My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 94


__ADS_3

Seseorang memang tak selalu bisa dipaksakan untuk menerima perubahan walaupun itu hal yang baik sekalipun, itulah hal yang Asya pikirkan ketika melihat perubahan Zidan beberapa hari ini.


Lelaki itu tak lagi menyinggung pertemuan--antaranya dan Zami--yang tentu saja sedikit menyentil egonya. Asya bahkan tak berani bertanya lebih lanjut. Apalagi sikap Zidan yang mulai berubah. Meskipun tak berubah dalam artian berlebihan, namun sikap diam lelaki itu sedikit membuat Asya dilanda perasaan tak berguna.


Entah apa yang Zidan pikirkan sehingga masih belum bisa membagi rahasia meskipun mereka sudah hidup berumah tangga. Bukankah pasangan suami istri harus saling berbagi?


Asya menghela napas. Wanita hamil itu lantas memandang jam berukuran sedang--tergantung di dinding yang menunjukkan waktu sore hari. Sudah beberapa hari ini Zidan menenggelamkan diri dengan pekerjaan dengan alasan lembur.


Padahal, dari informasi yang Asya dapatkan dari Anita, pekerjaan yang Zidan kerjakan tak terlalu mengejar waktu untuk diselesaikan.


Dengan perasaan kalut dan cemas di satu sisi, Asya beranjak untuk menikmati suasana taman belakang yang berhiaskan banyak bunga warna-warni. Wanita itu mengerjabkan manik saat berserobok dengan sosok Rendi yang duduk di bangku taman sambil memandang sekitaran.


"Papah ...." Asya memanggil Rendi sebelum turut mengambil tempat di sisi lelaki paruh baya tersebut.


Rendi tersenyum tulus. "Ada apa, Asya?"


"Asya mau ngomong, Pah."


Rendi mengangguk sebagai tanda persetujuan. Dengan mata yang kini beralih pada kolam berisi beberapa ikan hias, Rendi mulai mendengarkan perkataan Asya dengan seksama.


"Gini, Pah." Asya berdehem, matanya ikut memandang kolam. "Zidan ... mungkin Asya udah bikin dia tersinggu, Pah ...."


Nada kegetiran yang tertangkap oleh indera pendengaran Rendi membuatnya menoleh. Dia memang bisa menerka ada yang salah beberapa hari ini dengan putranya. Zidan lebih banyak diam, lelaki itu bahkan hanya merespon jika ada yang melemparkan pertanyaan dan mengajaknya berinteraksi.


"Kamu berbuat apa, Asya?" Rendi bertanya dengan nada lembut yang membuat Asya lebih luwes untuk bercerita.


Asya kembali berdehem, kali ini wanita itu bahkan tak menahan untuk mengutarakan kekesahan pada sosok ayah dari Zidan, yang sudah dia anggap ayahnya sendiri.


Dan ketika cerita yang sebelumnya mengalir itu selesai diutarakan, Rendi dengan mudah menangkap pokok permasalahan dari hal yang sebenarnya mudah untuk diselesaikan ini.


"Intinya, Zidan marah sewaktu kamu singgung masalah 'Ibu'?" Rendi bertanya kembali.


Asya mengagguk, sebelum berkata, "Iya, Pah. Padahal waktu itu aku cuma merespon obrolan pak Zami." Asya sedikit berbisik di akhir kalimat. "Meskipun aku memang mau dia sadar apa yang dia lakukan selama ini salah, Pah."


Wajah Rendi melembut, perkataan Asya yang mengatakan ingin berusaha menyadarkan Zidan dengan cara yang terkesan pelan tapi pasti itu menggugah hati Rendi dan membuatnya bangga.


Dari dulu, dia sudah berusaha meyakinkan Zidan bahwa anaknya tersebut haruslah memahami permasalahan yang ada di antaranya dan mantan istri. Rendi sama sekali tak membenarkan perlakuan Zidan yang terus memupuk kebencian hingga sedemikian rupa.


Karena bagaimana 'pun Rina adalah sosok yang telah menghadirkan Ana serta Zidan ke dunia ini. Meskipun setelah itu biduk rumah tangga yang mereka lewati belasan tahun harus kandas di tengah jalan.

__ADS_1


Setelah memberikan beberapa wajangan dan saran kepada Asya. Mereka berdua memilih memasuki mansion saat matahari beranjak tenggelam ke peraduannya.


...


Dering ponsel menyapa indera pendengaran Asya ketika wanita hamil itu memasuki kamar. Asya meraih gawai di atas nakas dan mendapati nomor Rina tertera di layar


Tanpa membuang waktu lebih lanjut, Asya segera mengangkat panggilan tersebut dengan nada antusias yang tak dapat disembunyikan.


"Mamah ...."


Terdengar tawa ringan dari seberang, membuat Asya juga ikut tersenyum karena mendapat atmosfir kebahagiaan yang sama. 'Asya, Mamah kangen sama kamu, lho.'


Asya meringis, beberapa hari ini memang dia tak bisa menemui Rina dan hanya menanyakan kabar dari Ana maupun menelpon secara diam-diam. "Maaf, Mah. Asya gak bisa ke sana sementara waktu karena Zidan lagi murung beberapa hari ini."


'Murung?'


Asya menggangguk walaupun sadar Rina tak dapat melihat. "Iya, Mah."


'Apa karena kamu bahas masalah Mamah, ya, Sya?'


