
Asya menatap lama wajah Zidan. Lelaki yang kini telah sah menjadi Suaminya tengah mendekapnya hangat. Rasa bahagia membuncah. Asya merasa berarti sekarang.
Setelah liku kehidupan cinta yang mereka lalui, jalinan pernikahan dan akhirnya menjalani kehidupan bersama -- bagi Asya adalah awal dari kebahagiaannya.
Ditambah kehadiran buah hati yang sesaat lagi akan melengkapi. Asya yakin dia akan sangat bahagia, membayangkan hidup bersama Zidan, dan juga anak-anak mereka kelak -- Asya tak akan bisa membayangkan lebih dari itu.
Tersenyum, wanita itu menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Zidan yang kekar. Aroma percintaan masih tercium, membuat wajah Asya kembali memerah.
Apalagi mengingat bagaimana kelembutan Zidan sewaktu memasukinya. Membawa Asya layaknya terbang ke nirwana.
Hingga leguhan halus terdenggar. Asya mendongak -- melihat manik Zidan mengerjab dan langsung memandangnya begitu maniknya terbuka sempurna.
Kecupan lembut Zidan hadiahkan di bibir Asya. Pipi Asya makin memerah, merasakan tubuh polos mereka yang kembali bergesekan. Ditambah junior Zidan yang terasa menggelitik bagian bawah perutnya.
"Pagi.."
"Pa-pagi.."
Alis Zidan tertaut. Wajah lelaki itu semakin menunduk, berusaha memperhatikan dengan seksama mengapa Asya tergugup demikian.
Dan ketika lelaki itu menyadarinya, Zidan sama sekali tak bisa menahan senyuman hangat untuk dia kembangkan. Lelaki itu berkata, "Kita udah suami istri sekarang, Sya. Gak ada yang perlu ditakutkan."
Asya mengangguk. "Aku tau."
"Jadi gak usah malu, oke?"
"Iya."
Dan setelahnya Zidan bangkit. Melihat tubuh polos sang suami membuat Asya meneguk ludahnya kasar. Kotakan berjumlah delapan buah di perutnya tercetak, ingin sekali Asya menjalankan jemarinya di sana, lalu membelainya dengan gerakan abstrak.
Hingga pandangan itu semakin turun ke bawah. Asya menuntup wajahnya cepat. Benda panjang itulah yang membuatnya mendesah nikmat semalam. Astaga! Jika dipikirkan, Asya sangat ingin tenggelam ditelan bumi sekarang.
Melihat hal itu membuat Zidan terkekeh geli. Tanpa memperdulikan Asya setuju atau tidak, Zidan menyingkap selimut itu, lalu membawa tubuh Asya ke dalam gendongan.
"Kita mandi. Aku yakin Papah sama Kak Ana udah nunggu kita di bawah."
"Aku bisa mandi sendiri."
Zidan bergumam tak setuju seraya menggeleng. Lelaki itu melangkah memasuki kamar mandi, dan menurunkan Asya di dekat wastafel -- sementara dirinya sendiri menyiapkan air hangat untuk nantinya mereka berendam.
Dan setelah selesai, Zidan kembali menghampiri Asya. Jujur saja, Zidan harus menahan libidonya yang kembali tersulut kali ini.
Tubuh polos Asya yang terlihat berisi, dadanya yang membengkak, perutnya yang membuncit, serta tak lupa inti wanita itu yang terasa menggiurkan ketika dic*cap, membuat Zidan tak bisa mengalihkan pandangan.
Akhirnya, setelah menghela napas beberapa kali, Zidan membawa tubuh mereka untuk berendam. Air hangat terasa sangat merilekskan.
Asya mendesah lega. Menyandarkan punggungnya di dada Zidan, tanpa menyadari bahwa lelaki itu berusaha menahan hasratnya.
"Apa aku kasar semalam?"
Wajah Asya memerah, dia paham arah pembicaraan itu. "Nggak Zidan. Kamu.. Lembut."
"Syukurlah.. Aku kira, aku nyakitin Anak kita."
__ADS_1
Asya menggeleng, membawa tangan Zidan untuk membelai perutnya. "Dia senang kamu jengukin semalam."
Wajah Zidan menyiratkan kebahagiaan ketika Asya mengucapkan kalimat tersebut. Dengan lembut lelaki itu menangkup rahang Asya, menolehkannya lalu melabuhkan ciuman.
Sentuhan yang tadinya lembut berubah menjadi bergelora. Bahkan tangan Zidan dengan nakalnya menangkup dada sekal sang istri sebelum mer*masnya pelan.
Hal itu membuat Asya mengakhiri ciuman mereka sepihak. Wanita itu merasa malu sekaligus tak nyaman. Apalagi merasakan junior Zidan yang telah menegang di bawah sana.
"Papah sama Kak Ana pasti nunggu."
Meski kecewa, Zidan tetap mengangguk. Kenyamanan Asya adalah prioritasnya.
Dan setelahnya mereka kembali melanjutkan membersihkan tubuh, diselingi dengan obrolan mengenai kandungan Asya tentunya.
...
Ketika mereka berdua turun dan melangkah ke ruang makan, mereka berdua disambut oleh Rendi serta Ana yang berpakaian rapi -- yang tengah menyiapkan makanan untuk Ayahnya itu.
Seorang maid datang, meletakkan makanan di meja makan sebelum kembali pergi meninggalkan mereka berempat di ruangan tersebut.
