My Devil Man

My Devil Man
MDM- Part 78


__ADS_3

Posisi Asya masih sama, memeluk tubuh kakak iparnya yang masih terasa gemetar. Sekarang dia tau apa sebab perempuan tangguh dalam pelukannya ini menangis.


Ana telah menceritakannya. Meski tersendat di antara sesegukan dan suara parau, Asya masih menangkap jelas perkataan Ana tentang apa yang dialami antaranya dan juga Raihan.


Dengan gumaman lembut, Asya mengusap bahu Ana yang masih bergetar. Hingga sepersekian detik setelahnya, Ana sendiri lah yang melepaskan rengkuhan mereka berdua.


"Kak, mungkin maksud Raihan bukan begitu."


Ana menggeleng cepat. Sungguh saat ini dia sama sekali tak ingin mendengar nama lelaki yang secara tak langsung menyakiti perasaannya. Kekanakan memang, tapi dalam hubungan pertemanan ini, Ana telah meletakkan setitik perasaan di antaranya dan lelaki itu. Ada rasa nyaman yang tak bisa Ana tampik saat bersama Raihan.


Bahkan masa buruk yang sebelumnya dia kubur rapat, tak segan dia bagi dengan lelaki itu. Tapi apa yang dia dapat? Ciuman yang dia kira sebagai penyampai perasaan, nyatanya adalah sebuah kesalahan yang membuat Raihan menyesalinya.


"Kak.."


"Please, Sya.." Ana memandang Asya dalam, manik kelabunya kini bahkan sudah kembali berkabut. "Kakak gak mau bahas dia lagi, Sya."


"Tapi, Kak. Aku yakin Raihan gak maksud begitu. Kakak tau kan hubungan aku, Zidan dan Raihan seperti apa? Di antara kita bertiga, Raihanlah yang paling tersakiti."


"Tapi apa hubungannya sama Kakak, Sya?" Ana bertanya cepat. "Apa hubungannya sama Kakak, sampe dia tega begitu?"


"Kak.." Asya berkata lirih, sebelah tangannya terangkat sebelum menggenggam tangan Ana yang terasa hangat. "Aku bisa mengerti kalau Raihan trauma dalam sebuah hubungan. Aku tau Raihan juga salah di sini. Tapi, coba Kakak pikir. Raihan mungkin gak bermaksud buat bilang dia menyesal udah ngelakuin hal itu ke Kakak. Mungkin.. Mungkin dia lagi linglung. Kakak ngerti, kan?"


Ana terdiam. Dia masih berusaha meresapi apa yang Asya sampaikan kepadanya. Ya, dia memang mengerti hal itu. Bukan ciuman Raihanlah yang membuat Ana marah. Tapi, rasa menyesal karena lelaki itu menganggap pertautan bibir mereka adalah sebuah kesalahan.


Salahkah Ana mengharapkan lebih?


"Kak.."


Tak ingin memperpanjang masalah ini lebih lanjut, Ana memilih kembali bergelung dalam selimut tebalnya. Menenggelamkan wajahnya di sana, dan berharap bahwa Asya mengerti dia masih butuh kesendirian.


"Yaudah, Kak. Aku keluar dulu ya.. Nanti makan malem, kalau Kakak gak mau turun, aku yang anterin."


Ana hanya membalas perkataan Asya dengan gumaman. Membuat Asya menghela napas dan langsung keluar dari kamar itu.


"Gimana, Sya? Kak Ana baik-baik aja, kan?" tanya Zidan cepat begitu melihat istrinya keluar dari kamar sang Kakak.


"Rumit..," ucap Asya.


Membuat perempatan siku tercetak jelas di kening Zidan. "Maksud kamu?"


"Nanti aku cerita."


Zidan diam setelahnya. Dia memilih memapah Asya untuk menuruni undakan tangga dan menunggu agar sang istri sendiri yang akan menceritakannya nanti.


"Gimana, Ana udah mendingan?" tanya Rendi.


Asya mengangguk seraya kembali duduk di sofa. Wanita hamil itu meluruskan kakinya yang kini memang terlihat sedikit membengkak.


"Sya..?"


"Hn."


"Kaki kamu?"


Asya mengerti, oleh sebabnya wanita itu menoleh dan menggenggam tangan Zidan. "Sebagian ibu hamil pasti mengalami hal ini, Zidan."

__ADS_1


"Tapi--"


"Itu hal biasa Zidan," sambung Rendi sedikit terkekeh. Melihat Anak lelakinya mengkhawatirkan sang Istri membuat Rendi merasakan kedewasaan yang sebelumnya tak pernah didapatkannya dari Zidan.


"Bener itu gak papa?"


"Gak papa."


"Gak sakit?"


"Sedikit pegal sih."


Rendi kembali tak bisa menahan kekehan yang keluar dari bibir rentanya. Oh, sungguh dia bahagia sekarang. Anak lelakinya sudah terasa makin dewasa, selain itu dia juga merasa lengkap dengan kehadiran Asya sebagai menantunya.


...


"Gimana, enakan?"


Asya mengangguk, merasa nyaman saat Zidan memijat seputaran betis dan telapak kakinya yang terlihat membengkak.


Telapak kasar yang menyentuh kulitnya yang halus 'pun menyebarkan gelenyar aneh. Sedikit geli dan nyaman di satu sisi.


"Sebelah lagi, Sya..," ucap Zidan meraih kakk sebelah kiri sang Istri.


