My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 34


__ADS_3

Hati Zidan gusar, maniknya tak dapat terpejam sedari tadi walaupun lelaki itu memaksanya berulang kali. Dirinya bangkit dan bersandar lelah dikepala ranjang, pikirannya entah mengapa dirundung ketakutan, hingga hampir terasa sesak dibuatnya.


Waktu sudah hampir beranjak tengah malam, namun tak sedikitpun rasa kantuk manghinggapi diri lelaki itu malam ini. Pikirannya masih mengingat dengan jelas, senyum yang terpahat pada wajah Asya barusan. Bagaimana rona manis itu melingkupi pipinya, pun dengan senyum yang teramat cantik menghiasi wajah bulat mungil, perempuan itu.


Tak bisa dipungkiri, semua yang ada pada diri Asya, semakin membuat hati Zidan terikat padanya. Lalu, dengan tiba-tiba sekelebat peringatan Raihan mengenai Esfi terputar dibenak. Membuat hati Zidan yang tadinya dipenuhi kebahagiaan, perlahan memudar seiring rasa takut yang membuncah.


Dia harus melindungi wanitanya.. ya, harus.. cara apapun akan Zidan lakukan untuk melindungi Asya dari rundungan bahaya.


Tangan Zidan meraih ponselnya yang terletak diatas nakas --samping ranjang. Lelaki itu dengan terburu menghidupkan layar dan mencari nomor kedua sahabatnya, Andi dan Yuda.


Rencana.. ya, dia membutuhkan rencana. Dan salah satu caranya, adalah mendiskusikan semua itu dengan kedua orang yang mengertinya.


Setelah berhasil mengirim pesan dan mendapatkan balasan bahwa dua sahabatnya itu bersedia bertemu, Zidan dengan cepat turun dari ranjang dan bersiap. Lelaki itu memilih --hanya memakai sebuah kaos oblong hitam, celana jeans dan jaket denim, melengkapi.


Tak lupa pula, lelaki itu meraih kunci mobil sebelum akhirnya melenggok cepat keluar apartemen.


Sesaat langkah Zidan terhenti, lelaki itu kembali mengingat bahwa Raihan lah yang memberi taunya tentang Esfi. Jadi, bukankah sebaiknya Zidan mengajaknya berkumpul, walupun enggan?


Zidan kembali mengambil ponselnya disaku, menghidupkannya dan dengan ragu mencari nomor Raihan lalu menelponnya.


Setelah beberapa detik menunggu, panggilan itupun terhubung. Dahi Zidan mengernyit dalam, begitu pendengarannya dengan jelas mendengar suara detum musik kencang.


"Raihan.. gue mau ketemu malem ini.." Ujar Zidan ketus, tanpa kalimat membuka pembicaraan.


Sesaat orang disebrang hanya terdiam, membuat rahang Zidan mengetat, dan kemudian berkata, "Lo denger gak sih? gue mau ketemu?"


'Buat apa gue ketemu sama lo?' Tanya Raihan seadanya.


"Gue juga sebenernya gak mau, tapi ini menyangkut peringatan lo, masalah Asya.."


'Oke.. dimana tempatnya?' Tanya raihan kemudian.


"Di club deket kantor gue.. lo bisa kan?"


'Oke..'


Panggilan pun berakhir, Zidan kembali memasukkan ponselnya kedalam saku lalu melangkah cepat dengan terburu.


***


Suasana club begitu ramai, dengan musik dan lampu kerlap-kerlip yang melengkapi. Zidan melangkah cepat diantara lautan manusia yang berjoget ria dilantai club. Bergegas melangkah menaiki anak tangga ke ruang tujuannya, yang menjadi tempat berkumpul kali ini.


Manik Zidan menatap heran, dengan dahi berkerut dalam, ketika dirinya menangkap sosok Raihan tengah terduduk santai di ruang itu.


Lelaki itu sedikit menoleh melihatnya, dan kembali melanjutkan menenggak minuman, seakan tak terganggu dengan kehadiran Zidan.


"Kapan lo nyampenya?" Tanya Zidan penasaran.

__ADS_1


"Gue memang udah ada disini dari tadi.." Lelaki itu mengangsurkan segelas vodca, dan langsung disambut Zidan lalu diminumnya.


