My Devil Man

My Devil Man
MDM-Part 21


__ADS_3

Asya bersimpuh diantara dua gundukan tanah makam kedua orang tuanya. Tangannya memegang erat sebuket bunga angrek,bunga kesukaan Tiara ibunya semasa hidup.


"Mah.. Pah.. Asya dateng..". Tangannya gemetar mengusap nisan kedua orang tuanya bergantian. Tanpa disadari air mata Asya jatuh tertumpah tanpa aba-aba. Jujur dia selalu bersedih kala menyambangi makam kedua orang yang dicintainya ini.


Rindu teramat sangat karena ditinggalkan kedua orang itu tiba-tiba sampai sekarang masih membekas,meninggalkan luka tergores dalam di hati Asya.


Dia masih remaja yang berusia tujuhbelas tahun kala itu,harus rela menjadi yatim piatu dan hidup menderita dengan fitnah yang sangat keji,yang dituduhkan padanya.


Zidan yang sedari tadi melihat Asya dari jarak yang tak terlalu jauh,mulai merasa terhenyuh,kala segelintir memori mulai masuk dan mengingatkannya pada kondisi Asya yang ditinggalkan orangtuanya waktu itu. Perempuan itu menangis menjerit,bahkan kehilangan kesadaran berkali-kali kala tau orang tuanya telah berpulang.


Kaki Zidan melangkah ragu menuju tempat bersimpuh Asya,tangannya dia ulurkan memegang pelan bahu Asya yang bergetar terisak dan menepuknya perlahan. "Sabar Sya..". Hanya kata penenang itu yang mampu dia ucapkan.


Asya berbalik,menatap Zidan yang berada dibelakangnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Sesaat senyum mulai terukir,senyum yang membuat siapa saja tergugah iba.


Zidan sekilas menelisik ekspresi perempuan yang ada dihadapannya,perih bercampur sedih namun tetap ditutupi senyuman,itu yang Zidan simpulkan.


"Bisa tinggalin aku sendiri..". Suara Asya lirih bergetar bercampur sedih. "Aku mau ngomong sebentar sama orang tua aku.. bisakan??".


Zidan terpaku,turut merasakan duka dibalik suara Asya lalu mengangguk pelan. "Ya.. gue pergi dulu Sya.. gue tunggu lo di mobil..". Zidan beranjak meninggalkan Asya yang masih memandang kedua gundukan tanah itu bergantian.


"Maaf Asya baru bisa dateng sekarang.. tapi mamah sama papah jangan marah ya.. kalau marah,Asya kaya mana??". Suaranya tersendat,tertelan isakan yang hampir muncul. "Mah.. pah.. Asya udah temuin orang yang sayang banget sama Asya.. tapi.. Asya udah hianatin dia.. Asya yakin dia akan kecewa dan marah.. apa yang harus Asya lakukan?? apa Asya harus tinggalin dia dan biarin dia bahagia??".


Asya menunduk,menyandarkan kepalanya pada batu nisan Tiara sedang tangannya mengusap lembut batu nisan Tony,Ayahnya. "Asya.. udah ternoda.. udah gak berharga.. dan orang kaya Raihan pantas dapet yang tebaik.. karena itu Asya akan ninggalin Raihan walau sulit.. dukung Asya ya pah.. mah.. setidaknya itu yang bisa Asya lalukan untuk Raihan..".


Mata Asya terpejam,sudut maniknya mengeluarkan air mata kesedihan. Dirinya begitu rapuh,bahkan untuk menahan beban ringan saat ini.


✳✳✳


Sepanjang perjalanan Asya hanya terdiam,menatap kosong ke luar kaca jendela tanpa berniat sama sekali membuka suara. Benaknya masih mengambang,berkelana mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Bimbang itu yang perempuan itu rasakan saat ini,berpikir untuk kedepan dan bagaiman nasib hubungan percintaannya nanti.


Zidan masih melajukan mobilnya,walaupun sesekali manik hitamnya melirik,sekedar melihat Asya sesaat. Sejak kembali dari pemakaman Asya terdiam,tak membuka suara satu patah kata pun. Membuat perasaan Zidan sedikit khawatir,apalagi karena melihat wajah sendu Asya sedari tadi.


