My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 40


__ADS_3

Asya tak bisa menyembunyikan kegelisahannya saat ini. Telapak tangannya berkeringat dingin, dan tercengram rapat. Ana yang duduk di sisinya bahkan bisa melihat semua itu.


Setelah melalui pagi yang menyakitkan karena mengalami morning sickness, Ana memaksa Asya untuk ikut kerumah sakit dan melakukan pemeriksaan kandungan. Syukurlah perempuan yang berstatus sebagai kakak Zidan itu sudah membuat janji temu dengan dokter Sari, dokter kandungan di rumah sakit tempatnya bertugas.


"Kak Ana," panggil Asya lirih, dia masih saja gugup walaupun Ana sudah menenangkannya sejak tadi.


Ana menoleh dan mengangguk pelan, jas putih kedokteran masih melekat pada tubuhnya, melapisi kemeja maroon yang dia kenakan. "Tenang aja Sya, ini dokter Sari, temen kakak," jelas Ana, menyunggingkan senyuman sekilas kepada dokter Sari.


Dokter Sari balas tersenyum, tangannya bergerak meraih tangan Asya yang terkepal kuat diatas meja -- mengusapnya pelan. "Gak usah gugup gitu, ini pertama kalinya kamu periksa?"


"I-iya dokter."


"Gak usah formal gitu donk." Membetulkan letak kacamatanya, dokter Sari kembali melanjutkan. "Kamu bisa panggil aku kak Sari, seperti kamu panggil Ana, kak Ana."


Meskipun gugup Asya berusaha tersenyum, dia mengangguk. "Iya kak."


Dokter Sari bangkit dari kursinya lalu menuntun Asya untuk berbaring di ranjang pasien. Degup jantung Asya makin kuat saat dokter Sari menyingkap pakaian yang dia kenakan. Sapuan gel pada perut ratanya pun, menyebarkan gelenyar aneh pada tubuhnya.


Tersenyum tipis, dokter Sari meraih alat USG lalu meletakkannya di atas perut Asya. Seketika layar yang tadinya polos, kini mulai tergambar. Gambar-gambar itu berupa sulur halus yang melingkupi satu titik.


Asya tertegun, bahkan saat dokter Sari menggerakkan alat itu untuk mencari gambar yang pas, perut Asya seakan mati rasa. Maniknya hitamnya mulai berkaca, dia memang tak mengenyam pendidikan kedokteran, tapi tetap saja dia tak bodoh untuk mengartikan gambar yang kini terpampang jelas di monitor.


"Asya, lihat disini." Tangan dokter Sari terangkat, jemari telunjuknya mengarah pada satu titik kecil yang bergerak -- tampak sangat rapuh. "Satu titik ini adalah janin. Janin ini berkembang baik. Selamat Asya, kamu positif hamil," jelasnya kemudian.


Baik Asya maupun Ana tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Jika Ana masih tertegun, walaupun dia sudah mengetahuinya sejak awal, lain halnya dengan Asya. Perempuan yang masih berbaring itu tampak terpejam dengan sudut mata yang basah.


Asya tak bisa menahan gejolak ini, walaupun kabar kehamilannya memang sudah dia tau, tapi entah mengapa ada rasa yang menggelitik hatinya. Bukan perasaan kecewa, takut atau semacam itu. Tapi, lebih kepada kebahagiaan dan rasa haru yang membuncah memenuhi hatinya.


"Kak, anak aku.. sehat?" tanya Asya, matanya tak lepas memandang layar monitor -- melihat gambaran calon anaknya disana.


"Syukurlah, janinnya berkembang baik," jawab dokter Sari, perempuan berkacamata itu memperbaiki letak pakaian Asya sebelum kembali beranjak untuk duduk di kursi putarnya.


"Sekarang, kakak akan menjelaskan tentang kehamilan Asya." Dokter Sari memandang dua wajah orang yang duduk dihadapannya, dan tersenyum halus. "Usia kehamilan Asya, kira-kira udah jalan tiga minggu. Diusia ini janin masih sangat rentan untuk mengalami keguguran. Jadi, mulai sekarang hindari pekerjaan berat dan jangan stress, oke?"


"Baik, kak." Asya mengangguk, sesekali menyapukan titik bening yang masih saja keluar dari sudut mata.

__ADS_1


"Sari, apa ada makanan yang dianjurkan atau dilarang saat kehamilan?" Kali ini Ana lah yang bertanya. Perempuan itu tak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya mendengar kabar yang bisa dibilang bahagia ini.


"Ada beberapa yang dianjurkan untuk dikonsumsi, ya.. seperti nasi coklat, ubi juga bagus, oatmeal, kacang-kacangan, dan untuk protein nabatinya seperti daging tanpa lemak, telur, dan ikan salmon. Dan untuk yang harus dihindari seperti makanan atau minuman yang mengandung kafein, dan juga junkfood." Dokter Sari memandang Ana, kemudian memfokuskan pandangannya kepada Asya. "Jangan lupa untuk minum susu kehamilan, ya."


"Iya, kak."


"Ada yang mau ditanyakan lagi?"


Asya menggeleng, dan meraih sabuah buku kecil yang di sodorkan dokter Sari kepadanya. Buku itu berisi cetak USG dan catatan kehamilan di periode tiga minggunya ini.


Setelah mengucapkan terimakasih dan berpamitan, Asya dan Ana beranjak keluar dari ruang tempat praktek dokter Sari.


