My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 25


__ADS_3

Asya hanya bisa berdiri canggung kala tangannya digenggam Zidan erat. Saat ini dirinya berada di halaman komplek apartemennya dan sudah hampir lima menit lamanya mereka berada pada posisi ini. Banyak orang yang memandang bahkan melemparkan ejekan kepada mereka berdua,membuat Asya harus menunduk malu dan sesekali mendesis kesal kepada Zidan


"Zidan bisa lepas gak? kamu aneh tau gak sih..".


"Biarin.. memangnya gak boleh genggam erat tangan pacar sendiri?". Jawab Zidan ketus.


Asya menghela napas panjang,kini harus bagaimana lagi dia menghadapi sikap kekanakan Zidan. "Zidan lepas donk please.. ok..".


"Ok aku lepasin..". Zidan mengerling nakal. "Tapi cium dulu.. nih disini..". Ucap Zidan sembari jari telunjuknya menyentuh bibir yang sudah dimonyongkan.


Asya mengernyit dalam,merasa aneh dengan perkataan Zidan barusan. "Tadi kamu ngomong apa?".


"Minta cium?..".


Asya menggeleng. "Bukan.. bukan itu.. tapi yang sebelumnya..".


Zidan berpikir sejenak lalu berkata. "Ok aku lepasin?".


Asya tertawa terbahak-bahak,dia sempat mengira kupingnya ini mengalami gangguan pendengaran kala Zidan mengucapkan kata 'aku' saat berbicara padanya. Zidan Yang melihat Asya hanya bisa terdiam,tak tau maksud dari perempuan dihadapannya yang tertawa begitu riang.


"Kamu kenapa ketawa?". Desis sedikit berbisik,matanya melirik sekitar dan benar saja banyak orang yang mamandang mereka dangan tatapan yang sulit diartikan.


Asya menarik napas panjang sebelum akhirnya terdiam,jarinya yang lentik menyapu setitik air mata karena tertawa saking kerasnya. "Sorry.. sorry Dan.. abisnya kamu lucu..".


"Lucu? lucu yang gimananya?".


"Sini deh kamunya..". Asya sedikit mengibaskan tangan,mengisyaratkan kepada Zidan agar sedikit menunduk dan mendekat.


"Maksud kamu apa pake ngomong 'aku dan kamu' segala.. bener-bener langka..". Bisik Asya.


Zidan mengangguk mengerti dan menegakkan badannya kembali. "Masa gak boleh pake kata itu sih.. aku cuma pake kata 'aku dan kamu' hanya untuk orang yang aku sayang diluar konteks pertemanan.. salah satunya kamu,orang yang aku suka..".


Asya hanya terpaku diam,baru kali ini Zidan menyatakan perasaannya pada Asya langsung. Entah mengapa jantungnya pun berdetak kecang,membuncah dan berubah menjadi kegugupan yang melingkupi.


"Sya.. kenapa bengong?". Tanya Zidan.


Asya menggeleng dan menatap Zidan lekat. "Zidan lepasin..". Rengeknya.


"Ok aku lepasin deh..". Zidan melepaskan genggamannya dan tiba-tiba menarik tengkuk Asya lalu mengecup bibirnya lembut. "Aku pulang ya..". Ucapnya setelah itu.


Asya kembali diam tepaku,jari lentiknya tanpa sadar menyentuh bibirnya yang basah,dia tak mengerti mengapa dirinya tiba-tiba seperti ini.


"Udah-udah Asya jangan mikirin Zidan..". Sanggah Asya kepada diri sendiri.


Dirinya berbalik hendak menuju lift apartemen namun tiba-tiba suara getar handphone menghentikan langkahnya.


Mata Asya seketika berkaca,menatap ragu kelayar handphone yang bergetar dimana tertulis nama Raihan disana. Sejenak hatinya ragu ingin mematikan,namun seketika perasaan tak enak kembali hinggap.


"Raihan?". Ucap Asya membuka percakapan,namun tak mendapat balasan dan membuatnya makin panik. "Raihan? kamu kenapa?". Tanya Asya begitu suara ringisan terdengar


'Sakit Sya aww.. kepala aku sakit..'


Asya makin panik. "Kamu dimana sekarang?". Tanya Asya terburu meminta jawaban.


'A.. aku ada di apartemen Sya.. arghh..'.


"Tunggu aku.. aku kesana sekarang..". Asya mematikan handphonenya dan langsung berlari cepat menuju parkiran mengambil mobil lalu melajukannya ketempat tujuan yang sudah diapal betul dimana tempatnya.

