk hilang. Makin aku ingat makin sakit, Sya. Aku kadang bertanya, di mana dia selama ini waktu aku butuh. Dia pergi, dan yang aku punya saat ini cuma kamu, Papah dan Kak Ana. Bukan Mamah."


...


Rina terisak pelan, tubuh ringkihnya bergetar. Meremat dadanya yang terasa sesak, sebelah tangannya bahkan masih meregam gawai yang layarnya sudah redup.


Awalnya dia masih berbicara dengan Asya. Hingga pembicaraan itu terjeda sejenak dan tergantikan percakapan lain di sebrang sana. Baru saja Rina ingin mematikan sambungan, suara Zidan yang amat dia rindukan terdengar.


Dadanya bergetar. Akhirnya, secara diam-diam Rina mencuri dengar untuk menuntaskan kerinduan. Dia bisa merasakan pancaran cinta Asya untuk anak lelaki itu bahkan dari suara.


Hingga percakapan itu terus berlanjut ke hal yang paling intrik. Begitu Zidan bercerita pada Asya bahwa anak itu bertemu dengannya, Rina berharap bahwa Zidan masih membukakan pintu maaf baginya walaupun sedikit.


Tapi, semua hal itu mustahil. Karena faktanya kekecewaan Zidan atas apa yang dia perbuat di masa lalu, tidak lah bisa dimaafkan dengan mudah.


Rina menangis. Tubuh renta itu bergetar. "Maafkan Mamah, Zidan ...."


...


Like dan Coment🤭🤭😚

__ADS_1


Dewi lagi butuh vitamin nih, buat lanjut nulis.☺️☺️


__ADS_2