My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 23


__ADS_3

Mata Asya berkaca,memandang penuh rindu lelaki yang ada dihadapannya itu. Raihan tetaplah sama,tak ada yang berubah walaupun Asya tak bertemu dengannya sebulan belakangan.


Wajahnya tetap tampan. Sorot matanya yang teduh,hidung yang mancung,bibir yang slalu mengukir senyum dan rahang tegas yang berpadu dengan indahnya,membuat Asya tak pernah jenuh memandang.


"Kamu kenapa sayang??". Raihan menangkup pipi Asya dengan sebelah tangannya,menghapus butiran air yang keluar dari sudut mata kekasihnya itu.


Asya menggeleng dan memejamkan mata,merasakan lembutnya belaian halus dari kekasihnya,Raihan. Dia ingin seperti ini slalu,bersama dengan Raihan membuat pikiran Asya tenang dan nyaman tentunya. Hingga sekelebat ancaman Zidan mulai menghampiri pikiran Asya,membuatnya bergedik ngeri dan langsung membuka irisnya kembali.


"Kamu kenapa sayang??".


Asya tersenyum simpul dan satu tangannya menggenggam tangan Raihan erat. "Aku gak kenapa-napa.. cuma,seneng aja kamu pulang..". Ucapnya sedikit sendu dengan sorot mata yang sendu pula.


Raihan tersenyum lembut,lalu berkata. "Aku juga seneng bisa liat kamu lagi..".


Asya melihat sekitar,mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang cafe dan mengintip kearah luar dari jendela disampingnya,takut bila Zidan datang tiba-tiba dan menghancurkan semuanya. Namun Zidan tak ada dimana pun Asya memandang,membuat perempuan itu benapas lega kemudian.


"Kapan kamu sampai di Indonesianya??".


"Tadi malam..".


Asya tangan Asya mengelus tangan Raihan yang menggenggamnya lembut. "Kamu gak cape?? seharusnya kamu istirahat dulu..".


Raihan menggeleng dan mengeratkan genggamannya,matanya tak pernah berhenti memandang teduh perempuan yang dicintainya ini,sudah cukup sebulan mereka berpisah. Raihan tak sanggup bila harus lebih lama lagi. "Aku mau ngomong sesuatu sama kamu Sya..". Ucapnya pelan.


Asya mengernyit dalam. "Ngomong apa??".


Raihan merogoh saku jasnya,mengambil sebuah kotak kecil berbahan bludru berwarna merah dan meletakkannya didepan Asya. "Walaupun hubungan kita belum terlalu lama Sya.. tapi aku yakin sama kamu sejak pertama kita ketemu waktu itu.. entah kenapa ada rasa aneh yang timbul tiba-tiba.. dan gak bisa aku jelasin dengan kata-kata.. aku yakin ini cinta yang gak bisa ditampik keberadaannya..,


".. Waktu kamu mau jalin hubungan sama aku.. aku janji akan jaga kamu,sayang kamu dan slalu buat kamu tersenyum.. jadi..". Raihan membuka kotak kecil itu dan mengambil sebuah cincin bertahtakan berlian indah. "Aku mau kita jalin hubungan yang lebih serius.. dan mendampingi satu sama lain.. kamu mau??".


Asya menutup mulutnya tidak percaya. Matanya berkaca menatap Raihan makna,dia merasa dibutuhkan,merasa dihargai,sampai lupa bahwa dia harus menepati janjinya kepada Zidan,jika tak ingin lelaki yang dicintainya ini menderita nanti.


"Aku..". Asya gugup bukan main,pasalnya seluruh pasang mata yang ada didalam cafe itu menatapnya iri dan penuh perhati.


"Dia gak akan dampingin lo Raihan..". Zidan yang datang tiba-tiba lalu dengan kasar menarik tangan Asya dan membawa perempuan itu dalam peluknya. "Dia milik gue..". Desisnya tajam.


Raihan bangkit dan menatap Asya penuh tanda tanya. "Asya.. maksud dia apa??". Gurat kekecewaan tampak jelas diwajah lelaki itu.


"Aku bisa jelasin Raihan..".


Asya sekuat tenaga mencoba melepaskan tangan Zidan yang mendekapnya posesif. Namun nihil,lelaki itu malah mendekapnya semakin kuat.


"Biar gue yang jelasin..". Zidan menatap Asya dan tersenyum devil,lalu mengalihkan pandangannya ke Raihan. "Dia udah jadi cewe gue.. dan hari ini Asya akan putusin lo.. ya kan Sya??".


Asya masih berusaha melepaskan rengkuhan Zidan darinya. "Zidan lepas!!". Asya berpaling menatap Raihan yang memandangnya. "Aku.. bisa jelasin semua Raihan..". Ucap Asya lirih.