Untuk sesaat Asya tertegun, begitu tapak kakinya melangkah ke luar ruangan, membuat pandangan Ana yang tadinya fokus kepada Asya, kini bergerak mengikuti arah pandang perempuan itu.


"Itu sahabat kamu kan, Sya?" Ana menyenggol tangan Asya. "Raihan, kan?"


"Ra-Raihan."


Mata Raihan tak lepas memandang wajah Asya. Lelaki itu mulai melangkahkan kakinya yang sudah lemas seperti jelly. "Kamu ngapain disini, Sya? Siapa yang hamil?"


...


Penghianatan yang pernah terpampang jelas didepan matanya dulu, memanglah belum bisa dia lupakan. Tapi, rasa untuk memiliki itu masih ada, sebelum kejadian hari ini meruntuhkan segala instuisinya.


Beberapa puluh menit lalu, saat dia memarkirkan mobil untuk mengantar ibunya ke rumah sakit, dia tak sengaja melihat Asya keluar dari salah satu mobil yang berada diparkiran.


Raihan yang khawatir, berusaha mengikuti Asya yang saat itu ditutun oleh perempuan yang dikenalnya sebagai Ana. Semua masih baik-baik saja, namun sekali lagi itu berubah ketika Asya dan Ana masuk ke salah satu ruangan dengan plakat bertuliskan dokter kandungan.


Raihan hancur. Walaupun dia berusaha berpikiran positif, tapi pikiran yang terpatri diotaknya bahwa saat ini Asya mengandung anak Zidan tidaklah bisa hilang.


"Sya, apa benar yang ada di pikiran aku sekarang?" Mata Raihan memandang Asya tajam.


Kepala Asya tertunduk, tangannya terkepal tepat disamping jahitan celana. Dia belum siap --kembali-- memandang raut kecewa itu, raut kecewa dari orang yang memang saat ini masih dia cinta.


"Sya, jawab!!" Raihan memegang kedua belah bahu Asya, mengundang perhatian sebagian orang yang berlalu lalang --di taman-- karena intensitas suara Raihan yang meninggi.

__ADS_1


"Raihan.."


"JAWAB, SYA!!"


"Maafin aku Raihan.. maaf.." Kalimat itu tenggelam diantara isakan Asya yang pecah. Bahunya bergetar, airmatanya membasahi pipinya yang rapuh.


Cukup. Cukup hanya dengan kata maaf itu, Raihan sudah mendapatkan jawabannya. Apakah dia sedang dipermainkan sekarang? Perempuan yang dicintainya berkhianat. Perempuan yang dicintainya mematahkan hatinya. Semula dia masih memiliki harapan, tapi ternyata --sekali lagi-- harapan memanglah tetap harapan.


"Sejak kapan?" Raihan melangkah mundur, matanya berkaca. "Kamu udah berhubungan sama dia, sejauh itu Sya? Kenapa? Apa cinta aku kurang? Apa aku gak cukup baik buat kamu?"


Asya menggeleng. Tidak. Raihan adalah lelaki terbaik yang dia pernah dia temui setelah ayahnya. Justru sebaliknya, disini Asya lah yang tak pantas untuk lelaki sebaik Raihan.


"Salah aku apa Sya?"


"Kamu gak ada salah apa-apa Raihan." Asya mendongak, menatap Raihan dari maniknya yang berkabut. "Aku yang salah, mengkhianati kamu dan menyakiti kamu."


Raihan mengalihkan pandangan. Melihat kearah bunga yang mekar, tampaknya lebih baik dari pada memandang Asya untuk saat ini. "Selamat, semoga kamu bahagia."


Berbalik, Raihan melangkah menjauh, namun Asya menahannya, menggenggam tangannya, membuat Raihan bisa merasakan tangan Asya yang mendingin dan bergetar.


Sekali lagi, dia tidak tega.


"Aku minta maaf Raihan. Aku memang bukan perempuan yang bisa kamu jadikan pedamping hidup kamu. Kamu berhak dapat lebih baik dari ini. Kamu berhak bahagia dengan seseorang, dan seseorang itu bukan aku. Sekarang aku harus sama Zidan, dia.. dia ayah dari anak aku.."


Berat, sebenarnya Asya berat untuk mengatakan fakta itu. Tapi, bukankah ini yang terbaik? Demi Raihan. Demi Raihannya.


"Bisa.. bisa aku peluk kamu sekali, Sya?" Raihan berbalik, matanya terpejam sebelum kembali terbuka -- memandang Asya kuyu. "Sekali.. mungkin untuk yang terakhir."


Asya mengangguk cepat, saat itu pula tubuhnya menghangat dengan dekapan Raihan yang merapat. Raihan sangat rapuh, bahkan kini lelaki itu terisak, sangat pedih ketika terdengar. Seakan hanya mereka berdua yang ada, Asya sama sekali tak memperdulikan tatapan orang-orang yang menatap mereka.


Ketika tangannya melingkar, Asya menyerukan kepalanya dan bersandar di dada Raihan. Dada yang s'lalu berdebar ketika bersamanya, dada yang s'lalu memberikan kehangatan ketika mendekapnya.


Sekarang Asya ingin bertanya. Apa ini semua adil, bagi lelaki sebaik Raihan?


...

__ADS_1


Vote, like dan coment ya..


__ADS_2