__ADS_1


✳✳✳


Asya berlari panik,menghampiri sesosok lelaki yang terbaring meringkuk ketika dia membuka pintu apartemen Raihan tadi. Tangannya bergetar,menggoyangkan tubuh Raihan pelan namun tak ada reaksi yang berarti.


Aroma alkohol tercium menyengat begitu memasuki apartemen Raihan,banyaknya botol alkohol kosong membuat Asya mengetahui bahwa Raihan mabuk berat dan berakhir meringkuk sakit lalu terbaring tak sadarkan diri. Hatinya meringis,Raihan sosok yang teramat baik untuk disakiti. Dia pantas mendapatkan yang terbaik dan Asya sadar betul itu.


"Raihan.. Raihan..". Asya kembali menggoyang kan tubuh Raihan perlahan.


Matanya berkaca,begitu melihat wajah Raihan yang pucat. "Raihan.. aku disini..". Ujarnya lagi.


Perlahan manik hitam itu mengerjab,seakan panggilan Asya dapat menembus ruang ketidaksadarannya dan membawanya pergi dari sana.


"A.. Asya?". Ucapnya terbata.


Asya terisak,tangannya menggenggam tangan Raihan erat. "Kamu kenapa gini Raihan?".


Raihan berusaha bangkit dan menyandarkan punggungnya dikaki sofa. Tangannya merengkuh tubuh Asya kedalam pelukan hangat. "Aku kangen..".


Mata Asya terpejam,sungguh begitu sakit melihat orang yang berharga dihidupmu terpuruk. Dan itu yang dialami Asya saat ini.


"Maaf.. aku salah Raihan..".


"Kamu gak salah Sya.. aku mungkin kurang pantas untuk mendampingi dan membuat kamu bahagia..". Ujarnya.


Asya semakin terisak,tangannya membalas rengkuhan Raihan. Sungguh siapa saja yang mendapatkan Raihan adalah perempuan beruntung,namun Asya tak termasuk salah satunya.


"Jangan nangis..". Raihan mengelus surai Asya lembut. "Cewe cantik gak boleh nangis..".


Lama mereka berpelukan,isakan Asya terhenti dan berubah menjadi sesegukan,melepaskan suatu hal yang hanya mereka dan Tuhan lah yang tau.


"Raihan?".


"Maafin aku.. aku gak setia..".


Raihan melepas rengkuhannya,tangannya yang gemetar menangkup pipi Asya yang lembab. "Semua orang memiliki alasan untuk berbuat sesuatu.. dan aku yakin kamu pasti punya alasan dibalik itu.. aku gak maksa kamu untuk cerita,tapi jangan ragu beritau aku kalau kita ketemu lagi nanti..".


Asya mengernyit dalam,tangannya meraih tangan Raihan yang masih menangkupnya. "Ketemu lagi? maksud kamu apa?".


"Denger kata aku baik-baik Sya.. aku cinta kamu dan kamu gak perlu membalasnya.. kamu hanya perlu bahagia dan bila kamu bahagia sama Zidan aku gak pa pa.. lagi pula cinta gak harus memiliki kan?".


Asya menunduk dalam,butir bening menetes membasahi telapaknya yang terkepal kuat. Hatinya terhenyuh,salahkah dia merahasiakan segalanya dari lelaki dihadapannya.


"Raihan..". Panggil Asya pelan.


"Apa?". Lelaki itu membetulkan posisi duduknya menghadap Asya.


"Kamu mau pergi ya?". Tanya Asya masih menunduk.


Raihan tertawa ringan,sungguh tak ada yang bisa disembunyikannya dari perempuan didepannya ini. "Ya.. aku mungkin harus cari suasana baru..".


Asya menatap Raihan sekilas,sebelum akhirnya menyenderkan kepalanya dibahu kekar Raihan. "Karena aku?".


"Bukan..". Raihan menggeleng. "Sya.. mau gak kamu besok anterin aku kebandara?". Tanya Raihan.


Asya mendongak,menatap Raihan dengan raut terkejut yang tak dapat disembunyikan. "Secepat itukah?".


"Lebih cepat lebih baik kan?". Ujar Raihan. Lelaki itu kemudian membalas tatapan Asya,tangannya merogoh saku celana dan kembali mengambil sebuah cincin yang ditolak Asya kemarin. "Mau terima ini? setidaknya untuk jalinan persahabatan?".