"Ngapain lo ngajak gue ketemuan?"


"Gue mau bahas yang lo bilang, sama gue kamaren.."


Kepala Raihan menganguk ringan, lelaki itu menoleh lalu berkata, "Yaudah cepet.. katanya mau ngomong.."


"Tunggu dua sahabat gue dulu, gue juga ngajak mereka ketemuan disini.."


"Oke.."


Raihan kembali menenggak minumannya. Sebenarnya dirinya enggan menemui Zidan, namun ketika ini menyangkut Asya, mau tak mau dirinya harus bersikap rasional dan terbuka. Tentu saja demi perempuan yang masih dicintainya --hingga detik ini.


Tak lama setelahnya, dua orang yang ditunggu Zidan datang. Lelaki itu bangkit dan menepuk bahu kedua sahabatnya bergantian. "Akhirnya, kalian dateng juga.."


Andi berdecak kesal dan memilih duduk, rona wajah lelah dan rasa kantuk masih menguasai lelaki itu, "Ck.. lo Dan, gimana si? lo tau gue capek kan?"


Zidan tersenyum dan menghampiri sahabatnya itu, "Gue butuh kalian, makanya gue minta ketemuan.."


Yuda ikut duduk, dan menatap dua sahabat didepannya heran, "Memangnya ada masalah apa?"


"Itu--"


"Ehmm" Raihan yang sedari tadi dianggap tak ada oleh tiga orang itu, berdehem kesal. Membuat orang-orang yang dimaksud menatapnya.


"Siapa dia Dan?" Tanya Andi dengan manik menatap Raihan, penuh telisik.


"Raihan?" Andi terkejut bukan main, perkataan Fany mengiang dibenaknya ketika melihat lelaki itu.


Tapi, kalau dia Raihan yang Fany maksud, untuk apa lelaki itu disini? bukankah seharusnya hubungannya dengan Zidan tak baik?


"An.." Tegur Yuda melihat tingkah aneh Andi yang tiba-tiba.


Andi menggeleng, menghilangkan pikiran terburuk yang ada dibenaknya, lelaki itu memilih kembali menoleh manatap Zidan, lalu bertanya, "Jadi, apa yang lo mau bicarain?"


Zidan beranjak bangun dari sofa dan memilih memandang, tiga orang dihadapannya bergantian. "Ini masalah Asya, Raihan pernah ketemu sama Esfi sebelumnya.. dan cewe itu ngajak dia kerja sama buat ngerusak hubungan gue sama Asya.."


Yuda masih tak mengerti dengan arah pembicaraan ini, ya.. walaupun dia sudah mengetahui hubungan Zidan dengan Asya. Tapi, lelaki itu masih bingung, apa hubungan antara Raihan dan Asya, hingga mengajak lelaki itu untuk bekerja sama, "Memang apa hubungan Raihan sama Asya, Dan?"


Zidan terdiam, lalu sebuah kalimat tiba-tiba terdengar, membuat Andi dan Yuda terbelalak. "Asya mantan gue.."Jawab Raihan, tanpa memperdulikan tatapan tajam Zidan.


"A-apa?" Mulut Yuda terbuka lebar, sedangkan Andi mengangguk mengerti. Ternyata perkataan Fany tak salah, batinnya.


"Udah, gak usah dibahas.. lagi pula sekarang Asya cewe gue.." Geram Zidan, kemudian melanjutkan, "Jadi gimana menurut kalian?"


Yuda tampak berpikir, sebelum akhirnya berkata, "Itu gak bagus Dan.. menurut gue sebaiknya lo jaga Asya baik-baik.. Esfi itu berbahaya, dan kita tau itu.."

__ADS_1


"Bener yang Yuda bilang, lo harus hati-hati sama Esfi, Dan.."


Raihan menatap Zidan penuh tanda tanya, sepertinya mereka mengenal perempuan itu dengan begitu baik. Terbukti dengan raut wajah ketiga lelaki itu ketika berbicara tentang Esfi. "Jadi, Esfi itu orangnya gimana?" Tanya Raihan,setelah lama terdiam


Zidan menghela napasnya kasar, lelaki itu memilih kembali duduk dan melanjutkan, "Bahaya.. cuma satu itu yang gue tau.. dia, kita dan Asya pernah satu SMA.. jadi gue kenal baik dia.."


