My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 64


__ADS_3

Zidan kembali memeriksa penampilan, gurat lelah serta jejak lebam bahkan masih tercetak. Dia membiarkannya. Bukan tak ingin mengobati, tapi lebih kepada jenjang motivasi.


Menghela napas, Zidan keluar dari kursi penumpang. Menghampiri Anita yang sudah menunggunya lebih dahulu dengan sebuah tablet di tangan.


"Bagaimana, mereka sudah datang?" tanya Zidan membuat Anita menoleh.


Perempuan yang memakai kemeja itu menganga karena melihat penampilan Zidan. Mereka memang tak berangkat dengan satu penerbangan, Anita berangkat lebih dulu, sedangkan Zidan menyusul.


"Anita?"


"Eh-eumm... Mereka sudah datang Pak. Mereka menunggu anda di sana."


"Baiklah, ayo kita temui mereka."


Mereka berjalan masuk, melewati pagar pembatas yang tinggi menjulang. Zidan menerima topi keamanan dari salah satu petugas dan memakainya, sebelum beranjak mendekati orang-orang yang sudah menunggu kehadirannya di sana.


"Pak Arka..," sapa Zidan.


Lelaki paruh baya itu menjabat uluran tangan. Sama halnya dengan Anita, raut wajah terkejut itu tak bisa dia sembunyikan.


"Anda baik-baik saja Pak Zidan?"


"Saya baik-baik saja Pak."


"Wajah anda?"


Zidan tersenyum kecut, meraba lebam yang berada di pelipis. "Masalah kecil, Pak."


Arka tersenyum maklum. "Saya juga pernah mengalaminya." Setelahnya dia menepuk bahu Zidan pelan. "Di usia seperti anda terkadang saya juga bersikap demikian."


Lalu sejenak mereka tertawa. Setelahnya Zidan merentangkan sebelah tangan, memimpin kunjungan salah satu koleganya ini untuk membahas progres pembangunan hotel.


Zidan menjelaskannya secara terperinci, dengan Anita dan Dani yang membantunya.


Hingga akhirnya mereka selesai. Arka tampak tersenyum puas mengenai apa yang Zidan jelaskan, apalagi pembangunan hotel yang dirasa di luar ekspetasi mau tak mau membuatnya kagum atas kemampuan anak muda dihadapannya ini.


"Pak Zidan saya cukup puas dengan progres kerja anda."


"Terimakasih, Pak. Anda terlalu berlebihan."


Arka menggeleng. "Ini tak berlebihan, Pak Zidan. Saya sangat tertarik dengan penjelasan anda tadi, apalagi dengan semua fasilitas pendukungnya."


"Sekali lagi saya berterimakasih, Pak."


"Sama-sama, saya harap untuk ke depannya pembangunan hotel ini tak terkendala suatu apapun, dan berjalan baik."


"Saya juga berharap yang demikian, Pak."


...


Zidan kembali melajukan mobilnya ketika pintu gerbang dibuka. Mobil itupun dia parkirkan di depan mansion.


Menghela napas, Zidan menempelkan dahinya di roda kemudi. Dia memilih kembali lebih awal. Setelah pertemuan, makan siang dan istirahat sejenak, Zidan memutuskan untuk kembali ke Jakarta tanpa ingin menghabiskan waktunya lebih lanjut di kota itu.


Urusan pekerjaan kantor yang berada di pundak, serta masalah kesenjangan hubungannya dengan Asya menjadi momok terbesar untuk Zidan saat ini.


Dengan langkah gontai dia turun dari mobil. Sekali lagi, pilihannya saat ini hanya tertuju pada mansion keluarganya. Masih enggan untuk pulang ke apartemen karena di sana kenangannya dan Asya banyak tercetak.


Suana gelap ruang tengah menyambut Zidan malam itu. Dia melangkah, tanpa tersadar seseorang memperhatikannya sedari dia menjajakan kaki di ruangan.


"Zidan..."

__ADS_1


Panggilan itu membuat langkahnya terhenti. Zidan menoleh, mencoba menyesuaikan penglihatan di gelapnya suasana.


"Papah? Papah belum tidur?"


"Papah gak bisa tidur. Sini Zidan, papah ingin bicara sesuatu."


Dengan urung Zidan mendekat, duduk di sisi sang ayah yang langsung menggenggam tangannya.


"Kamu ada masalah?"


"Nggak, pah," dusta Zidan.


Rendi menghela napas. "Jangan bohong, nak. Papah tau kamu ada masalah. Akhir-akhir ini kamu aneh."


"Nggak, Pah." Menggeleng, Zidan menyanggah. "Zidan gak ada masalah. Apa kak Ana bilang sesuatu?"


"Ana gak bilang apa-apa. Papah cuma lihat gelagat kamu akhir-akhir ini aneh."


Zidan terdiam sejenak, menelaah apakah dia harus memberitahukan kepada Rendi, atau mengubur masalahnya sendiri.