"Sya..". Zidan membuka percakapan,mencairkan kecanggungan disela mengemudi.


Perempuan itu tetap bergeming diam,tak menanggapi panggilan Zidan walau pun sayup-sayup pendengarannya itu menangkap suara lelaki disampingnya.


Tangan Zidan terulur,menanggkup telapak Asya yang diletakkan perempuan itu dipahanya sendiri. "Kok diem??".

__ADS_1


Tubuh Asya tersentak kaget,lalu menoleh menatap heran manik hitam Zidan. "Gak kenapa-napa.. kapan nyampenya?? antar aku pulang..".


"Nggak akan..". Zidan memelankan mobilnya,kemudian berhenti ditepi jalan. "Lo gak boleh pulang..".


Asya memutar bola mata jengah,lalu membelakangi Zidan dan kembali menatap keluar jendela. "Sampe kapan??".


"Sampe kapan??". Ulang Zidan tak mengerti.


"Biarin aku pulang Zidan.. aku capek kaya gini mulu.. udah cukup kamu rusak hidup aku tapi nggak dengan kebebasan aku..".


Zidan menarik tangan Asya dan seketika perempuan itu menoleh dan menatapnya dengan seringai membenci. "Lo gak boleh pergi dan bebas.. sebelum lo putusin cowo lo itu dan tinggalin dia..".


Mulut Asya menganga. Ada apa dengan lelaki aneh didepannya ini??. Zidan mulai mengaturnya. "Apa urusan kamu?? udah berulang kali aku bilang.. aku punya kehidupan aku sendiri Zidan!! dan kamu gak ada didalamnya!!".


Zidan menyugar rambutnya kasar. Ini baru pertama kalinya dia menghadapi perempuan keras kepala seperti Asya. Lelaki itu bingung,padahal dulu perempuan dihadapannya ini tak seperti sekarang. Dulu lebih baik tentunya.


"Lo masih mau ngelawan Sya?! gue udah bilang.. gue akan kasih tau Raihan yang sebenarnya,antara kita berdua dan apa yang udah kita lakukan.. lo gak mau tau kan,betapa sakitnya Raihan dihianati kekasih sendiri?? apalagi kalau tau cewenya itu tidur sama cowo lain..".


Asya membulatkan matanya dan memandang Zidan sinis. "Gue juga bisa hancurin bisnisnya.. asal lo tau aja..". Ancam Zidan dengan suara lembut tapi penuh tekanan.


Asya menunduk,tangannya terkepal,ancaman itu berhasil untuk sedikit menggoyahkannya. "Jangan sentuh dia!!". Desis Asya tajam.


"Jangan ganggu Raihan!!". Wajah Asya terangkat,menantang lelaki itu memandang dirinya. "Jangan ganggu atau sentuh dia Zidan!! atau kamu akan tau apa yang bisa aku lakuin ke kamu..".


Lelaki didepannya itu terkekeh geli,sesekali tangannya memukuk kemudi karena merasa yang di katakan Asya hanya gurauan saja. Memang apa yang bisa dilakukan perempuan itu kepadanya?? Ayolah.. yang benar saja??.


Bibir Asya menipis melihat kelakuan konyol Zidan,yang seakan meremehkan ancaman dari perempuan lemah seperti dirinya. "Kamu bisa tertawa sepuas hati Zidan.. tapi kamu gak pernah tau kekuatan perempuan yang hancur dan gak punya apa-apa lagi.. aku gak punya orang tua,aku hidup sendiri.. dan Raihan datang lalu menjadi satu dari segelintir orang yang berharga dihidup aku,aku gak akan biarin dia disentuh tangan jahat kamu.. kamu ngerti kan?!".


Tawa Zidan terhenti,maniknya bisa menangkap semburat rasa cinta kepada lelaki bernama Raihan,dalam setiap ancaman Asya kepadanya. Itu sakit!! dan menghujam dirinya hingga ketitik paling dalam.


