
Memasukkan helai pakaian terakhir, Zidan menghela napas. Dia memandang jendela yang terbuka, menampakkan atmosfir sekitaran apartemennya yang sudah terang. Hanya pakaian yang perlu dia siapkan untuk keberangkatannya ke Surabaya hari ini.
Dan selebihnya, berupa dokumen-dokumen penting, tiket pesawat dan tempat menginap, Anita -- sekretarisnya lah yang menyiapkannya. Zidan menghela napas, meraih ponsel di atas nakas dan mendial nomor kak Ana.
Panggilan terhubung.
"Kak?"
Tak ada sautan di sebrang selama sepersekian detik setelahnya.
"Kak?" Panggil Zidan lagi.
'Ya, ada apa, Dan?'
Mengerutkan kening, Zidan terkekeh kecil. "Kakak baru bangun tidur?"
'Eh, iya.. hari ini kakak ambil cuti. Jadi, kakak bisa istirahat sementara waktu.'
Zidan tersenyum dan menghela napas. Dokter adalah profesi yang di idamkan kakak satu-satunya itu semenjak remaja, karenanya setelah kak Ana bisa meraih cita-cita itu, Zidan juga turut bahagia.
"Aku titip Asya ya kak?"
'Eh, kenapa?'
"Aku hari ini pergi ke Surabaya, ada urusan yang harus diselesaikan disana. Aku gak kasih kabar ke Asya kalau aku mau pergi."
'Kamu gak kasih tau dia?'
"Aku udah kasih tau, aku mau ke Surabaya. Tapi untuk selebihnya tentang jam keberangkatan, aku gak kasih tau. Yang jelas aku titip dia ya?"
'Iya. Oh ya, Dan. Kamu udah di kasih tau sama Asya masalah itu, ya?"
Zidan mengerutkan kening, melirik arlojinya sekilas saat dirasa waktu mengobrolnya telah lama. Lelaki itu berkata, "dia gak kasih tau apa-apa sama aku. Oh ya kak, udah dulu ya. Keberangkatan pesawat aku dua jam lagi. Jadi, aku harus berangkat sekarang"
Setelah mendapatkan jawaban 'iya' dari Ana, Zidan memasukkan ponselnya ke saku celana selim yang dia kenakan. Tampilannya terlihat sudah rapi, dengan kemeja hitam polos tanpa dasi, dan jas dengan warna senada yang membungkus tubuhnya.
Sebenarnya sulit bagi lelaki itu untuk meninggalkan Asya sendirian. Apalagi mengingat keberanian Esfi yang saat ini ingin sekali menghancurkan kehidupan pencintaannya dengan Asya.
Menghela napas, Zidan berbalik. Tubuhnya terpaku sesaat pada kotak kecil berwarna peach yang Asya serahkan sebelumnya. Semalam dia belum sempat membuka dan melihat apa isi kotak itu.
Semoga itu bukan hal penting, mengingat dirinya saat ini yang terburu dan mungkin akan membuka kotak itu ketika kepulangannya dari Surabaya tiga hari lagi.
...
__ADS_1
Mata Asya berbinar begitu melihat beberapa kue kering hangat yang baru saja selesai dia panggang. Membuat kue kering memang sering Asya lakukan untuk mengisi waktu senggang. Apalagi saat dulu, Asya begitu mengingat kegiatan ini adalah pelariannya dari segala kesah yang pernah dia lalui.
Asya menggeleng, mengenyahkan segala pikiran yang mulai menghinggap. Dia dan Zidan, harus mulai membuka lembaran hidup baru. Melupakan yang sudah lalu, walaupun tak bisa ditampik dalam hati Asya masih meragu.
Zidan belum bisa di ajak bicara, belum dapat di beritau untuk meluruskan segala masalah. Menghela napas, Asya berjanji pada dirinya sendiri. Nanti, disaat kepulangan Zidan dari Surabaya, dia akan memberitau lelaki itu apa yang sebenarnya terjadi.
Tentang kehamilannya -- yang mungkin sudah lelaki itu ketahui, dan tentang persahabatan orangtuanya dan papah dari Zidan.
Asya kembali tersenyum, kue kering yang dia buat sedah mendingin. Menyiapkan toples, Asya mulai menyusun beberapa keping di dalamnya. Dia berencana akan membawanya dan menyerahkannya pada Zidan.
Dia tak tau mengapa ini terjadi. Mungkin saja bawaan ibu hamil, batin Asya.
Beberapa saat kemudian, ketika Asya sudah rapi dengan pakaiannya, bel apartemen berbunyi. Asya beranjak dari kamar, membuka pintu dan mendapati kak Ana yang masih memakai pajama tengah berdiri di hadapannya.
"Kak Ana, ada apa?"
Ana mengaruk tengkuknya dan terkekeh kecil. "Zidan bilang, dia nitipin kamu sama aku. Jadi, aku kesini deh."
"Nitipin aku?" Dahi Asya mengernyit. "Memang kenapa?"
"Zidan kan ke Surabaya, jadi dia nyuruh aku buat temenin kamu sementara."