Asya manut, memejamkan mata meresapi rasa bahagia yang menelusup ke dalam hatinya. Hidupnya bahagia sekarang. Zidan sudah ada di sampingnya, kembali mendapatkan keluarga yang terasa utuh dan lengkap, serta akan hadirnya Anak di antara keluarga kecilnya ini.


"Sedikit ke bawahan lagi, Zidan..," ucap Asya mengintrupsi.


Zidan mengangguk, dan kembali memijat titik yang Asya tunjukkan kepadanya. "Oh ya, Sya. Katanya kamu mau cerita masalah Kak Ana?"


Asya terhenyak. Mata jernihnya terbuka cepat. Oh Tuhan.. Bahkan dia lupa sudah menjanjikan hal tersebut kepada Zidan.


Zidan menggeleng cepat. Menyelesaikan pijatan di kaki sang Istri, lelaki itupun ikut berbaring di ranjang dan mendekap Asya dalam pelukan. Tak lupa sebelah tangannya mengusap perut tempat bergelung sang Anak.


"Cerita, Sya."


Asya menelan ludahnya kasar. "Gini.. Kamu tau kan, Kak Ana sama Raihan udah deket sekarang?"


Zidan mengangguk.


"Hubungan mereka rumit.."


"Rumit bagaimananya?"


"Gini.. Eumm.. Raihan nyium Kak Ana, dan.. Dan dia bilang menyesal udah ngelakuin hal itu."


Zidan sedikit terhenyak, dan setelah membuang napasnya beberapa kali, lelaki itupun kembali bertanya, "Trus apa masalahnya?"


Asya terdiam, dia terlihat ragu untuk menjawabnya saat ini. Namun, ketika melihat wajah Zidan yang dipenuhi tanda tanya dan kekhawatiran, Asya 'pun menjawab, "Zidan.. Menurut aku Kak Ana menaruh harapan lebih sama Raihan."


Zidan menghela napas. Lagi-lagi hubungan percintaan yang rumit. Yang membuat Zidan berpikir keras sekarang adalah, jika sang Kakak menaruh harapan dan menyukai Raihan. Apakah lelaki itu juga sama?


"Yaudah, kamu gak usah terlalu mikir hal itu. Hal itu biar aku yang urus."


"Kamu gak akan ngapa-ngapain Raihan kan, Zidan?"

__ADS_1


Zidan terkekeh menggeleng. "Nggak, Sya..," jawab Zidan.


Membuat Asya menghela napas dan memilih menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang Suami -- menjemput mimpi.


...


Ke esokan hari.


Zidan memasuki salah satu cafe dan langsung mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Raihan. Tadi, sekitaran pukul sepuluh, Raihan mengajaknya untuk makan siang di salah satu cafe yang kebetulan letaknya berada di dekat perusahaannya.


Begitu maniknya menangkap keberadaan Raihan, Zidan tersenyum dan langsung menghampiri lelaki yang kini berstatus sebagai temannya tersebut.


"Han.."


"Zidan.."


Mereka menepuk bahu masing-masing bergantian sebelum duduk di kursi yang saling berhadapan.


Zidan menyedap espreso yang telah tersaji di hapadannya sembari menatap Raihan yang terlihat gemetar.


"Lo mau ngomongin sesuatu? Atau lo mau ngomongin masalah kerjaan?"


Raihan menghela napas, tak ada yang perlu disembunyikan kali ini. "Kakak lo keadaannya gimana?"


Tersenyum, Zidan menjawab, "Kakak gue kurang sehat, kemaren dia demam."


Raihan menghela napas. Merutuki kesalah yang telah dia perbuat pada perempuan yang pernah tersakiti itu. Janjinya, dia akan meluruskan segala sesuatu dan meminta maaf secara tulus kepada Ana.


"Asya udah cerita semua."


"Cerita apa?" tanya Raihan cepat.


Membuat Zidan tersenyum tipis dan melonggarkan dasi yang terasa sedikit mencekik lehernya. "Kak Ana cerita sama Asya, dan Asya cerita sama gue."


Oke, Raihan merasa teramat bersalah sekarang.


"Kak Ana udah pernah cerita sama lo masalah masa lalu dia?"


Raihan mengangguk, membuat Zidan melanjutkan, "Kakak gue udah merasa nyaman sama lo, Han."


Membenarkan hal tersebut, Raihan berkata, "Gue juga udah nyaman, dan sialnya gue malah merusak hal itu."


"Lo gak ngerusak hal itu, Han."


"Gue ngerusak itu, Dan. Gue merasa, gue cowok yang br*ngsek."


Zidan menghela napas dan kembali menyesap espreso yang masih terasa hangat. "Oke, gue mungkin gak bisa merubah pendapat lo tentang diri lo sendiri, yang pengen gue tau cuma.. Apa.. Apa lo punya perasaan lebih sama Kakak gue?"


Raihan mengerjab, sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dia akui, kebersamaan antaranya dan Ana menimbulkan perasaan nyaman. Tapi, apakah perasaan nyaman bisa didefinisikan sebagai perasaan suka?


"Gue gak tau..," jawab Raihan meragu.


Membuat Zidan kembali menghela napas. Kali ini, dia tak akan merecoki kehidupan percintaan lelaki di hadapannya ini. Ya, tentunya dia telah mendapatkan hal yang dia mau sebelumnya -- yaitu Asya.


Tapi kali ini dia tak akan menganggu hubungan Raihan lagi. Apalagi ini juga menyangkut kehidupan Kakaknya. Dan dia percaya, Raihan lah yang terbaik bagi Kakak kesayangannya itu.

__ADS_1


...


Like dan coment..


__ADS_2