Akhirnya, setelah pemikiran singkat itu Zidan menoleh. Menatap sang ayah di redupnya ruang.


"Pah, aku mau bicara sesuatu."


"Papah akan dengarkan."


Zidan menghela napas, pandangannya yang kosong itu menatap langit-langit begitu dia berbicara.


"Aku udah nyakitin seseorang, Pah. Nuduh dia, gak percaya perkataan dia, sampai akhirnya dia pergi."


Memilih mendengarkan, Rendi menggenggam tangan Zidan.


"Kamu menyerah?"


Zidan menggeleng. "Nggak, Pah. Aku gak nyerah. Aku akan berusaha, aku akan dapetin dia lagi."


Mendengarkan hal itu membuat Rendi tersenyum. Dia hanya tak menyangka. Zidan yang sebelumnya tak pernah bercerita apapun kepadanya, kini begitu terbuka.


"Papah mungkin gak bisa nilai bagaimana hubungan kalian. Ya, memang kamu salah Zidan. Di setiap hubungan, baik persahabatan maupun percintaan, kepercayaan itu adalah sebuah landasan. Dan Papah harap kamu bisa dapetin dia lagi."


"Makasih, Pah."


Setelahnya mereka masih sama-sama terdiam. Hingga Rendi membuka suara, "Perempuan itu, apa Papah kenal?"


"Kenal," jawah Zidan singkat.


"Siapa?"


"Papah akan tau nanti. Suatu saat Papah pasti akan ketemu dia."


...


Asya duduk termenung, masih bersama dengan kilasan percakapan yang dia dengar kemarin.


Apakah Zidan benar-benar menyesal? Ya, tanpa ditanyakan pun Asya sudah mengetahui itu. Tapi, entah mengapa disudut hatinya yang terdalam, dia ingin sekali bersikap egois.


Melihat sebesar apa perjuangan lelaki itu untuk mendapatkannya kembali, dan setulus apa dia meminta maaf.


Namun kenyataan itu adalah sebuah bumerang baginya. Karena nyatanya, kepergian Zidan cukup membuat Asya kalut hingga seberat ini.


Dia tak bisa tidur semalaman suntuk. Andai tak memikirkan anak dalam kandungannya, mungkin asya sudah menelan obat tidur untuk memejamkan mata.

__ADS_1


Dia rindu Zidan, dan itu tak bisa disangkal. Perhatian Zidan padanya, dan permintaan maaf yang diucap nyatanya membuat hatinya bergetar.


Menghela napas, dia mengedarkan pandangan. Hanya orang yang berlalu lalang yang bisa Asya lihat. Mereka tampak bahagia, apalagi melihat sepasang kekasih yang bergandengan membuat Asya iri bukan main.


"Sya.."


Asya menoleh dan langsung mendapati Fany dan Ana yang berada dibelakangnya.


"Ada apa?"


"Kamu mau jalan-jalan?"


"Kemana?"


"Di sekitaran sini ada taman." Fany menjawab.


Asya mengangguk ragu. Menyambut uluran tangan Ana yang hendak menggenggamnya.


Mereka pun berjalan. Tak bisa dipungkiri, Asya bahagia di sini. Suasana yang tak terlalu ramai, udara sejuk yang menyegarkan paru-paru, semua terasa pas.


Begitu mereka sampai. Asya dan Fany memilih duduk di bangku taman, sedangkan Ana membeli cemilan yang akan mereka nikmati selama di sini.


"Fan.."


"Eumm?"


"Menurut kamu aku salah gak?"


Fany menoleh dengan alis tertaut. "Salah? Salah kenapa?"


Menghela napas, Asya berkata, "Kamu liat kan kondisi Zidan kemarin? Aku merasa bersalah karena itu?"


"Menurut gue, dia ngelakuin itu karena udah kehabisan cara minta maaf ke lo."


Perkataan Fany membuat Asya menggigit bibirnya gusar. "Jadi menurut kamu, aku salah?"


Fany mengangguk, mencoba menangkup tangan Asya -- memberinya pengertian. "Lo seharusnua gak gitu, Sya. Oke gue tau dia salah. Tapi, apa dia gak pantes dapetin kesempatan?"


"Dia pantes."


"Trus?"


Asya tak menjawab, dia memilih menundukkan kepala.


"Sya.."


Asya tetap diam.


"Ada kalanya seseorang akan menyerah saat perjuangannya gak berarti."


Kalimat itu, Asya memahaminya. Jujur saja, dia takut. Takut Zidan akan menyerah dan meninggalkannya. Walaupun dia pernah meminta Zidan menyerah akan hubungan mereka, bisakah dia berkata itu dusta?


"Trus gimana, Fan?"


"Ya gimana lagi? Lo harus maafin dia."


"Aku.. Aku maafin dia.."


...


Vote, like dan coment..

__ADS_1


__ADS_2