Raihan hanya terdiam setelah mendengar penuturan itu. Jadi selama ini Asya telah mengenal baik Zidan, tapi mengapa perempuan itu sama sekali tak mengatakannya? Kecewa.. Raihan sedikit merasa kecewa karenanya. Ya.. walaupun tak ada gunanya lagi untuk menyesali.


***


Asya terbangun dari tidurnya paksa, ketika rasa bergejolak memenuhi diri. Perempuan itu bangkit dan bersandar dikepala ranjang. Dahinya basah oleh keringat dan wajahnya berangsur pucat. Rasa tak nyaman itu makin mengganggu, apalagi dengan mual yang teramat menghinggapi dirinya.


Asya turun dari ranjang dan berjalan pelan, memasuki kamar mandi. Perempuan itu menatap pantulan diri dicermin dengan tatapan lemah. Bukan hanya wajahnya saja yang dipenuhi peluh keringat, piyama yang dikenakannya pun turut basah, mengindikasikan bahwa tubuhnya pun mengalami hal yang sama.


Asya memegangi perutnya yang bergejolak, sesuatu yang aneh menjalari tubuhnya, dan kemudian, "Hoekk.. hoekk.." Asya memuntahkan semua makanan yang sempat disantapnya beberapa jam lalu.


Tubuhnya lemah dan lunglai seketika, Asya memilih untuk duduk dilantai dan bersender di tempat seadanya, "Ada apa sama aku ya?" Tanyanya lirih.


Setelah dirasanya baikan, dia memutuskan untuk bangkit dan mencuci mulutnya di wastafel. Namun, tiba-tiba rasa mual itu kembali menghinggapi diri, bahkan rasanya lebih parah lagi.


"Hoekk.. hoekk.." Asya kembali memuntahkan isi perutnya, namun kali ini hanya cairan bening yang keluar.


Manik Asya menelisik pantulan bayang diri dicermin, wajahnya yang tadinya pucat, makin bertambah pucat.


Tak ingin berlama-lama di kamar mandi, Asya memilih keluar dan mencari kotak obat di laci nakas. Perempuan itu mengambil setablet obat maag dan meminumnya dengan bantuan air yang tersedia.


Tangan Asya mengusap perut ratanya pelan, pikirannya kalut tak yakin dengan apa yang terjadi. Jangan-jangan dirinya..


"Ah.. nggak, nggak mungkin aku--" Suara Asya tercekat ditenggorokan, perempuan itu meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang dipikirkannya tidaklah benar dan tidak -akan- terjadi.


Walaupun ada seberkas rasa takut menghampiri Asya, ketika mengingat hubungan intimnya bersama Zidan yang sudah dua kali terjadi.


"Nggak.. nggak mungkin.. ini cuma sakit maag kerena pola makan aku yang gak bener.. ini gak mungkin.."


Mata Asya berkaca, pikirannya benar-benar kacau mengingat hal paling buruk yang akan terjadi kepadanya nanti. Perempuan itu lagi-lagi menggeleng, "Aku lebih baik tidur, kalau semua baik-baik aja besok.. berarti apa yang aku pikir gak bener.."


Asya berbaring dengan tangan sesekali mengelus perut datarnya. Bukan tak ingin menerima apa yang Tuhan nanti akan titipkan. Tetapi, rasanya ini bukan waktu yang tepat, mengingat hubungan Zidan, dengannya yang baru membaik beberapa hari ini.


Setelah berkutat sekian lama dengan pikirannya, pun dengan kondisi tubuhnya yang lemah. Manik Asya akhirnya terlelap, walaupun dengan beban pikiran yang masih membeban.


***


Kasih like dan komen ya guys..😊😊


inget like dan komen yang buanyakk..😁😁


Karena like dan komen kalian membuat aku semangat untuk up'y.. hehehe..

__ADS_1


oh ya.. jangan lupa jga mampir di novel aku judulnya This Love ya..



__ADS_2