Asya tersenyum dan mengangguk ringan. Perempuan berkulit putih itu meraih tangan Ana dan menuntunnya masuk kedalam.
"Sya?"
Asya menoleh, dan berbalik -- kembali memfokuskan pandangan kepada Fany. "Ada apa, kak?"
"Zidan kayaknya udah berangkat deh. Tadi, sekitar sejaman lah, dia nelpon kakak, bilang kalau dia mau berangkat."
Senyum Asya yang sebelumnya terbit, kini mendadak luntur. Perempuan itu menoleh, melirik sebuah paper bag yang berisi stoples kue kering yang telah disiapkannya sebelumnya.
Setelah menghela napas pelan, Asya kini memilih untuk duduk disofa samping Ana.
"Sya?"
"Eumm?"
"Kakak boleh nanya gak?"
Asya mengangguk. "Boleh, memang kakak mau tanya apa?"
"Eumm..." Ana tampak ragu, sebelum kemudian berkata, "kamu udah kasih tau Zidan masalah kehamilan itu?"
__ADS_1
"Aku gak berani bilang langsung kak. Tapi tenang aja kak, aku udah kasih tau dia walaupun belum secara langsung, semoga aja dia udah tau."
"Maafin kakak ya." Ana memandang Asya lekat, menggenggam tangannya yang dirasa sangat rapuh. "Seharusnya kakak gak larang kamu buat kasih tau Zidan. Cuma, kakak ragu aja Sya."
"Ragu?"
Ana terdiam, perempuan yang masih memakai setelan tidur itu mulai menerawang. Ya, dia tau mengenai masa lalu Asya dengan adik lelakinya, bagaimana perlakuan lelaki itu terhadap Asya dan kehidupan keduanya setelah masalah itu terjadi.
Tak bisa ditampik, Zidan rapuh setelahnya. Hancur dan akhirnya memilih pergi keluar negeri dengan dalih melanjutkan pendidikan setelah kedua orangtua mereka bercerai.
"Kakak, cuma ragu dia kembali seperti dulu, Sya. Kembali sakitin kamu."
Sesaat Asya terpaku, Apakah.. "Kakak, tau masalah aku sama Zidan?"
Mengangguk, Ana mulai bercerita. "Dulu, sewaktu keluarga kakak gak harmonis lagi, kakak dengan egoisnya memilih pergi. Kakak lanjutin pendidikan kakak di luar kota dan ninggalin Zidan sendiri. Dan berapa lama kemudian, kakak akhirnya pulang. Dari situ kakak mulai tau semua gak sesuai dengan dugaan. Papah sama mamah akhirnya bikin keputusan buat cerai, dan dari situ Zidan mulai jadi pendiam..,
..Dan waktu kakak, kembali lagi buat kuliah, kakak dapet kabar dari Yuda yang diam-diam kakak suruh buat ngawasin dia, kalau ternyata Zidan jalin hubungan sama kamu, sampe akhirnya terjadi hal itu."
Hati Asya yang rapuh mulai menderu, sampai akhirnya Ana kembali melanjutkan. "Kakak gak percaya kamu seperti itu, Sya. Bahkan saat kita pertama kali ketemu waktu kakak pindah ke apartemen ini, kakak salut sama kamu, bisa berusaha walaupun hidup sendiri."
Asya terpekur, dengan air mata mulai menggenang. Dia rindu papah dan mamahnya. Bagaimana mereka memeluknya di saat seperti ini, menghapus setiap tetes air mata yang pernah tumpah. Sumpah demi apapun, Asya begitu merindukan mereka.
Kalau mereka masih ada, bagaimana ekspresi mereka saat tau dia hamil?
"Sya." Ana menangkup pundak Asya, dan menariknya kedalam pelukan. "Sekarang kamu gak sendiri Sya, ada kakak, dan kakak yakin Zidan akan dengan senang hati menyambut anak kalian berdua."
...
Merebahkan punggungnya disandaran sofa, Asya mulai membalik halaman demi halaman dari novel yang dia baca. Hari sudah beranjak gelap, dan syukurlah Zidan sudah memberitau kabarnya pada Asya sore tadi.
Kekasihnya baik-baik saja, penerbangannya pun lancar sampai tujuan. Menghela napas, Asya menutup novel itu dan meletakkannya di atas nakas. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan Asya memutuskan beranjak menuju dapur setelahnya.
Semua makanan yang dokter Sari sarankan selama masa kehamilan, mulai Asya terapkan. Asya mulai mengonsumsi makanan yang memang sebelumnya dia masak bersama kak Ana.
Tapat ketika satu suapan meluncur masuk, suara bel kembali berbunyi. Mungkin kak Ana sudah kembali dari mini market, membuat Asya beranjak cepat membuka pintu apartemen.
"Kak Ana-- Eh.."
Asya terpaku beberapa saat, matanya mengedip pelan, pun dengan detak jantungnya yang manalu kencang. Lelaki di hadapannya ini tampak kuat seperti sebelumnya, hingga dia berkata, "Hai, Asya."
"Rai-Raihan?"
...
__ADS_1
Vote, like dan coment..