Gurat rasa kecewa dan sedih melingkupi wajah lelaki itu. Membuat air mata Asya berlinang,dan hanya bisa menunduk lalu terisak tanpa bisa bicara apa-apa lagi. Seluruh pasang mata yang menatap mereka bertiga mulai berbisik,ada yang menghina bahkan mencela.


Raihan mendekati Asya dan menarik tangannya meminta jawaban. "Maksud dia apa Sya?! jawab!! kamu duain aku?!".


Nada tinggi pertanyaan Raihan,membuat Asya tersentak kaget.


Asya menggeleng,dia ingin jujur,namun takut jika kejujuran nantinya akan membawa petaka. "Bukan kaya gitu Han..". Bisik Asya pelan ditengah isakannya yang dalam.


Zidan menarik tangan Asya dari genggaman tanggan Raihan. "Lo gak boleh nyentuh cewe gue kaya gini dong..".


Raihan bedecak kesal,ingin rasanya emosi mengambil alih seluruh pikirannya kini dan membuat lelaki bernama Zidan itu diam. "Cewe lo?! gak salah denger gue?! Asya ini cewe gue.. dan lo yang udah berani nyentuh dia!!".


"Inget Sya janji kita..". Bisik Zidan kepada Asya dengan nada mengancam. "Kalau lo gak mau cowo itu hancur nantinya..". Sambungnya kemudian.


Asya mengangguk dan dengan ragu menatap Raihan,jarinya yang mungil mengusap air mata yang masih mengalir. Bibirnya bergetar. "Raihan.. maaf.. hubungan kita cuma bisa sampai disini.. kita gak bisa lebih dari ini.. kamu bisa dapet yang terbaik Raihan.. maaf..".

__ADS_1


"Tapi Sya..". kata Raihan terhenti,begitu Asya memilih lari dari cafe itu dan meninggalkan Raihan dan Zidan disana.


"Lo udah dengerkan.. kata cewe gue apa??". Zidan mendekati Raihan dan menepuk bahu lelaki itu pelan. "Dia minta putus dan milih gue tentunya..".


✳✳✳


Asya terisak penuh ironi,sejak kejadian di cafe dan hubungan Raihan dengannya kandas,Asya memilih pulang dan berdiam diri di kamar. Apartemennya terkunci rapat,tak membiarkan satupun orang masuk, termasuk lelaki penyebab semua ini,Zidan. Lelaki itu sudah sedari tadi menggedor pintu Asya dan memaksa masuk,namun Asya tetap diam dan kukuh pada pilihannya kali ini.


Hari sudah beranjak malam,Asya yang merasa perih diperutnya memilih untuk keluar dari kamar dan pergi kedapur,mencari sedikit makanan untuk mengganjal kelaparannya yang menjadi.


Tak ada yang bisa dimakan,itu yang Asya simpulkan sewaktu membuka kulkas,rak makanan dan juga mencari disela-sela barang dapur.


"Perih..". Asya merintih sakit dan memegang perutnya yang sedari tadi lapar meminta diisi.


Asya berjalan pelan kekamar,mengambil kunci mobilnya dan memilih pergi ke minimarket yang tak terlalu jauh dari apartemennya itu.


Saat membuka pintu apartemen,sosok lelaki yang sangat tak ingin ditemui Asya sudah ada didepan apartemennya. Wajah kusut,baju kemeja yang tadi dia kenakan dikantor juga masih melekat dan terkesan urakan.


"Kenapa lo gak buka pintu Sya??". Tanya Zidan kepada perempuan yang memakai piyama didepannya.


Asya hanya terdiam dan memilih meninggalkan Zidan sendiri. Asya melangkah kedalam lift dan menekan tombol yang akan membawanya ke basement. Belum sempat pintu lift tertutup,Zidan beringsut masuk dan memilih berdiri di samping Asya.


Mereka hanya terdiam,tak ada yang membuka percakapan bahkan hingga mereka sampai di basement. Asya melangkah keluar dan menuju mobilnya,namun sebuah tangan kokoh menarik lengan Asya hingga langkahnya terhenti.


"Mau kemana.. biar gue anter..".


"Gak usah sok-sok perhatian Dan.. lebih baik kamu pulang sana..". Ujar Asya dengan nada ketusnya.


"Ini udah malem.. gak baik perempuan jalan sendiri,apalagi lo..".


"Maksud kamu apa?!".


Zidan melepas genggaman tangannya,memandang Asya sekilas lalu tersenyum simpul. Asya memakai piyama dengan gambar teddy bear, dibalut cardigan hitam di luar,rambutnya dikuncir tinggi berantakan dengan muka sembab dan mata bengkak. "Lo mau pergi kaya gitu??". Tanya Zidan dengan nada meledek.


"Minimarket..". Jawab Asya singkat.


