My Devil Man

My Devil Man
MDM - Part 103 (Raihan&Ana)


__ADS_3

Part Bonus Raihan dan Ana - 1


...


Ada sesuatu dalam diri Ana yang tak mampu Raihan artikan secara lisan. Rasa tertarik itu begitu kuat. Membuat Raihan sama sekali tak bisa mengalihkan pandangan sedikit pun dari sosok Ana yang terlihat bersinar di matanya.


Mungkin bisa dikatakan singkat. Raihan bahkan baru memahami hal ini. Rasa menggebu, detak jantung yang memburu, serta kehangatan yang menyusup ketika mendengar tawa Ana yang merdu


Semua tampak asing, tetapi, memiliki rasa familiar bagi Raihan.


Dulu, dia sempat merasakannya bersama Asya sebelum takdir memisahkan mereka. Raihan terpuruk saat itu. Namun, pegangan bahwa mencintai tak harus memiliki membuatnya turut bahagia melihat Asya bersama Zidan meskipun dia masih mencinta.


Dan di saat keterpurukannya, Ana hadir. Menjadi teman, bahkan tempatnya berkesah. Menumbuhkan sesuatu kenyamanan di hati Raihan hingga dia memiliki rasa ini. Rasa suka. Raihan menyukai Ana. Mungkin juga cinta?


Seulas senyum tanpa sadar tersungging di bibir Raihan. Lelaki itu menepikan mobil di depan Rumah Sakit dan menunggu beberapa menit hingga sosok Ana terlihat mendekati mobilnya dan masuk lalu mengambil duduk di kursi samping kemudi. Dia ingin membawa Ana jalan-jalan hari ini. Kebiasaan yang menyenangkan.


"Udah lama nunggunya?" tanya Ana seraya menatapnya.


Raihan berdehem dan menggeleng. "Nggak, baru aja," kata Raihan. "Gimana keadaan Asya sama Zian?" lanjutnya.


Ana tak bisa menahan senyum. Perempuan itu menerawang ke arah depan dengan wajah berbinar. "Mereka sehat. Dan Zian, aku jadi kangen dia. Gemes ...."


"Kamu suka sama bayi, ya?" tanya Raihan penaran. Lelaki itu melajukan mobil meninggalkan pelataran Rumah Sakit seraya menunggu jawaban Ana.


Dan binar itu tak juga hilang. Ana begitu terlihat manis. "Jelas lah. Aku suka banget anak bayi. Apalagi udah punya keponakan sendiri. Zian mirip Zidan waktu bayi. Aku tadi sempat buka album lama aku sama Zidan, dan muka Zian hampir sama. Mungkin yang beda cuma bentuk wajah," jelas Ana dengan semangat.


Inilah salah satu daya tarik lain dari Ana. Dia menyukai anak kecil. Bahkan belakangan ini Raihan mengetahui bahwa Ana turut menjadi relawan yang membantu anak-anak penderita kanker di Rumah Sakit tempat Ana bertugas. Perempuan itu membuat Raihan takjub.


"Han?" panggil Ana.


Raihan menoleh sekilas, tangannya memutar kemudi begitu melewati tikungan. "Ada apa?"


"Kita mau kemana?"


Raihan tersenyum misterius. Membuat kening Ana berkerut tipis. "Senyum kamu kenapa aneh gitu?"


Pertanyaan retoris Ana mengundang derai tawa dari Raihan. "Kita liat aja, An."

__ADS_1


Mobil terus melaju meninggalkan keramaian kota. Dan yang dapat Ana lakukan selama beberapa menit itu hanya menatap keluar jendela mobil. Melihat jajaran pohon rimbun yang ditanam di sisi jalan.


Saking tertegunnya, Ana bahkan tak sadar bahwa mobil Raihan sudah menepi dengan lelaki itu yang menatapnya dalam.


Raihan berdehem, membuka seatbelt sebelum kemudian mendekat ke arah Ana hingga membuat perempuan itu terkesiap.


"Han?!" Tanpa sadar suara Ana seperti terpekik. Perempuan itu meringis dengan pipi merona. "Kamu mau apa?"


Raihan menyeringai. Dia betah berlama-lama dengan posisi itu. Tangannya bergerak melingkupi pinggang Ana dengan wajah yang hampir bersentuhan.


Demi Tuhan. Sikap Raihan yang seperti ini justru membuat Ana takut. Lelaki itu terlihat tampan dari jarak beberapa centi ini, hingga membuat Ana menelan ludahnya kasar. Huh! Sungguh memalukan.


