
Kekesalan yang tercetak di wajah Zidan sama sekali tak bisa disembunyikan. Begitu dia melangkah keluar dari dalam hotel dan menerima sodoran kunci dari petugas valet, Zidan tak ingin membuang waktu lama untuk menjauh dari tempat yang menurutnya terkutuk itu.
Tujuannya datang ke tempat ini tak lain dan tak bukan adalah untuk mendapatkan informasi akan keberadaan ibunya. Tapi, apa yang didapatkannya tak sesuai harapan. Pihak hotel berkata bahwa sang ibu sudah keluar dari hotel sejak siang hari kemarin.
Dan ketika Zidan meminta rekaman cctv, petugas keamanan berdalih bahwa kemarin beberapa kamera di loby mengalami kerusakan, dan orang yang bertugas memperbaiki belum datang karena suatu keadaan.
Sungguh aneh ... Semua seakan sudah diatur untuk mempersulit Zidan menemukan keberadaan ibunya. Zidan kesal. Alhasil, alih-alih memilih pulang untuk meredakan amarahnya, lelaki itu justru memilih untuk mengunjungi kafe milik sahabatnya, Yuda.
Dia tak mungkin pulang dengan keadaan kacau seperti saat ini. Hal itu justru akan menimbulkan pertanyaan di benak Asya, dan Zidan sama sekali tak ingin memberikan kesah yang berlebih, agar nantinya Asya tak penasaran dan khawatir.
Sambil menghela napas pelan, Zidan mengemudikan mobilnya di tengah hiruk pikuk jalanan yang ramai. Hingga beberapa menit kemudian Zidan sampai dan tak membuang waktu untuk memarkir serta keluar dari mobil dan memasuki kafe tersebut.
"Zidan!!" Sebuah suara menyapanya dari arah berlawanan.
Membuat Zidan menoleh dan mendapatkan keberadaan Yuda. "Eh, Yuda. Gue kira lo gak di sini."
Yuda terkekeh. "Gak mungkin lah ... Apalagi kafe gue lagi rame sekarang. Kalau gue gak dateng, gak ada yang handle nanti."
Tanpa ragu Zidan mengangguk mengiyakan hal tersebut. Yuda sudah berada di puncak kesuksesan sekarang. Kafe yang dibukanya dengan bermodalkan uang yang diberikan orang tua berkembang pesat, dengan cabang di mana-mana.
"Lo ke sini lagi ada masalah?"
Bukannya menjawab, Zidan justru menghela napasnya keras begitu bokongnya sudah mendarat di salah satu kursi. Hal tersebut membuat Yuda dengan mudah menyimpulkan tanpa perlu bertanya lebih lanjut.
"Lo mau minum apa?" tanya Yuda begitu duduk di hadapan Zidan.
Zidan mendongak. "Biasa."
Seperti sudah mengerti maksud dari satu kata tersebut, Yuda memanggil salah satu pelayan dan memesankan minuman serta makanan ringan yang merupakan salah satu menu andalan di kafenya.
"Lo lagi ada masalah, kan?"
Merasa tak ada lagi yang perlu disembunyikan, Zidan mengangguk dan mulai bercerita, "Mamah gue pulang, Yud."
"Apa?"
"Mamah gue dateng ke kota ini. Lebih tepatnya dateng ke kantor gue dan nemuin gue."
"Trus?" ucap Yuda merasa tertarik.
Zidan kembali menghela napas, dia memandang Yuda dengan pandangan sendu bercampur kekecewaan. "Gue suruh Mamah gue pergi."
"Gila lo, Dan!!" Suara Yuda nyaris seperti memekik, hingga tanpa sadar menarik sebagian pengunjung untuk menatap mereka. "Lo tega banget."
__ADS_1
"Gue gak ada pilihan lain."
Jawaban itu membuat Yuda menggeleng keheranan. Apanya yang tak ada pilihan lain? Pilihan bahkan sudah tempampang dengan jelas di hadapan sahabatnya ini.
Dan selama Yuda mengenal Zidan, Yuda tahu bahwa Zidan adalah sosok pendendam yang tak akan mudah memaafkan, bahkan lelaki itu sangat mudah tersulut amarah dengan hal yang tak pasti kebenarannya.
Dia bahkan tak perlu mengambil contoh jauh-jauh. Tabiat buruk Zidan terhadap Asya dahulu sudah menjadi bukti.
"Menurut gue, lo salah."
Dahi Zidan berkerut dalam. "Apa maksud lo?"
"Perlakuan lo ke Tante Rina salah, Dan. Bagaimana pun, dia orang tua lo, lo gak bisa begitu."
"Jadi menurut lo, apa yang gue lakuin itu gak sepantesnya gue lakuin?" sergah Zidan. "Oke, gue ngerti. Tapi lo gak bisa hakimin gue, Yud. Lo gak pernah ngerasain apa yang gue rasain."
"Gue gak hakimin lo, Zidan. Tapi--"
"Udah lah, Yud!" sela Zidan. Dia memejamkan mata sejenak. Pikirannya bertambah runyam.
Hingga beberapa menit berselang, ketika hanya keterdiaman yang tersisa di antara mereka, hidangan yang dipesan Zidan diantarkan dan lagi-lagi Zidan menyantapnya dalam diam.