✳✳✳


Asya mengambil beberapa makanan ringan,makanan kalengan juga beberapa jenis buah-buahan yang tersedia lalu membawanya kekasir untuk membayar semua belanjaannya.


"Biar gue yang bayar..". Ujar Zidan.


Asya memutar bola mata jengah,tak betah berlama-lama dengan lelaki disampingnya ini. "Gak usah.. aku punya uang sendiri..". Jawab Asya ketus,menolak.


"Gak usah.. gue aja..".


"Yaudah terserah kamu..".


Zidan pun membayar semua belanjaan Asya tanpa ragu. "Ayo.. kita pulang..". Zidan menarik tangan Asya,sedang satu tangannya yang lain dia gunakan untuk membawa belanjaan perempuan-nya itu.


Didalam mobil,mereka hanya terdiam,tak ada satu pun yang membuka percakapan. Hingga sampai diapartemen pun mereka tidak bicara satu sama lain.


"Sya..". Suara Zidan menghentikan langkah Asya yang hendak masuk ke apartemennya.


Asya berbalik dan memandang Zidan dengan wajah datar. "Ada apa lagi??".


"Jangan kaya tadi lagi.. lo ngunci diri lo..".


Asya menghela napas panjang,tangannya yang bebas memijit kepalanya yang sedikit pening. "Iya.. yaudah aku masuk dulu..".


"Besok gue jemput lo ya..".

__ADS_1


"Gak usah..".


Zidan mendekati Asya,menggenggam tangannya erat. "Lo udah janji lo Sya.. abis lo putusin Raihan lo jadi cewe gue.. atau..". Zidan meyakinkan Asya dengan nada mengancamnya.


"Iya.. iya.. besok aku pergi bareng kamu..". Asya pun memilih masuk ke apartemen setelah mengucapkan itu kepada Zidan.


✳✳✳


Asya menunggu Zidan tepat seperti yang dijanjikannya semalam,sebenarnya dia ingin pergi sendiri,tapi mengingat ancaman yang lelaki itu ucapkan mambuat Asya tidak tenang.


Drtt.. drtt..


Handphone Asya bergetar,dengan ragu Asya mengangkat telepon itu. "Ha.. halo Raihan..".


Tak ada jawaban disebrang,hanya suara deru napas yang tidak teratur,membuat Asya sedikit takut akan keadaan lelaki disebrang.


"Raihan.. kamu gak kenapa-napa kan??".


'Kenapa kamu lakuin ini Sya?? aku.. aku.. bener-bener cinta sama kamu..'.


Asya memejamkan matanya sesaat,dia ingin menangis,menangis sejadi-jadinya. "Maafin aku Raihan.. hubungan kita harus berakhir kaya gini.. tapi aku punya alasan..".


'Apa aku kurang perhatian?? aku kurang apa Sya?? aku akan perbaikin semua biar kita bisa balik lagi kaya dulu..'.


Asya hanya menggeleng,walau pun dia tau Raihan tak bisa melihatnya. Tak ada yang kurang dari Raihan,semuanya begitu sempurna hanya Asya saja yang tak pantas untuk lelaki itu.


"Kamu..".


"Lo gak usah ganggu lagi cewe gue!! inget itu!!".


Tutt..


Zidan memandang Asya tajam. "Lo ngapain terima telepon dia?! ngapain!!".


Asya hanya diam,tak berselera menjawab pertanyaan lelaki didepannya ini. "Jadi berangkat gak??". Tanya Asya mengalihkan topik pembicaraan.


Zidan menghela napas kasar,dia menarik tangan Asya dan menggenggamnya erat. "Lo gak boleh jawab telepon dia lagi.. lo denger?!". Suaranya lembut tapi menuntut.


"Iya..".


"Yaudah ayo kita pergi..".


✳✳✳


Seluruh pasang mata memandang penuh telisik pasangan yang baru saja menginjakkan kakinya di lobby perusahaan. Sebagian ada yang berbisik,sedangkan sebagian lagi hanya diam tak ingin berbicara.


"Dan.. lepasin malu diliatin orang..". Asya mencoba melepaskan dekapan Zidan dari pinggangnya. Dia merasa risih sekaligus malu,pasalnya seluruh pandangan orang berlabuh kepadanya dan Zidan.


Zidan menghentikan langkahnya dan memandang Asya sesaat. "Mulai sekarang lo harus terima apa aja gue buat Sya.. karena dari hari ini lo udah jadi..". Zidan sedikit menunduk. "Lo udah jadi cewe gue sekarang..".


"A.. apa??".


.


.


.


.


Temen2 jangan lupa ya mampir ke novel terbaru aku dengan judul 'This love' ya..

__ADS_1


Cuss baca novelnya.. jangan lupa like dan coment juga ya disana..


__ADS_2