__ADS_1


Asya mengangguk dan dengan senang hati mengambil cincin itu lalu memakainya. "Kaya mana ca.. cantik?". Tanya Asya terbata,karena isakan yang kembali hadir. Tangannya terangkat,menunjukkan jari manisnya yang terlilit cincin.


"Cantik..". Raihan kembali merengkuh tubuh Asya,mereka kembali terisak bersama. Menyenderkan diri masing-masing dan membuat ikatan baru yang lebih kuat,yaitu persahabatan. Tak ada kata terlambat untuk berubah dan itu yang mereka lakukan sekarang.


✳✳✳


Entah sudah berapa lama Zidan memencet bel atau mengetuk pintu apartemen Asya. Waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam,tatapi kekasihnya itu tak kunjung muncul. Akhirnya setelah sekian lama Zidan menunggu,dia memilih untuk pergi berkunjung keapartemen kakaknya,Ana.


"Kak.. liat Asya gak?". Tanya Zidan begitu memasuki apartemen kakaknya.


Ana yang tengah duduk disofa dan menonton acara kesukaan hanya menggeleng ringan tanpa niat ingin menjawab,karena saking terfokusnya menonton drama korea kesukaan.


Zidan memutar bola mata jengah dan mendelik kesal terhadap sang kakak. "Kak Ana!!". Pekiknya.


Ana terkejut bukan kepalang lalu memandang Zidan tajam. "Kamu bisa diem gak sih sebentar.. kakak lagi nonton.. kakak perlu ketenangan.. kamu kan bisa telepon Asya.. apa susahnya? heran kakak!". Bentak Ana kesal.


Zidan hanya terkekeh,dia tak sempat memikirkan untuk menelpon Asya. "Yaudah aku pergi.. aku mau telepon Asya dulu..". Zidan melangkah keluar dari apartemen Ana dan memutuskan untuk berdiri menyender santai di pilar penyangga yang ada.


Lelaki itu mengeluarkan handphonenya lalu mengetik beberapa huruf nama dan menghubunginya.


'Halo Zidan?'. Jawab suara sebrang.


Zidan bernapas lega kerena telah mendengr suara kekasihnya itu. "Kamu dimana Sya?". Tanyanya.


Asya terdiam cukup lama,hanya tersengar deru naps dari sebrang dan suara dentingan benda logam saling bergesekan.


"Kamu dimana? kok gak dijawab?".


'Eh.. eh.. aku.. aku lagi dirumah temen.. iya temen..'.


"Fany?". Tanya Zidan penasaran.


'Bu..bukan Dan.. oh ya aku tutup dulu ya..'.


Dahi Zidan berkerut dalam,Asya seperti menyembunyikan sesuatu disebrang dan benar saja ada suara lelaki disana walau samar-samar dan berkata. 'Sya.. ayo makan..". Mendengar suara itu mebuat Zidan geram. "Itu siapa Sya?!". Tanyanya penuh tekanan.


'Bukan siapa-siapa.. aku matiin dulu.. bye..'


Tutt..


Sambungan terputus. Tangan Zidan tekepal kuat,rahangnya mengetat menahan semburat kemarahan yang siap untuk diluapkan. "Shit!.. lagi-lagi bohong!..". Geram Zidan.


✳✳✳


"Siapa itu Sya?". Raihan yang sibuk membalik makanan dalam pannya sejenak melirik Asya dan dapat merasakan aura gelisah disana. "Zidan ya?". Tanyanya dengan gurat sendu.


Asya menghampiri raihan dan ikut membantu mengiris bahan-bahan lain. "Iya.. Zidan telepon..".


"Lebih baik kamu pulang Sya.. aku gak pa pa kok.. dari pada nanti dia salah sangka..". Ujar Raihan.


Kepala Asya menggeleng,tangannya masih sibuk mencincang beberapa bahan. "Gak.. aku ga mau pulang.. lagi pula besok kamu kan pergi.. aku mau temenin kamu..".


"Terserah Sya.. aku cuma kasih saran aja..".


Raihan beranjak menuju rak piring dan mengambil beberapa. Tangannya dengan mahir meletakkan masakannya yang telah siap disantap dan membawanya kemeja makan. "Ayo Sya makan..". Ajak Raihan.


Asya beranjak dari dapur dan duduk dimeja makan bersama Raihan. Merekapun makan bersama dan melewati malam penuh kebahagian dengan stayus baru mereka sebagai teman dekat.

__ADS_1


__ADS_2