"Ka-kamu ngapain?" cicit Ana dengan suara bergetar.


Raihan yang merasa geli sekaligus kasihan, akhirnya melanjutkan gerakan tangannya untuk membuka seatbelt Ana. Ketika Raihan menarik tubuhnya kembali, perempuan itu mendesah lega dan mendelik begitu mendengar suara tawa Raihan yang berderai.


"Kok kamu ketawa sih?!" ketus Ana. "Gak tahu apa kamu bikin aku deg-degan?!"


"Kamu gugup?" tanya Raihan menaik turunkan alisnya.


Ana mendelik. "Gak lah!"


"Ayo, An. Kita keluar," ajak Raihan.


Lelaki itu meninggalkan Ana. Ana sempat tertegun beberapa detik. Dadanya berdetak kuat. Dia menggerakkan tangan untuk menyentuh di mana letak jantungnya berada. Detakan itu tak bisa berbohong. Dia gugup sekaligus malu. Bahkan sempat takut bahwa Raihan bisa mendengar detak jantungnya yang menggila.


"Aduh, An. Gimana kamu bisa dekat sama Raihan kalau kamu gampang gugup begini?" monolog Ana.


Perempuan itu lantas mengambil tasnya dan keluar dari mobil. Raihan sudah menunggunya. Lelaki itu tersenyum dan tanpa aba-aba menarik tangan Ana dan menyatukan telapak mereka.


Apa lagi ini ya Tuhan?


Ana ingin berteriak tetapi tak bisa. Dia sudah seperti anak kecil yang ditarik ke sana sini oleh Raihan tanpa bisa menolak ataupun berkutik.


"Aaa ...." Raihan menyodorkan satu cone ice cream--hendak menyuapi Ana.


Ana melirik ke sana ke mari melirik sekitar. Ini taman. Dia bahkan baru sadar di mana dirinya berada sekarang karena sibuk dengan pikirannya tentang sikap Raihan yang berubah drastis.

__ADS_1


"Aaa ...." Raihan menggoyangkan cone ice cream.


Ana terpaksa membuka mulut dan meraup ice cream tersebut, bahkan menghabiskannya di saat itu juga. Dia tak ingin membuat Raihan malu apalagi saat ini mereka menjadi pusat perhatian.


"Nah gitu dong," ujar Raihan.


Ana menggeleng. Kali ini dia lah yang menggandeng tangan Raihan dan membawanya ke salah satu bangku taman dengan bentuk melingkar yang dilengkapi dengan payung besar sebagai pelindung dari sinar matahari.


"Kita duduk di sini," titah Ana.


Raihan melakukannya.


"Kamu ada apa sih, Han?" tanya Ana. Dia memandang Raihan. Sebisa mungkin menenangkan detak jantungnya.


Raihan menghela napas seraya tersenyum. "Aku?" jarinya menunjuk wajah sendiri. Ana mengangguk. "Aku gak kenapa napa."


Ana menggeleng tidak setuju. "Kamu aneh."


"Aneh? Iya apa?"


Ana mendelik, melipat tangan di dada. Pandangan Ana seakan berkata, Kamu pura-pura atau gimana?


"Oke." Raihan mengangkat kedua tangan, menatap Ana lekat. Tak ada gunanya untuk memendam. Dia ingin Ana tahu sesuatu. "Pernah gak kamu ngerasain sesuatu di antara kita?"


Ana bergeming. Tak menjawab. Terpaku. Hingga membuat Raihan kembali melanjutkan kalimat, bahkan dia tak segan menggenggam tangan Ana meskipun perempuan itu ingin menarik tangannya bahkan terlihat gelisah.


"Han ... jangan begini." Suara Ana terdengar mencicit.


Namun, Raihan bergeming. Dia tak ingin selalu berdiri di tempat tanpa ada kemajuan sedikit pun. Ana seakan selalu menolaknya meskipun dia sudah memberi tanda-tanda. Perempuan itu seperti tak peka. Jadi, jika sikap pelan tak bisa menjangkau Ana, Raihan tak segan bertindak ekstrim.


"Dengar aku," ucap Raihan. Membawa tangan Ana tepat ke dadanya. "Kamu bisa merasakan ini? Detak ini?"


"Han ...."


"Percaya atau nggak, aku selalu ngerasain ini waktu sama kamu. Aku gak tahu kapan, yang jelas ini membuat aku ingin selalu di samping kamu."


Bisakah Ana kabur sekarang? Mengapa Raihan selalu membuatnya tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


...


TBC ...


__ADS_2