Ana menoleh, senyum tersirat mengembang di wajah cantiknya. Membuat Asya merasa malu, sedangkan Zidan? Jangan tanya, lelaki itu justru tak merasakan apapun dan malah bergabung bersama Rendi.
Dengan senyum lima jari yang tak luntur, Ana berjalan mendekati. Posisi Asya yang memang tak dekat dengan kursi yang ditempati Zidan, memungkinkan pembicaraan mereka tak terdengar.
"Kok lama, Sya?"
Asya salah tinggah. Satu tangannya mengelus perut, sedangkan kepalanya menoleh ke segala arah, asalkan tak memandang Kakak Iparnya ini.
"Eng-- Tadi.. Tadi Zidan--"
Tangan perempuan itu bergerak, menggenggam tangan Asya sebelum menuntun tubuhnya untuk duduk di sisi Zidan, sebelum melangkah dan ikut mendaratkan bokong di sisi kanan Rendi.
Mereka akhirnya memulai sarapan. Wajah renta Rendi tampak berbinar. Keluarganya terasa lengkap sekarang. Zidan yang memutuskan tinggal, serta Ana yang juga memutuskan demikian.
"Kalian ada rencana untuk berbulan madu?" tanya Rendi setelah mereka semua selesai menyantap sarapan.
Zidan ragu untuk menjawab. Jujur saja, dia ingin sekali menghabiskan waktu berdua bersama Asya. "Ada sih, Pah. Tapi, apa gak masalah? Apalagi kandungan Asya sebentar lagi masuk enam bulan."
"Coba kalian konsultasi ke Dokter Kandungan dulu, baru mutusin."
Rendi mengangguk mendengar saran Ana, begitupun Zidan. Zidan menoleh, memandang Asya. "Kamu mau kan, Sya?"
Melihat wajah memohon Zidan, Asya sama sekali tak tega untuk menolaknya. Lagi pula dia juga menginginkan hal tersebut.
"Aku mau, Zidan."
"Oke, besok kita konsultasi ke Dokter Kandungan."
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Ana.
Zidan tersenyum simpul, tangannya bergerak menangkup tangan Asya dan mengusap cincin pernikahan yang tersemat di jari sang Istri.
"Ada deh, Kak. Yang jelas, tempat itu akan membuat Asya nyaman."
__ADS_1
...
Ana menutup beberapa map sebelum melepas jas putih khas kedokteran yang dia kenakan. Hari ini pasien tak terlalu membludak seperti hari-hari sebelumnya, membuatnya sedikit bisa bernapas lega.
Ya, dia yakin dirinya akan mendapatkan tidur yang berkualitas malam ini.
Lalu pandangan Ana tak sengaja teralih pada bingkai yang memang terletak tak jauh dari komputernya. Bingkai yang memuat foto keluarganya yang kala itu masih lengkap.
Zidan masih duduk di bangku SMP saat itu, sedangkan dia di tingkat SMA. Keluarga harmonis yang nyatanya tak bertahan lama.
Ayah dan Ibunya bercerai, lalu sang Ibu meninggalkan mereka tanpa kabar hingga saat ini. Bahkan ketika pernikahan Zidan kemarin, dia pun tak datang.
Ana menghela napasnya yang terasa sesak. Dia berharap hubungan pernikahan sang Adik tak sama seperti yang dialami kedua orang tua mereka.
"Mah.., aku kangen.." Ana bergumam, tanpa sadar satu air matanya menetes -- membasahi pipi seputih porselen itu.
"Ana..?"
Mendengar namanya dipanggil, Ana menghapus air matanya cepat. Keterkejutan melanda begitu melihat siapa yang kini berada di hadapannya sekarang.
"Raihan..?"
"Aku udah panggil kamu dari tadi." Raihan menatap Ana dalam. "Kamu nangis?"
Ana menggeleng cepat, dia terkekeh pelan berusaha menyembunyikan kesedihan. "Nggak, kok. Aku cuma kelilipan."
Meski tau Ana berbohong, Raihan enggan untuk bertanya lebih.
"Kita pulang?"
Ana tersenyum dan mengangguk. "Kita pulang."
Lalu setelahnya mereka keluar dari ruang Ana. Alih-alih membawa Ana ke parkiran, lelaki itu justru membawa Ana ke taman belakang Ruman Sakit.
Ya, bisa dibilang inilah rutinitas Raihan sekarang. Mengantar dan terkadang menjemput Ana. Dia sudah nyaman dengan perempuan ini.
Sifatnya yang ramah, dan mudah diajak mengobrol membuat Raihan tak segan untuk mencurahkan unek-unek dalam hatinya dalam bentuk sebuah curhatan.
"Gimana keadaan Asya?" tanya Raihan begitu mendudukkan bokong di bangku taman.
Ana menoleh. Melihat sirat kesenduan dari wajah Raihan. "Dia bahagia."
"Aku turut senang dengarnya."
"Zidan cinta banget sama Asya," sambung Ana lagi.
Tak ada keraguan pada diri Raihan untuk tak meyakini itu. Asya bahagia maka dia pun bahagia. Bukankah mencintai tak perlu memiliki?
"Asya udah menemukan pendampingnya. Dan sekarang mungkin--" Raihan menoleh, membuat Ana terpaku ketika kalimat itu dilanjutkan, "Giliran aku untuk menemukan pendamping aku."
Dada Ana berdetak cepat. Entah sadar atau tidak, Ana sangat berharap jika itu dirinya.
...
__ADS_1
Like dan Coment ya..