Yuda memandang sahabatnya tersebut. Menatapnya dengan pandangan khawatir karena bagaimana pun sikap Zidan, Yuda adalah salah satu saksi betapa hancurnya Zidan dulu akibat perceraian kedua orang tuanya.
Yuda mengangguk, dia tak memiliki hak lebih untuk memaksa Zidan menuruti perkataannya. Yang bisa dia lakukan adalah bedoa supaya sahabatnya itu tetap baik-baik saja.
...
Asya memandang berbagai hidangan yang telah tersaji di meja makan. Bau harum yang menyeruak dari makanan-makanan tersebut membuat perutnya yang buncit meronta untuk diisi.
Tadi, di pertengahan siang menuju sore hari, Rina--ibu mertuanya menawarkan diri untuk memasakkan beberapa menu hidangan agar bisa dibawa pulang oleh Asya.
Asya tak menolak, bahkan wanita hamil itu dengan semangat ikut membantu sekaligus belajar beberapa menu masakan, untuk nantinya dia praktekkan kembali.
Asya tersenyum senang, dia melirik jam yang tertempel di dinding ruang makan dan mengernyit begitu menyadari bahwa Zidan belum juga pulang.
Baru saja hendak berjalan menuju kamar untuk mengambil ponsel dan menelpon Zidan, suara serak lelaki itu sudah terdengar di telinganya.
"Zidan ... Kok kamu baru pulang?" tanya Asya seraya menghampiri lelaki itu.
Zidan tersenyum, tanpa aba-aba dia menunduk dan meraup tubuh Asya dalam pelukan. Rasa lelah dan penat yang Zidan rasakan otomatis terangkat. Matanya memejam, hingga berapa detik kemudian lelaki itu menunduk dan mengecup bibir Asya singkat sebelum melepaskan dekapan mereka.
"Ada kerjaan yang gak bisa aku tunda, Sayang ...."
__ADS_1
"Kamu capek?"
Zidan menggeleng. Lalu aroma yang entah dari mana, memasuki indera penciumannya. "Kamu masak, Sayang?"
"Bukan, tadi aku pesen. Kebetulan Fany ngerekomendasiin restoran yang katanya menunya enak-enak banget."
"Oh, ya?" Zidan mengernyit. "Aku kira kamu yang masak, loh ...."
Asya tak memedulikan candaan tersebut. Wanita hamil itu justru menuntun Zidan menuju kamar mereka agar Zidan bisa membersihkan diri. Selang beberapa menit--setelah Zidan selesai, Asya dan lelaki itu keluar dan mendapati Ana serta Rendi sudah duduk di meja makan menunggu mereka.
"Makanan dari mana, Sya?" tanya Ana antusias.
"Pesen, Kak," jawab Asya.
Ana mengangguk. Tak lama kemudian mereka mulai menyantap hidangan tersebut. Semula tak ada yang salah dan aneh dari kegiatan makan mereka. Bahkan Zidan, Ana dan Rendi sangat lahap memakannya.
Namun, setelah itu--ketika Asya mendongak menatap Ana, Asya sama sekali tak bisa menahan keterkejutan saat mendapati bahwa mata perempuan itu sudah berkaca-kaca.
"Kakak, kenapa?" tanya Asya khawatir. Bukan hanya dirinya, Zidan dan Rendi bahkan saat ini sudah menumpukan pandangan pada perempuan tersebut.
"Gak kok, Sya ...." Ana mengusap matanya dengan punggung tangan. "Cuma, masakan ini bener-bener mirip dengan masakan seseorang."
Mendengar jawaban dari Kakaknya membuat Zidan terdiam. Jika ditelaah, memang sesungguhnya rasa ini terasa familiyar di indera pencecapnya. Dada Zidan tiba-tiba sesak, diselubungi dengan kerinduan.
Bahkan hal yang sama pun turut dirasakan Rendi. "Kamu benar, Ana."
Ana mengangguk cepat, tanpa buang waktu perempuan itu kembali menyantap hidangan tersebut tanpa tersisa sedikitpun.
"Sya ...," panggil Ana.
Membuat Asya menatap perempuan itu. "Ada apa, Kak?"
"Besok, kamu bisa bawa Kakak ke restoran tempat kamu pesen masakan ini?"
Asya bahkan tak perlu berpikir panjang untuk mengiyakan hal tersebut. Di sisinya Zidan menatap Asya dengan pandangan penuh selidik, tak salah lagi jika masakan ini benar-benar mirip masakan sang ibu. Tapi, mana mungkin ....
"Kamu gak sembunyiin sesuatu, kan?" bisik Zidan.
Asya yang mendengarnya menatap lelaki itu dengan dahi yang berkerut. "Memang aku sembunyiin apa?"
Dengan cepat Zidan menggeleng. Tidak ... Asya tak mungkin mengetahui keberadaan Rina. Apalagi kemungkinan bahwa Asya belum mengetahui rupa dari ibunya, serta bahwa saat ini Rina telah meninggalkan kota ini adalah yang paling Zidan yakini.
...
__ADS_1
Like dan Coment ...