Zidan menghembuskan napasnya kasar lalu melanjutkan kembali perjalanan. Pikirannya mulai mencari,menelaah ancaman apa yang bisa dibuatnya untuk menggoyahkan Asya lagi. Ketemu..


"Terserah lo mau percaya apa nggak Sya.. gue gak pernah main-main,dan lo tau perusahaan yang gue pegang,lagi membangun kerja sama sama perusahaan cowo lo itu.. dan asal lo tau aja,gue bisa batalin semua dan membuat usaha Raihan hancur,dan gue gak akan kena imbas sedikit pun..". Suara Zidan tenang namun tajam,membuat Asya bergedik takut dan tergoyahkan.


✳✳✳


Bau alkohol berpadu dengan asap rokok,terhirup memasuki penciuman Andi. Waktu telah beranjak tengah malam,ketika dia mendapat panggilan dari sahabatnya yang tampaknya berada di ujung kesadaran. Andi melangkah masuk,sesekali menghindar dari wanita-wanita penjaja layanan malam. Dirinya tak tertarik untuk saat ini,karena harus terfokus mencari sahabatnya,Zidan.

__ADS_1


Andi menaiki tangga,menuju salah satu ruang VIP yang disediakam bagi siapa saja yang menginginkan privasi. Andi bernapas lega begitu mendapati sosok tubuh yang sangat familiyar tengah menenggak minuman keras dari botol yang entah sudah keberapa.


Andi melangkah cepat dan langsung merebut botol minuman itu,lalu meletakkannya diatas meja.


"Kenapa lo kaya gini Dan??".


Zidan tak menoleh,memilih untuk berbaring meringkuk dan memejamkan matanya.


"Lo kenapa Dan?? gak biasanya lo kaya gini..".


Zidan bangkit lalu tertunduk dalam. "Gue juga gak tau An.. hati gue sakit,waktu denger dia belain cowo lain didepan gue..".


Andi mengernyit dalam lalu membetulkan posisi duduknya ke arah Zidan. "Dia?? dia siapa maksud lo??". Andi menepuk bahu Zidan beberapa kali.


Zidan menoleh dengan mata yang berkaca. "Cewe yang berhasil masuk kembali ke hati gue An..".


"Jangan-jangan maksud lo Asya??".


Zidan menangkup wajahnya dan terisak tiba-tiba,membuat Andi merasa bingung karena selama tiga belas tahun dia mengenal lelaki ini,tak satu pun hari dia melihat Zidan mengeluarkan air mata. Bahkan ketika orang tuanya berpisah pun Zidan tetap kuat.


"Padahal gue udah miliki dia sepenuhnya,tapi nggak dengan hatinya..". Ucap Zidan samar-samar.


Andi terdiam dan mulai menelaah maksud sahabatnya itu,namun tak menemukan jawaban. "Maksud lo apa?? udah miliki dia sepenuhnya..".


"Gue yakin lo tau maksudnya An.. lo gak bodoh..".


Mata Andi membulat,tangannya menutup mulutnya cepat karena keterkejutannya. "Lo.. lo.. sama Asya.. jangan-jangan.. gila lo Dan!!".


Zidan tak perduli dengan tatapan terkejut sahabatnya,dan memilih bangkit lalu berjalan ke arah pintu walaupun sedikit sempoyongan.


Begitu sampai diluar klab,Zidan merogoh sakunya,mengambil benda pipih itu dan mencari nomor Asya.


'Halo..'. Suara serak terdengar dari sebrang.


Zidan terdiam tak membuka suara,membuat Asya disebrang berdecak kesal. 'Siapa sih yang telpon!! iseng banget gangguin orang tidur..".


"Gue Zidan,Sya.. gue cuma mau kasih tau lo.. mulai besok gue akan jalanin rencana gue,buat hancurin bisnis cowo lo itu..". Zidan berkata tenang walaupun dalam setiap perkataannya mengandung ancaman.

__ADS_1


'Maksud kamu apa Zidan?? ka..'.


Zidan memutuskan panggilan,bibirnya menorehkan senyuman yang entah mengapa menyembunyikan maksud terselubung. "Gue akan dapetin lo sepenuhnya.. Zidan dan Asya akan kembali bersama..".


__ADS_2