"Bukan, Mah." Asya meringis begitu mendengar nada kegetiran yang terselip dari lirihan Rina tersebut. "Bukan karena ngomongin Mamah, kok."


'Mamah udah tahu, Asya. Mamah berterima kasih banget karena kamu mau berusaha untuk memperbaiki hubungan kami lagi, tapi kalau Zidan gak bisa menerima hal itu, Mamah juga paham.'


Hening sejenak. Asya yakin suasana hati Rina di ujung sana tak baik. Mengambil inisiatif, Asya mengutarakan rencana yang sudah dia persiapkan sejak beberapa hari lalu. "Mah, gimana kalau besok kita pergi ke Rumah Sakit?"


'Kamu sakit?!'


Asya tertawa pelan, matanya menyipit sesaat sebelum melanjutkan, "Bukan, Mah. Aku ajak Mamah ke Rumah Sakit karena aku mau USG Baby lagi. Kan aku udah janji sama Mamah."


'Mamah mau.' Hening sejenak. 'Tapi, Zidan bagaimana?'


Baru saja Asya akan menjawab, suara derit pintu yang terbuka membuat Asya mambalikkan badan. Matanya terbelalak lebar. Asya tak bisa menyembunyikan keterkejutan, dan lantas menyembunyikan gawai yang sedang dia genggam dengan cepat.


"Zidan kamu kok pulang?"


Pertanyaan itu membuat Zidan mengernyit bingung. Tadi di kantor, lelaki itu banyak memikirkan hal-hal yang membebani pikiran. Zidan sadar beberapa hari ini dia terlalu banyak memfostir diri dan seakan menjaga jarak dengan keluarganya bahkan Asya.


Hingga kemudian inisiatif untuk menyelesaikan segalanya tercetus di pikiran. Namun, setelah melihat rona Asya yang tampak terkejut dengan gelagat aneh, Zidan justru memasang curiga kepada wanitanya tersebut.

__ADS_1


"Aku mau cepat pulang hari ini, Sya," ucap Zidan mendekat. "Kamu nyembunyiin sesuatu?"


Asya menelan ludahnya kasar, karena terlalu gugup Asya justru tak menyadari bahwa saat ini sorot mata Zidan memandangnya dengan awas.


"Kamu nyembunyiin sesuatu, Asya." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang Zidan lemparkan.


Semua begitu pas di sasaran, karena ekspresi Asya yang mudah dibaca ibarat buku yang terbuka membuat Zidan dengan mudah menerka hal tersebut.


"Aku nggak ...." Asya mencicit.


Zidan sekilas memandang ke arah belakang tubuh Asya saat wanita itu menyembunyikan sesuatu. Namun, alih-alih memaksa sang istri mengungkapkan apa yang disembunyikan, Zidan justru mengangkat tangannya untuk kemudian mengusap perut Asya.


"Papah sayang Baby ...."


Pandangan Asya melembut. Apalagi saat Zidan berjongkok dan menanamkan kecupan sebelum mengajak Baby yang bergelung nyaman di perut Asya untuk berinteraksi.


"Maafin Papah karena kerja terus, ya, Sayang. Doain Papah supaya masalah Papah cepat selesai. Papah sayang banget sama Baby. Jangan nakal-nakal di perut Mamah. Papah bahkan gak sabar untuk nyambut Baby ke dunia ini ...."


Seiring dengan ucapan manis itu berakhir, satu tendangan kecil dari dalam perut Asya membuat senyum Zidan merekah. Tendangan itu terus berlangsung beberapa detik membuat Asya sedikit meringis menahan ngilu sekaligus geli.


"Ka-kamu kenapa, Sayang? Baby-nya nendang terlalu keras, ya?" Wajah sumringah Zidan berubah menjadi khawatir begitu matanya berserobok dengan wajah Asya yang tampak meringis.


Asya menggeleng, sebelah tangannya turun untuk kemudian mengusap rahang Zidan dengan lembut. "Baby-nya nendang karena seneng dengan suara Papahnya."


"Jadi kamu seneng, Baby?" Pandangan Zidan beralih pada perut buncit Asya. Kembali menanamkan kecupan berulang kali, Zidan tahu selama ini Asya dan Baby mereka adalah obat yang paling mujarab untuk mengenyahkan lelah.


"Zidan ...."


"Hn?"


"Besok jadwal untuk USG lagi, kamu ada waktu?"


Zidan meringis, dia kembali berdiri dan membawa Asya untuk duduk di pinggir ranjang dengan dirinya yang mendekap dari samping.


"Aku besok ada pertemuan bisnis, apa bisa kamu oergi sama kak Ana aja?"


Asya tak tahu harus senang atau sedih mendengar hal tersebut. Di satu sisi dia sudah menawarkan kepada Rani untuk turut serta melihat perkembangan bayinya. Tapi di sisi lain, Asya juga sangat ingin Zidan berada di sana.


"Kalau kamu mau aku pergi, aku akan pergi."

__ADS_1


"Gak usah," Asya memotong cepat. Membawa tangan Zidan untuk dikecup, seperti pilihan itulah yang tepat. Mengingat akan ada pertentangan jika kedua anak dan ibu itu bertemu. "Aku sama kak Ana aja, deh."


Zidan mengangguk tanpa berkata lebih lanjut. Lelaki itu menarik Asya dalam dekapan dan menanamkan kecupan lembut seringan bulu di pipi Asya.


__ADS_2